
Untuk pertama kalinya setelah melewati selaksa peristiwa antara Kevin dan Diendra, kini keduanya dapat tidur di atas kasur yang sama, berbagi mimpi, bertukar guling bahkan berada dalam selimut yang sama.
Keduanya pun tampak saling senyum saat sama-sama membuka mata setelah bangun tidur.
Mereka seolah dua insan yang baru merasakan jatuh cinta kembali. Cinta terhadap orang tua dan anak, yang lama terpental oleh waktu, jarak juga perasaan benci.
Keduanya bahkan telah saling berjanjian untuk sebentar menjenguk makam mami Beatrix.
Mereka hanya ingin menyampaikan dan menunjukkan pada pusara wanita kesayangan itu, bahwa kini mereka telah saling berdamai. Dan sama-sama memohon restu untuk menjalani kehidupan yang masih sang khalik pinjamkan untuk mereka nikmati selama masih di dunia fana. Bagaimanapun juga, berdamai memang lebih baik. Apalagi dengan orang tua sendiri.
Senin menyapa, hari baru telah tiba. Kevin memulai aktifitasnya sendiri di apartemen. Menikmati masa-masa terakhirnya untuk meninggalkan masa lajangnya. Menyeduh kopi dan membuat roti panggang sendiri dengan penuh semangat, sambil membatin dalam hati. Jika minggu depan, semua aktivitas ini akan di ambil alih oleh Muna yang akan sah menjadi istrinya nanti.
Pagi Kevin kali ini sungguh tampak berbeda, senyumnya terkembang hangat saat semua karyawan yang menyapanya saat di kantor. Jika dulu senyum itu hanya ia simpan sendiri dalam wajah kakunya. Bahkan seolah tak tau bagaimana caranya untuk bahagia. Tidak dengan sekarang, Kevin sudah tersulap menjdi CEO yang ramah, murah senyum dan baik hati. Tentu saja karena pengaruh positif dari seorang Muna, yang kemarin hanyalah seorang OB lulusan sekolah menengah atas, bau kencur itu.
Beberapa dokumen sudah selesai Kevin bereskan, koreksi dan perintah untuk mencetak undangan yang sudah menemukan tanggal pernikahan pun sudah Kevin konfirmasikan pada pihak yang bertanggung jawab untuk hal itu.
Kemudian iapun bergegas dengan tidak sabar menuju rumah Muna sang calon istri. Sebab sebelumnya mereka telah saling berjanjian untuk melakukan fitting, prewedding dan membeli cincin pernikahan mereka.
Sedangkan untuk barang-barang isian lamaran. Sudah Kevin serahkan kepada pihak WO. Untuk urusan pakaian yang akan keluarganya kenakan juga sudah Kevin percayakan pada Manda istri Ferdy. Sehingga kini semua persiapan itu semua hampir final.
Di rumah, Muna juga sudah menyiapkan makan siang untuk sang calon suami, yang walau baru sehari tak saling bertemu sudah di landa rindu. Buseeet, Muna pun otw bucin kalau sudah begini. Ya... hati dan pikiran Muna sekarang sudah selaras, untuk tidak lagi dalam keragu-raguan. Ia hanya percaya, pada takdirnya yang kini sudah mengantarkannya menjadi calon istri seorang CEO kaya, tajir melintir.
Kevin baru saja memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah babe Rojak.
"Assalamualaikum, babe." Sapa Kevin pada babe Rojak yang tampak duduk bersantai di teras rumahnya. Rupanya nyak dan babe benar, tidak berjualan di tujuh hari sebelum dan sesudah hari pernikahan Muna.
"Walaikumsallam calon mantu." Kekeh babe tak kalah senang melihat kedatangan Kevin di depan rumahnya.
" Aer tempayan penuh, pindahin ke gentong.
Bubur rendang di kasih jahe.
Pegimane rasanye Tong?
Minggu depan udah punya bini aje."
Goda babe pada Kevin setelah mencium punggung tangan sang calon mertua.
"Kevin ga bisa bayangin be." Jawab Kevin mengusap tengkuknya sendiri.
"Roti enak pakai margarin,
Makannya sambil menonton Tintin.
Ntar tidur ada yang nemenin,
Bangun pagi ada yang bangunin."
Kevin sepertinya sudah menyiapkan beberapa amunisi untuk meladeni babe.
"Sedeeeep dah, Tong." Kekeh babe senang.
__ADS_1
"Menulis surat dengan tinta,
Hendak dikirim ke tanah Jawa.
Moga erat jalinan cinta,
Di antara kalian berdua."
