
Segala rangkaian perawatan spesial pun sudah mereka bertiga jalani hampir sepanjang hari. Setelah menyelesaikan sholat magribnya, bagai sulap bagai sihir para tangan trampil MUA telah berhasil mengglow up wajah Muna yang telah terlahir cantik dari sananya.
"Pre... tampang aye ape kagak berlebihan niih. Muna malu banget dandan ke gini."
"Iiissh... Muna gimana siih. Ini tuh cantiiik dan keren banget tau ga."
"Tapi Muna kagak biasa." Muna sudah mengangkat rambutnya ingin mengikat cepol.
"Eehh... ngapain di iket. Itu sudah sangat sempurna. Coba Muna kirim foto ke kakak. Pasti dia bakalan nyesel ga bisa deket sama kamu sekarang." Prety tak berhenti memuji kecantikan Muna yang makin terpancar di wajahnya.
"Iish malu ah Pre..."
"Pokoknya kak Kevin rugi banyak ga liat penampilan Muna malam ini." Prety keukeh dengan oujiannya terhadap penampilan Muna yang baginya malam itu sangat sempurna dan memukau.
Muna hanya tersipu mendengar penuturan dari Prety. Diam-diam Muna juga mengirimkan picnya pada Kevin.
"Assalamualaikum bang. Maaf ye. Prety nih dari pagi ngajak Muna perawatan dan di suruh dandan ke gini. Abang kagak marah pan? Muna jadi norak... kaya ondel-ondel pan, bang?" isi chat Muna yang tiba-tiba merasa tidak enak hati berpenampilan sesempurna itu, bahkan saat kekasihnya tidak bersamanya.
"Walaikumsallam.
Waaw, calon bini abang cantik banget siih. Ngapain abang marah, tambah cantik gitu sayang.
Rugi banyak abang ga bisa liat secara langsung. Maaf ya sayang ponsel abang matikan dulu, ini pesawat mau take off." Balas Kevin yang kembali mnciutkan hati seorang Muna, yang tadi sekedar ingin membuat laporan khusus pada Kevin.
Muna sedikit kesal dengan jawaban singkat itu, namun tetap bersyukur chatnya masih di balas. Padahal, jika Kevin menelponnya ia ingin bercerita tentang perkenalannya dengan papi Kevin tadi.
Tetapi, Kevin sudah buru-buru memotong obrolan mereka, walau hanya melalui chat. Sepertinya chat tadi hanya menggangu waktu Kevin saja.
__ADS_1
Muna hanya sedikit merasa sepi dan agak dongkol sendiri. Benar yang Prety katakan, Kevin rugi banyak tidak hadir bersamanya dengan wajah cantiknya sekarang.
Muna dan Siska tidak punya pilihan, selain berpasrah saja saat acara hampir di mulai. Sebab benar saja mereka tidak di ijinkan untuk sekedar bertegur sapa bahkan dengan sesama OB sekalipun di sana.
Tempat duduk mereka berada di depan tepat di depan panggung acara. Muna dan Siska semacam masuk dalam deretan tamu VIP di sana. Jangan tanya betapa hiruk pikuknya lalu lintas yang terjadi di dalam hati Muna.
Mulai dari rasa rindu, malu, rendah diri, sampai menguatkan hatinya sendiri pun semua ada di dalam dadanya. Tidak pernah terbayangkan olehnya bisa berada di tempat ini sekarang. Selintas pandang matanya hanya bisa melihat ke arah perairan yang di hiasi lampu-lampu kerlap kerlip warna warni, indah sekali.
Samar suara ombak berdebur-debur menjilati bibiran pantai. Berkejaran berlomba menuju daratan, sama seperti hati Muna yang sesungguhnya telah rindu pada hadirnya sosok Kevin malam ini. Entahlah ia begitu melow saat itu.
Muna hanya ingin berlarian di pinggiran pantai itu. Menyusurinya sama seperti saat ia berada di Pantai Anyer beberapa waktu yang lalu.
Belum lagi matanya.
Muna terpana saat di suguhkan dengan penampakan beberapa yacth yang berjejer di sepanjang pinggiran perairan laut Jawa itu.
Pak Bondan selaku orang akan di lepas pada acara tersebut pun tentu juga berada di barisan depan tersebut. Nampak bu Puspa agak jengah melihat Muna ada di antara deretan itu. Sehingga sedapat mungkin ia berjalan mendekati Muna dan Siska.
