
Setelah melewati perputaran jarum yang beberapa kali melewati angka pada penunjuk waktu. Akhirnya Kevin dan Diendra saling melepas pelukan haru, duka juga rindu.
Sungguh, kedua pria beda generasi itu pernah saling mencintai wanita yang sama, yaitu Beatrix dan Yolanda. Entah apa rencana Tuhan untuk mereka sesungguhnya, sehingga mereka berdua harus bisa menerima kenyataan, jika kini justru keduanya wanita tersebut telah berpindah alam, bahkan dengan cara yang sama yaitu setelah melewati perjuangan melawan penyakit kanker serviks yang mereka derita.
Perlahan kumparan benang merah di antara Kevin dan Diendra mengurai dengan sendirinya. Tak ada lagi salah paham, tak ada lagi kebencian yang tersembunyi. Setelah beberapa fakta dan pengakuan dari sang papi.
Hal tersebut tentu saja mendorong keinginan Kevin untuk sungguh-sungguh berdamai dengan masa lalu, berbagi suka dengan papinya, bahkan ingin merengkuh kebahagiaan yang sudah terbentang nyata di hadapannya.
Diendra kini telah sepenuhnya sadar. Perbuatannya dulu adalah sesuatu yang salah, bahkan jahat dengan anak kandungnya sendiri.
Jika di tanya,
sekarang Diendra ingin apa?
Diendra hanya ingin hidup bahagia bersama Indira Phisesa istri sahnya setelah Beatrix, bersama Daren, Sagita dan Kevin, secara bersama.
Namun Diendra sadar, terlalu tidak tau dirilah dia, jika boleh hidup bersama Kevin dan keluarganya kelak. Di rumah mereka yang banyak mengukir sejarah bersama maminya.
Maka Diendra memutuskan untuk fokus pada keluarga barunya. Walau tak harus bersama Kevin yang besok akan memiliki keluarga sendiri.
"Vin... maafkan papi untuk semua masa lalu yang telah terlewati tanpamu. Papi sangat merasa tak berguna sebagai papimu, setelah kepergian mami. Dan tak ingin mengulang kesalahan tersebut pada adik-adikmu Daren dan Gita. Untuk itu, sekali lagi papi minta. Pulanglah kerumah mu. Ciptakanlah kembali surga yang pernah terhilang dan tercermar oleh papi." Pintanya dengan nada suara yang sangat memelas bahkan mengiba.
__ADS_1
"Tidak perlu pi. Jika Kevin boleh meminta, ajaklah Daren, Gita dan tante Indira kerumah kita. Mungkin Kevin akan hidup bersama Muna dan keluarganya saja. Sebab, Kevin benar-benar merasa nyaman dekat dengan mereka. Maaf, bukan berarti bersama papi, Kevin tidak suka. Hanya... Kevin masih perlu waktu untuk menyembuhkan luka hati Kevin. Tetapi demi Tuhan, Kevin sudah memafkan papi dan ikhlas dengan kepergian mami." Kevin tak kalah bijaksana untuk menentukan langkah hidupnya di masa depan.
"Nanti saja kita pikirkan soal rumah itu. Mari kita sama-sama memperbaiki diri dan menyembuhkan luka hati masing-masing saja. Kita ciptakan surga kehidupan ini sesuai versi kita masing-masing." Jawab Diendra sembari menepuk bahu Kevin.
"Oh iya pi, kapan perusahaan Mahesa bisa Kevin lepaskan untuk Daren atau Gita...?"
"Apa maksudmu dengan melepas perusahaan yang sudah jelas nyata menjadi hak mu itu?" Diendra sedikit geram.
"Maaf pi, bagaimanapun juga. Kevin bukan satu-satunya anak darah daging papi. Maka Daren dan Gita tentu memiliki hak yang sama dengan Kevin. Dan Kevin sudah menyiapkan semuanya, setelah menikah. Mungkin Kevin akan memulai semuanya dari nol. Maaf, Kevin sudah memiliki perusahaan sendiri tetapi tidak di Jakarta. Mungkin Kevin akan pindah ke Bandung bersama Muna dan kedua orang tuanya, setelah kami menikah nanti." Jelas Kevin yang tentu membuat Diendra terperanggah. Kagum juga salut akan pencapaian yang anaknya capai selama ini, sungguh di luar dugaan dan tak terbayangkan olehnya.
"Papi tidak pernah menginginkan kamu keluar dari perusahaan Mahesa, Vin. Itu milikmu. Jika kamu bermasalah dengan nama perusahaan itu yang masih menggunakan nama papi. Silahkan kamu ganti. Dan Daren cukup hanya menjadi staf mu di sana." Sepertinya Diendra benar telah menjadi manusia baik.
