
Muna sengaja beralasan ingin menidurkan Aydan bersama. Sebab ternyata Aydan sudah terbuai di alam mimpi di kamar babe dan nyak.
"Pap... kenapa bicara begitu dengan mama Indira? Itu ga sopan yang." Tegur Muna pelan sambil membelai rambut Kevin sebab kepala itu sudah berbantal di atas pahanya.
"Abang ga bilang sesuatu yang ga sopan."
"Kacang lupa kulitnya, apaan?"
"Ya ... kalo tersinggung dia kacang dong...?"
"Heeemmm."
"Sayang ga tau bagaimana sakitnya tumbuh menjadi anak yang kasih sayang papinya terbagi oleh wanita lain. Sayang mana pernah liat, airmata seorang istri yang hanya ingin di temani menidurkan anaknya saja harus buat janji berminggu-minggu. Sayang ga pernah rasakan, mau belajar naik sepeda saja, abang harus nunggu papi 3 hari di parkiran mobil supaya dia tidak pergi lagi. Dan, sayang ga pernah bisa bayangkan hancurnya hati melihat wanita itu keluar masuk rumah kami dengan leluasa. Itu tuh Indira semua pelakunya." Emosi Kevin meledak di dalam kamar mereka lantai atas.
"Stt... tenang. Sabar... sabar. Itu sudah berlalu, ga bisa di perbaiki. Hanya bisa di ikhlaskan. Dan jangan pernah di ulang pada anak-anak kita nanti pap." Muna menangkan Kevin.
"Abang pernah hampir jadi pembunuh yang. Botol kecap kaca itu sudah abang pecahkan dan akan abang tancapkan di bagian tubuh mana saja. Agar Indira itu segera mati saja. Sumpah abang benci sekali pada wanita saat itu. Benar-benar ular. Mami memiliki hati baja, yang. Dia sebenarnya lebih marah dariku, tapi sedikit pun mami tak terlihat kecewa di hadapan ku. Hanya demi mami, abang tidak jadi pembunuh. Sebab, jika abang sampai berani membuat lecet sekecil apapun di tubuh Indira atau wanita manapun yang di gilai papi. Maka, setelah itu mami akan bunuh diri. Dan kata mami waktu itu, fix Abang yang juga bunuh mami." Air mata Kevin keluar mengenang masa kecilnya yang broken home.
"Saat duduk di bangku SMA abang sudah pura-pura lupa saja rumah tangga mami dan papi rusak. Karena mami selalu jadi ibu terbaik untukku dan istri yang patuh pada papi. Hah... cinta memang gila." Muna masih menjadi pendengar yang baik untum suaminya.
"Sampai abang berani jatuh cinta saat baru masuk kuliah. Dan ternyata, abang apes juga. Malah ketemu Yolanda, yang satu spesies dengan Indira. Oh Tuhan. Mami meninggal. Lalu untuk apa abang hidup menjadi orang baik? Sedangkan semesta hanya menyisakan papi yang sebegitu jahat pada abang?" Muna mengusap air mata Kevin yang terlihat puas menumpahkan kepahitannya selama ini.
"Sehingga jangan salahkan abang, pernah merasakan jadi se-breng sek papi."
"Abang bahagia saat berada di masa breng sek itu?" telisik Muna.
"Bahagianya itu sebatas kesenangan sesaat saja. Lebih bahagia sekarang. Rasanya lebih tenang, tentram gitu di hati, yang. Saat kesenangan itu tidak hanya di ukur dari raga saja. Yang penting tu jiwa. Hubungan intim dengan Tuhan lebih nikmat dari pada dengan manusia." Papar Kevin serius.
"Ya... ngomong gitu kan hanya karena lagi ga bisa garap bini aja bang. Coba aja kalau Muna free, pasti bilang nikmat sama manusia kan." Muna mencebikkan mulutnya meledek Kevin.
"Jangan mancing. Orang nifas cuma ga bisa di garap bawahnya lho. Atasnya masih bisa di kerjakan. Kalo mau." Kevin mulai terpancing.
"Jangan aneh-aneh. Muna masih mau panjang umur." Kekeh Muna lalu mengecup kening Kevin.
__ADS_1
"Yang mau bunuh Mae siapa?" kekeh Kevin .
