OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 137 : PERMINTAAN MUNA


__ADS_3

Muna masih dalam mode bingung, memandang lekat pada kedua pasanngan suami istri tersebut berganti-ganti.


Hati kecilnya berkata, wanita itu memang mirip dengannya. Kalung yang ia sebut pun ia miliki, tanda lahir yang ada di punggungnya juga wanita itu tau. Semua yang di katakannya merujuk dalam sebuah kebenaran.


"Tolong katakan sesuatu pada kami... apapun yang kamu rasakan sat ini." Pinta Rona memelas pasrah tak berdaya pada Muna.


"Sebentar... bisa jelaskan ame Muna. Pagimane ceritanye, kalian bisa sampai di desa ini, bahkan bang Kevin tunangan aye aje kagak bisa dapetin aye di mari...?" usia Muna memang belia, tapi kecerdasannya tentu di atas rata-rata.


"Untuk hal itu, biarkan saya yang menjelaskan." Ucap lelaki yang bernama Dadang itu dengan tegas dan tenang.


"Kami salah. Sudah menggunakan berbagai cara untuk mendapatkanmu. Kamu bukan gadis bermata biru pertama yang kami tangkap saat berada di Hildimar Hospital." Jelasnya membuat alis Muna mengeryit tak mengerti.


"Sebelumnya kami juga sering selalu menangkap, lalu mengambil darah seseorang untuk kami lakukan tes DNA, lalu kami tampung di suatu tempat sampai hasil tes itu keluar, kadang kami kembalikan langsung ke orang tuanya tergantung kesepkatan kami dengan yang bersangkutan. Namun, berbeda denganmu. Belum sempat kita melakukan nego, kamu bahkan sudah berhasil melumpuhkan 5 orang sekaligus dan berhasil lolos. Luar biasa." Ucap Dadang sungguh terkesiama.


"Arah mobil yang membawamu tentu sudah dapat kami pantau, maka kami tau betul di mana lokasi terakhir mobil itu berada. Dan beruntung itu tidak jauh dari tempat ambu berada. Maka secepatnya saya meminta Asep untuk menolongmu dan mengamankanmu di sini." Tukas Dadang tanpa beban.


"Jadi semua kejadian di rumah sakit, mulai soal donor darah ampe aye di bius entuh ulah tuan Dadang...?" semprot Muna dengan nada tinggi.


"Mohon ampuni kami." Dadang sudah beringsut berjongkok di hadapan lutut Muna.


Tes


Airmata Muna jatuh tak tertahankan. Gemuruh luruh bagai tanah longsor terjadi hebat dalam dadanya.


"Ape bener kalian orang tua kandung aye...?" suara itu melemah tak ada lagi amarah. Sedih perih sudah melanda Muna.


"Jika benar kalian orang tua kandung aye, ngape begini?"


"Kalian ude pernah salah ngebuang Muna tanpa perhitungan, lalu sekehendak kalian menangkap, mengambil darah tanpa permisi. Apa kalian lupa yang kalian lahiran entu manusia, bukan kucing." Muna terisak pilu. Menyadari betapa gelap dan hitam cara pikir orang yang bahkan mengaku sebagai orang tua kandungnya.


"Aye bisa di ajak bicara bae-bae. Ngape bikin hancur aye dengan kesalahan yang berulang-ulang. Aye benci kalian!!!" Kata itu lolos, terjun bebas dari bibir Muna dengan sedikit amarah membara.

__ADS_1


"Bermurah hatilah pada kami. Terutama padaku yang pernah melahirkanmu. Nanti jika kamu menjadi seorang ibu kamu akan tau sendiri bagaimana gilanya aku, pernah melahirkan namun hanya dapat merawat kenangan dari gambar yang pernah tertangkap kamera. 18 tahun aku hanya mencintai bayangan semu." Ucap Rona terbata tak kalah pilu saat rungunya mendengar kalimat kebencian terlontar bahkan dari seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri.


"Entulah salahnye... selama ini kalian terbiasa mencintai gambar sehingga lupa kalo yang kalian hadapi sebenernye entuh manusia, yang punya hati juga perasaan. Kagak bisa sekendak hati kalian memainkannya seperti wayang." Muna masih dalam mode marah.


"Siap..., kami mengaku salah atas semuanya. Untuk itu katakan apa yang harus kami lakukan agar kami tidak lagi salah di matamu, dan tolong jangan benci kami. Ampuun, tolong ampuni. Kami sudah cukup tersiksa kehilanganmu, kasihanilah kami... tolonglah." Kini Rona yang sudah sejajar dengan Dadang yang sudah duduk di depan lutut Muna.


