
Rumah tangga kevin dan Muna memang sejak awal memang tergolong berbeda dengan rumah tangga pada umumnya. Mulai dari pernikahan dadakan kemudian harus terpisah benua akibat keinginan Muna menjadi sarjana.
Hal itu menjadi suatu krikil tersendiri bagi perjalanan mereka yang seolah terus di uji dalam urusan kesetiaan. Keduanya benar-benar meletakan kepercayaan satu sama lain di bantu Tuhan yang maha mengetahui segala.
Dalam pikiran Muna, jangankan selingkuh. Memikirkan tugas kuliahnya serta mengurus anaknya sendiri di bantu baby sister saja, sudah sangat menguras waktu, tenaga dan pikirannya
Kevin sebelas dua belas dengan Muna, walaupun terlihat seperti bujang lokal. Tetapi ketika pulang kerumah, Kevin seolah selalu mendapatkan moodboster saat bertemu nyak yang selalu memperhatikan makanannya dan babe yang selalu tak bosan mengingatkannya. Jika di belahan bumi yang lain ada dua orang yang mesti ia utamakan kebahagiaannya juga pikirkan masa depannya kelak.
Kevin cukup gila dalam urusan mendapatkan Muna, tidak semudah itu baginya menyia-nyiakan seseorang seberharga Muna. Bukan karena statusnya yang berubah menjadi direktur. Baginya Muna adalah sosok wanita sempurna yang spesial di berikan Tuhan untuk mendampinginya. Hati wanita itu tetap tulus dan sederhana.
Sehingga Kevin selalu merasa jatuh cinta pada istrinya tersebut. Walau tergolong masih muda, namun Muna pandai memainkan perannya sebagai istri. Pun suami yang ia hadapi adalah seorang play kelas kakap di masanya.
Bukan bermaksud mesum sembarangan atau seolah mengejar setoran, namun jarak jauh mereka pasti selalu menuai rindu yang wajib untuk di selesaikan berkali-kali hingga tuntas. Ada yang mengeras tapi bukan es, ada yang berdiri tapi tak punya kaki, ada yang selalu nagih tapi bukan debt collector. Dan akhirnya ada yang baca sambil senyum sendiri, tapi tak waras😀. Urusan itu selain alasan beribadah tentu kebutuhan juga. Maka keduanya akan selalu akur untuk melakukannya demi menyingkronkan keinginan tersebut satu sama lain.
So far, pada sisa libur semester ini tidak ada drama receh Muna dalam urusan ingin ke rumah sakit untuk menjenguk pekerjaannya. Juga tidak lagi terdengar ingin main ke rumah babe di Jakarta Barat. Ia lebih fokus merawat Aydan dan melayani suami selayaknya para istri dan ibu rumah tangga pada umumnya saja.
Tapi Kevin bukan tipe suami pembohong. Tentu ia akan selalu menepati janjinya. Sehingga pada hari jumat selepas pulang kerja, mereka sudah bagai pindahan saja untuk pergi ke rumah babe. Mereka memiliki waktu 2 hari sebelum akan kembali ke Apldoorn yang selalu menanti.
Rumah babe ramai kembali, ada Ay yang semakin banyak ngoceh belum jelas di rumah engkongnya itu. Jangan tanya bagaimana sukanya Ay saat selalu bisa berdekatan dengan pasangan Betawi itu. Ia bahkan bisa tidur terpisah dari Kevin dan Muna di malam pertamanya di rumah babe. Masa Kevin dan Muna menyia-nyiapan kesempatan?
Siang sore Siska datang dengan wajah ceria sumringah. Selain mendapati masih ada Aydan di rumah, hatinya sedang di landa kesenangan tiada tara.
"Berseri banget wajah loe Sis. Habis di tembak cowok loe?" sapa Muna pada Siska yang baru masuk rumah.
"Jiiiaaah hari gini masih seneng di tembak cowok. Norak banget siih." Tukas Siska meledek.
"Mang apaan yang buat kamu seneng gitu?" jiwa Muna bermulai.
"Skripsiku rampung tinggal revisi seminar deh... ya butuh 1 semester sih untuk benar-benar beres. Tapi... tetap Alhamdulilah kan, Mun."
"Alhamdulilah Sis. Kuliahmu lancar. Aku sempat terminal sih. Rencana semester depan baru mau ngajukan judul." Sedih Muna mengenang.
"Mun... rejekimu di jodoh. Masa kamu sudah dapat suami, punya anak, harus sukses dan lancar kuliah juga, maruk kamunya." Obrol keduanya di rooftop rumah babe santai.
"Iya... bukan maruk sih. Sekedar mengevaluasi saja. Btw... apa iya jodoh lu se alot itu. Kamu ga ada pacar atau target siapa gitu. 6 bulan lagi wisuda lho. Yakin foto sama orang tua aja? Truk aja gandengan, masa kamu ga?"
"Haa...haa yang deket banyak, yang serius belum jelas, yang di taksir juga masih kabur." Siska terbahak.
