
Gilang dan Gita memang pemula, tapi urusan peluh dan desa han mana bisa di rekayasa. Lelah pasti tapi semua luruh berganti kepuasan tiada tara yang menjalari hati keduanya.
Gilang tak henti mencium-cium wakah istri tercinta. Seolah tak bosan-bosannya, menempel bibirnya pada pipi, hidung, mata, dahi, dagu. Semuanya lah, semuanya membuat Gilang gemes dan geregetan.
"Mandi yuk...Beibph ." Ajak Gilang mesra.
"Apa tadi manggilnya?" latah Gita.
"Beibph alias sayang." Ulang Gilang dengan semyum menawannya.
"Iih... di panggil gitu kok rasanya bikin hati eneng glezet... glezeet sih A'a yank." Balas Gita tak mau kalah.
"Iih... panggil A'a pake yank kok... bikin a'a melayang siih beibph." Kekeh Gilang yang akhirnya menggendong tubuh Gita ke arah kamar mandi hotel itu.
"Ga usah di mulai gombalnya A'ayank. Eneng udah pasrah nyerah ini. Udah di obok-obok juga." Gita mencium sebentar bibir suaminya.
"Hati-hati memilih tempat mendaratkan ciumannya beibph." tegur Gilang pada Gita.
"Kenapa?"
"Kita udah halal. Bawaannya mau nerobos terus kalo udah di pancing dikit gitu." kekeh Gilang pada Gita.
"Ya udah maaf. Siap ga ulangi lagi." Manyun Gita mendapat teguran dari suaminya.
"Bibirnya ga di manyunin gitu juga beibph." tegur Gilang lagi yang sudah meletakan Gita dalam bath up.
"Kenapa lagi...?" tanya Gita menoleh ke arah Gilang yang sudah mulai mengisi air di dalam bak besar itu. Lalu berbisik di dekat telinga Gita.
"Bikin hor ni. Tuh liat si jaka udah mau baris berbaris." tunjuk Gilang pada si jaka yang agak-agak mau on.
"Oh mai got jaka. Kenapa dulu ga masuk tentara saja sih. Hobby mu kok baris berbaris. Adeks lelah A'..." Resah Gita takut akan di gempur lagi.
"Becanda neng. Ini berdiri sebagai tanda hormat saja. Nanti juga diem, akting aja ini mah... kan udah dua ronde." Bahak Gilang yang tau istrinya sudah kelelahan melayaninya tadi.
"Alhamdulilah. Janji ya A' jangan minta lagi. Beneran yang awal sakit di bagian itu tuh, yang kedua, pinggang remuk. Ga bisa neng bayangin, kalo di pake lagi, kita bakalan malu."
"Kenapa?"
"Cukup malam akad kita di kantor satpol PP. Jangan sampai gegara ML beredar kabar eneng masuk UGD. Bunuh aja eneng, A'. Ga sanggup nahan malu." Jelas Gita pada Gilang.
__ADS_1
"Istriku paling pintar kasih alibi. Siniin punggungnya. Biar a'a pijet pake sabun." Gilang sudah ikut masuk ke dalam bak besar itu lalu memilih duduk di belakang tubuh Gita.
"Yakin punggung aja yang di pijet A'?"
"Jangan mancing."
"Siapa juga yang mau mancing. Ga ada ikannya ini." canda Gita.
"Udah deh... lama-lama capek juga a'a ngomong sama eneng." Kekehnya lalu benar hanya memijat dan menyabuni punggung Gita.
Hanya membutuhkan waktu kurleb 20 menit. Keduanya sudah selesai mandi. Kemudian seolah janjian tanpa sadar mereka menggunakan pakaian senada yaitu berwarna putih. Keduanya hanya saling melempar senyum untuk kekompakan mereka tersebut.
Gita akhirnya mengaktifkan ponselnya. Ternyata panggilan Kevin memang sudah sedari tadi berkali-kali masuk namun tak terjawab.
Isi chatnya sama dengan yang di secarik kertas tadi. Tidak lain, hanya memastikan mereka cukup makan agar memiliki stamina yang kuat. Juga mengingatkan jika besok jadwal mereka adalah kaji tiru di sebuah perusahaan besar. Bukan hanya melulu berbulan madu.
Gita tertawa kecil membaca isi chatt usil, khawatir atau memamg kepo dari sang kakak.