"Ude...udeh. Aye kagak suka kalian di posisi ini. Begini saja. Kalo kalian emang bener emak dan bapak aye, tentu kalian sangat menyayangi aye pan...? Untuk itu penuhi satu permintaan aye." Muna sudah mulai bernegosiasi.


"Apapun itu, akan kami kabulkan. Asal ... maafkan kami, dan terima kami sebagai orang tua kandungmu. Toloong." Pinta Rona dengan tegas sembari mendongak ke arah Muna.


"Kembalikan sekarang juga aye, menemui babe dan nyak." pinta Muna singkat.


"Baiklah. Asalkan kamu memafkan kami dan menerima kami sebagai orang tuamu." pinta Rona dengan sedikit ceria.


"Pan... hasil DNA belom keluar. Ngape aye harus buru-buru menerima kalian? Aye minta di balikin ke babe dan nyak hanya karena minta pertanggung jawaban atas kesalahan tuan Dadang yang ude so' nyulik aye dari rumah sakit. Jadi aye wajib di balikin ketempat di mane aye di culik kemarin." Muna tak kalah tegas dengan permintaanya.


"Baiklah. setelah sholat magrib ini kita akan ke Jakarta." Ucap Dadang tegas.


Hati Muna memang sempat bersitegang dengan kedua orang yang mengaku orang tua kandungnya. Tetapi saat di ajak untuk berjamaah Muna tidak dapat terus mengeraskan hatinya. Desiran halus di sudut hatinya berkata, bahwa orang-orang ini sungguh telah lama mengenyam rindu bertalu terhadapnya. Terasa khusuk dan syahdu suasana senja itu, saat Muna seolah pula menjalankan ibadah dengan orang yang sesungguhnya bagian dari dirinya.


Maka untuk pertama kalinya, Dadang merasa seperti lelaki sempurna, menjadi imam untuk istri dan anak yang telah lama hilang.


Saat mereka bertiga saling beradu pendapat, bertukar cerita dan mendapatkan kesimpulan tadi, ambu sudah sibuk menyiapkan hidangan untuk mereka santap bersama.


Tidak ada menu istimewa di meja itu, sebab hati Rona dan Dadang telah jauh lebih bahagia, sebab merasa yakin jika Muna benar adalah Monalisa anak kandung mereka.


Selesai santap malam bersama, mereka tampak sudah menyiapkan diri kembali. Bukan hanya Muna yang akan di ajak ke Jakarta. Asep dan ambu pun ikut serta.


"Neng... hape A'a teh sudah di ces ini mah. Kali eneng mau pake sok, mangga atuh." Asep dengan wajah inocennya mengulurkan ponsel ke hadapan Muna.


"Nang... neng, nang neng... nama aye Muna. Aceeeep." Hardik Muna yang tidak ada manis-manisnya dengan cowok ganteng berkulit bening itu.

__ADS_1


"Mun... manggil Asep teh... A'a. Asep teh lanceuk maneh." Jelas ambu dengan bahasa yang baru di dengar oleh Muna.


"Maaf ambu, Muna kagak ngarti."


"Mona... Asep itu kakak sepupumu. Ibunya a' Asep kakak perempuan abahmu Dadang. Sekarang masih menetap di Korea, karena menikah dengan orang sana, saat ie bekerja jadi TKW." Jelas Rona tanpa di minta oleh Muna.


Muna hanya mengerling ke arah Asep yang ternyata ada keturunan Korea. Pikirannya sudah tertuju pada Siska, yang sangat ngefans dengan artis Korea.


"A'a Sep. Mana ponselmu. Sini Muna pinjam. Ada pulsanye kagak...?" tanya Muna yang segera ingin menghubungi Siska yang tentu juga sangat mencemaskannya.


"Pulsana kosong Neng. Tapi paket data na ada atuh. Sok kalo mau pinjam, punten." Jawab Asep sembari menyodorkan benda pipihnya pada Muna dengan ramah.


"Siska... ape kabar? Malam ini aye dateng. Tungguin di rumah sakit ye. By Muna." Isi chat Muna pada Siska.


Namun malang, chat itu di read doang. Tanpa di balas oleh Siska.


"Abang... malam ini Muna pulang." Lagi Muna berkirim chat WA ke ponsel Kevin, yang bernasib sama dengan Siska. Bahkan lebih parah, hanya tersampaikan namun bercentang satu abu-abu.


Bersambung...


Apa yang akan terjadi saat akhirnya Muna kembali ke Jakarta?


Jangan bilang ini dikit, nyak selalu ngetik bahkan lebih dari 1000 kata lhoo


Mawar dan kopi selalu nyak nanti🤭


Lopeeeeh ame semua😘😘


Pic penawar rindu


__ADS_1


__ADS_2