"Muna... kamu juga hadir cantik." Sapanya ramah mendekati Muna yang juga tidak jauh dari mama Leina.
"Waah... bu Puspa sudah kenal sama Muna. Yaaah jadi ga surprise dong." Mama Leina menjawab sapaan bu Puspa ramah.
"Iya... beberapa hari lalu kami ada ketemu di mall. Mereka jumpa dengan mas Bara. Iyakan Muna?"
"Hem iya Ma. Beberapa hari yang lalu Muna dan Siska ga sengaja ketemu bu Puspa." Jawab Muna sedikit kaget setelah bu Puspa mendekatiya, yang ternyata setali tiga uang dengan anaknya si Bara itu, getol.
"Oh...ya? Jadi mama ga perlu memperkenalkan kalian lagi dong." Jawab mama Leina dengan senyum terkembang dibibirnya.
__ADS_1
"Mama..., apa saya ga salah dengar. Kenapa Muna panggil mama. Muna siapa mbak?" tanya bu Puspa kepo.
"Ya iyalah panggil mama. Kan Muna calon istrinya Kevin." Jawab mama Leina sambil mencubit dagu Muna dengan gemesh.
"O...aaaa...eheem. Beggitu." Jawab bu Puspa terbata. Hampir copot jantungnya mendapat sebuah kenyataan bahwa gadis yang ia incar menjadi menantunya justru adalah kekasih orang nomor satu di perusahaan tempat anak dan suaminya bekerja.
Lemes dan tiba-tiba puyeng, membuatnya beringsut menjauh setelah mengetahui mengapa Muna ada di deretan terdepan. Itulah yang melanda bu Puspa sekarang. Tidak menyangka, pilihan seorang CEO itu justru hanya pada seorang gadis berprofesi sebagai OB. Tak pernah terlintas dalam pikirannya begitu rendah selera seorang Kevin Sebastian Mahesa itu.
Ibu Puspa masih sibuk dengan pikirannya sendiri, mencoba menerka mungkin ada kesalahan informasi yang ia dapatkan. Tetapi melihat bagaimana interaksi antara mereka memang terlihat akrab dan sudah sangat saling dekat satu sama lain. Tuduhan dan kecurigaannya terhadap Muna pun berayun-ayun di keplanya, bahwa mungkin Muna telah melakukan hal di luar nalar untuk menarik perhatian seorang CEO muda itu. Namun, semakin lama ia lihat ia merasa hunbungan mama Leina dan Muna terlihat alami dan tidak di buat-buat atau rekayasa. Membuat patah hatinya semakin berlanjut untuk menjadikan Muna menantunya seperti yang ia inginkan beberapa hari yang lalu.
Suara pembawa acara sudah mulai menguar di area tersebut. Mungkin Kevin berlebihan, untuk ukuran perpisahan dengan salah satu karyawannya saja harus membuat panggung sedemikian rupa di lengkapi barisan pemain band di sana.
Acara telah di mulai, yang awali dengan acara doa bersama. Untuk kelancaran acara mereka tersebut, untuk segala hidangan yang tersaji di sana, juga untuk kelangsungan kegiatan pa Bondan selaku pegawai yang memasuki masa purna. Agar tetap selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Pembawa acara sudah memanggil Pak Bondan, selaku orang yang akan meninggalkan kantor karena masa pensiunnya telah tiba. Sepata dua patah kata telah berhasil pak Bondan sampaikan di saksikan dan di perhatikan secara seksama dari semua orang yang berada di sana.
Terdengar di sana betapa pak Bondan bahkan telah menganggap perusahaan Mahesa tersebut bagai rumah keduaya, yaitu sesuatu yang selalu membuatnya rindu untuk semangat bekerja. Juga sangat merasa diperlakukan dengan baik oleh orang-orang di kantir tersebut, terlebih-lebih sang CEO muda yaitu Kevin Sebastian Mahesa.
Bersambung...
Pak Bondan baik ye makanya bisa jadi kesayangan Kevin juga.
Like, Komen dan hadiah kalian bikin nyak mau crazy up akhir pekan ini.
Semoga nyak khilaf untuk up lagi nanti malamπ€
π€π€ππππ
__ADS_1