OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 205 : APELDOORN MEMANGGIL


__ADS_3

Sesuai kesepakatan akhirnya Ay memiliki pengasuh. Seorang janda berusia 45 tahun pernah memiliki satu anak namun telah meninggal dalam kecelakaan bersama suaminya, ia bernama Laras.


Dalam perjanjian kontrak pun telah di sepakati bahwa ia nantinya akan ikut serta dan bersedia bekerja di mana Muna berada. Kontrak itu di buat untuk 1 tahun, boleh di perpanjang boleh tidak, tergantung kesepakatan antara pihak Kevin maupun Laras.


Muna sejak awal ingin menerapkan ASI ekslusif yang ia berikan secara langsung terhadap Ay. Namun, mengingat nanti dia akan kembali kuliah, dengan jadwal lagi bahkan tidak menentu. Maka, Ay sekarang seolah bisa lepas darinya dalam hal di beri ASI. Sebab, air susu Muna sudah di pompa dan di kumpulkan sebagai stok, bahkan Ay telah tampak mahir menghisap melalui dotnya.


"Yang..."


"Hmm.."


"Aydan sudah jarang minum ASI langsung ya."


"Iya... Sama bunda Laras juga kayaknya udah terbiasa. Jadi nanti kalo Muna kuliah, insyaallah tidak rewel kalo di tinggal. Padahal, sebenarnya masih suka liat dia gelonjotan di dada ini buat minum. Tapi Ay cepet adaptasinya."


"Mae... Anak laki-laki ga perlu lama minum ASI langsung sama mamanya."


"Kenapa?"


"Ntar kalo pacaran juga bisa ngemut lagi."


"ABAAAANNNG."


"Ha...ha..haa pengalaman pribadi yang."


"Amit-amit deh ampun kalo anak kita ntar ngikut abang urusan itu. Jangan sampai ya Allah."


"Amiin. Semoga ga nurun ya sayang."


"Ga nurun. Ya jangan di ajarin lah pap."


"Mana ada orang tua ngajarin begituan. Itu bakat alam sayang."


"Bakat alam, bakat alam. Aseeeem deh abang iih. Tolong bang, jangan sampai anak kita terjerumus hal begituan. Dosa bang."


"Iya... Tau. Sama-sama ya sayang kita arahkan mereka nanti."

__ADS_1


"Mereka... Kaya udah punya banyak anak aja."


"OTW ini. Sudah 2 bulan lho otong puasa. Boleh yang...?"


"Inget di buang diLUAR."


"Iya janji." Ujar Kevin sebentar kemudian sudah menabrak rakus bibir Muna yang baginya sangat menggoda.


Muna bisa apa? Saat iapun sudah merindukan otong. Semua gerakan tangan Kevin membuatnya meremang, rindu menggila untuk juga dapat merasakan getaran dan sentuhan dari lelaki kesayangannya itu.


"Mumun sudah basah ni. Udah lama mau ya?"


"Dieem ah. Lama ga ini." Tukas Muna yang langsung menyambar bibir Kevin kembali, menuai rindu yang selama ini terhimpit di sudut hatinya.


Kepala Kevin sudah berpendar mejelajahi dengan lidah lincahnya mengepung leher berhenti di gundukan sintal, berukuran big di sana.


"Jangan buat jejak di situ."


"Eheeemm..." Lenguh Kevin.


Kevin tampak geregetan membuat tato bulan sabit di kiri dan kanan pekarangan rumah mumun itu. Huh...!!! Jangan tanya betapa rusuhnya dada Muna mendapat perlakuan itu, Muna normal, bagai di puja perasaanya di perlakukan oleh sang penjelajah.


Oh... Otong yang di rindukan, akhirnya terasa keluar masuk mengesek dalam ritme yang lambat namun berangsur cepat, semakin mengeras dan masih terasa besar. Mumun berkedut, alami sekali jepitan reflek itu tak terhindarkan. Sungguh seolah menemukan sesuatu yang lama terhilang. Mereka tau, rasa yang membuncah itu adalah tanda-tanda otong ingin muntah. Muna mendorong, walau dengan sedikit rasa kesal. Sadar hasratnya pun tak kesampaian dengan maksimal, sebab semprotan itu benar tumpah di luar.


Cup Kevin mencium kening Muna lama.


"Makasih ya."


"Puas?" tanya Muna unfaedah.


"Ga lah." Jujur Kevin.


"Lagi?" tawar Muna


"Boleh?" Kevin memastikan

__ADS_1


"Mau. " malu Muna sambil menutup wajahnya.


"Ga puas?" tanya Kevin heran.