Babe tentu tak akan pernah kalah dalam urusan berpantun ria.
Muna keluar, setelah mendengar samar suara Kevin yang sudah sangat ia kenal dengan baik.
"Abang udah dateng? yu makan dulu.
Be... barengan yuk makan siangnye." Ajak Muna pada kedua lelaki kesayanagnnya tersebut.
"Bentar Mun. Babe punya satu pantun spesial buat elu, buat entar kalo ude jadi bini." Ujar babe sambil beringsut melangkah ke arah dalam rumah.
"Bermain riang di jerami,
Perut lapar makan bubur
Penuhi kebutuhan suami,
Urusan dapur hingga kasur."
Pantun babe kali ini membuat wajah Muna memerah karena merasa sedikit malu, sebab Kevin juga mendengar nasihat babe tersebut. Sedangkan babe hanya terkekeh dan mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri. (ya iyalah... masa pala orang laen)
"Tuuh... Mae. Dengerin pesan babe." Colek Kevin pada pinggang Muna yang tak jauh dari posisinya berjalan menuju dapur keluarga tersebut.
Mereka kini sudah duduk menghadap piringnya masing-masing, akan mulai menyantap makan siang mereka.
"Jalan-jalan ke Kota Kedah,
Ke Kota Ambon memetik pala.
Duduk bersanding sangat indah,
Itulah cinta halal berbuah pahala."
Babe masih saja berpantun walau tengah brhadapan dengan piring beserta lauknya.
"Makan be... makan aje dulu. Ntar habis makan babe lanjutin lagi, mau ampe matahari kagak nongol lagi juga kagak ape-ape dah, babe berpantun lagi." Lerai nyak Time yang sesungguhnya sudah tidak sabar menunggu babe memimpin doa makan mereka berempat.
"Ha...ha.... iye yee. Mestinya babe baca doa yak. Bukan baca pantun." Kekehnya, yang kemudian komat-kamit memimpin doa untuk memulai santap siang tersebut.
Santap siang bersamapun di mulai, semakin terasa betapa akrab dan hangat rasa yang menjalar di hati calon keluarga baru itu.
"Buah salak baru di petik,
Buah duku buah delima.
__ADS_1
Ada banyak wanita cantik,
Tapi cuma Muna yang Kevin cinta."
Kevin mulai berani merayu Muna di hadapan babe dan nyak setelah ritual makan siang mereka selasai.
Eaaa....eeaaa...eaaa.
"Dipasar baru banyak barang obral,
Beli sendal, kiri semua.
Biar kate abang cuma ngegombal,
Muna tetep suka dengerinya."
Balas Muna akhirnya ikut nimbrung.
"Yaah siapa yang ngegombalin Mae." Bela Kevin pada dirinya.
"Di Bunderan besar ade pameran,
Di tanah Dayak, ade potong pantan.
Yang namenye udah pada kasamaran.
Nyak babe segede gentong, kagak keliatan."
Goda babe mendengar balasan pantun Kevin dan Muna yang masih berada di meja makan tadi.
"Bubaar... bubar...!!! Makan dah tu pantun. Bakalan kagak jadi nikah sabtu besok nih, kalo kalian bedua kayak gini terus. Buruan pergi sono... katenye hari ini banyak yang di urus-urus pan." Usir nyak Time yang merasa gerah dengan selorohan orang-orang yang berada di meja makan itu, masih asyik saja berbalas-balasan pantun.
"Iye... nyak, bentar. Muna cuci piring dulu baru berangkat." Jawab Muna yang langsung menyusun piring kotor mereka di atas meja itu.
"Udeh... tinggal aje Mun. Ntar nyak yang beresin semuanye. Ntar kalian kelamaan perginye. Inget... ini hari terakhir kalian ketemu sebelum hari H. Setelah ini elu di pingit." Nyak Time tidak bosan-bosannya mengingatkan akan hal tersebut.
"Iye... nyakku sayang. Siap laksanakan. Kalo gitu, kami berangkat dulu ye. Assalamualiakum, nyak, be." Pamit Muna pada kedua orang tuanya.
"Walaikumsallam. Hati-hati di jalan." Ijin babe, sembari keluar mengantar kepergian anak gadis dan calon mantunya tersebut.
Bersambung...
Selow ya readers menuju halalnya
Soalnya nyak othor lagi kangen berpantun π
"Sehari 5 kali sembahyang,
Rambut panjang baiknye di kuncir.
Untuk semua readerku sayang,
__ADS_1
Sabar ye, pliiis jangan pada ngacir."
π€ππ€π