OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 128 : TERHENYAK BERSAMA


__ADS_3

Dengan langkah tegas bak tetara siap berperang, Kevin langsung menuju ruangan Wakil Direktur Hildimar Hospital.


Pikiran Kevin di penuhi emosi yang memuncak. Tanpa menyadari bahwa kini matahari pun belum muncul dengan sempurna.


Seluruh ruangan direktur, wakil direktur, manager bahkan admin lainnya pun masih terkunci rapat.


Untungnya Kevin masih memiliki sedikit kesabaran, sehingga ia hanya menggedor pintu, tanpa memecahkan kaca di sana.


Itupun ia kini telah di hadang 2 security berbadan bongsor yang sudah berhasi memiting tubuhnya.


"Lepaskan...!!! percuma kalian menangkapku. Mestinya kalian menangkap penculik yang semalam masuk rumah sakit ini dan membawa calon pengantinku." Teriak Kevin dengan penuh nada marah se marah maahnya.


"Maaf pa, bisa kita bicara baik-baik. Tapi ini masih terlalu pagi untuk mendatangi para petinggi rumah sakit. Pukul 7 kami pastikan semua karyawan, admin, manager dan direktur pun akan datang pa. Bantulah kami menciptakan ketenangan dan ketentraman di rumah sakit kami. Ini rumah sakit pa. Isinya adalah pasien yang mebutuhkan ketenangan." Rayu salah seorang satpam dengan suara memelas pada Kevin.


Kevin memejamkan matanya. Mangatur dengusan hembusan nafasnya yang beradu tak berirama dengan teratur.


Dengan sabar para petugas keamanan tadi menggiring Kevin menuju ruang rawat inap yang di huni oleh babe.


Kevin terpekur, memilih duduk di sofa, menetralkan hatinya untuk selanjutnya memberanikan diri menyampaikan apa yang telah di lihatnya melalu CCTV pagi ini.


"Elu habis lari pagi Tong." Tegus bae melihat penampakan Kevin yang sembrawut sedikit basah dan kembali lusuh remuk tak berupa.


"Sedikit." Jawab Kevin dengan pelan.


"Elu ngape...?" tanya nyak Time sembari mengangsurkan sebotol air mineral ke arah Kevin, demi membantu Kevin mendapatkan sedikit ketenangan. Sebab nyak Time sangat yakin jika kini Kevin sedang kacau balau, bagai setelah di terpa badai.


"Be... nyak. Maafin Kevin." Ucapnya yang langsung berdiri lalu bersimpuh di bawah ranjang pesakitan yang babe tiduri.


"Elu salah ape Tong...?" Babe mendadak bingung sekaligus heran melihat rupa Kevin yang bagaikan cermin retak seribu.


"Muna... Muna ..."


"Muna ngape Pin?" teriak nyak sadis.


"Yang cepet ngomongnye Tong, elu ah." Babe tak sabar.


"Muna di culik be, nyak." Jelas Kevin dengan suara lirih, perih bagai di sayat sembilu.

__ADS_1


"Ape... di culik. Sape yang nyulik Muna Pin, sape...? bilang ke nyak elu cuma bohong, Pin bilaaaaang." Kemarahan nyak ikut memuncak. Tak sabar menunggu kelanjutan keterangan Kevin.


"Kevin belum tau siapa pelakunya. Kevin hanya melihat dari rekaman CCTV. Setelah Muna keluar dari ruang tranfusi, ada beberapa orang berpakaian serba hitam mendekatinya, memberinya obat bius. Muna tak sadarkan diri, lalu mereka dorong dengan kursi roda, kemudian mereka masukkan ke dalam mobil hitam, setelah itu Kevin tidak tau dia bawa kemana."


Mendadak suasana ruang rawat inap itu hening sepersekian menit, bagai ada malaikat lewat. Ke empatnya saling berkelana dalam pikiran masing-masing, terhenyak bersama setelah menyadari Muna sang gadis kesayangan telah hilang bahkan tak tau rimbanya.


Siska berlari memeluk nyak Time. Kevin segera meraih, menggengam jemari babe. Ingin berkata sesuatu, namun tak tau mau bicara apa, semua merenung.


Sampai suara ketukan dari petugas pengantar makanan ke ruangan itu pun, suasana kamar itu masih sangat kaku, hening bagai tak berpenghuni.


Semua aktifitas dalam ruangan itu bagaikan berisi orang mati. Hanya tetesan infus dan jarum jam berbunyi, mengisi ruangan itu. Satu di antara mereka tak ada yang ingin menggunakan vita suaranya walau hanya sekedar untuk berbasa basi.


Matahari mulai tinggi, nyak Time terpaksa beringsut mandi. Sedangkan babe, telah di paksa untuk menelan nasi demi melancarkan obat yang harus ia konsumsi, agar segera pulih.


