
Walau emosi Kevin tetap menscroll dan membulak balikan layar ponselnya. Mencoba mengenali wajah gadis yang ia yakini benar, itu adalah Muna.
Walau dari segi pakaian jelas seperti bukan Muna.
Sebab saat itu Muna tampak terbalut dalam pakaian mantel tebal hitam, tampak jelas di mata Kevin. Jika gadis itu mungkin saja hanya mirip dan tampak begitu berpenampilan elegan. Sungguh berbeda jauh dari dengan gadisnya, yang selalu tampil natural apa adanya.
Ada beberapa orang bertubuh hampir sama dengan tubuh itu, namun sedikit pun Kevin tak mengenali mereka, sebab mereka menggunakan syal yang di balut hingga hampir menutup hidung mereka.
Tiga hari berlalu. Keadaan babe sudah semakin baik. Bahkan sudah mendapat rekomendasi untuk melanjutkan perawatan di rumah dengan sesekali melakukan kontrol sesuai tanggal yang sudah di tentukan.
Kevin termangu saat melihat tidak ada serupiah pun biaya yang harus ia bayarkan. Bahkan deposit yang sempat Muna bayarkan di awal saat baru tiba di rumah sakit ini. Hanya biaya perawatannya yang ia bayarkannya sendiri.
Kevin tidak bodoh, ia bahkan naik ke pihak manager rumah sakit itu untuk memastikan bahwa itu bukan suatu kekeliruan. Dan penjelasan manager dapat sedikit ia terima walau terdengar agak mengganjal.
"Iya benar pak. Pasien atas nama Rojak Baidilah dalam keterangan sudah melunasi semua biaya perawatan, obat dan lain-lain. Semua di tanggung oleh Wakil Direktur langsung, sebagai kompensasi dan penebusan rasa bersalah. Atas kesalahan dan keteledoran pihak rumah sakit kami, atas hilangnya anak pasien. Pa Wadir juga berpesan, bahwa pihaknya akan terus berusaha bertanggung jawab melacak dan membantu mencari anak pasien tersebut." jelas manager rumah sakit itu pada Kevin.
Maau tidak mau dan suka tidak suka, Kevin harus menerima semua yang di sampaikan padanya. Dengan langkah gontai menyusuri koridor rumah sakit dengan seribu satu pertanyaan di kepala, namun hanya ia simpan sendiri.
Babe mulai bisa berjalan tetapi masih dengan bantuan tongkat untuk membantu menyangga tubuhnya. Tentu saja belum sepenuhnya sempurna keadaan itu, tetapi percaya jika semuanya akan segera pulih.
Babe, nyak dan Kevin sudah di sambut Siska dengan hangat juga dengan makanan yang terlihat begitu lezat untuk di santap.
Tanpa basa-basi mereka pun makan siang bersama di rumah. Dalam keadaan hening, sepi, sunyi tidak seperti biasa.
Tidak ada keriuhan candaan seperti biasa, tidak ada hardikan sayang dari nyak Time yang biasa ia lontarkan saat Muna dan babe berbalasan pantun yang terjadi di meja makan itu sekalipun.
Tes,
Tes,
Sruuuut
__ADS_1
Nyak Time berusaha menahan lajunya air yang membendung di dalam hidungnya, berharap cairan itu tidak ikut jatuh bersama air matanya. Sedapaat mungkin iya tahan, tetapi tidak bisa. Hatinya... hati nyak Time yang lebih dominan bagai bisikkan setan begitu merong-rongnya untuk selalu memikirkan Muna. Anak gadisnya yang telah kembali pada asal usulnya.
Babe menepuk halus pundak nyak Time. Berharap dapat sedikit mengurangi kesedihan wanita yang sangat ia cintai tersebut. Namun, tangis nyak Time malah menjadi-jadi. Alhasil acara makan siang pun berakhir lebih cepat dalam keadaan tak nyaman.
"Nyak, babe. Kevin permisi pulang dulu ya. ***..."
"Tunggu... ada yang ingin babe sampein ame elu, Tong." cegah babe saat Kevin akan berpamita.
Kevin tau, mungkin ia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga ini. Toh, ia sudah gagal nikah, bahkan calon pengantinnya sudah raib entah kemana. Mestinya hingga keluar rumah sakit pun ia sudah tak perlu peduli lagi dengan keluarga ini.
Tapi sayangnya, hati Kevin tidak hanya terpaut pada Muna, tetapi pada nyak dan babe pun rasa sayang dan hormatnya sudah tumbuh subur.
Kevin kembali duduk berhadapan dengan babe dan nyak yang sepertinya akan berbicara hal yang serius pdaanya.
"Tong, sebenernye beberapa hari yang lalu. Muna ude ketemu. Die ade datang menemui babe waktu di rumah sakit." Babe mana pernah tega ikut berlama-lama untuk berbohong pada Kevin yang sudah sangat banyak membantunya selama ini. Belum lagi ketulusan hati Kevin dalam hal menyayangi Muna, di mata babe tidak perlu di ragukan lagi.