"Terima kasih pi, tetapi ijinkan Kevin ingin berbagi dengan adik-adik Kevin."
Sebelum melangkah ke masa depannya bersama Muna, Kevin benar-benar ingin menuntaskan kisah masa lalunya, dan memohon restu yang sungguh-sungguh terhadap lelaki yang sangat di cintai ibunya.
Mungkin hari ini adalah hari terharu yang pernah Kevin dan Diendra ciptakan berdua. Status hubungan mereka sebagai ayah dan anak kali ini benar-benar mereka kembalikan pada posisi yang seharusnya.
"Oh iya Vin. Maafkan papi jika papi terlalu mempermasalahkan tampilan calon istrimu yang berwajah tidak mirip dengan kedua orang tuanya. Muna anak pak Rojak atau bukan, itu tidak mengurangi restu yang papi berikan untuk kalian. Hidup berbahagialah bersamanya, jadikan Muna satu-satunya wanita yang kamu hormati dan cintai. Jangan seperti papi. Jangan kau kecewakan anak-anakmu kelak, seperti papi menyakiti hatimu. Sekali lagi maafkan papi untuk semuanya."
"Sudahlah pi, yang telah berlalu biarlah berlalu. Kevin juga minta maaf, jika selama ini menyimpan akar kebencian terhadap papi. Jodoh papi dengan mami hanya sampai di situ. Kevin berharap tidak ada wanita lain lagi selain tante Indira. Cukup Kevin yang pernah membenci papi. Jangan sampai Daren dan Gita merasakan kesalah pahaman berkepanjangan seperti hubungan kita. Kevin menerima mereka sebagai saudara seayah. Namun, untuk tante Indira. Maaf, Kevin akan tetap panggil tante." Jelas Kevin tak kalah gantle mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Tidak masalah, dan hal itu tidak perlu menjadi masalah. Kamu dapat menerima kehadiran mereka dengan tidak dendam pun, bagi papi sudah sesuatu yang patut di syukuri."
"Soal rumah kita, bawa saja mereka ke sana. Dan papi tak perlu harus tinggal di apartemen ini lagi untuk menghindar bertemu denganku. Nanti sesekali kita akan berkumpul di rumah itu dengan keluarga kita yang baru. Kevin rasa, mami juga tidak akan keberatan akan hal tersebut."
"Baiklah... akan papi pikirkan untuk hal itu. Tetapi setelah kamu menikah. Papi sudah harus kembali ke Inggris. Papi ingin fokus pada pengobatan mama Daren. Juga dalam tahun ini Daren juga akan menyelesaikan kuliah s1nya, mungkin papi akan tawarkan padanya, apakah ingin melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya atau mulai belajar bekerja di perusahaan Mahesa. Tapi, tidakkah sebaiknya, ia belajar denganmu terlebih dahulu Vin?"
"Sepertinya Kevin sudah sangat lebih di butuhkan pada perusahaan Kevin sendiri pi. Untuk Daren, papi tenang saja. Ada Ferdy yang sangat bisa di percaya untuk melanjutkan kepemimpinan di perusahaan itu, sekaligus membimbing Daren."
"Baiklah. Nanti lagi kita lanjutkan. Dan... Vin waktu sudah menunjuukan pukul 1 dini hari. Sebaiknya kamu tidur bersama papi saja malam ini, sebelumnya kita sholat taubat bersama bagaimana?"
"Boleh juga. Terima kasih pi." Mata Kevin berbinar sempurna walau dalam perasaan ngantuk yang
mulai menyerangnya. Melaksanakan sholat bersama sang ayah, membuat kenangannya bertahun-tahun silam, lagi-lagi membuatnya terharu sekaligus tersungkur dakam rasa bahagia yang tak dapat ia lukiskan.
Diendra dan Kevin sama-sama tidak menduga, jika moment ini terjadi, mengingat buruknya masa lalu yang mereka lewati. Jika tidak karena babe meminta pertemuan sebelum menikah dengan papi Kevin, mungkin ini tidak pernah terjadi. Bahkan mungkin, luka dan kesalahpahaman itu tak akan pernah menemukan titik temu. Sungguh benang merah antara Diendra dan Kevin sungguh-sungguh telah terurai, terberai menemukan jalurnya masing-masing. Mereka benar-benar dapat berdamai hingga tuntas. Tanpa ada dusta lagi di antara keduanya.
Bersambung...
Nyak merasa penting lho
Untuk tuntaskan ini sebelum Kevin Nikah.
__ADS_1
Maaf untuk readers yang merasa resah dan gelisah di beberapa part akhir-akhir ini😂
Tetap stay n always happy, okk🌹❤️🙏