
Malam pertama yang tertunda terlaksana sudah. Kevin benar telah mendapatkan haknya sebagai seorang suami yang sah. Sama halnya dengan Muna, yang juga sudah menunaikan kewajiban layaknya tugas istri pada umumnya. Ibadah ternikmat itu, tunailah sudah. Menyisakan rasa lelah yang menerpa keduanya.
Lelah ...?
Ah... Masa, sekelas cassanova main sekali saja sudah lelah.
Kelamaan nganggur Tong?
Kurang latihan?
Jarang olahraga?
Yakiiin seronde saja?
Dan aku tak percaya...
Kevin sudah rebah sejajar di samping Muna, yang masih tampak meringis akibat manuver tak berjeda di bagian intinya.
"Sakit Mae?" pertanyaan unfaedah keluar begitu saja dari Kevin.
"Iya... Perih-perih gitu." Jawab Muna pelan.
"Tapi enakkan?" godanya nakal.
"Kagak tau enaknya di mane... Itu es tongtong keras banget, maksa maksa lagi masuknye." Cecar Muna seolah sebal.
"Itu karena masih baru, sayang. Ntar kalo di ulang-ulang sakitnya bakalan ilang, sisa enaknya saja, bahkan bisa bikin Mae candu." Promosi Kevin, berharap di ijinkan melakukannya lagi dan lagi.
Muna bukan wanita pertama yang di rasukinya, puluhan atau mungkin ratusan sudah hal itu ia lakukan pada wanita mana saja. Tapi, hanya Muna yang masih orisinil. Maka Kevin bersumpah dengan diri sendiri, akan hanya dengan Muna saja melakukannya hingga maut memisahkan mereka.
"Tau deh gelap." Mencoba melirik pria penuh peluh di sampingnya, menyapu pandangannya keseluruh penjuru permukaan tubuh yang masih polos di sebelahnya.
"Yaaaang... Sayang. Si otong berdarah tuh." Bisik Muna menepuk perut suaminya pelan dengan posisi tubuh miring menghadap Kevin.
"Hmm..." Cuek Kevin yang memilih mengatur nafas dan memgembalikan staminanya, agar jreng kembali.
"Yang, buka mata. Niih beneran darah yang. Di mana lukanya? Sakit?" tangan itu sudah berani menowel kepala otong yang masih siap di ajak gelut.
"Hmm...sakitnya di sini. Tuuh." Kevin meraih kain segitiga yang berserak di kasur empuk itu. Dengan percaya diri, mengusap lembut pada permukaan rumah Mumun. Berhasil memindahkan cairan bak kesumba itu ke kain putih bersih tadi.
"Iiish... Perih tadi, jadi luka di dalam tuh. Sayang mainnya kasar iih, pegimane aye bisa candu, sakit gini." Pelotot Muna dengan wajah sedikit merengut ke arah Kevin yang masih memasang senyum puas tiada tara.
Kevin meraik kepala istrinya, mengecup kening itu dengan lembut dan lama. Meletakannya di atas pangkal lengannya, agar istrinya dapat tidur berbantal lengannya, menyerongkan tubuh menghadap sempurna ke arah istri tercinta.
"Sakit itu, karena istri abang masih segelan. Selaputnya pecah di tabrak si Otong. Makanya berdarah. Coba lagi yuuk, abang jamin tidak akan sesakit tadi." Rayu Kevin yang tentu saja tidak puas dengan sekali putaran lintasan.
__ADS_1
"Masa... Tapi ini masih sakit yang." Keluh Muna yang sesungguhnya mulai meremang, saat tangan Kevin mulai start. Tak tinggal diam, kembali memilin, meremat bagian-bagian saklar tubuh itu, berubah ke mode on. Agar terpacu kembali untuk meladeninya.
(Aaah... Babang Kevin mah spesialis dalam urusan beginian mah.)
"Di coba dulu, baru komentar. Mana tau beda rasanya kalo tidak di coba." Ujar Kevin yang sudah berada di atas tubuh Muna kembali.
Adakah alasan kuat bagi seorang Muna untuk menolak. Jika otak dan tubuhnya sudah tak seirama? Juga menginginkan sentuhan dan hentakan dari suaminya lagi, penasaran.
Tubuhnya bergelinjang kembali, mata itu sayup sendu seolah terus meminta lagi, mulutnya sudah meracau indah, tak sediam tadi. Erangan saydu menguar kembali di seantero kamar itu. Keduanya tampak seimbang dalam permainan pacuan kuda tersebut. Leng uhan tidak hanya keluar dari tenggorokan Muna tapi Kevin juga.
Bahkan Kevin pun tampak mengeluarkan semua jurus andalannya, yang lama tak menemukan musuh. Malam itu, keduanya benar tak kenal lelah, lupa waktu seolah tak ada hari esok untuk berkali-kali melakukan penyatuan yang sesungguhnya.
Tirai kelambu yang terjuntai apik, mengelilingi empat pilar ranjang itu menjadi saksi. Jika kedua pasangan pengantin baru itu terus beradu bahkan di sepertiga malam. Dahsyaaat.
Puas, tiada kata lain yang dapat Kevin ungkapkan. Setelah melewati 36 purnama, dalam penantian panjangnya, dengan segala permasalahan pahit manis mendapatkan hati gadisnya, akhirnya Muna benar-benar dapat ia taklukkan.
"Sayang... Terima kasih. Tetap jaga semuannya untuk abang." Bisik Kevin, sambil merapikan anak rambut yang terkusai di area wajah istrinya yang basah, bersimbah peluh.
"Muna kagak nyangka. Abang pemilik semuanya." Semburat merah muda tersampir di pipi Muna. Mengakui Kevin adalah pria penakluk jiwa dan raganya.