"Terima kasih sudah berbagi cerita masa lalu abang tanpa di minta. Seburuk apapun, ikhlaskan saja yang sudah berlalu. Kita janji ya pap. Anak-anak kita nanti jangam sampai begitu. Tidak semua pribadi bisa lewati seperti yang abang jalani. Jadilah ayah yang di banggakan dan jadi panutan mereka semua."
"Janji juga, Mae tetap setia jadi pendamping abang. Jangan lelah ingetin abang, supaya jadi suami yang bisa nuntun Mae ke surga."
"Omes papap." Kekeh Muna meniru kata-kata Aydan.
"Serius kenapa?"
"Iya suami ku sayang. Terima kasih sudah jadi imam yang semakin bertaqwa pada Allah SWT. Di antara kita tidak ada siapa yang lebih mencinta atau di cinta ya pap. Tapi saling cinta. Jadi seimbang bucinnya."
"Aduuuh meleleh abang, Mae. Ya Allah penantian ini bahkan masih 4 minggu lagi. Cip ok bentar boleh ga ya?" mesum Kevin kumat.
"Asal tangannya ga gerayangan mungkin otong bisa reaktif, pap." Kevin sudah bangkit menarik kepala Muna dan menyergapnya dengan rakus. Sejenak memastikan deretan gigi dalam rongga mulut itu masih berada di tempat yang benar. Modus aja.
Muna mendorong Kevin setelah sepersekian menit bibir mereka saling bertaut.
"Kenapa rasanya lebih berdebar dari biasanya ya pap. Kaya takut dosa gitu. Persis kaya waktu di apartemen. Pas buatin abang masakan ala-ala Belanda." Muna mengakui perasaannya.
"Inget lah pap. Ciuman pertama itu."
"Muuuuuaaach... bini abang gemeesh banget deh. Yang..., ntar umboxing di apartemen yuks. Kangen juga suasana di sana."
"Boleh-boleh. Tapi di sana udah ga kaya dulu pastinya."
"Masih sama kok, abang ga ada rubah apapun di sana. ART cuma bersih-bersih saja."
"Dulu di sana banyak setan cabulnya yang." Kekeh Muna.
"Sekarang setannya udah pindah aja ke kamar ini. Gimana niih?"
"Abang norak. Masa pisah berbulan-bulan aja tahan Timbang nunggu 40 hari aja, mulai banyak alasan."
__ADS_1
"Ya tahan kan karena jauhan. Ini tiap hari lho liat bini makin cantik berseri, mana itu dada, buahnya keluar terus lagi gegara Naya suka gelonjotan. Suka gagal fokus jadinya."
"Alibi aja teroos. Btw, abang setuju Gita sama Gilang?"
"Biasa aja."
"Kalo biasa aja, kenapa pake marah ke mama Indira?"
"Bukan karena bela Gilang. Hanya ga suka aja sama orang yang liat chasingnya aja. Kaya hidupnya langsung kaya aja. Ngapain sampe ambil suami orang kalo bukan karena lelah miskin."
"Muna percaya sama abang kalo soal cara pandang. Secara Muna sebagai OB aja di taksir, tergila-gila malahan."
"Ya... ga naksir banget juga sih. Hanya cara pdktnya unik. Dulu emang sengaja kan, manjaain perut abang biar abang jatuh hati ke Mae."
"Yaaah Ge-eR. Aslinya Muna sampe kelaperan gegara jatah makan di makan CEO mesum." Bahak Muna.
Kevin mendusel kepala Muna.
"Abang masih suka senyum sendiri ingat masa-masa itu Mae. Verry nice. Inget itu, tuh bikin abang makin jatuh cinta dan ga mau kehilangan kamu. Masih ga nyangka aja, Allah benar ciptain manusia sempurna tuk lengkapi abang. Makasih ya sayang."
"Muna juga makasih, untuk sementara abang suami luar biasa, setia, makin bijaksana juga perhatian."
"Kok sementara? Abang setia selamanya lhoo."
"Amiiin."
"Mae... keluar yuks. Hawa kamar ini sudah makin bahaya. Takut otong siaga satu."
"Alasaaaan aja terus." Kekeh Muna sembari keluar kamar dengan pelukan posesif Kevin dari belakang.
Bersambung...
Akhirnya ke bayar juga bolongan up yang sempat 1x1 beberapa hari lalu ya readersku tersayang.
__ADS_1
Happy reading
❤️❤️❤️