
Gita sedari tadi hanya menyimak pembicaraan orang tua mereka. Dalam hatinya dapat menyimpulkan bahwa ibu Gilang memang memiliki prinsip yang kuat. Tak mudah di beli, pantas saja dapat mendidik Gilang sedemikian rupa. Mengedepankan kejujuran juga kebebasan dan kepercayaan pada kepitusan anaknya.
“Papa… kami berdu suah sepakat menunda akad, tapi belum bicara soal konsep acara apakah menjadi satu dengan resepsi. Untuk masalah biaya. Baik Gita atau Gilang sama-sama sudah memiliki persiapan. Hanya, mungkin bagetnya tidak cukup untuk acara yang besar-besaran. Misalnya kami memiliki dana lebih pun, mungkin kami akan tetap melaksanakannya dengan sederhana saja. Bukan karena tidak mampu, tapi kami lebih pada kesakralan pernikahan itu sendiri. Semoga papi dan mama bisa menghargai keputusan kami ini.” Ungkap Gita menengahi pembicaraan ibu dan papinya tersebut.
“Iya… tentu nak. Tentu saja papa sangat menghargai keputusan kalian. Hanya jangan karena biaya kalian terbeban, papi sangat dengan dua tangan terbuka siap membantu kalian. Jangan sungkan.” Ucap Diendra lagi. Sementara Indira memang memilih diam saja, sebab memang sudah di wanti-wanti oleh suaminya untuk tisak ikut bicara, untuk menghindari kesalahpahaman.
Tak lama sesudah itu, Diendra pun pamit untuk pulang. Gilang dan Gita hanya mengantar sampai depan pintu. Dan saat lewat meja reseptionis rumah sakit tersebut, Diendra terhenti. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranya untuk memberikan dana deposit untuk menunjang pengobatan calon besannya.
“Permisi pasien atas nama Dian yang di rawat di kamar VVIP nomor 39. Senin depan akan menjalani pemasangan ring jantung. Apakah biayanya bisa kami deposit?” Tanya Diendra pada petugas.
“Silahkan ke kasir ya pak, di sebelah kanan.” Perintah perawat itu dengan sopan.
Diendra melangkah lalu di persilahkan duduk untuk menunggu, pertanyaannya tadi di periksa.
“Pasien atas nama Dian Purwasih ya pak?”
“Iya … benar.” Jawab Diendra antusias.
“Oh… beliau adalah nasabah prioritas pada salah satu asuransi yang bekerja sama dengan rumah sakit kami pak. Jadi biaya rawat inap dan semua pengobatan beliau akan di tanggung 100% oleh pihak asuransi tersebut. Bahkan biasanya akan mendapat santunan untuk biaya pengobatan selanjutnya.” Jawab petugas itu menunjukkan kartu sakti yang sudah di serahkan Gilang pada pihak rumah sakit tersebut.
“Oh.. jadi tidak akan ada pembiayaan yang harus di bayarkan selama di rawat ya mbak?” Tanya Diendra seolah tak percaya.
“Iya bapak, bahkan untuk penunggu pasien pun sudah di tanggung makan 3x sehari.” Jelas petugas itu dengan membingkai senyum manisnya.
“Baiklah terima kasih informasinya.” Pamit Diendra yang masih kagum dengan kematangan calon menantunya dalam hal memproteksi keluarganya.
“Gita benar-benar mendapat jackpot ma. Gilang bukan calon menantu kaleng-kaleng. Ia benar gigih juga tepat dalam mengelola keuangannya. Papi yakin Gita tidak akan sengsara hidup bersamanya.” Diendra mengambil kesimpulan pada calon menantunya tersebut.
“Amiin. Syukurlah pi, jika jodoh Gita adalah pria yang baik. Mama jadi tambah malu sempat memandangnya sebelah mata.” Seloroh mama Indira tersipu.
“Makanya, liat itu dengan dua mata. Untung dulu pas liat papi sedang melotot, kalo tidak jangan-jangan mama tinggal di bawah jembatan.”
“Udah deh pi… ga usah di bahas.” Kilah Indira malu.
Hari senin datang, jadwal operasi ibu Gilang pun tiba. Proses pemasangan ring jantung hanya memakan waktu 1-3 jam. Namun, selama proses persiapan dan pemulihan ibu Gilang memang masih perlu menjalani rawat inap selama beberapa hari di rumah sakit tersebut. Dan berjalan dengan lancer dan sukses.
