OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 82 : TOLONG JANGAN MESUM


__ADS_3

Di dalam salah satu kamar penginapan masih di area pantai Anyer kini Kevin dan Muna berada. Dua insan berbeda kasta juga berbeda jenis kelamain namun saling memiliki rasa yang sama, yaitu mungkin dapat di katakan cinta.


Apakah yang akan terjadi antara kedua makhluk ciptaan Tuhan ini kala hanya ada mereka berdua, beberapa setan yang dikirim Tuhan untuk menggoda bahkan mungkin menguji iman keduanya.


Untuk pertama kalinya Kevin melihat penampakan wajah cantik Muna sedikit cemas, tampak dahi dan keningnya melembab, karena keringat mengembun, bahkan dalam suhu kamar 18 derajat celcius.


Kevin tau, Muna khawatir akan hal-hal yang sangat ia hindari selama ini. Kevin senang melihat ekspresi takut di wajah gadis kecil pemberaninya tersebut.


Kevin bahkan sengaja melepas atasan kaos yang sedari tadi melekat di dada bidang kekarnya sexy.


Sesaat jiwa jarawa Muna menciut, nyalinya mengerdil tatkala lututnya tiba-tiba melemas melihat dada tanpa benang penutup yang hanya berjarak 5 langkah dari posisi berdirinya.


"Ok... ga ada jawaban. Berati abang yang duluan mandi ya. Silahkan tunggu, mau pilih duduk atau rebahan di tepian ranjang itu."


"Kagak... Muna aje yang duluan." Ucap Muna yang segera melompat bagai macan terbang masuk ke dalam kamar kecil di dalam kamar itu.


Kevin terkekeh, melihat ekspresi takut di wajah Muna. Bahkan saat ia masuk ke kamar mandi, ia lupa membawa pakaian gantinya.


Tok


Tok


Tok


Kevin mengetuk pelan pintu kamar mandi di depannya.


"Ngapaa bang?" teriak Muna dari dalam yang sudah mulai melucuti pakaian atasnya. Namun kemudian terduduk lesu di atas closet duduk di dalam.


Sekedar menenangkan diri dari kegelisahannya, menyadari hanya bermodal handuk yang di berikan Kevin untuknya. Sementara pakaian yang di gunakannya tadi, tentu sudah tidak layak di pakai karena kotor akibat aktivitasnya seharian di pantai.


"Mandinya sudah belom?"


"Kagak jadi..." Jawab Muna yang telah memasang kembali pakaiannya dan memilih tidak mandi dari pada harus keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya nanti.


"Buka sebentar Mae...?"

__ADS_1


"Abang mau ngapain...?


Bang... tolong jangan mesum." pintanya setengah memelas.


"Ini abang mau kasih pakaian Mae tertinggal di luar. Abang gantung di pintu ya, abang keluar sebentar." Kevin melonggarkan suasana mencekam dalam hati Muna yang sungguh merasa mulai terguncang dan tidak aman.


Pelan-pelan Muna membuka kunci pintu kamar mandi, memastikan di gagang pintu tersebut benar tersampir plastik berisi pakaian yang ia beli tadi. Kontan Muna meraih plastik tersebut, masuk kamar mandi dan mengunci dirinya kembali melanjutkan aksi mandinya dengan ritme cepat.


Muna sudah menggunakan pakaian barunya, keluar dengan handuk yang melilit di kepalanya, sebab ia memang sejak tadi merasa gerah dan gatal di area kulit kepalanya akibat terkena peluh dan sinar matahari sepanjang hari di pantai tadi.


Kevin sudah berdiri bersandar dengan punggung kokohnya, melipat satu kaki ke tembok dan memasukan satu tanganya ke dalam salah satu kantong celananya.


"Abang... bikin kaget Muna aje. Ngapa bediri di depan pintu kamar mandi, kayak petugas masjid nunggu uang wakaf deh." Muna berusaha tenang, seolah tidak ada badai melanda hatinya.


"Maaf... abang udah kebelet Mae. Eh... ini abang lupa. Selalu terbawa di mobil, saat abang ke Singapura kemarin abang ada beli parfum buat Mae. Di pake ya semoga suka." Jawab Kevin yang sudah beranjak masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.


"Dasar cowok kagak romantis, katanye Muna calon bininye. Ngasih oleh-oleh aja udah hampir sebulan ketemu. Jangan-jangan bo'ong di beli di Singapura. Paling di pasar Tomang. Muna pan juga mau di kasih apa gitu kayak di novel-novel romantis yang pernah aye baca. Hm... tapi yaaah. Hidup Muna pan di dunia nyata, kagak di novel apelagi kayak dongeng cinderella." Muna terus ngedumel sendiri sambil merapikan penampilannya, dan juga iseng membuka parfum pemberian Kevin untuknya tadi.