Kevin masih uring-uringan, mengedar pikirannya. Ingin menyewa detektif pun rasanya mustahil untuk melacak mobil besar hitam tanpa plat polisi tersebut.


Tok


Tok


Tok


Tampak dokter dan beberapa perawat bersamanya, melakukan visite. Dengan beberapa pertanyaan dokter pada umumnya, untuk memastikan pasiennya sudah menjalani pengobatan yang mereka berikan.


Belum jauh dokter dan perawat itu meninggalkan ruangan, tampak satpam, datang ke kamar babe.


"Pak... silahkan jika ingin menghadap. Sekarang pa wakil direktur sudah datang." Ucap seorang satpam pada Kevin yang tadi masih tampak mengantar dokter ke ambang pintu.


"Iya baiklah. Saya akan segera kesana." Jawab Kevin dengan suara datar.


"Tong... elu mau kemane?" tanya babe akhirnya membuka suara.


"Kevin mau menuntut rumah sakit ini be. Atas keteledoran penjaga keamanan."


"Jangan gegabah. Sabar. Jangan elu tuntut, lebih baik elu ngomong baek-baek aje. Jangan pake emosi. Babe udeh patah kaki, Muna ngilang, ape babe juga harus liat elu ngedekam di penjara juga, kalau saja elu kagak bisa atur emosi lu...?"


"Percaya ame babe, marah elu kagak bakalan sambungin kaki babe yang patah, juga kagak bakalan langsung bisa dapetin Muna sekarang juga. Tanyain bae-bae. Supaya mereka juga bisa bantu kite dengan tulus ikhlas." Suara babe lirih terdengar memohon pada Kevin yang sudah di anggapnya seperti anak sendiri.

__ADS_1


Kevin menarik nafas dalam. Membenarkan semua yang babe sampaikan padanya. Karena itu ia sedikit mengurungkan langkahnya menemui WaDir.


Melainkan, berjalan menuju tas yang Bara bawakan kemarin. Kevin memilih untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya, agar benar dapat meletakkan sedikit emosinya, menukarnya dengan kesegaran setelah mandi.


"Bismillahirahmanirahim." Doa Kevin di dalam hati saat akan mengetuk pintu ruang Wadir Hildimar Hospital.


"Permisi pa, boleh mengganggu waktunya sebenar?" tanya Kevin sopan saat tubuhnya sudah berada di ruangan itu untuk kedua kalinya.


"Oh iya silahkan, duduk." Sapa Dadang ramah.


"Sedari kemarin kita sudah saling bertemu, namun kita belum berkenalan. Nama saya Dadang Sudrajat." Ucap pria itu mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan, yang dari namanyanya aja sudah jelas bahwa beliau orang Sunda.


"Oh... iya benar juga pak Dadang. Nama saya Kevin Sebastian Mahesa. Kevin, begitu saja memanggil saya pak." Ucap Kevin, menyambut uluran tangan itu sopan.


Dadang tampak berpikir sejenak, namun kemudian melanjutkan pembicaraannya.


"Ada yang bisa saya bantu Kevin?" tanya Dadang sangat ramah.


"Sebelumnya saya mohon maaf pa. Jika subuh tadi saya lancang masuk ke ruang CCTV kembali, Sebab Muna tunangan saya sampai pagi ini tidak kembali." ungkap Kevin yang dapat menata kata-katanya menjadi kalimat yang baik dan terdengar tertata.


"Oh ya... lalu?" Dadang sedikit terkejut.


"Lalu saya menemukan cuplikan rekaman pada CCTV itu, bahwa Muna selepas melakukan donor darah, di hadang beberapa pria berpakaian serba hitam, yang kemudian membiusnya lalu melarikannya dengan mobil hitam keluar dari rumah sakit ini." Jelas Kevin dengan runtut.


"Astagafirrullahalaziim, benarkah? Sebentar saya cek." Seketika itu juga Dadang menekan angka yang sangat di hapalnya. Kemudian memberi perintah beberapa orang untuk ke ruanganya, dan meminta mengirim rekaman yang Kevin maksudkan ke laptopnya, untuk ia saksikan sendiri dan menelaah bersama Kevin kembali.


Kevin sedikit lega melihat respon Dadang Sidrajat itu, sungguh ia tentu akan malu jika ia datang dalam kondisi mengamuk seperti subuh tadi, bukannya mendapat solusi bahkan mungkin akan menambah panjang perkara karena ulahnya sendiri.


Bersambung....


Selalu nyak usahakan double up supaya sengsara ini cepat berlalu, oke?👌


Sesajen buat nyak otor jangan lupe... biar nyak makin cepet ngetik naskahnye.🤭


Nyak sayang kalian semua


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2