
Muna banyak diam saja saat Kevin mengemudikan mobil, menyisir sepanjang jalan untuk mendapat tempat makan sate malam itu.
Dalam 30 menit akhirnya mereka dapat tempat nongkrong. 'Sate Suramadu'. Begitu nama tempat itu.
"Mae mau...?"
"Mau lontong sama bumbu kacangnya aja." Jawab Muna, yang tidak suka makan daging selama hamil ade Aydan ini.
"Lontong siram kacang 1, sate kambingnya satu porsi yang pedes ya. Minumnya teh panas dua." Pesan Kevin pada penjualnya.
"Mae kenapa? kedinginan?" tanya Kevin yang baru sadar istrinya pendiam sejak berangkat.
"Ga..."
"Kenapa sih, yang...?"
"Ga ada apa-apa."
"Cape ya... maaf ya Mae. Ngajak jalan udah semalam ini." Sungut Kevin yang baru sadar, seharian istrinya lelah.
"Muna suka kok." Jawabnya datar. Kemudian mulai memamah lontong siram kacang pesanannya tadi masih dengan mode malas.
Sedangkan Kevin, seperti menemukan menu kesukaan barunya, yang sepertinya enak. Sehingga ia sangat lahap menikmati sajian di depannya.
Mereka kini sudah kembali ke rumah, Muna sudah tampak dengan dres tipis panjangnya. Sedangkan Kevin memilih menggunakan boxer selutut, lalu mengambil lotion untuk memijat kaki Muna. Seperti yang biasa ia lakukan di malam-malam sebelumnya.
"Maaf yaa... sudah seharian belanja keperluan ade, ngelonin ka Ay, melayani suami, masih mau di ajak keluar juga. Lelah banget pasti." Kevin berujar sambil meremes buah betis Muna.
"Sudah kodrat." Jawab Muna datar.
"Mae kenapa sih... kok dingin banget dari tadi. Kamu sakit Mae?"
"Ga."
"Bohong... ! ada apa siih?"
"Yang bohong duluan siapa?"
"Lhoo... kok abang yang di tuduh bohong...?"
"Oh Muna salah ya... ngira abang ada nutupin sesuatu. Ya maaf...!" Ujar Muna menarik selimut dan memiringkan tubuhnya tak mau melihat Kevin. Tanpa di perintah airmata Muna jatuh sendiri.
"Ini kenapa sih sebenernya??" Kevin memutar tubuh Muna dengan mata yang sudah basah.
"Bilang yang... kamu kenapa?" dengan suara agak meninggi Kevin bertanya pada Muna
"Tanya sama diri abang sendiri. Abang ada apa?" isak Muna tak tertahan.
"Abang ga ngerti." Jawab Kevin mulai gusar.
__ADS_1
"Selama melayani abang, Muna ga pernah di kasari seperti tadi. Abang kenapa? Jujur...!!!"
"A... oh.. itu. Abang ada minum dengan klien Mae. Tadi sore." Jawab Kevin agak terbata-bata, malu ketahuan bohong oleh hakim penuntut umum yang sudah berhasil membongkar kasusnya.
"Hmm..." dehem Muna datar.
"Cuma segelas Mae. Tapi... kayaknya ada obat perangsang juga." aku Kevin tanpa di minta.
"Lalu...?"
"Ya kan tadi abang sama Gilang. Jadi bisa cepat pulang. Lama abang nahan. Dan tadi tuh sakit banget kalau tidak segera di salurkan." Lanjutnya.
"Muna salah apa sih, sampe abang minum begituan?" tanya Muna dengan nada setegar mungkin.
"Mae ga salah apapun. Abang hampir di jebak klien Mae. Abang di ajak nego proyek urusan tender di Hotel. Di kasih minuman kayak gitu, abang menghormati saja maksudnya tadi, makanya abang minum. Tapi, abang ngerasa respon di badan abang beda. Mereka mengarahkan abang untuk istirahat saja di salah satu kamar hotel itu, tapi keburu abang panggil Gilang. Jadi ga sempat masuk kamar yang mereka siaplan, Langsung di bawa Gilang ke kantor lagi."
"Lalu...?"
"Ya udah... abang tidur aja di mushola ruang pribadi abang. Tapi si otong udah tenggeng aja, ga mau ikutan tidur, sampe ketemu mumun."
"Yakin ga sampe ketiduran di kamar hotel?" pancing Muna.
"Demi Allah Mae. Abang langsung di papah Gilang ke mobil. Dan tidur di kantor." Kevin meyakinkan Muna.
"Maafin Muna sudah berprasangka buruk ya pap." Muna menarik tangan suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Kemudian mengantar tangan itu ke atas perut besarnya. Menumpuknya bersama.
