OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 207 : I PROMISE


__ADS_3

Sebuah pernikahan benar saja bukan akhir segalanya. Justru awal dari segala sesuatu. Termasuk semua karakter asli pasangan lambat laun akan muncul secara alami, tidak di buat-buat bahkan tak bisa di tutupi.


Sejak awal pacaran pun memang Muna khawatir akan masalah yang muncul jika ia menjalani semuanya secara bersamaan. Bukan ingin lari dari tanggung jawab pilihan sendiri, tetapi bukankah Kevin sendiri yang meyakinkan pada Muna bahwa ia adalah satu-satunya orang yang mendukung istrinya tersebut untuk yakin dan mengijinkannya kuliah.


Tetapi mereka manusia, yang di saat mabuk kepayang akan mengeluarkan semua bujuk rayu yang bahkan bulan bintang pun mampu di petik demi cinta. Gunung Pujiama pun siap di geser dempet dengan Tangkuban Perahu asalkan melihat senyum manis sang pujaan hati. Oh indahnya saat kasmaran.


Lalu bagaimana saat rumah tangga itu terseret dalam deraan masalah. Haruskah segala isi kebun binatang keluar juga? Bahkan hal yang telah di anggap tutup buku untuk di ungkit pun, harus terseret masuk menjadi trending topik untuk melempar kesalahan satu sama lain?


Dua hari berlalu, benar saja Ay sudah jauh lebih tenang dan membaik. Tidak ada lagi tangisan dan teriakan yang berlebihan. Kembali anteng, damai dan diam sama seperti keadaan Muna dan Kevin yang tampak melancarkan aksi pelit bicara, semacam perang dingin.


Bukan perang besar sih, sebab masih ada kopi tiap pagi di atas meja. Tetap ada pakaian kerja yang akan Kevin gunakan di tengah malam saat ia akan memantau kantor dari jarak jauh. Tetap ada sholat bersama, salim takzim pada punggung tangan suaminya, juga ciuman sayang pada kening Muna saat bangun tidur dan setelah melaksanakan sholat dalam 5 kali sehari.


Tetapi, apa iya ibadah mereka tersebut di terima Allah? Bahkan keduannya seolah tak saling sapa seperti sebelumnya. Sangat terasa dingin, bahkan suam suam kuku pun tidak.


Kewajiban sebagai istri yang melayani suami dengam tetap memperhatikan makanan, pakaian dan keperluan lain memang telah di lakukan Muna. Tapi, apakah sudah benar cara dua insan yang katanya sudah sebagai orang tua ini mengatasi masalah mereka, bahkan hanya karena soal anak yang tak sanggup mereka atasi.


Tidak tau siapa yang memulai perang dingin itu. Tetapi Muna terlebih dahulu merasa ketidaknyamanan itu harus segera di akhiri.


Baby Ay tidur bersama mereka berdua di kamar, sebab sejak awal mereka telah membahasnya. Jika nanti di Apeldoorn Ay akan tetap tidur bersamanya walau ada baby sister.


Saat itu hari senja, Ay tampak nyaman ngoceh tak jelas bersama Kevin di ruang tengah. Sedangkan Muna tampak mengurung diri di kamar cukup lama.


Kevin menyadari durasi yang Muna gunakan di dalam kamar tidak sebentar, jika itu hanya di gunakan untuk mandi.


Maka Kevin menyerahkan Ay pada Laras. Lalu beranjak masuk ke kamar mereka. Dan Kevin melihat Muna tengah memindahkan beberapa pakaian kedalam tas besar. Demikian juga buku-bukunya telah tampak berpindah ke dalam dus yang siap di pak.


"Ada apa?" tanya Kevin dengan nada datar.


"Tidak ada apa-apa."Jawab Muna tanpa menoleh ke arah Kevin. Sebab dengan mendengar pertanyaan itu saja membuat hatinya mencelos dan matanya mengandung air yang siap tumpah.


"Kenapa??" Kevin bertanya lagi dengan kalimat penuh tekanan.


Muna hanya diam dan terus saja sibuk memasukan pakaiannya.


"Katakan dengan baik, Mae mau apa?"


nada suara Kevin sedikit turun, tau jika hati Muna sedang tidak baik-baik saja.


"Kita pulang ke Indonesia saja bang." ujarnya lirih.


"Maksudnya?"


"Ya pulang. Bukankah rumah tangga yang sempurna adalah yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu atap? Dan istri yang baik adalah selalu berada dekat suami dan melayaninya secara lahir batin. Untuk itu Muna minta maaf atas semua yang terjadi kemarin." Muna meraih tangan Kevin dan mencium punggung tangan Kevin tanpa di minta.


"Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Bukankan Mae sangat ingin menjadi sarjana?"

__ADS_1


"Sudahlah... lupakan saja semuanya. Melayani suami dan menjadi ibu yang baik juga mungkin tidak buruk untuk tujuan hidupku selanjutnya, bang."


Kevin memeluk tubuh Muna yang langsung bergetar menangis hebat di dada bidang suaminya itu. Kevin tau, Muna sedang bertarung dalam batinnya. Melawan egonya sendiri. Lagi, berada dalam keadaan dan pilihan yang membuatnya goyah.