"Kagak." Jawab Muna yang langsung di tindih Kevin lagi. Ia tau... Yang di maksud Muna adalah ia belum or gas me dengan sempurna.


Maka Kevin segera membuat ulangan susulan, bagai anak SD yang mendapat nilai buruk saat UAS yang harus di remedi.


Bahkan dalam putaran kedua itu, permainan tentu lebih lama. Sebab, muntahan pertama otong tadi hanya bagaikan menikmati menu takjil saja. Hanya untuk membuka puasa dengan makanan ringan. Makanan intinya tentu lebih berat, dan lama untuk di *****. Tapi tetal harus sesuai protokol. Yaitu jangan buang sampah di dalam. Namun, walau demikian. Akhirnya Muna pun merasa puas sebab berkali-kali berhasil basah sempurna, walau otong tak harus nyembur, hanya tergesek dengan tajam, liar dan berulang-ulang. Tunai sudah puasa keduanya yang berakhir mugbang.


Rumah tangga itu berangsur adem ayem, semakin harmonis keduanya terlihat sangat menikmati status mereka sebagai orang tua.


Tidak terdengar lagi Muna ingin kembali ke rumah sakit untuk bekerja seperti masa hamil kemarin. Muna lebih senang di rumah menghabiskan banyak waktu untuk mengurus Aydan. Mengantar Kevin ke depan rumah sembari memandangi punggung kokoh itu pergi mencari nafkah untuknya dan Ay anggota baru yang semakin hari semakin membuatnya rindu cepat pulang bekerja.


Untuk urusan melayani suami, tentu saja Muna sudah berkonsultasi dengan dokter. Kontrasepsi apa yang sebaiknya ia gunakan agar dapat menghindari kehamilan. Agar tidak terjadi drama tidak puas atas pelayanan yang satu dengan yang lainnya. Dan akhirnya pilihan itu jatuh pada sistem kalender saja. Walau tentu beresiko, tetapi mengingat mereka pun akan saling berjauhan, bagi Muna akan aman saja untuk di patuhi.


Usia Aydan sudah lewat 3 bulan. Itu artinya sudah waktunya mereka kembali melanjutkan kuliah. Yang telah vakum 1 semester.


Rasa enggan kembali tentu ada, namun apalah daya Apeldoorn sudah memanggil. Demikian pula dengan Muna, yang walau terseok-seok mengumpulkan puing-puing cita-citanya menjadi sarjana. Tentu harus komit dengan pilihannya.


Tidak usah di tanya apakah Kevin ikut mengantar atau tidak ke sana. Tentu saja jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan diri dan pekerjaan kantornya untuk ia tinggal dalam kurun waktu lumayan lama. Bahkan posisi Gilang sudah geser dari sekretaris menjadi asisten pribadi Kevin. Sehingga timbul rasa cemburu dari Haikal, jika kenyataan memang Gilang yang lebih di percaya ketimbang dia. Namun hal itu, di sambut baik oleh Haikal, sehingga ia lebih menpunyai waktu yang lama berduaan saja dengan Gita di ruangan mereka, sebab Gilang lebih sering keluar kantor, ke pabrik juga keluar kota.


Gilang bohong jika tidak berdenyut aneh saat iris matanya kadang bersirobok dengan bola mata Gita. Tetapi, ia bukan tipe lelaki gegabah yang dengan mudah katakan cinta.


Sama dengan Gita, ia lebih paham apa arti gemuruh di dadanya saat terkadang ada kontak fisik tak sengaja tersenggol antara dia dan Gilang. Tetapi Gita pun merasa tidak tergesa-gesa untuk mencari pasangan.


Luka hatinya belum sembuh sempurna, ia telah habis banyak secara materi saat menjalin hubung kemesraan dengan Baskoro. Yang saat berkenalan mengaku dirinya adalah pengusaha muda. Bahkan sangat hafal betul dengan silsilah keluarga Mahesa. Belum lagi pengakuannya yang mengatakan jika ia adalah adik tingkat Kevin saat sama-sama kuliah di Inggris. Tentu saja membuat Gita percaya.


Jangan tanya betapa romantisnya pria itu memperlakukannya, bahkan saat makan es cream pun, Gita bahkan seperti tak memiliki tangan sendiri. Sebab ia selalu memaksa Gita untuk makan apapun dari tangannya, Baskoro yang wajib menyuapinya, atas peraturan dari Baskoro sendiri.


Bersambung...


LDRan lagi niiih


Thx Gift, like, komennya.

__ADS_1


Lope kalian semua❤️


__ADS_2