"Hmmm... Abang dapat ori semua. Dari bibir, gunung sampe lembahnya. Maaf ya sayang. Bornya second." Kekeh Kevin dengan sedikit sesal. Menyadari betapa Tuhan tak adil pada Muna, yang begitu baik hati, kaya raya, orisinil pula, tapi seolah mendapat duda tak bersurat.
"Kagak usah di bahas. Yang penting kagak di ulang-ulang pan. Biarin second, asal makenya kagak gantian lagi." Tegas Muna yang memilih melingkarkan tangannya pada perut sixfact suaminya.
"Siap sayang ku. Maaf." Jawab Kevin lembut yang lagi-lagi mencium bagian mana saja yang ia mau pada seluruh permukaan mendatar istrinya. Sembari berjanji dalam hati Muna lah satu-satunya wanita akan selalu ia hormati, lindungi dan cintai sepanjang usianya.
"Remuk semua rasanya yang. Apa tulang Muna retak yak...?" Lebay Muna.
"Bisa bangun tidak?" Muna menggeleng lemas seolah tak berdaya.
"Segitu aja kekuatan fisik sang jawara anak babe Rojak?" Sindir Kevin yang sudah beringsut berdiri, menggendong Muna ke kamar mandi.
"Issh... Ngape babe di bawa-bawa siih bang. Ni, Muna mo' di apain lagi?" Ujarnya heran dengan kekuatan suaminya, yang tadi tampak terkulai lemas, tapi sekarang sudah dengan kokohnya mengangkat tubuhnya dengan sempurna.
"Mandi wajib sayang, terus kita subuhan. Baru tidur lagi, atau mau lanjut ke gaya lainnya." Tawar Kevin yang seolah memang tak kenal dengan kata lelah.
"Buseeeet. Abang masih kuat nembak-nembak, numbuk-numbuk, nyangkul-nyangkul gituan lagi?" Heran Muna yang kini sudah berada dalam rendaman air hangat dalam bathup di kamarnya.
"Bawel banget sih. Untuk hal begituan otong juaranya. Mana dia tau dengan kata lelah. Abang sudah bilang, ini barang bagus." Puji Kevin pada es tongtongnya yang selalu siap siaga satu.
"Percaya dah kalo gitu. Pantesan kalo ude bersih-bersih toilet kamar pribadi abang, isinya sampah balon-balonan semua. Lusinan kayaknya." Sindir Muna yang ingatannya kembali ke masa suram suaminya.
"Ga usah di bahas. Itu karena belum ketemu pawang yang sesungguhnya. Mae kelamaan ketemu abang."
"Segala lambat ketemu. Kalo cepat dari ini, yang ada Muna beneran masih bocah seragaman biru putih yang." Kilah Muna membela diri.
__ADS_1
"Hihihiii... Iya juga sih." Cengir Kevin.
"Udahan yuk bang. Waktu subuhan udah nyampe, abang keluar duluan gih. Ntar wudhunya batal akibat di towel abang melulu." Pinta Muna dengan halus.
"Ha...ha... Bentar abang aja yang udahan, duluan ya." Kekeh Kevin dengan semangat dan memilih berwudhu terlebih dahulu juga menyiapkan sajadah untuk mereka berdua melaksanakan sholat berjamaah lagi.
Ada kata yang lebih pantas di ungkap untuk mewakili rasa syukur yang merajai hati keduanya? Itulah rasa yang melanda sukma mereka kini.
Semua kesal, marah, perih, pedih, dongkol, gemas, rindu yang datang bergantian, bergentayangan dalam hubungan nano-nano perjalanan cinta mereka selama ini, tertuntaskan sudah. Memang hanya waktu yang dapat menentramkan semuanya. Memberikan jeda dan kesempatan untuk berproses dengan alamiah.
Kevin begitu di perhadapkan dengan segala kendala di luar nalarnya. Awalnya ia hanya jatuh cinta pada gadis muda belia, seorang OB di perusahaannya. Bahkan sejak awal telah ia catut jika OB itu miliknya.
OB milik CEO.
Namun semesta jagad raya berpindah haluan, siapa menyangka jika yang di ajaknya berijab qobul adalah seorang direktur utama sebuah rumah sakit ternama.
Haruskah kisah ini beralih judul. Direktur itu istriku.
Hah.
Bahkan untuk mundur pun telah banyak menyita waktu. Tak sebanding dengan perjuangan Kevin yang berdarah-darah mendapatkan Muna.
Tak hanya raganya yang sempat hampir binasa, namun lebih pada jiwanya yang terombang-ambing hilang kewarasan untuk terus bertahan menjadi pemenang. Petarung sesungguhnya.
Menjadi satu-satunya pria pelindung Muna, menjadi satu-satunya suami yang dapat Muna andalkan. Terlebih kini dengan statusnya yang bukan lagi sebagai gadis cleaning servis. Muna masih mahasiswa, direktur utama pula. Terlalu kerupuk kisah ini, jika berakhir sampai di sini.
Bagaimana dengan keinginan kakek yang ingin melihat cicit sebelum pulang keabadian?
Bagaimana pula tingkah Muna yang baru sekali merasakan surga dunia?
Muna bahkan baru merasakan indahnya terbang ke nirwana, Kevin baru saja sukses mengantarnya menyelam kedasar laut yang sesungguhnya.
Tentu saja, tak adil bagi Muna jika hanya sekali melaksanakan kewajibannya sebagai istri yang sesungguhnya.
Bersambung...
Iyaa...bersambung dong ya
Nyak belum rela ini tamat
Yang setuju komen gih🙏
Semoga reader nyak puas
dengan 2 part terakhir😚
__ADS_1
Maaf IQ nyak kagak nyampe buat nulis yang lebih spektakuler dari ini.😁