"Fokus kuliah wajib Sis, tapi punya calon teman hidup lebih asyik. Jangan lupa bahagia." Saran Muna penuh makna.
"Tapi bahagia ga harus punya pacarkan Mun?"
"Iya bener, tapi se enggaknya ada teman curhatlah. Biar ga kesepian gitu."
"Siap ibu direktur." Kekeh Siska.
"Serius niih ga mau cerita?" pancing Muna kembali.
"Tentang...?"
"Udah lama banget sih benernya mau tanya. Tapi takut di kira kepo, padahal ya emang kepo juga."
__ADS_1
"Apaaan?"
"Soal SW mu waktu aku masih hamil Ay." Muna tak mau menyiakan kesempatan untuk memastikan yang Siska maksudkan.
"Ya ampun udah lama banget itu mah, lupa dong akunya..."
"Hahaha... iyalah. Lupa juga benernya, intinya kamu suka dengan hubungan seseorang yang baru putus dengan pacarnya. Mang siapa?"
"Ohhh itu..."
"Yaaang... masih di atas?" panggil Kevin yang seperti tak senang Muna bahagia. Bahkan Siska belum sempat menjawab pertanyaan Muna.
"Iya bang... ngape...?" jawab Muna menuruni tangga.
"Abang ada pesan makanan nih... mau makannya di mana?" Muna buru-buru turun mendekati Kevin yang sudah dengan senyum manisnya membawa seperangkat alat masak. Sepertinya mereka akan BBQ malam ini.
"Waaah... abang paling pengertian deh sedunia... oke-oke sini kita makan di atas aja." jawab Muna senang menyambut semua yang Kevin siapkan.
"Tapi makannya ntar ya, kita magriban dulu yang."
"Iya sayang. Tapi ini kok banyak bener sih bang?"
"Abang sekalian ngundang Daren, kebeneran juga, dia mau ngenalkan seseorang katanya. Karena papi lagi ga di Indinesia." Jawab Kevin.
"Siapa?"
"Nanti kita juga bakal sama-sama tau."
"Ya mana abang tau. Kan malam ini baru di kenalin, emang abang cenayang?"
"Huu.... abang. Kali sudah dapat bocoran gitu."
"Ga... abang juga belum tau."
"Bang..." panggil Muna saat mereka masuk kamar dan akan mempersiapkan diri untuk sholat.
"Apa...?
"Skripsi Siska udah rampung lho, tinggal revisi. Selanjutnya seminar, kelar deh." Sungut Muna.
"Terus...?"
"Ya... udah ga bisa terus, udah mentok ini ceritanya."
"Oh..."
"Kok cuma oh."
"Yang bener abang jawabnya apa dong?"
"Ya terserah, ga oh juga."
__ADS_1
"Ni bini abang kenapa sih? PMS yang?
"Iish... apa hubungannya?"
"Sensi gitu... memangnya kenapa kalo skripsinya Siska udah kelar? Sirik? Lupa? kan sayang emang ketinggalan 1 semester dari dia?"
"Ya inget lah."
"Terus.. ? mau marah lagi karena sempat terminal, hamil, ngelahirin dan lain-lain?"
"Huummm aye kesalib Siska bang."
"Hah... Mae. Mae... udah beranak satu masih aja punya pikiran ge gitu. Jangan lupa walau kuliahnya Siska udah mau kelar, sejak kita kenal sampe sekarang Siska masih konsisten dengan statusnya lho."
"Apaan?"
"Jomblo."
"Iish abang ngeledek niih."
"Oh abang salah nebak? ya maaf."
"Ga salah siih. Bener kali."
"Sini sayang." panggil Kevin memangku Muna.
Kali ini Muna patuh.
"Sayang... tiap jalan hidup seseorang sudah ada yang mengatur. Jangan pernah bandingkan nasibmu yang sudah jadi ketetapan Allah dengan orang lain. Setiap perjalanan yang Allah berikan punya tujuan dan misinya masing-masing. Semuanya akan sesuai dengan porsiny. Siska di lancarkan studinya, istrinya abang di lancarkan jodohnya. Masih belum sadar kalo sekarang kehidupan Mae jauh dari yang dulu? Banyakin bersyukur sayang, jangan habiskan waktumu untuk melihat kehidupan orang lain, sampai lupa bahagia dengan semua yang sudah kamu capai dan punya. Mae sudah punya abang dan Ay. Nikmat mana yang mau kau dustakan sayang?"
Cup... pipi Kevin dapat hadiah.
"Maaf... dan terima kasih suamiku sudah mengingatkan. Alhamdulilah, punya suami seperti abang. Love you pap."
"Love you more, mam."
Bersambung...
Ga usah di terusin.
Ntar ga jadi magriban
Malah junuban😂😂😂
Terima kasih selalu masih setia mampir
bahkan nginep di lapak ini ya.
Semoga kita selalu sehat
Love my readers
__ADS_1
Muaaach... muaach... muach