OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 115 : KISAH YOLANDA


__ADS_3

Kevin sudah berada di depan pintu apartemen papinya. Yang baru saja ia ketahui alamatnya, setelah mendapat sharelok dari Diendra beberapa menit yang lalu.


Jangan tanya bagaimana debaran jantung Kevin. Segala pikiran berkecambuk dalam benaknya. 5 tahun sudah ia terpuruk dalam patah hati, kebencian dan segala hal buruk lainnya akibat sakit dan pahitnya kisah cinta bersama Yolanda sang cinta pertamanya.


Namun, Kevin sadar dengan sepenuh hati. Nama Yolanda sudah benar tak berarti apa-apa dalam hatinya. Sebab telah berganti dengan nama Muna Hidayatullah di sana.


Akhir minggu depan Kevin akan mengakhiri masa lajangnya, ia benar ingin berdamai dengan masa lalunya. Memilih berbaikan dengan pria yang sangat dicintai wanita yang melahirkannya juga yang telah berhasil memikat wanita, cinta pertamanya.


Posisi yang sulit bagi seorang Kevin, tetapi ia lebih percaya, ini adalah hal terbaik yang dapat ia lakukan, sebelum benar melangkah bersama Muna, gadis baik hati yang selalu mendukungnya menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Setelah ini, Kevin berjanji pada dirinya sendiri akan menceritakan semuanya pada Muna. Tanpa terkecuali bahkan mungkin tentang Yolanda sekalipun. Kevin memilih untuk jujur dan tidak menutupi apapun pada wanita pilihan terakhirnya tersebut.


Kevin sudah berada di dalam ruang tengah apartemen mewah tersebut. Dalam sekejab pandangan mata Kevin sudah beredar, berpendar keseluruh sudut ruangan tersebut. Mencari sosok yang sungguh penasaran ingin di lihatnya.


Masih dengan suasana hati yang berpacu tak karuan, ada sedikit khawatir juga bingung bagaimana kesan pertamanya setelah lama tak berjumpa dengan Yolanda. Namun, foto maupun wujud Yolanda pun tak ia temukan di sana.


"Maaf menunggu lama Vin. Papi sedang mencoba menyeduhkan kopi untuk kita." Sapa Diendra terdengar sangat hangat dan begitu antusias melihat kedatangan putranya di apartemennya.


"Tidak perlu serepot itu, papi tinggal bilang saja di mana dapurnya. Kein bisa buat sendiri jika hanya kopi." Jawab Kevin seadanya.


"Maaf... kita telah lama melewati waktu yang seharusnya kita jalani bersama." Kevin hanya diam. Masih dengan debaran hati yang ia sendiri tak tau di sebabkan karena apa.


"Papi sebenarnya bingung harus mulai dari mana, Vin." Ungkap Diendra sambil menscroll benda pipih di tangannya.


"Kevin juga belum sepenuhnya mengerti, hal apa yang membuatku berani datang kesini. Entah karena ingin tau tentang Yolanda atau ingin tau bagaimana cara pandang papi tentang Muna." Kevin mulai memancing Diendra untuk memilih tema yang akan mereka berduua ceritakan.


"Soal Muna. Semoga kamu tidak salah mengartikan maksud papi. Hanya... mestinya kamu lebih peka saja tentang asal usul wanita pilihanmu itu. Mungkin papi salah, jika tidak yakin bahwa dia bukan anak kandung dari pasangan calon mertuamu itu, Vin. Apakah sebelumnya kalian pernah membahas itu secara serius?" Kevin hanya diam dan mencoba mengingat-ingat kembali jawaban Muna setiap ia membahas tentang asal warna biru pada bola matanya.

__ADS_1


"Ah... maaf. Sebenarnya hal itu sangat pribadi sekali. Tetapi jika kamu serius ingin mengambilnya menjadi istri, sebaiknya hal sekecil apapun jangan kalian tutupi atau saling sembunyikan." Saran Diedra dengan nada suara yang sangat bersahabat.


"Iya... sebelum ini Kevin juga pernah menanyakan hal itu. Tetapi di jawab dengan biasa saja, sehingga Kevin merasa tidak merasa perlu mengulik hal tersebut. Selain itu, Kevin merasa Muna memiliki sifat dan kepribadian yang baik dan sangat bertaqwa kepada Tuhan. Hanya Muna yang mampu mengalihkan dunia Kevin kembali ke jalan yang benar, setelah mami tiada dan papi tak lagi terjangkau." Lirih... suara Kevin sangat lirih dan terdengar hampir merintih, sungguh pedih itu tak seketika sembuh seutuhnya. Kertas yang hanya di remas pun tak akan dapat kembali utuh seperti semula, apalagi hatinya yang tergores cinta, sungguh luka yang tak berdarah itu lebih sulit di sembuhkan daripada luka terbuka, menganga dan berdarah bahkan bernanah.


