OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 266 : RENCANA PEMBANGUNAN


__ADS_3

Proposal Muna sudah tersampaikan dengan baik dan di tanggapi dengan baik pula. Sebab di ajukan di tempat yang baik juga.


Sebelum tidur keduanya sudah saling berbicara hingga kantuk mendera, sampai rencana ektra part pun tak terlaksana. Bukan Kevin jika tidak meminta jatahnya di pagi buta. Sebelum mereka pulang kerumah keluarga Hildimar yang di Jakarta. Bertemu dengan anak-anak yang sempat terabaikan. Karena ritual buka puasa pasangan lama serasa pengantin baru ini.


"Asalamualaikum." sapa Muna saat melihat sudah ada babe yang baru saja keluar dari kamar Aydan.


"Walaikumsallam.


Ke warung beli kelapa,


Kelapa muda yang harus di buru.


Selamat berbuka puasa


Buat pengantin lama tapi rasa baru." Ledek babe yang lama tidak mengeluarkan jurus pantunnya pada Muna.


"Hahaaaaa...


Bersepeda naik jembatan,


Cepet kewarung beli cabe.


Mumpung ade kesempatan,


Kenapa kagak be." Kekeh Muna bersama babe. Lalu keduanya memandang ke arah Kevin bersamaan.


"Kue klepon ada dipiring,


baru dibikin oleh ibu,


makan saridon tetap pusing,


karna rindu obatnya cuma bersatu." Bahak Kevin mengelegar.


"Eeeehhh buseeet makin pinter aje lu pantunnye Tong." Puji babe pada Kevin.


"Mantunya sape dulu dong... Babe Rojak kaaan." Goda Kevin pada babe kesayangan mereka tersebut.


"Sa aaee. Mun, babe hari ini pulang kerumah ye. Kalo ada ape-ape hubungi babe dan nyak. Selalu siap membantu."


"Oke deh babe. Semoga ga selalu ngerepotin babe dan nyak deh."


"Si Ay... boleh babe bawa kagak nih?" tanya babe lagi.

__ADS_1


"Hmm... ntar jumat atau sabtu deh be, kami nginep di rumah babe. Ya kan bang?"


"Oh.. iya boleh-boleh. Lama juga ga main ke sana."


"Kabar abah pegimane Mun?"


"Ya... masih mau operasi lanjutan. Semoga lancar terus deh, supaya abah lekas sembuhnya." Harapan Muna.


"Amin. Babe sama nyak permisi ye." Pamit babe.


"Iya. Di antar supir ya be." Antar Kevin ke depan pintu.


"Iye... Asalamualaikum."


"Walaikumsalam." Jawab Kevin yang selanjutnya ceria ria bersiul absurd sebab suasana hatinya memang sedang bahagia. Ya iyalaaah sudah dapat jatah gitu lho.


Kevin sudah bersiap ke rumah sakit, dan Muna tentu memilih bercengkrama dengan Aydan dan Naya. Menebus waktu semalam tanpanya.


"Gimana de Naya semalam bunda. Ada rewe ga?"


"Kebangun cuma minta susu bu, lalu tidur lagi. Karena siangnya memang lumayan lama bunda buat ga nyenyak tidurnya. Jadi, malam sepertinya lelah." Jelas Laras.


"Papap Ay, mau nambah baby sisyer. Untuk jaga de Naya. Kira-kira setuju ga?" Muna selalu berdemokrasi sebelum memutuskan sesuatu, bahkan pada pengasuh anaknya sekalipun. Yang notabene tentu adalah bawahannya. Tapi Muna selalu low profile.


"Ya terserah ibu saja. Tapi kalo bunda sih masih sanggup kok jaga mereka. Karena, ibu kan juga sering di rumah."


"Oh... kalo begitu mungkin iya. Lebih baik ada yang khusus jaga Naya."


"Tapi, ada kemungkinan lain lagi, ka Ay akan saya masukan playgroup dalam waktu dekat, ya kisaran waktu saya mulai turun bekerja." Jelas Muna pada Laras.


"Ya... kalo gitu ya ga usah di tambah bu. Saat ka Ay di sekolahnya. Bunda saja yang jaga de Naya."


"Oh gitu. Baiklah. Tapi kalau capek bilang ya bunda. Atau mau liburan, cuti gitu." Tukas Muna santun.


"Belum ada rencana pulang bu. Masih aman-aman saja." senyum Laras terkembang. Yang memang sangat merasa betah bekerja dengan keluarga hangat dan selalu harmonis itu.


Muna menekan gawainya, mencari nama Zahra di sana. Apa lagi kalau bukan ingin membahas kelanjutan urusan rencana pembangunan tempat PAUDnya.


