
Malam terakhir di sebuah hotel dalam kamar president suite pun berakhir dengan cumbuan syahdu, acara berbagi peluh, bertukar saliva juga siraman cairan cebong yang di iringi eraangan, dessahan, juga rintiihan terdengar sakit tapi nikmat itu, terjadi dengan sangat mesra, membara dan hampir tak bisa berhenti.
Siapa lagi pelakukanya kalau bukan si pasangan pengantin baru yang sudah tak bisa di bedakan antara kebutuhan atau sudah kecanduan.
Racauan keduanya sudah sama, saat terjadi pergolakan menuju penyatuan yang mulia. Dari ah, ih, uh, hem, ach, a, i, u, e, o... eh bukan pemanasan sedang latihan paduan suara ya, pokoknya bebunyiannya dah ngalah-ngalahin suara tarzan hutan. Entah ngefek atau ga, yang pasti Gita deh kayaknya yang paling manja tiap di hentak gerakan kayak di kompa, pasti bersuara. Aaah... mau otw masuk selimut juga deh ngebayangin mereka.
Saat akan pulang ke tanah air, tengkuk leher keduanya tak lagi ada bekas jejak cintanya. Tapi, mereka tetap menggunakan syal untuk mencegah rasa dingin melanda.
Hubungan sah mereka sudah di ketahui semua, sehingga tampilan keduanya sudah tidak seperti waktu berangkat. Tangan keduanya di belakang membentuk huruf x karena tangan Gita menuju pinggang Gilang, dan tangan Gilang mengarah pada pinggul Gita. Sempurna.
Jangan tanya masamnya wajah Kevin, saat melihat tampilan itu. Makin komplit deh suasana hatinya, mulai dari senang, bangga, sampai jengkel juga bergantian di dalam hatinya.
Senang karena adiknya menikah dengan pria baik-baik. Bangga dapat membuat kejutan yang rapi sekaligus spektakuler. Namun juga jengkel karena harus meredam rasa ingin bermesraan dengan pasangannya tapi tak turut serta. Iri...? bilang boss (ppapaale ppaa papa pale ppaapa pale papa peleepa hhaaa anying anying)
Perjalanan udara masih sangat jauh dan lama. Itulah guna syal yang tadi di leher sudah bisa berubah fungsi untuk menutup kepala yang kadang dalam posisi menoleh lama, lengket, tertaut ke arah sebelahnya. Kadang ada gerakan menyapu, kadang juga di gigit pelan.
Tung Keripit ahai tulang bawang
Kalau bibir tergigit, sakit bukan kepalang.
Tung keripit ahai tulang bawang
Kalau pacar yang gigit, sakit tak mau bilang. Mungkin lirik lagu ini cocok ya di pinjam, untuk menyesuaikan kondisi pasangan ini.
Dan posisi tangan Gilang yang paling perlu di samarkan, di tutupi dengan syal tadi. Seyogyanya, bersidekap adalah posisi tangan menyilang di depan dada sendiri. Ya ampyuuun, itu tangan Gilang kenapa malah nemplok di dada tetangga ya?
Hobby baru Gilang, mengacak-acak, meremes-remes, juga masuk masuk lewat celah kancing kemeja atas Gita deh, memainkan squishy yang gelantungan di depan dada istri dong pastinya.
Kevin sudah bakalan tau apa yang pengantin baru itu lakukan, sehingga minta bertukar duduk agak jauh dari pasangan yang teriba mesyum itu. Padahal Kevin juga pernah lebih parah donk, ngapain aja selama di atas jets kakek Hildimar di masa-masa ia dalan posisi Gilang dan Gita.
Mereka berangkat pagi, sehingga tiba pun lumayan pagi di Indonesia. Mobil Gilang masih di Jakarta, sebab ibu, Arum dan kedua anaknya sudah pulang di antar oleh supir Diendra.
Mobil Gilang lumayan besar, cukuplah untuk mengangkut 8 orang. Sehingga beberapa dari mereka bisa menumpang untuk pulang ke Bandung bersama pasangan pengantin baru, yang pamit dengan Diendra dan Indira hanya via telepon saja.
Keduanya sudah sangat tidak sabar ingin merengkuh waktu bersama di rumah baru Gilang yang ia dedikasikan untuk Gita istrinya.
Kevin banyak menghabiskan waktunya untuk tidur selama di perjalanan. Sehingga batrenya full dalam urusan memanjakan mata, mungkin kini waktunya untuk balas dendam.
__ADS_1
"Papaaaap." Panggilan Aydan lah yang nomor satu mendominasi rungunya saat ia sudah masuk ke dalam rumah Hildimar.
"Kaka Ay... papap kangen sayang, sini peluk." Ramah dengan hangat berlari menggendong anak pertamanya.
"Mamam mana sayang...?" tanya Kevin setelah mencium-cium wajah anaknya tersebut.
