
Jantung Gilang mendadak berdegup kencang saat netranya jelas melihat wanita yang turun dari mobil itu benar adalah Risna. Mengapa ia justru merasa seperti akan ketangkap basah berselingkuh dari Gita? Risna berlanggang lenggok melangkah memasuki area depan rumah yang hanya berjarak sepuluh langkah dengan teras rumahnya.
“Gilaaang, sayaaaang.” Manja-manja lantang suara itu tidak sayup lagi tapi jelas dapat di dengar mereka yang berada di area rumah Gilang.
Gita belum tuli, indra dengarnya masih sangat normal. Dan Syaraf otaknya masih sehat untuk memindai tiap verbal yang dapat di tangkap oleh rungunya. Gita sontak berdiri, mampu sekali loncat indah berada di tengah, tak jauh dari kursi ibu dan dia yang sedang menikmati pudding tadi, juga tak jauh dari Gilang. Gita tau betul bahan pakaian yang di gunakan oleh wanita itu berkualitas premium. Hanya di outlet tertentu pakaian itu di jual dengan harga yang mahal tentunya.
Dan haloow … apa kabar Gita yang saat itu hanya menggunakan pakaiann rumahan. Penampilannya bahkan mirip dengan baby sister. Eh, bukan. Pengasuh orang jompo, sebab dari dari ia hanya sibuk bersuapan dengan sang calon ibu mertua.
“Mampus aku” Batin Gilang tepok jidat dan memejamkan matanya tak sanggup memandang langkah demi langkah bak pragawati Risna memasuki rumahnya.
“Stop!!! Jangan masuk. Ngapain kamu ke sini lagi hah? Pergi..!!!” Usir Gilang tegas pada Risna.
“Kemana aja tadi, masih kangen tau yaaang.” Rengeknya manja. Lalu menubruk tubuh kekar atletis di depannya bahkan pelukan itu makin erat. Ya, tubuh Gilang sudah di serang Risna, pelukan itu bahkan lebih erat dari saat berjumpa di restoran AD tadi.
“Mati… mati aku hari ini.” Batin Gilang membeliak sambil mendorong tubuh Risna hingga terpental kebelakang. Tapi Risna justru menabraknya lagi dan menciumi Gilang dengan gemas.
Gita juga belum buta, tapi pemandangan itu mampu membuatnya semacam stupa dan patung selamat datang di depan gerbang atau pembatasan wilayah luar kota. Mendadak persendiannya melemah, ototnya tak berfungsi dengan benar, serasa tidak menginjak bumi, berasa ngambang di udara dan kehilangan keseimbangan, hampir ambruk.
Gilang segera memeluk Gita yang hampir semaput. Memapah gadis yang ia cintai itu, membawanya masuk ke dalam kamarnya.
“Neng… maaf. Nanti A’a jelaskan. Ijinkan A’a selesaikan dulu ya neng.” Hanya itu yang mampu Gilang sampaikan pada gadis yang kini sangat ia cintai itu.
“Sayang… siapa dia. Kenapa malah kamu bawa ke kamar kita…?” rengek Risna makin tak tau malu.
“Risna… dasar wanita tidak tau malu. KELUAAR…!!! Jangan lagi kamu berani menginjakkan kakimu di rumah ini.” Ibu Gilang sudah berdiri histeris, tak tahan melihat kelakuan Risna.
Arum segera berlari masuk kerumah mendengar ada keributan di dalam rumah.
“Ada apa? Risna?” Kejut Arum.
__ADS_1
“Teh Arum, apa kabar?” Risna pun memeluk akrab kakak perempuan Gilang itu.
“Usir wanita sombong tak tau malu itu Rum.” Ucap ibu Gilang memegang bagian jantungnya.
“Ibu… ibu tenang bu, ingat jantung ibu masih sakit.”
“Teh… titip Gita dan ibu. Risna, kita harus bicara.” Gilang sudah keluar dari kamarnya. Lalu menarik tangan Risna keluar rumah.
Gita tidak benar-benar pingsan, ia hanya shock melihat Gilang, di peluk dan di cium wanita lain di hadapannya. Ada panggilan sayang yang sempat ia dengar bahkan jika ia tidak salah, ada kata kamar kita yang sempat rungunya tanggap tadi. Ternyata hati Gita masih terbuat dari benda padat kenyal-kenyal seperti agar-agar. Lemah. Tak sekuat batu. “Ya Allah sedekat apa hubungan mereka di masa lalu? Kenapa hati ini sangat resah melihat beberapa adegan dan kalimat tadi “ Tanya Gita pada dirinya sendiri.
