
Gilang kehilangan senyum dan wajah cerianya saat Gita memberikan ide agar mengakuinya sebagai pacar pada Sita.
"Agi... gimana idenya eneng?"
"Harus ya pake alasan ke gituan?" Gilang balik nanya.
"Ya... saran aja sih. Kali dengan gitu Sita bisa mundur teratur."
"Tapi kalo Agj bilang neng pacar Agi. Artinya Agi turun level dong neng. Masa sama Baskoro Agi sebagai suami eneng. Tiba sama Sita kita pacaran doang."
"Ya... bilang otw nikah lah. Tunangan gitu." Gita semakin berani mengajukan proposalnya.
"Cieee ngebet banget ya mau Agi halalin." nyeeees gitu. Gita buang muka malu, asli.
"Heemmm... cuma mau bantu. Kali ga suka di uber cewek aja." Gita sudah menciut, sadar sinyalnya makin kenceng tapi, batre lemah. Fix Gita malu dong.
"'Pulang yu udah hampir malam." Gilang mengalihkan topik dan seolah sengaja menghindar untuk menjwab.
"Oke. A... ide eneng jangan jadi beban. Canda doang." Gita segera memperbaiki perasaannya, agar tidak lebih malu lagi.
"Santai Neng. Kaya baru kenal kapan aja." jawab Gilang senyum. Lalu mengantar Gita kembali ke kostnya.
Di sepanjang jalan Gita dan Gilang hanya saling diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Di awal jalan, Gilang hanya menarik tangan Gita ke arah perutnya dan bilang.
"Dingin neng." Cuma itu, lalu melanjutkan perjalanan melintasi aspal hitam bermarka putih, berbaur dengan para pengguna jalan lainnya. Dingin dingin empuk bagi Gilang.
Jantung Gita hari itu hampir copot untuk ketiga kalinya, pertama saat hampir berpapasan dengan papinya saat di koridor Klinik, yang kedua saat Gilang berada di ruang rawat Muna, di mana ada mama dan semuanya di sana. Lalu sekarang di teras kostnya, sudah ada mama Indira sedang ngobrol dengan Siska.
Gilang masih di atas motor. Lalu melepas kuncian helm Gita dan membantu melepaskan dari kepala Gita.
"Ide Nenggi boleh juga, besok Agi bilangin Sita deh. Kalo Agi udah punya Nenggi. Tapi... serius ya neng?"
"Maksudnya apaan?"
"Agi ga mau pura-pura pacaran sama eneng. Kita jadian beneran aja, gimana?" Gita tiba-tiba jadi arca dong. Rohnya ga nyatu sama badan. Terbang gitu hampir deket sama bulan dan bintang yang bertebaran di langit malam.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ini orang nembak kok di depan kost sih. Mana ada mama lagi." Batin Gita berontak.
"Gita... baru pulang?" Gita mendadak mendarat kembali ke bumi saat mama menyapa dan makin dekat ke arah mereka.
"Agi buruan pulang. Nanti jawabannya neng chat aja. Bye." Gita lari mendekati mamanya.
Gilang bingung dan hanya mencoba mengingat wanita itu adalah wanita yang tadi di kamar Muna juga. Dan memilih patuh pada perintah Gita untuk segera pulang.
"Ini baju yang kamu pake ke klinik tadi, jam segini anak gadis baru pulang. Kamu sebenarnya kerja apa di kerjain sih Git. Nanti mama minta papimu menegur Kevin. Masa ade sendiri di perbudak. Mentang-mentang dia yang punya perusahaan, jadi seenak udelnya saja perlalukan orang." Waaaah mama Indira ternyata satu server sama nyak Time. Mereka ahli dalam bernarasi alias ngomel-ngomel.
"Ga ma. Gita udah dari sore selesai kerja. Tadi cuma diajak makan malam aja." Gita membela diri.