Bagi Gilang, beban kerja sebagai Wakil CEO tidaklah jauh beda dengan saat ia sebagai Aspri Kevin. Tapi tentu saja nominal gajinya yang tentu lebih banyak dari sekedar aspri. Bahkan agak lebih santai, sebab ia tak perlu menyesuaikan keberadaan Kevin untuk melakukan hubungan kerja sama dengan pihak lain. Gilang dapat memutuskan sendiri waktu yang di rasakannya kosong dalam hal menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Surat cuti Gita sudah terlanjur terproses, maka ia tetap memilih libur saja. Sebab ingin lebih lama dan dekat dengan calon ibu mertuanya. Ingin banyak waktu mengenal Gilang dari versi wanita yang melahirkan calon suaminya tersebut. Maka, hari-hari Gita kini sering ia habiskan di rumah Gilang. Sebab, tiga hari setelah operasi, ibu Gilang sudah boleh pulang.
“Neng… Agi. Ada meeting restoran AD. Karena Neng cuti, A’a ajak Siska atau Haikal?” Tanya Gilang via telepon, sebab Gilang sudah di kantor saat Gita tiba di rumahnya. Seolah mereka sudah suami istri yang harus saling meminta ijin satu sama lain.
“Haikal mana pernah mau keluar kantor A. Ya ajak Siska sajalah.” Ijin Gita keluar.
“Yakin, Siska cewek lho neng.” Gilang mengingatkan.
“Masalah…?”tekan Gita.
“Kali neng cemburu. Kan Agi ngerasa di cintai banget neng kalo sampe neng cemburu.” Kekeh Gilang yang selalu suka menggoda Gita.
“A’a tuh bukan tipenya Siska.”
“Masa… a’a tampan lho neng!” seru Gilang masih dengan senyum yang terkembang di wajahnya.
“Iya.. tapi mata Agi belo. Siska ga suka.”
“Oh.. gitu.” Jawab Gilang garing.
“Kenapa … patah hati denger Siska ga suka A’a…?” balik Gita yang meledek Gilang.
“Yang mulai duluan siapa?”
“Iya maaf. Neng kalo ga ada kerjaan. Sok neng coret-coret atau cari-cari desain undangan sama konsep nikahan kita nanti gimana?” Saran Gilang.
“Ya nanti… tapi itu akad sekalian resepsi ga sih?”
“Terserah neng deh, maunya gimana?”
“Enaknya memang sekalian sih, biar ga banyak waktu gitu.”
“Iya oke. Tapi kalo sekalian resepsi acara agak besar. Sepakat awal tahun depan deh neng. Gimana?”
“Awal tahun 2 bulan lagi ya…? Artinya kisah cinta kita berakhir di Januari ya A…? Kayak lagu ya.” Kekeh Gita sendiri.
“Kok berakhir… baru mulai itu neng.”
__ADS_1
“Berakhir pacarannya a’a.”
“Hmm… neng udah dulu ya. Jamnya udah mepet nih. A’a berangkat ya neng. Assalamualaikum.”
“Walaikumsallam, hati-hati A.” Sahut Gita mesra.
Dan interaksi via telepon itu tak luput dari pandangan ibu Gilang, yang sangat merasakan betapa Gita adalah gadis yang baik dan sungguh menaruh rasa hormat pada Gilang.
“Siska… siap?” ajak Gilang menyembulkan kepalanya ke ruangan yang dulu adalah ruangannya.
“Siap boss.” Seru Siska yang kemudian menarik tas untuk ia selempangkan pada bahunya.
“Byee… Haikal. Jaga kandang ya.” Pamit Siska pada sang konseptor itu.
“Hmm… pulang bawa martabak ya Sis.” Pintanya.
“Siap kawan.” Ceria Siska pada Haikal yang memang selalu bisa di andalkan untuk bekerja sama, hanya ia bermasalah dalam hal berbicara. Sehingga selalu memilih bekerja di belakang layar saja.
Mobil kantor yang di kemudi oleh pak Min sudah melesat laju ke alamat yang mereka janjikan dengan calon investor bergerak di bidang yang sama, yaitu peralatan kesehatan. Perusahaan itu cukup lama mengantri untuk membuat janji temu, bahkan saat Gilang masih sebagai Aspri di PT.MK Farma. Namun, Kevin selalu tak memiliki waktu yang cocok untuk bertemu dengan calon investor ini.
Gilang tampan dan tentu semakin tampan saat balutan pakaian kerjanya sebagai Wakil CEO itu membalut tubuh atletis sempurnanya. Dan, kehadiran Siska di sampingnya pun tak kalah elegan sebab keduanya memang telah sama-sama terbiasa berpenampilan dengan orang-orang berkelas seperti Kevin.
“Gilang… apa kabar sayang?” Peluk cium seorang wanita yang tadinya tampak duduk tenang menunggu kolega bisnisnya.
Bersambung...
Cie-cie...
Gilang ada penggemar niih ceritanya
Walau di lapak udah END
Vote, like, komen n gift kalian tetap sangat berguna bagi nyak biar terus lanjutin cerita ini ya
Yang mau nyak nulis sampe 500 part pada kemana😁
Biar readers semangat timpuk nyak❤️
__ADS_1