“Bu… minum dulu. Ibu jangan emosi. Tidak baik untuk jantung ibu.” Arum sudah menyodorkan segelas air putih untuk ibunya.
Gita segera menguatkan dirinya untuk keluar dari kamar pria yang ia piluh akan jadi suaminya itu.
“Bu.. ibu ga papa?” Tanya Gita sambil menyunggar rambutnya.
“Kamu Gita. Kamu yang ga apa-apa?” Tanya ibu Gilang.
“Jika telah sampai tahap melamar, artinya a’a memang sudah serius sama Risna bu.” Desah Gita pelan.
“Bagaimana ibu tidak melamarnya untuk Gilang. Dia seperti tidak punya tempat lain menunggu Gilang pulang kerja. Selalu berada di dalam kamar Gilang.” Emosi ibu Gilang mengingat masa itu.
“Bu… nanti lagi ceritanya. Jaga jantung ibu. Ingat ibu masih masa pemulihan.” Tegur Arum mengingatkan.
“Nak Gita… tolong percaya pada Gilang. Berikan kesempatan untuk nanti dia menjelaskan pada Gita dengan jujur ya Git.” Pinta ibu dengan nada lebih pelan.
“Iya bu, Gita percaya sama A’a. Tapi, maaf sekarang Gita mohon pamit pulang ke kost ya bu.”
“Apa tidak menunggu Gilang saja?”
__ADS_1
“Ah tidak usah bu. Cucian Gita menumpuk di kost. Maaf ya bu, dan salam buat A’a. Mari teh Arum. Gita permisi pulang dulu. Assalamualaikum.” Pamit Gita sopan membawa kesakit hatiannya. Tidak mungkin semudah itu Gita percaya dan bilang dia baik-baik saja.
“Walaikumsallam.” Jawab kedua wanita itu, tak mampu menahan keinginan Gita untuk pulang. Walau tadi jelas sekali Gilang bilang titip pada mereka.
“Apa kabar tempat nongkrong favoritnya adalah kamar pribadi Gilang, yang benar saja. Ia bahkan sama dengan Risna pernah di lamar. Apa Gilang memang semudah itu? Asal kenal jalan langsung main lamar saja.” Kesal Gita yang sesekali menendang nendangkan kakinya keudara. Sebab ia memang tengah berjalan kaki menunggu ojek online yang sudah di pesannya untuk pulang.
Dan sebelum sempat benar meninggalkan area perumahan Gilang, lagi netranya sempat menangkap Gilang dan Risna duduk di sebuah tempat minum es teller segar. Semoga salah, tapi pupil matanya memang sempat menzoom dengan pasti jika ia melihat tangan Gilang menggengam tangan Risna di atas meja tersebut. “Ya Tuhan godaan dapat suami sebegini amat ya…?” Umpat Gita dalam hati.
Gita uring-uringan di kamar kostnya, mau curhat sama Ninik belum pulang kerja, mau ngobrol sama Siska. Batang hidungnya juga belum nongol sebab waktu baru merujuk ke pukul 3 sore. Menarik nafas dalam, melangkah gontai. Gita memilih menyucikan dirinya saja. Melaksanakan sholat yang sempat ia tunda tadi siang. Mungkin bermunajd sembari bersujud dan melantunkan ayat suci Al-Quran kini adalah pilihan paling menenangkan bagi Gita yang mendadak galau hari ini.
“Git… Git. Kamu sholat atau pingsan sih?” terdengar sayup suara Ninik yang sangat masih ia kenali.
Gita mendongakkan kepalannya lalu nyengir ke arah Ninik.
“Tadinya sholat, ngaji eh langsung ketiduran.”
“Tumben ngaji…? Kenapa?”
“Ingat dosa aja…” Jawab Gita klise.
Bersambung…
Hobby nyak kumat nih.
Suka kasih mercon di part tertentu
Sabar ya
Biar pas nikah udah ga ketemu coral
__ADS_1
Thx komen, like n giftnya ya
Lope buat kalian semua❤️