
Gilang dan Gita pemain baru, minim refrensi soal gaya ber cinta. Sehingga saat Gilang mengajaknya mandi bersama, Gita sungguh akan mandi saja. Menguyur tubuhnya di bawah shower, lalu menyabuni tubuhnya sendiri, pun dengan membelakangi Gilang yang sudah polosan tanpa penutup apapun di tubuhnya.
"A'a... lebih baik nyebur di bath up atau pake boxer deh. Geli eneng liatnya." Perintah Gita pada Gilang yang sudah memeluknya dari belakang.
"Neng... kita coba sambil berdiri yuks." Ajak Gilang meremas squshy yang sudah basah dan licin karena busa sabun itu.
"A'a... kamarnya kedap suara. Tapi toilet ini apa kabar?" Gita mengingatkan suaminya.
"Nanti bibir eneng a'a lakban pake bibir a'a deh, biar ga jerit jerit." bisik Gilang yang mampu membuat bulu kuduk Gita meremang.
Tok
Tok
Tok
"Pak.. Pak Gilang... ada di dalam?" teriakan khas bi Inah dari luar kamar mandi dalam kamar Gilang.
"Tuuuh." Cemberut Gita yang tadi hampir setuju akan beradu cumbu di dalam kamar mandi mereka.
"Iya bi... kenapa?" teriak Gilang yang sebenarnya akan memulai permaianan barunya.
"Semua yang di tas ini, isinya di pindah ke lemari bapak?" tanyanya dengan nada sopran agak cempreng.
"Iya Bi, susun dan taroh yang rapi." Gilang tak kalah berteriak agar di dengar bi Inah.
"Oke siap laksanakan." Jawabnya riang.
Gilang mulai menyapa bibir Gita dengan lembut, menyapu deretan gigi rapi nan putih itu dengan gerakan super lembut. Pelan pelan saling melilit organ kenyal di dalam sana, bertaut ria merubah ritme pelan tadi berangsur cepat, membuat nafas keduanya saling memburu, meminta serangan lebih dari sekedar cumbuan bibir saja.
"Paak..." Bi Inah terdengar memanggil plus mengedor pintu kembali. Dan tidak di sahut.
"Ini bajunya di taroh di lemari bapak semua atau di kamar mana? ini baju cewek semua lho pak. Ga ada baju bapak." teriaknya yang memang tidak tau majikannya sudah menikah.
"Iya bi... susun di lemari saya." teriak Gilang yang tangannya sudah berpendar tak melepas squshy Gita yang sudah menantang ke arahnya.
"Neng... pegangan sama jaka dong." Bisiknya pelan sambil mengigit daun telinga Gita.
__ADS_1
"A'a... geli." Erang Gita merasakan deru nafas yang berhembus masuk ke lubang telinganya.
Gilang mengarahkan tubuh Gita ke bawah shower lagi, agar busa sabun itu hilang. Ia ingin menyecap pucuk squshy tadi dengan mulutnya, meng ulum sempurna tak puas hanya memelintir dengan jari jemari tangannya. Sementara si jaka sudah posisi enak berada dalam genggaman Gita penuh.
Sepuluh menit berlalu, wajah Gita dan Gilang sudah sama sama merah seperti tomat masak. Semacam menahan sesuatu yang ingin meledak, padahal belum ada agenda pertemuan antara si iting dan si jaka. Hanya saling meraba, menggenggam seolah jalan di tempat saja, maju mundur cantik, cantik. Tapi bagi mereka itu penuh gelora. Keduanya masih sensitif, kesenggol dikit on.
"Paak... Pa Gilang. Ini beneran semuanya di susun di lemari bapak? Di kotak lain juga banyak sepatu wanita. Apa di susun semua di rak depan?" terdengar lagi teriakan bi Inah yang tidak tau jika di dalam majikannya hampir kebakaran.
"Hiiish... udah ah A' lanjut ntar malam aja. Males neng jadinya." dengus Gita yang memilih menceburkan dirinya ke dalam bath up. Dan jaka pun menciut.
Dengan wajah agak geram, Gilang mengambil bathrobe asal lalu memasang pada tubuh atletisnya. Mengikat sembarang lalu keluar kamar mandi.
"A... A'..." panggil Gita agar Gilang mengurungkan niatnya keluar kamar mandi.
"Apa sih bi... teriak teriak?" Hardik Gilang pada bi Inah yang ternyata di telinganya tersumpal headset.
"Wuaahahaaaa... bapak kok imut sekali pake baju mandi warna pink. Ayok ngaku nyolong punya siapa?" Bukannya takut, bi Inah justru meledek Gilang. Itulah sebabnya Gita tadi memanggil Gilang. Karena suaminya sembarang ambil bathtobe miliknya.
