
Entah apa yang ada di dalam benak Kevin sesungguhnya. Sehingga memilih tetap merahasiakan status hubungannya dengan Muna yang memilih menjadi mahasiswa di negeri Kincir sana.
Dengan tetap menjaga jarak pada tiap lawan jenisnya. Baik kemungkinan berasal dari kolega bisnisnya, maupun sang sekretaris yang selalu tampak menjadi wanita sempurna di samping Kevin.
Tak sekali Belia seolah mengkondisikan kedekatannya dengan Kevin, terutama saat mereka berdinas ke luar kota. Kadang Belia bisa beralasan dalam urusan tidak mendapatkan kamar hotel. Yang menurut hematnya, saat lelah seharian bekerja, maka Kevin akan menerima saja mungkin tidur dalam kamar yang sama dengannya. Mimpi Belia.
Hahaha.... belum tau dia Kevin mantan cassanova, dari caranya memandang saja, Kevin tau sorot mata itu penuh hasrat menginginkaannya.
Kevin sering memilih tidur di mobil atau pindah ke hotel kelas melati saja, walau tak nyaman demi untuk menghindar dekat bersama Belia.
Kevin malas memulai konflik dengan Muna, ia telah lelah nakal. Yang ia inginkan sekarang adalah bagaimana caranya melewati waktu 4 tahun agar terasa sebentar, demi menunggu Muna dengan setia. Tipe pria seperti ini hanya ada dalam novel ya gaees🤭.
Tak jauh berbeda dengan Muna yang senantiasa menolak ajakan kencan para pria bule maupun lokal yang kadang secara terang-terangan menyatakan rasa sukanya, namun selalu Muna tolak dengaan alasan telah memiliki calon suami.
Empat semester berlalu, artinya dua tahun sudah Muna menjadi mahasiswa di Apeldoorn. Demikian juga dengan usia Muna pun berangsur menjadi kepala dua. Tepatnya kini berusia 21 tahun, sebab sempat satu tahun tertunda masuk perguruan tinggi.
Kakek Hildimar sudah berkoordinasi dengan Rona dan Dadang perihal pergantian kepemimpinan pada Hildimar Hospital miliknya. Dalam waktu dekat. Ia merasa sudah waktunya untuk pensiun.
Hildimar Herold pernah bercita-cita dan berjanji, akan menyerahkan kepemimpinaan tersebut pada cucu pewaris tunggalnya tepat di usia 20 tahun. Itu nazarnya.
Seolah benar yakin akan menemukaan cucu yang sempat hilang. Walau hanya seperti sebuah mujizat. Namun, berkat usaha yang layak dan tak laayak yang merekaa jalani, benar saja. Cucu pewaris tunggalpun mereka temukan.
Setahun terakhir kakek Muna memang telah banyak mengganggu Muna dalam hal mengajak Muna belajar berbisnis, kakek sering mengajak Muna untuk berkenalan dengan kolega bisnisnya di acara-acara tertentu pada perusahannya yang ada di Belanda dan sekitarnya.
Muna memang hanya mahasiswa semester empat, tetapi kemampuannya sudah dapat di uji. Muna cerdas, cepat tanggap dengan segala ilmu yang di cekoki untuknya. Sehingga kakek Hilidmar telah mantap percayakan untuknya dapat segera mengambil alih Hildimar Hospitaal tersebut untuk di pimpinnya.
"Muna... tiga hari lagi kita ke Indonesia. Kakek tidak punya waktu banyak untuk menunggumu selesai kuliah. Kakek akan segera menyerahkan Hospital Hildimar itu untukmu, menjadi direktur rumah sakit kita yang di Indonesia." perintah Kakek posesif.
__ADS_1
"Tapi minggu depannya Muna ujian akhir semester Kek. Apa tidak sebaiknya setelah UAS saja, kan Muna libur setelah itu, kita bisa lama di Indonesia." Tolak Muna pada kakeknya.
"Tidak bisa...!!! pokoknya harus minggu ini juga." Ucap Kakek tak bisa di bantah.
Siapa Muna... mungkin Rona dan Dadang bisa menaklukkan kakek. Tapi tidak dengan Muna. Dia memilih patuh dan tak bernyali menolak saat titah raja itu sudah di tetapkan untuknya. Memilih menerima, sekalian dapat sedikit melepas rindu pada kekasih hati yang pasti selalu menantinya, dengan rasa yang sama.
Kabar pemindahan pimpinan di Hildimar Hospital tentu merebak luas dalam waktu singkat. Seluruh bidang yang bertanggung jawab di rumah sakit tersebut sudah langsung tampak sibuk, bahkan seluruh kolega yang berkerja sama dengan pihak rumah sakit pun mendapatkan undangan untuk hadir dalam acara serah terimaa jabatan tersebut.