"Lain kali lebih hati-hati lagi memilih kolega dan tempat bertemu. Yang akan papap beri nafkah bukan hanya Muna, tapi kami. Ada mereka yang juga wajib abang nafkahi dengan halal. Jangan mengejar rejeki sampai lupa diri. Semua sudah Allah atur mana yang untuk kita dan bukan. Muna cinta abang apa adanya. Dari abang jauh dari Allah sampai sekarang cinta Allah. Kekayaan hanya titipan bang, jangan di kejar. Sebab ujian Allah akan datang kapan saja, bisa berbentuk kesusahan bahkan lewat kenikmatan juga. Rumah tangga kita baru saja lulus ujian kesetiaan jarak jauh, masa pas udah deket kita malah sulit saling jujur sih. Harus ya... Muna ngambek dulu baru ngaku, katanya cinta kok ga peka sih." Panjang dan lirih sekali Muna mengungkapkan isi hatinya.
"Maaf... maafin papap ya mam. Iya... janji ga akan terima undangan rapat di tempat begitu lagi."
"Boleh yang... asal jangan sendiri. Dan jangan tergiur dengan tawaran besar di proposalnya. Itu patut di curigai. Semua itu pasti punya maksud terselubung. Kita harus jeli memilah dan memilih rekan kerjasama kita." Muna membelai rambut suaminya, yang kini kepalanya sudah bersandar di dada Muna.
"Terima kasih malaikat tak bersayapku. Sudah selalu terjaga bahkan di saat aku lengah. Jangan lelah menjadi pendampingku ya sayang. I love you more n more, beibp." jawab Kevin yang sungguh terenyuh dengan cara istrinya menyampaikan tegurannya.
"You my everything Kevin Sebastian Mahesa." Kekeh Muna mengecup kening Kevin lama.
"Thank you so much istriku yang luar biasa. Btw... emang beda banget ya, permainan otong tadi Mae?"
"Issh... apaan sih?" wajah Muna langsung memerah, malu mengakui jika gempuran itu mengingatkannya pada masa-masa otong nabrak portal mumun, kuat banget.
"Katanya kita harus jujur." Pancing Kevin.
"Ya ga urusan itu juga. Nanti tersinggung." Kilah Muna menghindar.
"Waah... berarti bener kuat banget ya tadi?"
"Ya kuat lah untuk ukuran pria di usia hampir kepala empat."
"Pliss deh ga usah bicara angka itu deh, ya iyalah beda jauh."
__ADS_1
"Tuh kan... jujur salah, ga jujur dosa." Kekeh Muna.
"Ntaar abang minta resepnya deh, biar abang pake lagi."
"Eh... jangan. Cape tau, lupa musuhnya bumil. Bisa cepet lahiran Muna bang kalo di gempur kayak tadi. Mana di ajak jalan keluar lagi. Lemes niih yang." Rengek Muna yang sudah melupakan kekesalannya tadi.
"Kenapa ga nolak pas di ajak?"
"Terus... suamiku di biarin keliaran cari sate di pinggir jalan sendirian gitu? Eh, bang. Jangankan sate daging bakar ya, daging mentah justru lebih bebas di jual obral di jam itu. Emang.. Muna rela abang ilang di tikungan?"
"Segitunya ya cinta ama abang... bucin nih?"
"Ya iyalah. Sama laki ini, wajib, kudu jadi bucin."
"Yang..." rengek Kevin berbantal paha Muna sehingga mudah mencium-cium perut Muna.
"Apa...?"
"Masih kuat masak ga sih?"
"Mau di masakkin apa sih?"
"Kangen nasi uduk kaya dulu, waktu pertama kali Mae buatkan, di hari pertama Mae kerja dong yang. Kangeen banget."
"Siap sayangku. Besok Mae antar ke kantor ya, Muna taro di box. Biar persis kaya waktu itu. Sumpah, waktu itu baru liat orang makan nasi uduk kaya kesurupan. Mana gengsi ngaku lagi. Belagu, shombong, dingin banget dah...!"
"Tapi suka kan?"
"Hari itu juga hati aye udah kaya ager-ager bang. Langsung berubah wujud dari cairan lalu membeku, tapi ga keras, kenyel-kenyel deh."
"Kita lagi ngomong apa sih Mae? abang yang sore tadi minum, kok. Mae yang mabok...?"
Bersambung...
Suka...?
Banget....!!
Mawar
Kopi
Like
Komen
Doa aja juga ga papa.
Sejak nulis ini, nyak jarang ke tukang urut lho. Selalu merasa sehat karena doa readers di ijabbah Allah.
__ADS_1
Makasiih ya semua❤️❤️❤️