Gilang melepas headset yang nyantol di telinga Bi Inah.
"Bibi... denger ya. Sekarang Gilang teh udah nikah. Itu semua pakaian istrinya Gilang. Tuh, di dalem orangnya lagi mandi. Ntar Gilang kenalin sama bibi, paham?" Jelas Gilang yang sudah kehilangan hasrat ber cinta karena terikan bi Inah, boro-boro main dua jam. Nahsiiib.
Gita sudah menyelesaikan mandinya, terpaksa mengeringkan tubuhnya dengan handuk, melilit rambut basahnya ke atas, lalu menggunakan bathrobe biru milik Gilang untuk membalut tubuhnya dan keluar untuk berjumpa dengan bi Inah.
"Sore bi, maaf kenalannya begini. Saya Gita istri a'a Gilang." ujar Gita sopan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan bi Inah yang tampak ternga-nga melihat Gita yang baru keluar dari kamar mandi itu.
"Masyaallah... istri pa Gilang jelmaan bidadari ya. Cantik pisan euuy." pujinya spontan.
"Hahaha... bibi sama kaya a'a. Suka ngegombal." Gita sambil meraih satu dress pendek dan underware tanpa b.r.a. Lalu melesat masuk lagi ke kamar mandi untuk memasang pakaian tersebut.
"Neng... kok di kunci." teriak Gilang yang mengira Gita akan melanjutkan kegiatan tadi.
"Hmm.. udah. Mandi sana." Perintah Gita yang sudah keluar dengan dress tadi sudah terpasang walau tanpa ku tang di dalamnya.
Gilang menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, gagal tembak sambil berdiri di kamar mandi akibat gedoran bi Inah tersayang.
Gita duduk di tepi ranjang melipat pakaiannya, membantu bi Inah sambil menjelaskan pakaian mana saja yang harus ia susun sesuai seleranya.
__ADS_1
"Begini ya bi. Nanti kalo dress rumahan sederet ini semua, kalo kemeja sederet ini semua, biar Gita mudah ngambilnya. Trus kalo underware Gita lipatnya sampe kecil di gulung seperti ini, biar hemat tempat dan rapi." jelas Gita dengan sopan dan hati-hati pada bi Inah.
"Baik... siap bu. Tapi, ngomong ngomong ini kok, semua pakaian eneng ya? pakaian bapak baru ada lima." Heran Inah pada Gita.
"Iya tadi kami baru sempat mampir ke kost Gita aja. Setelah ini baru ke rumah a'a ngambil barang-barangnya a'a." Terang Gita lagi.
"Oh... jadi bapak sama ibu baru datang?"
"Iya bi, baru beberap menit yang lalu sampe di rumah ini."
"Lah... nikahnya kapan sih bu? lah kok tetiba pak Gilang bawa istri aja?"
"Kami menikah di Jakarta bi, seminggu yang lalu." Jawab Gita dengan senyum dan tangan yang masih dengan cekatan melipat pakaiannya, agar pekerjaan bi Inah cepat selesai.
Gilang berada di ambang pintu kamar mandi, tetapi tak jadi keluar. Sebab Gita sudah dengan sigap menyodorkan pakaian untuk Gilang pasang di dalam kamar mandi.
"Apa di sini ga di gelar acara ngunduh mantu gitu bu... biar tetangga tau kalo pa Gilang sudah nikah?" kepo bi Inah lagi.
"Belum bi. Ini saja kami baru pulang perjalanan dinas kemarin. Jadi belum bicara akan hal itu." Sabar Gita menghadapi ART part time ini.
Gilang melempar tubuhnya di atas kasur empuknya, dengan posisi tengkurap.
"A' ... jadi kerumah ibu kan sore ini?"
"Iya neng jadi, tapi a'a tidur sebentar ya. Cape nyetir." Jawabnya yang sepertinya masih agak kesal dengan bi Inah yang sungguh tak tau menau akan agenda rencana gencatan senjata di kamar mandi tadi.
Gita hanya tersenyum ke arah bi Inah.
"Oke... beres bu. Cepet selesai kalo di bantu gini." tukas Inah puas dengan susunan pakaian yang sudah berderet rapi di dalam lemari itu.
"Permisi, bibi ngurus sepatu dan beberes yang lain ya. Selamat beristrirahat." Pamitnya sopan pada Gita.
"Perlu di arahkan nyusun sepatunya bi?" tanya Gita khawatir waktu istrirahatnya akan terganggu oleh gedoran bi Inah lagi.
"Tidak bu. Bibi paham." jawabnya ambigu.
Gita pun tersenyum sambil mengantarkan bi Inah ke depan pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Kunci pintunya...!! Matikan lampu...!!!" suara Gilang tenggelam karena menghadap bantal
Bersambung...