"Ini kamu ngapain juga sih tinggal di kost kayak gini. Udah deh Git, ga usah nyiksa diri. Kulit kamu tuh, udah ga berseri-seri lagi. Keseringan pake motor pasti. Mobil kamu di Jakarta mau di pajang di Museum hah? Mama belikan apartemen deket kantor oke?" omel Indira tak berjeda dengan suara lumayan bernada dasar G \= Do. Membuat Ninik yang bersembunyi di kamarnya sedikit bingung menyimak isi narasi tersebut.
"Ga mama." Jawab Gita tak kalah nyaring.
"Kamu kenapa sih ... mau so miskin?" kata-kata ini lengkap dengan pelototan mata dan tangan yang berkacak di pinggang.
"Ga juga. Gita senang hidup begini. Punya teman yang tulus sama Gita. Dengan gini, Gita ga bakalan ketemu sama cowok yang kaya Baskoro." Gita menurunkan suaranya satu oktaf, berharap sang mama melakukan hal yang sama.
"Ih... mama apa apan sih. Main jodoh-jodohan. Ga mau." Berang Gita kesal.
"Kenapa? udah punya calon sendiri? Mana? sini kenalkan sama mama dan papimu." tantang Indira.
"Iih... mama... aah."
"Usia kamu udah 26 akhir ya Git. Muna yang muda 3 tahun dari kamu sudah punya anak dua Gita. Sadar."
"Iya... tau. Tapi ga di jodohkan juga."
"Eh... mama sudah sabar ya. Selama ini liat papimu ngebiarin kamu pontang-panting kerja di sini tanpa fasilitas. Kamu kira hidup ini cuma main-main. Pokoknya besok anak teman mama jemput kamu di kantor untuk makan siang. Ini no kontaknya. Nanti dia yang akan hubungi kamu, tunggu saja. Oh iya... namanya Sailendra Mahardika. Awas nolak!!!" mama pulang, Assalamualaikum." pamitmya lalu melengos pergi.
"Walaikumsallam."Sahut Gita kesal. Hilang sudah rasa bahagianya saat tadi Gilang bilang mau jadian.
Wajah Gita kecut masam lebih dari buah Cermai. Dongkol banget perasaannya pada sang mama. Gita, segera mandi untuk menetralkan suasana hatinya yang nano-nano.
__ADS_1
"Git... maaf. Tadi aku mau ga denger. Tapi sumpah nyaring, jadi aku denger semua... Itu bener?" tanya Ninik yang memang sekamar denganya sejak pertama bekerja.
"Iya... maaf Nik. Aku ga maksud bohong. Hanya mau jadi diri sendiri saja. Lepas dari embel-embel nama Mahesa. Bukan ga bangga jadi anak papi. Tapi di manfaatin itu menyedihkan."
"Tapi di bohongin teman sendiri juga sakit Git. Apalah aku... hanya teman sekamarmu, tinggal yakinkan hati kalo ternyata selama ini aku punya teman tajir."
"Bukan aku Nik. Papi dan kak Kevin, pandang aku sebagai staf biasa seperti kamu juga."
"Of course, you are not them. But still you guys are still family"
"Aku salah apa Nik...?"
"No... kamu ga salah. I'm just worried."
"Apa yang kamu khawatirkan?"
"You are lying. We're just friends. Bagaimana dengan Gilang? Bagaimana jika dia tau selama ini kamu bohong. Kamu bilang suka dia, tapi hal besar ini sudah sangat cantik dan ciamik kamu tutupi. Sumpah aku inscure untuk kelanjutan hubungan kalian."
"Niniiiik... jangan bikin aku benar inscure. Barusan tadi Gilang ajak jadian lho..."
"Whaat...akhirnya. Terus kamu terima?" Heboh Ninik.
"Ya Tuhan jam berapa ini, aku janji jawab via chat. Iiih, jadi lupa kan." sungut Gita sibuk mencari ponselnya. Yang ternyata lupa ia letakan di mana.
Bersambung...
Yang makin greget...
Timpuk yaah
Kopi aja ga usah pake gula
Soalnya pasangan 2G udah manis
❤️❤️❤️
__ADS_1