OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 250 : TAK KENAL MAKA TAK SAYANG


__ADS_3

Gilang terjebak dalam suasana malam yang tiba-tiba tegang mencekam. Ingin mengubar janji, takut sendirinya ingkar. Ingin jujur, justru terlihat tidak meyakinkan. Jadi, memilih tetap tenang di balik badai hatinya saja. Toh, dia yakin hati Gita sudah untuknya. Sehingga sedikit percaya diri restu itu akan ia dapatkan.


"Kong... engkong." Suara cempreng Aydan menyeruak memecah kesunyian di teras samping.


"Ade apa Ay...?" tanya babe mendekati Aydan yanh semakin dekat ke arahnya.


"Ay beyi tue, kong mau...?"


"Kue ape?"


"Tabak anyis, biyang papap. Mau...? Mau ya... Ay cuapin nati yaaa.. kong. Ya... yaah" paksa Aydan seolah babe itu anak kecil seperti dirinya.


"Kong di suapian k Ay...?"


"Iye kong." yaaah si Aydan bener-bener sudah jadi bocah Betawi ini.


"Iye... iye. Siap nanti engkong makan." Kekeh babe.


"Tong... jam isya nih, kita jamaah gih." kode babe pada mereka yang masih berada di luar masih dalam ketegangan.


"Pi... isyaan. Gilang jadi imamnya malam ini." Perintah Kevin tegas.


Status Kevin masih bosnya Gilang kan. Jadi perintah bos selalu tak terbantahkan. Merekapun bersiap mulai dengan menyucikan diri masing-masing lalu ke lantai 3 menuju Musholla di rumah Kevin tersebut.


Gilang bermurottal. Bukan ingin menunjukkan betapa merdu suaranya melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Bukan pula ingin memamerkan diri betapa lancar ia dengan hapalan-hapalan tersebut. Tetapi sungguh kini hatinya yang sedang rusuh sehingga merasa perlu untuk berpikir jernih agar menjadi lebih tenang.


Selain hasil penelitian membuktikan, Gilang sendiri percaya bahwa mendengarkan dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an bisa menjadi obat untuk gangguan kecemasan non-farmakologi. Seperti yang telah sering ia lakukan selama ini.


Gita juga deg deg ser, seolah menanti hasil jawaban kelulusan sidang skirpsi. Penasaran dengan cara pandang Diendra tentang Gilang. Dan itu baru berhadapan dengan satu dosen penguji. Belum lagi ketemu mama Indira. Kalau dengan yang itu, pasti mirip dengan interogasi penyidik deh.


Hah... minta restu untuk menikah. Ternyata tak semudah yang di kira. Sebab proposal yang di ajukan adalah untuk proyek hidup bersama seumur hidup. Ingin di buat pengajuan yang isinya akan setia, selalu mencinta tanpa cacat cela, dan akan berusaha membahagiakan jiwa raga. Tapi, manusia ini. Siapa yang bisa mengira besok apa yang terjadi. (Secintanya Mas Aris sama Kinan, tetap saja dia pilih Lidia. Kesel ga sih)

__ADS_1


Sehingga, Gilang sama sekali tak berani berkata banyak, lebih ke pasrah saja. Bahwa jodoh sudah ada yang mengatur.


Shalat berjamaah sudah selesai. Semua saling bersalaman. Bohong saja hati mereka tidak di jalari rasa tenang, damai dan tentram setelahnya. Apa lagi Gita yang ke sininya makin jatuh cinta saja pada Gilang.


"Mama... ini Gilang teman dekat Gita. Kenalan dulu, karena tak kenal maka tak sayang." ucap Gita saat mereka berdekatan saat menuruni tangga.


"Oh... iya. Indira mamanya Gita."


"Gilang bu." Singkat Gilang kemudian mencium tangan mama.


"Sailendra kemarin, terabaikan oleh dia?" tanya Indira tanpa basa basi pada Gita yang masih tidak jauh dari Gilang.


"Ga juga ma. Dia sudah punya calon istri lagi studi di London katanya." Jawab Gita.


"Iya... tapi mereka tidak seiman. Ya ga akan bisa Amin barengkan. Makanya mamanya mau kamu yang jadi menantunya."


"Jadi mama masih berharap Gita sama Sailendra?" kejar Gita pada mamanya yang kini mereka semua sudah di tengah ruangan menikmati teh hangat dan martabak manis yang tadi di beli Kevin juga Aydan.


"Semua orang tua tentu ingin yang terbaik dari yang baik untuk anaknya." Jawab Indira terdengar datar.


"Siap pak." Jawab Gilang yang sudah bagai rumahnya sendiri di tempat Kevin tersebut.


Kevin menyusul Gilang ke ruang kerjanya. Gilang tak melihat satu berkaspun di atas meja di dalam sana.


"Mana berkas yang di periksa pa?" tanya Gilang.


"Ini, belum di konfirmasi kebenarannya." sodor Kevin. Lagi tentang pic yang ada dalam ponselnya. Apalagi kalau bukan adegan ciuman di Lembang yang terkirim di grup kantor.