Zahra baru menikah, sehingga tentu tidak serpot Muna dalam hal keluar rumah. Maka siang itu Zahra sudah berada di rumah keluarga Hildimar untuk bertemu Muna.


"Jadi kemarin aku sudah cerita sama papap Ay. Tentang kesediaannya menjadi donatur jika tempat PAUD yang sekarang kamu geluti itu perlu rehab atau bagaimana."


"Oh... jadi begini. Sebenarnya status PAUD yang sekarang tempat saya kerja agak krisis masalah kepemilikannya. Awalnya memang yayasan sosial. Tapi akhir-akhir ini, kepengurusannya agak teledor. Karena pencetusnya sudah meninggal, lalu di wariskan pada anak beliau. Dan, sepertinya anak beliau tidak fokus dengan tempat itu. Sehingga, kami yang bertahan di sana bertahan dengan gaji, hasil dari pembayaran orang tua yang masih menitipkan anaknya di sana."

__ADS_1


"Wah... jangan-jangan gaji kalian di bawah UMR, Zah?"


"Ya... demikianlah. Kami yang masih di sana bahkan jarang mengambil keuntungan banyak, sebab fasilitas yang adapun sudah sangat tidak memadai untuk di gunakan."


"Artinya banyak yang sudah rusak?"


"Ya begitulah."


"Bisa Zahra bantu pastika, apakah pemilik yang sekarang bersedia menjualnya? agar kita bisa lanjutkan. Atau menurut Zahra, apaka tempat di pertahankan atau kita buat yang bqri saja ditempat lain?"


"Kak Muna serius ingin konsen di bidang PAUD...?"


"Sangat serius Zah. Sebab bulan depan. Aku mungkin akan terjun langsung mengurangi beban pap Ay di rumah sakit. Aku tidak bisa selamanya menyandang status direktur tanpa bekerja. Otakku lama-lama bisa beku. Jika hanya di pakai berdiam diri dan mengurus anak." Papar Muna dengan antusias.


"Nanti ku pastikan soal statu kepemilikan. Tapi, jika itu di lanjutkan... akan banyak mengeluarkan biaya kak. Seperti membuat baru saja."


"Ya pastikan saja pemiliknya akan mau menjual atau tidak. Sebab jika kita pindah ketempat baru, kemungkinan kalian akam di rekrut ke tempat baru. Hal itu juga akan memicu persaingan tidak sehat dengan pemilik yang ada sekarang. Kesannya menusuk dari belakang. Lebih baik kita terang saja, ingin serius menjalankannya sesuai standart."


"Huum... Sebenarnya lokasinya memang strategis kak. Tapi untuk luas tanahnya masih belum sesuai standart. Kita harus membeli beberapa petakan lagi jika memang ingin sesuai."


"Apa keuntungan jika memang kita mampu membuat sesuai standart itu?"


"Selain kenyamanan peserta didik dan rasa aman orang tua. PAUD kita juga bisa di ajukan bekerja sama dengan pemerintah. Sehingga kita mendapat perhatian, dari beberapa SKPD yang berkaitan. Kita bisa akan mendapat banyak bantuan tenaga pengajar negeri, sehingga kita bisa hemat dalam urusan pemberian honor. PAUD kita akan mendapat dana BOP, juga membuat MOU dengan Dinas Kesehatan untuk PAUD kita setara dengan negeri. Dengan demikian PAUD kita nanti lebih di minati juga di rekom langsung oleh perintah."


"Apa nanti tidak akan lebih ribet dengan segala birokrasi pemerintahan?"


"Ribet itu jika PAUD kita tidak sesuai standart tadi. Tapi itu hanya pandangan Zahra saja. Tidak harus begitu. Hanya jika memang kak Kevin ingin serius bantu, maksud Zahra jangan tanggung-tangung gitu."


"Iya... paham. Baiklah. Zahra bersedia mengurus ini dan itunya? Sebab lebih mengerti ku?"


"Insyaallah bersedia kak "


"Eh... tapi, jangan dulu. Kamu harus ijin sama suamimu terlebih dahulu. Jika tidak di ijinkan. Nanti aku yang menemui pemilik PAUD itu, dan mencari konsultan yang lebih paham dengan konsep yang kita rencanakan tadi."


"Masyaallah. Terima kasih sudah mengingatkan Zahra untuk minta inin suami terlebih dahulu ya kak."


"Sama-sama. Tugas kita saling mengingatkan Zah."


Bersambung...


Maaf telat


Sedang lama di RL

__ADS_1


Lupa ngehalu


🤪☕


__ADS_2