"Maaf jika soal Yolanda yang membuatmu semakin kecewa pada papi." Suara itu terdengar berat dan tak kalah pilu dari rintihan Kevin tadi. Sembari mengulurkan gawainya yang sudah memunculkan beberapa foto di sana.


Dengan terpaksa Kevin mengambil gawai yang di tujukan padanya. Melihat sekilas di awal, namun terperanggah setelah menyadari akan tampilan gambar-gambar di sana.


"Yo... Yolanda? Bisa papi jelaskan apa yang terjadi padanya?" Kevin menutup bibirnya sendiri melihat foto di hadapannya.


"Seperti yang kau lihat. Kini Yolanda hanya tinggal nama. Nama Yolanda Binti Fakturakman, yang sudah terpatri di sebuah nisan 2 tahun lalu." Diendra mengatakan hal itu dengan nada pelan sedikit lirih.


"Apa yang terjadi sesungguhnya pi?" Kevin mendadak penasaran dan ingin segera di beri penjelasan, sejelas-jelasnya oleh sang papi.


"Awalnya mungkin papi memang salah, dan jujur memang terpikat dengan semua tipu daya seorang Yolanda. Yang memang waktu itu masih berstatus kekasihmu, bahkan cinta pertamamu." Diendra mulai membuka kisah tentang Yolanda.


"Mengapa papi harus serepot itu menjaga Daren dan Gita?"


"Indira sedang menjalani pengobatan. Papi cukup menyesal dengan kepergian mamimu atas penyakit yang menggerogotinya. Sehingga papi tidak ingin kehilangan wanita yang sudah melahirkan anak-anak untuk papi, hilang untuk kedua kalinya."


"Bagaimana dengan Yolanda?"


"Penyakit Indira berawal dari munculnya Yolanda, mama Daren dan Gita tidak ingin menjadi istri yang di madu. Maka ia pergi meninggalkan papi dan anak-anak. Sehingga Yolanda sempat menjadi istri yang bahkan melahirkan anaknya dalam status sebagai istri siri papi. Sampai akhirnya terbongkar, bahwa Sherli, anak tersebut bukan lah anak darah daging papi. Itu hasil hubungannya dengan lelaki lain, bukan papi juga bukan denganmu."


"Kevin sangat mencintainya dulu, bahkan tidak pernah berani menyentuhnya sampai sejauh itu, walaupun ia sering menggoda dan membuat kami berada dalam kamar yang sama." Jawab Kevin memotong kisah Diendra.


"Ya... papi tau kamu tidak sebreng_sek papi. Walau hanya nikah siri, Yolanda tetap mendapatkan santunan dari papi, saat papi memutuskan untuk bercerai dengannya. Demi rasa kasihan untuknya menghidupi anaknya. Dan kabar terakhir yang papi dapatkan, setelah perceraian kami ia mengidap penyakit kanker serviks, yang kemudian merenggut nyawanya. Kamu dapat lihat sendiri foto-foto terakhirnya melawan maut, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya." Diendra mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Kevin tidak dapat berkata-kata lagi, mengetahui betapa 5 tahun terakhir ia hanya terpuruk dalam kepatah hatianya sendiri, dan sang papi pun tengah di guncang badai kehidupan dan sedikit-sedikit mulai menuai kesalahannya di masa kejayaannya sebagai Don Juan.


"Maafkan papi atas pertikaian kita yang di sebabkan oleh Yolanda. Papi berharap kamu bisa memafkannya, agar mendapat tempat terindah di sisi Allah SWT, Vin."


Kevin tidak dapat lagi menjawab permintaan sang papi, melainkan langsung berdiri memeluk tubuh pria yang sangat maminya cintai itu, yang telah mulai menua, lapuk di makan usia.


Keduanya saling berpelukan lama bahkan mengusap air yang tiba-tiba menguap dari permukaan mata mereka masing-masing.


Bersambung...


Maaf ye jika part ini, kemarin dan besok isinya bikin kejut jantung.


Nyak juga nyesek nulisnye.


Tapi wajib untuk dilanjutkan.


Untuk info kita baru berada di setengah tujuan novel ini di buat.


Harap tenang, sabaaaar.


Satu yang harus reader percaya.


Bahwa nyak selalu suka happy ending.


Lopeh buat semua yeee


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2