"Buseeeeet... harum bener ni minyak wangi. Ape eniih ye... yang orang bilang original. Tahan lama kagak ye, tiba Muna pake ke kantor naek motor kena angin di jalan, seeeeer ngambang daaah wanginye ke mane-mane. Sisa bau Muna yang asli yang muncul sampe kantor. Ha...ha...ha" Muna benar telah tampak melupakan ketakutannya tadi saat Kevin berada dengan durasi yang lama di kamar mandi.


Muna memilih duduk di tepian tempat tidur yang menantang di hadapannya, menggeser layar ponselnya memandang indahnya pantai Anyer juga memilih satu posenya yang menurutnya menawan saat sendiri di pingiran pantai tadi, untuk di jadikan wallpaper ponselnya.


Terdengar kunci pintu kamar mandi terbuka. Di lanjutkan sebuah penampakan sosok pria dengan rambut basahnya diambang pintu, bergerak maju ke arahnya hanya dengan sepotong handuk yang melilit di pinggangnya.


Sexy


Tapi horor bagi Muna.


Kevin sudah bergerak semakin mendekat arah Muna duduk. Ia menyesal mengapa mengikuti saran Kevin untuk menunggunya dengan konyol bagai sapi ompong di kamar yang jelas-jelas berisi seorang pria mesum yang harus ia takuti.


Kevin tidak memberikan jarak seincipun pada Muna, kini wajahnya mulai mengendur di area leher Muna, mengendus seolah mencari-cari aroma sesuatu di sana.


Sontak Muna menampol sebuah bantal pada wajah Kevin. Berdiri sambil berteriak."Abaaang..., tolong jangan mesum. Atau abang kagak liat Muna bernyawa lagi." ancam Muna.


Kevin terperanjat dengan gerak cepat Muna yang berdiri dengan kasar, membuat lilitan handuk yang bagai seolah hanya di cantol dan mudah terlepas itu.

__ADS_1


Sehingga selamat handuk yang tadi melilit menutupi area terlarang Kevin kini sudah teronggok kaku di lantai kamar penginapan itu.


Muna yang memang dalam posisi tegak mendirikan tubuhnya dari tempat tidur tadi, tentu sedang melihat ke bawah.


"AAABBAAAAAANG!!!" Histeris Muna saat matanya melihat handuk putih itu sejajar dengan mata kaki Kevin. Dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil bergeser menjauhi dirinya.


"Mae... apa siih. Bisa ga, ga teriak-teriak gitu. Untung kamar ini kedap suara, kebayang ga? Suara teriakanmu itu bisa bikin orang mikir ada praktik pembunuhan atau pemerkosaan di sini." Kevin kesal pada Muna kemudian berbalik ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.


"Abang mesun"


"Mesum apaan? Otak Mae yang ngeres."


"Handuk abang... tuuh masih di lantai pan. Abang mesum!!!"


"Buka tutupan matamu dan lihat dengan benar. Abang hitung sampae tiga, kalo ga. Abang beneran telanjang deh di depan Mae." Ucap Kevin yang bahkan sudah memasang pakaian atasanya. Dan bagian tubuh bawahnya sejak tadi memang sudah menggunakan boxer dan celana pendek di atas lutut. Hanya sengaja di lilit kembali dengan handuk.


Secepatnya Muna membuka tangan yang ia gunakan unyuk menutup matanya dan melotot ke arah Kevin yang memang tampak telah berpakaian dengan sempurna.


Pletakh...


Kevin sukses menjitak dahi kekasihnya itu dengan gemas.


"Bilang sama abang kriteria mesum dalam otak kamu itu yang bagaimana Mae...?"


Muna cengegesan sambil menggosok dahinya bekas jitakan Kevin.


"Ya maaf... Muna kire abang keluar tadi cuma pake handuk doang. So' so' an jadi model iklan yang lagi promosi gitu bang." Jawab Muna malu setengah mati, sambil menjepit bibirnya.


Bersambung...


Yaaah... tiba emak-emak pada nongkrong, di kira dapet adegan pelem unyil. Si nyak othor masih muter-muter aje kayak akang gendang yaakπŸ™ˆ


Harap bersabar ye..


Nyak masih nyari tempat ngutang niih buat ngebiayain nikahan Kepin ame Muna🀭😁

__ADS_1


Lopeh-lope seKecamatan buat semua


πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ™β€οΈβ€οΈβ€οΈ


__ADS_2