"Maafkan Muna yang selalu ingin menang sendiri bang. Sekarang Muna sudah menyerah saja. Akan menjadi istri dan ibu rumah tangga saja." Lanjutnya dengan nada suara yang sangat tegar, pura-pura kuat.


"Maaf... abang yang harusnya minta maaf padamu." Sadar Kevin, Muna sedang gamang.


"Muna yang sejak awal pun sudah sangat egois dan mau menang sendiri. Malam ini kita pulang saja." ujar Muna yang sudah mulai bisa meredakan tangisnya sendiri.


"Jika memang ada yang harus pulang, itu hanya abang yang boleh pulang. Kalian tetaplah di sini. Maaf, abang hanya tersulut emosi malam itu."


"Ya ... dan Muna terlalu panik sehingga dengan mudah melempar kesalahan Muna pada abang. Maaf." Pintanya tulus.


Kevin mengisap bibir Muna posesif, tak tahan jika organ itu selalu mengeluarkan kata-kata yang tak ingin ia dengar.


Dalam sepersekianmenit, mereka terpaut dalam decakan bersahutan. Emosi keduanya seketika runtuh hanya kerena adu lidah tak berkata namun penuh makna terkandung.


"Maaf... abang cinta Mae. Abang tidak pernah ingin menjadi orang yang mengekang Mae. Selesaikan kuliahmu hingga tamat. Maaf banyak membuat luka dan selalu membuatmu berjalan di atas pilihan yang sulit."


"Semua tidak serumit ini, jika dari awal Muna patuh pada abang." Ujar Muna tenang.


"Memiliki anak adalah anugrah, menggapai cita-cita juga kesempatan. Jalankan saja keduanya dengan pikiran lebih rilex lagi."


"Maaf... abang tidak bisa memberimu ijin. Tetaplah menjadi istri abang yang kuat, Muna yang gigih ingin mencapai cita-citanya, sekaligus menjadi ibu terhebat bagi Ay. Ini hanya ujian sayang, mari kita lewati bersama." Ujar Kevin lagi membawa Muna dalam pelukannya dan mencium kening Muna penuh sayang.


"Muna sudah punya segalanya, dimiliki abang dan memiliki Ay. Gelar itu bukan segalanya. Muna ingin menjadi istri salehah saja." Pilih Muna tegar.


"Bagaimana jika kini, cita-citamu telah abang rubah menjadi sebuah permintaan?"


"Maksudnya?"


"Jadilah Sarjana lulusan Winttenborg University Of Applied Sciences. Dengan begitu abang pun terhindar menjadi suami yang di luck nati Allah."


"Sudahlah, Muna bahkan sudah tidak bergai rah menyelesaikan ini hingga tuntas." Muna teguh pada pikiran terbarunya.


"Jika dulu menjadi mahasiswa adalah impianmu. Sekarang abang yang meminta. Tolong, menjadi sarjanalah agar menjadi istri yang sepadan untuk abang." Kevin sengaja memilih kalimat yang terkesan menantang itu, sebab hanya dengan di pancing begitu, Muna pasti meradang kemudian bertekuk lutut.


"Yaaang. Saat Muna sendiri saja sulit. Apalagi sekarang ada Ay. Muna nyerah saja bang."


"Abang tidak mengenalmu. Istri abang itu tangguh. Pliis, selesaikan dan jalankan semuanya semampumu. Abang selalu ada untuk mendukung kalian. Jangan buat abang malu punya istri hanya lulusan Sekolah Menengah Atas."


"Abaaang... malu punya istri lulusan SMA?"


"Menurut loe?" kekeh Kevin.

__ADS_1


"Sulit bang, berat."


"Abang bantu."


"Makin berat."


"Apanya yang berat?"


"Ay?? Abang bawa pulang."


"Ga..."


Kevin sudah malas beradu argumen dengan Muna, ia lebih memilih menggendong tubuh itu untuk ia kungkung di atas tempat tidur.


Memilih menyelesaikan semua masalah mereka dengan bernegosiasi dengan jalur praktis. Saat raga juga jiwa mereka bersatu, kembali pada titik nol. Melakukan semuanya atas dasar cinta, memilih percaya semua akan selesai dan baik-baik saja.


"Yang kita belum isya."


"Ntar selesaikan ini dulu, sebentar."


"Ingat buang di..."


"Diaam!! Kita bahkan baru punya Ay, sudah mau perang dunia saja."


"Huum... maafin Muna bang."


"Sama, abang juga salah. Maaf ya, lain kali kita lebih rilex hadapi semuanya ya sayang."


"I promise pap."


"I love you more beibph."


Sudah taukan pertengkaran kemarin berakhir dengan apa? Dan aktivitas selanjutnya adalah hal yang tak sempat author uraikan di sini. Silahkan berkelana sendiri.


Bersambung...


Okeeeh.. konfliknya gitu aja oke.


Cabe mahal, nyak ga sanggup beli


Bawang juga ikutan naek.


Nge mut permen ajaah kita


Lov buat semua readerku

__ADS_1


__ADS_2