"Iya kak. Gita ingat kok. Tujuan ke sini tuh kerja. Btw... makasih makan siangnya. Sangat lezat dan tepat waktu." Balas Gita untuk melegakan hati Kevin, jika ia masih hidup dan tidak sedang di bantai habis-habisan oleh Gilang.
Gita manja atau di manjakan ya...? Sehingga saat Gita asyik membalas chat tadi. Gilang sudah mengaduk-aduk makanan yang akan mereka makan bersama.
"Eh.. huum." Suara Gita lalu segera mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya.
"Iih... kok Ayank yang suapin eneng. Bukannya istri ya yang harus melayani suami?" malu Gita sebab Gilang sangat memanjakannya.
"Saling melayani saja beibph." Jawab Gilang tulus.
"Ayank... eneng ga pinter masak lho."
"Ya wajar... eneng kan bukan koki." Jawab Gilang santai.
"Tapi besok kalo kita sudah tinggal serumah... eneng ga cekatan lho masak dan ngerjain pekerjaan rumah." Bahas Gita.
"Bebeeebph. A'a nikahin eneng buat eneng jadi ratu bukan jadi babu. Lakukan yang eneng bisa lakuin saja. Selebihnya a'a yang kerjain." ya Tuhan... Gita seketika melambung ke angkasa mendengar kata-kata yang Insyaallah bener dari suaminya.
Gita sulit menggambarkan betapa hatinya luruh, meleleh yakin bahwa Gilang satu satunya pria yang ia pinta untuk jadi teman hidupnya selamanya. Perlakuan Gilang sungguh sesuai dengan kriteria dalam doanya selama ini.
"So' suitnya suamiku." Kesiap Gita senang.
__ADS_1
"Tapi, ayank kan kerja. Jangan lupa jabatan suamiku itu sekarang Wakil CEO. Masa harus beberes rumah juga?" lanjutnya.
"Insyaallah, setelah udah serumah nanti kita bisa buka lapangan pekerjaan buat orang lain. Mungkin menerima jasa yang mau kerja part time mungkin untuk beres-beres rumah gimana?" diskusi Gilang pada istrinya itu.
Gilang tau, ia menikahi putri raja. Tak pernah ia bermimpi melihat wanitanya itu akan memasak untuknya di pagi hari. Atau dasteran sambil maskeran, membersihkan rumah, bagai upik abu. Itu tidak ada dalam khayalan Gilang. Untuk itu ia sudah siap mental jika nanti, kopi pun akan ia buat sendiri tiap pagi. Dan ia berjanji pada diri sendiri tidak akan menuntut hal itu Gita lakukan untuknya.
"Kenapa yang part time. Yang nginap aja, biar bisa masak sekalian buat kita, Ayank." Timpal Gita.
"Huuummm... boleh ga ya...? sampai eneng hamil aja. Kita nikmati pacaran halal berdua-duan aja di rumah neng? Biar banyak waktu bermesraan." ya elaaah hati Gita nyut-nyutan dah, kalo sudah denger kata berduaan, bermesraan kayak gini oleh Gilang. Pikirannya udah traveling aja ke nirwana.
Sekelebat bayangan, siluet gerakan ero tis mereka menari-nari memenuhi pikiran Gita. Mengundang rona merah jambu, malu tersampir di wajah putihnya.
"Neng kenapa?" peka Gilang menyadari perubahan raut wajah istrinya.
"Ga... ga ada apa-apa kok."
"Bohong....?"
"Beneran ga ada apa-apa. Makasih atas pengertiannya suamiku sayang." Kecup Gita pada pipi Gilang. Saat makanan mereka benar sudah habis. Dan bibirnya sudah bersih.
Penunjuk waktu sudah mengarah pada jadwal sholat Azar. Maka keduanya pun melaksanakan kewajiban mereka tersebit bersama.
Lalu Gita memilih rebah melepas semua penat raganya. Sungguh hanya ingin memejamkan mata, dan berharap tidak akan ada gempa lokal yang mungkin terjadi oleh ulah suaminya.
"A'ayank. Nanti jangan lupa kalo tidur sama eneng. Jangan membelakangi eneng ya. Neng ga suka liat punggung." Racaunya sebelum benar benar terlelap.
"Siap bebeebph." Cium Gilang lembut sebagai pemgantar tidur siang yang kesorean itu.
Bersambung....
Sorry agak telat up.
Entah reviewnya agak lama
Sedang pembaruan sistem kali.
Semoga ada yang mengikhlaskan votenya.
Ngarep wooooyy
__ADS_1
Makasiiih ya