Mungkin memang telah di rancang oleh sang kakek. Ia mengambil momen ulang tahun Muna yang ke 21 tahun, benar akan menyerahkan tampuk kekuasaan di pundaknya. Juga ingin mengumumkan kekhalayak ramai siapa pewaris tunggal yang selama ini seolah di rahasiakan identitasnya.
Muna dan Kakek sudah berada di kediaman Hildimar, tidak jauh dari area rumah sakit milik mereka.
Selain mendapatkan informasi dari Muna, Kevin tentu mendapat undangan khusus dari admin Rumah sakit Hildimar. Sebab perusahaan Kevin juga telah menandatangi MOU kerja sama dalam hal pengadaan peralatan medis pada rumah sakit tersebut.
"Assalamulaikum... Mae. Sudah di mana?" chat Kevin di sela meetingnya.
"Insyaallah, sayang." balas Kevin mengetik di bawah meja, menghindar tatapan curiga dari peserta meeting tersebut.
Kali itu Kevin meeting membahas tentang kehadiran mereka pada acara yang di sampaikan oleh pihak Hospital Hilidmar.
"Huuum... berangkat bareng?" ajak Muna semangat.
"Beda arah yang, abang berangkat dari Bandung. Mae, sudah di Jakarta. Atau mau abang kirim supir buat jemput sayang ke Bandung, biar besok dateng bareng?" tawar Kevin iseng, walau pun ia tau jawabannya adalah tidak.
"Ngimpi aja si abang." balas Muna.
"Mae pulangnya lama?" laanjut Kevin.
__ADS_1
"Hanya seminggu, kamis harus sudah kembali. Seninnya UAS bang."
"Hmm... oke. Sampai jumpa besok malam sayang. Miss you so much beibp. Assaalamualaikum." Tutup Kevin dengan wajah berseri.
"See u my lov. Walaikumsallaam." balas Muna yang juga
semakin tak sabar ingin bertemu dengan belahan jiwanya.
Pada siang sabtu di sebuah ruang rapat Hildimar Hospital sudah terjadi secara resmi pengalihan kepemimpinaan di hadiri oleh notaris dan petinggi rumah sakit lainnya, itu sendiri sebagai saksi. Sehingga kini secara sah Monalisa Hildimar sudah resmi menjadi Direktur Utama Hildimar Hospital.
Banyak yang mengira Dadang Sudrajat yang akan menjadi Direktur Utama, sebab semua orang juga tau jika Dadang adalah menantu satu-satunya dari Hildimar Herold. Namun prediksi para pebisnis rumah sakit lainnya, meleset. Sebab mereka memang tidak mengetahui jika Hildimar Herold ternyata memiliki pewaris tunggal. Yang seolah selama ini di sembunyikan oleh Hildimar Herold.
Sesuai jadwal, bahwa pada pukul 7 malam adalah malam ramah tamah, serah terima jabatan antara kakek dan cucu tersebut. Di langsungkan di sebuah ballroom hotel mewah, yang di dekor mewah bak sebuah perhelatan akbar.
Kakek Hildimar sendiri yang meminta acara ini di laksanakan sedemikian meriah. Ia ingin merayakan ulang tahun ke 21 cucu tunggalnya ini dengan mewah dan megah. Muna duduk di deretan depan bersama kakek, mama, abah, ambu, nyak juga babe hadir di malam itu.
Muna sulit berkonsentrasi saat penunjuk waktu di pergelangan tangannya menunjukkan telah lewat 30 menit dari pukul tujuh, tetapi masih belum melihat Kevin hadir di ruangan itu.
Pembawa acara tidak tau keresahan yang terjadi dalam hati Muna. Maka saat waktu telah lewat 15 menit, acara pun akan mereka Mulai. Acarapun bermulai sesuai susunan yaitu sambutan dan sepatah kata dari sang kakek yang penuh kharisma.
Banyak hal yang kakek Hildimar sampaikan, bahkan ucapan terima kasihnya pada babe Rojak dan Nyak Time masuk dalam bagian yang ia sampaikan. Tidak ada hal yang kakek Hilidimar tutupi tentang suatu kebenaran yang terjadi dalam kisah hidupnya.
Dalam kesemapatan itu pula, Kakek menyampaikan secara tegas bahwa tampuk kekuasaan telah ia turunkan sepenuhnya pada Monalisa Hildimar. Tak lupa permohonan maaf nya dengan tulus pada Rona Margaretha anaknya sendiri juga pada Monalisa Hildimar cucunya, sebagai pewaris tunggal dalam keluarga besarnya.
Bersambung...
Kira-kira Kevin bakalan datang ga ya???
__ADS_1
Yuuk kita panggil Kevin sama-sama biar datang dengan segudang rindu😘