"Cie... cie ada cinta antara aspri dan sekretaris nih. Ijin ngiri boleh dong." Begitu caption di bawahnya. Mengundang banyak doa dukungan, juga ujaran kebencian, pun ada di kolom chat balasan di bawahnya. Parahnya, Gilang dan Gita yang tidak tau mereka jadi tranding topik. Sebab, sedari tadi sibuk dengan kenyataan.


Bukankankah sepulang dari Lembang tadi Gita berkenalan dengan ibu Gilang dan kini giliran Gilang yang berkenalan dengan orang tua Gita. Sehingga ponsel keduanya memang tak terjamah.

__ADS_1


"Oh ... ini. Iya, saya melakukannya." Jawab Gilang.


"Kenapa harus di tempat umum sih, cari sensasi?"


"Bukan begitu pa. Hanya bermaksud mengkonfirmasi dengan khalayak ramai saja. Jika kami saling mencintai."


"Hmm... mestinya ga gitu juga. Tapi saya paham. Masa lalu saya bahkan pernah lebih parah dari yang kamu lakukan. Lain kali, jika cinta seseorang. Kamu tidak perlu mengkonfirmasikannya pada orang lain bahkan dunia sekalipun. Cinta itu kamu hanya tunjukkan pada pasanganmu. Cukup kuatkan cinta kalian, berkomitmenlah pada pasangan. Urusan orang lain percaya atau tidak kalian saling cinta itu, ga berguna. Sebab semuanya akan terbantahkan dengan sendirinya saat orang lain melihat ketahanan hubungan kalian."


"Maaf pa."


"Tidak ada yang salah. Kan itu hanya sebuah pengumuman bahwa kalian jadian. Apa dengan perbuatan itu kalian bahagia? Apa feelnya dapat?"


"Tidak. Neng Gita justru kesal dengan tindakan saya begitu pa."


"Itu dia yang saya maksudkan. Seintim apapun hubunganmu dengan pasanganmu, pastikan kalian menikmatinya dan melakukannya untuk kesenangan berdua, bukan orang lain. Atas dasar suka sama suka, pastinya."


"Saya terdesak, sebab di kejar Sita."


"Selalu ada solusi untuk menolak seseorang. Kita laki-laki, harus tegas. Saya tau, Sita tidak baru kemarin mendekatimu. Kamu bahkan sudah berhari-hari terlihat menikmati saja dengan lunch box yang dia berikan. 1 box kamu terima, makan dan nikmati. Itu sudah sinyal bagi wanita yang menyukaimu. Apalagi kadang terlihat jalan dan makan siang berduaan di tempat lain. Hal itu memgundang persepsi lain lho baginya." Beber Kevin.


"Ini kedua kalinya saya menggunakan kapasitas saya sebagai kakak laki-lakinya Gita. Oke, kamu bilang serius pada adik saya. Oke, kamu bilang akan berusaha tidak memgecewakannya. Tapi kata-kata cinta saja tidak cukup untuk besok membangun rumah tangga. Bahwa untuk mensterilkan dirimu dari kemungkinan hama dalam hubungan kalian saja kamu tidak bisa. Oke, kalian bisa beralasan. Tapi kami hanya teman, kami tidak ada komitmen, kami belum 'jadian' dalam tanda petik. Fine, kalian tidak terikat waktu itu. Itu kemenanganmu, tidak segera memastikan status, agar punya kesempatan pilih-pilih sebelum memastikan siapa yang di ambil."


Gilang diam, tersadar bahwa yang Kevin sampaikan benar. Sita tidak akan semaju itu, jika dia menolak dari awal.


"Maaf pa. Bukan memberi harapan pada Sita. Tapi, saya kira lunch box itu dari neng Gita."


"Kamu kira dia orang katring...? yang selalu menyiapkan makanan buat kamu. Bicarakan. Dari awal saya sudah desak kamu untuk mengkomunikasikan dengan baik apapun rasa yang kalian sandang."


"Maaf... mungkin ini aib. Tapi tujuan saya bukan ghibah di sini. Intinya, masa lalu Daren dan Gita buruk soal konsep cinta dan rumah tangga. Mereka pernah merasakan menjadi anak yang pernah di benci, pernah dengan susah payah untuk mendapatkan cinta dari papi. Tapi itu masal lalu. Namun, bisa jadi itu menjadi trauma tersendiri bagi mereka. Jika memang kamu ingin Gita menjadi istrimu. Tolong bahagiakan dan muliakan dia selayaknya wanita yang sangat kamu hormati." Kevin bahkan tidak peduli jika Gilang hanya asistennya. Ia rela menurunkan harha dirinya demi Gita adik perempuan yang juga ia sayangi.


Bersambung...

__ADS_1


Dapat anak sultan emang harus sedikit keringetan ya gaes dapetin restunya.


Tetap semangat dukunh karya nyak. Okeeh🙏


__ADS_2