"Apa... Muna sudah kembali? Mana Kevin waktu itu be?" Suara Kevin meninggi, kembali gusar melanda memenuhi, dan menguasai dirinya.
"Bilang sama Kevin, di mana sekarang Kevin bisa ketemu sama dia be." Paksa Kevin seolah anak kecil memaksa sesuatu pada orang tuanya.
"Maaf... Muna hanya sempat menitipkan kata maaf buat elu. Tolong jangan benci die. Sesungguhnye Muna sendiri terguncang akan jati dirinye. Jadi, biarin Muna sendiri dulu." Bohong babe, babe memberanikan untuk berbohong pada Kevin. Agar hubungan keduanya bisa tetap baik.
"Apa salah Kevin be. Sampai bertemu saja seolah tidak boleh." Lirih... Perih sekali hati babe dan nyak mendengar kata-kata Kevin.
"Elu kagak salah ape-ape. Muna kagak sengaje dan kagak sempet ketemu elu. Nyak babe bahkan cuma sempet tidur satu malam ame Muna, lalu die ude di bawa orang tua aslinye pergi menemui kakeknya yang sakit parah, cukup lu percaya kalo Muna pasti kembali." Babe sendiri hanya mengandai, sedikit berharap agar anak gadisnya akan di kembalikan padanya lagi.
"Dimana be... Bilang pada Kevin ke mana mereka bawa Muna. Be..., Kevin cinta mati sama anak gadis babe. Kevin bahkan tidak peduli, dia cuma anak pungut bahkan misal anak haram sekalipun. Kevin harus ketemu dia be. Kevin akan tetap akan cari dia walau sampai ke lubang jarum sekalipun." Emosi Kevin tidak stabil. Sebentar marah, sebentar mengasihani dirinya sendiri, sebentar akan marah-marah kembali.
"Untuk di mane keberadaannye, babe juga kagak tau pasti. Tapi, setelah tau Muna sehat dan bae-bae aje. Bagi babe dan nyak ude cukup. Kami hanya mampu berterima kasih ame Allah pernah lebih dari 18 tahun pernah ngerawat Muna. Sayang itu pasti, urusan sedih jangan di tanya. Tapi sesuatu yang bukan milik kita, memang seharusnya di kembalikan ame yang punya." Babe bahkan bicara sambil mengusap bening kristal yang sekehendaknya membasai pipi keriputnya.
"Babe ngarti elu patah hati, babe paham pegimane pahitnye kehilangan. Elu belom setahun mengenal Muna, ape kabar hati nyak dan babe yang ude ngurus die dari orok? Kire-kire... Sakit mane antara hati elu ame nyak babe?" Sontak pertanyaan itu mengundang pilu dalam hati Kevin. Mendadak malu, bahwa sesungguhnya ada yang lebih sedih darinya dalam hal kehilangan Muna.
__ADS_1
"Bilang sama Kevin be. Kevin harus bagaimana sekarang?"
"Berhenti membuang uang, waktu dan tenagamu untuk cari Muna. Mau tunggu sampe dia datang silahkan, mau beralih hati pun. Babe kagak nyalahin elu. Semua pilihan di tangan elu. Tapi, satu yang babe minta. Jangan benci Muna." Tegas babe pada Kevin.
"Be... Kevin bahkan tidak punya alasan untuk membencinya. Kevin hanya kecewa, kenapa bahkan untuk bertemu saja, ia tak berikan Kevin kesempatan?"
"Kesempatan itu sebenarnya ada. Jika yang bersangkutan mau. Tetapi, tolong sekali lagi. Tolong pahami lagi bahwa Muna hanya seorang manusia yang tetiba labil saat baru tau akan statusnya." Bela babe untuk Muna.
"Siapa keluarga kandung Muna be?" sepertinya Kevin akan menyerang orang tua kandung Muna, ia tidak peduli akan ada rintangan apa lagi yang menghadangnya.
Baginya Muna harus segera ia temukan. Dan menjelaskan seterang terangnya, apa alasan sesungguhnya. Mengapa ia tidak memberi Kevin kesempatan bertemu sebelum ia kembali ke orang tua asalnya.
Apakah cinta Kevin bertepuk sebelah tangan?
Apakah selama ini Kevin hanya cinta sendiri?
Apakah mereka memang tidak di takdirkan untuk bersama?
Bersambung....
Ketiga pertanyaan terakhir hanya nyak otor yang bisa jawab.
Biar tambah resep nyak otor nulis ini sambil dengerin lagu Cakra Khan ' Salah Tapi Baik' ada bawang bombay terkandung di dalamnye.
Udah akhir minggu lagi
Ternyata 2 pekan hampir berlalu, Tulisan ini menuai hujatan keras.
Sayangnya nyak otor malah Ge-eR udah merasa berhasil mempermainkan emosi reader.
Semoga minggu depan giliran gulali yang turun harga🤭 biar tau hidup itu ada manis-manisnya.
__ADS_1
Lopeh buat semua❤️❤️❤️