"Mamam keja pap, di luma cakit." Jawab Aydan dengan cadelnya.
"Dede Naya mana?" tanya Kevin lagi pada Aydan.
"Ada di cana, cama bunda Yayas." Tunjuknya ke arah kamar. Aydan walau cadel tapi sudah sangat bisa di ajak berkomunikasi memberi keterangan yang benar.
"Oke ... papap mandi dulu ya Ay, nanti sore kita main lagi." Lepas Kevin pada gendongannya tadi.
"Belenang ya pap...?" tawar Aydan.
"Heemm besok deh berenangnya, okey?" Kevin tidak yakin bisa menemani anaknya berenang sore ini. Sebab ada yang lebih penting di temani sampai sore ini, dari pada Aydan.
"Omes pap?" Aydan menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Kevin.
Kevin menenggok kamar Annaya sebentar, memastikan keadaan aman terkendali. Dan benar saja, putrinya itu sedang tidur nyenyak dalam pengawasan baby sitternya. Laras hanya sempat menganggukan kepalanya saat melihat kepala yang tersembul itu.
Kemudian Kevin masuk ke kamarnya dan Muna, di lantai dua. Beringsut ke kamar mandi, untuk menyegarkan tubuhnya dari kepenatan, sisa peluh menempel yang lengket sejak kemarin.
Sebelum benar masuk untuk mandi, Kevin meraih gawainya, menghubungi istri tercinta.
"Assalamualaikum abang..." sapa suara Muna merdu bagai lantunan nyanyian rindu di ruang dengar telinga Kevin.
"Walaikumsallam. Abang bilang datang hari ini, kenapa malah kerja!" suara itu terdengar datar dan dingin. Begitu runggu Muna mengartikannya.
"Oh... sepagi ini abang sudah tiba, kirain masih agak siang atau sore nanti." Muna so' ga peka saja dengan suara dingin suaminya.
"Pulang...!" Perintah Kevin.
"Tapi Muna bahkan belum satu jam, bang di sini." bantah Muna.
"Pulang...!!" perintah itu berulang.
__ADS_1
"Bentar lagi ye bang. Satu dokumen lagi Muna periksa baru pulang." Masih ngeles...
"Pulang sekarang, atau abang serang di ruang direktur?" ancaman itu terdengar ngeri di telinga Muna.
"I...iiya. Siap." Tut tut tut. Tidak ada balasan apalagi salam penutup, sambungan telepon itu sudah di tutup secara sepihak oleh Kevin.
Yang kemudian ia pun melangkah menuju kamar mandi, untuk menguyur tubuh panasnya. Ya Tuhan, saat mendengar sapa suara Muna saja, itu tadi si otong sudah mulai tengak tengok, serasa kenal sama suara pawang. Lama nian ia tak jumpa.
Ceklek...
Suara engsel pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan pintu kamar yang jaraknya hanya lima langkah.
Rambut Kevin basah duluan, dada sixspacknya udah nongol dalam keadaan lembab setelah mandi, wangi pasti. Eh, itu handuk mestinya melilit di pinggang dong, tapi kenapa cuma terkalung di leher? Si Otong ga ke tutup dong. Mana udah bediri lagi, untung yang masuk Muna. Kalo Laras atau Aydan bagaimana menjelaskannya.
Tubuh Muna yang berputar mengunci knop pintu itu, langsung di serang Kevin membabi buta. Tidak peduli dengan blazer lengkap yang membalut tubuhnya.
Segera Kevin merapatkan dirinya pada raga yang sangat amat di rindukannya itu. Bibir Muna adalah sasaran pertama, langsung lengket, bertaut tanpa jeda. Kemudian semakin merosot mengitari leher jenjang, putih mulus tanpa bercak itu.
Tangan Kevin gerayangan tiada henti melepas satu satu kancing blazer dan kemeja sialan yang hanya menyulitkannya pagi ini. Muna hanya bisa meremas rambut suaminya, langsung berusaha menyeimbangkan gerakan yang di rasa makin liar mengelayutinya.
Bukan hanya blazer yang sudah mendarat di lantai, satu paket dengan kain berbentuk kacamata riben itu sudah bagai seonggok sampah di bawah sana, sama dengan celana panjang yang Muna gunaka ke kantor tadi juga sudah berada di mata kakinya. Melorot kuy.
Ya Tuhan, Kevin kesurupan saat akhirnya melepas pertautan bibirnya demi melihat pemandangan di depannya. Di balik celana kerja itu, ternyata Muna hanya menggunakan G-String tali berwarna hitam berenda.
Bersambung...
Part selanjutnya hareudang yah.
Saran aja sih...
Usahakan jauhkan dari jangkauan bocil dan dekatkan diri pada paksu.
Mumpung tanggal merah, kita mantengin ini aja seharian
Wakkk waaww
πππ
__ADS_1