OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 111 : FITTING


__ADS_3

Biasanya Kevin dapat pukulan dari Muna tapi tidak untuk kali ini. Sebab Muna sudah menarik telinga Kevin hingga memerah di sana.


"Aaammmpppuuun Mae. Abang cuma bercanda sayang, aaah."


"Kagak lucu!!"


"Ya... iyalah... abang bukan pelawak."


"Huumm... udah. Buruan kite pulang aje. Lama-lama di mari pada nongol lagi dah tu setan cabulnye." Rengek Muna pada Kevin yang masih terlihat mengusap telinganya yang gatal, memerah karena bekas jeweran calon istrinya tadi.


"Belum... kita belum pulang. Abang sudah ijin sama babe. Bawa Mae sampe malam."


"Iiish... abang tu ye. Udeh kaye TVRI sama babe."


"TVRI... ? apa hubunganya?" Bingung Kevin.


"Menjalin persatuan dan kesatuan." Seloroh Muna sambil melafalkannya sesuai intonasi lirik lagu semboyan salah satu TV legendaris di masanya itu.


"Waaah... suara mae lumayan bagus ternyata, kok abang baru tau ya...?"


"Abang belum tau aje, kalo Muna ini dulu selalu menang tiap acara tujuh belasan di kampung tempat tinggal Muna. Pan.. Muna suka latihan vocal di kamar mandi bang."


"Sayaaaaang... ntar pas resepsi nikah. Mae nyanyi ya. Kira-kira kita nyanyi apa ya, Mae?"


"Emang abang bisa nyanyi gitu. Kagak use deh dari pada bikin malu. Ntar Muna pikirin Muna bawakan lagu sape buat acara resepsi kite."


"Yaaaah... pede. Mae ga tau saja suara abang ini setara sama Admesh, lhooo."


"Preeeeet... Muna kagak percaya. Dari abang ngomong aje sumbang. Kalo Muna ni ye bang setara ame Raisa, Ruth Shanaya, Isyana dan lain-lain dah."


"Mau ketawa takut dosa Mae. Pede calon bini abang selangit ternyata, teriak saja udah kaya kaleng rombeng gitu."


"Yaaaah... kagak percaye niii ye si abang."


"Sudah... ntar abang bilangin ke pihak WO untuk kasih kesempatan buat Mae nanyi di acara kita. Awas jelek, malamnya abang buat Mae lumpuh 3 hari, sebagai hukuman."


"Buseeeet.... entuh bukannye masuk ranah ancaman dan kriminal bang?"


"Bodooo... pokoknya abang hukum. Kalo jelek."


"Okeeeh, tapi kalo ternyata suara Muna beneran bagus. Abang kagak boleh unboxing dulu selama seminggu."


"Heeey... diam-diam. Calon bini abang sudah mau jadi istri durhaka yang tidak melaksanakan kewajiban sebagai istri bahkan di hari pertama setelah menikah ya...?"


"Ye... abang duluan ancamannya kagak masuk akal."


Kevin hanya terkekeh sambil sesekali mencium punggung tangan Muna saat mereka masih di melaju di atas kendaraan empat roda itu.


Mereka berhenti di sebuah butik berlantai 3 yang tertulis di sana juga menyiapkan pakaian pengantin. 'High Bridal' begitu namanya.


"Ngapain kite kesini bang...?" Pertanyaan konyol itu sukses keluar dari mulut seorang Muna.

__ADS_1


"Cari baju karate, sayang." Dengan somplaknya Kevin menjawab, masih dengan tangan yang selalu menggengam tangan Muna menuju lantai 2 dengan cueknya.


"Masa ade di mari...?" cicit muna pelan yang di sambut dengan mata yang melotot dari Kevin.


"Haii tampan, akhirnya kita bekerjasama untuk membuat couple pengantin. Sungguh sesuatu yang sangat aku impikan, selama ini. Membuatkan pakaian pengantin untukmu." Sapa seorang wanita cantik berpakaian sopan dan agak nyentrik.


"Silahklan jika kamu ingin berbesar kepala. Semua pakaian kerjaku hasil tangan mu, selalu membuat ku nyaman dan percaya diri. Maka, aku yakin kamu akan dapat membuatkan pakaian yang spektakuler untukku dan calon istriku." Jawab Kevin tak kalah ramah.


Stefany, nama wanita itu adalah Stefany spesialis perancang busana yang di gunakan Kevin dalam segala acara. Kevin merasa nyaman dengan Stefany, bukan hanya karena hasil pekerjaannya yang rapi, tetapi ia juga teman Kevin sejak SMA yang lumayan dekat, dan memang bercita-cita menjadi seorang desainer sejak jaman putih abu-abu.


"Ini calon pengantin wanitanya Vin...?"


"Yup... kamu benar Fan."


"Luar biasa... cantik. Btw... matanya mirip mamimu ya. Sungguh kamu sangat mengidolakan wanita bermata biru sejak dulu, dan kini kau benar-benar mendapatkan sesuai cita-cita mu sejak dulu."


"Ya... begitulah Fan. Tetapi seandainya bola mata wanita ini tidak berwarna birupun. Aku akan tetap menikahinya." Ujar Kevin sambil mencubit kecil dagu Muna tanpa malu.


"Abang ah..." Muna menepis tangan nakal itu.


"Woow... sepertinya dia belum jinak padamu Vin." Goda Stefany pada Kevin yang sudah memegang katalog aneka gambar pakaian pengantin.


"Huummm... itulah kelebihannya dari wanita manapun yang selalu mengiba untuk mendapatkan cintaku." Jawab Kevin terkekeh.


"Shombooong amat." Cicit Muna yang masih bisa di dengar oleh Stefany. Membuatnya mendelik dan tersenyum. Mengakui bahwa benar, wanita ini berani dan tidak bucin pada Kevin.


"Stefany." Ia mengulurkann tangan ke arah Muna untuk memulai perkenalannya.


"Huumm... ini silahkan di lihat dulu mau model gaun yang mana, saya siap mengolah yang terbaik untuk wanita secantik dan seseksi kamu calon nyonya Kevin Sebastian Mahesa." Jawab Stefany antusias.


"Kagak use repot-repot. Aye cuma mau pake kebaya putih sederhana buat akad, dan bang pake pakaian adat betawi putih juga. Ude itu aje." Muna menjawab tanpa melihat katalog yang sedari tadi di bolak balikoleh Kevin.


"Ternyata calon istrimu tidak secerewet kamu dalam urusan fasion ya Vin."


"Huuum... buat saja seperti yang dia mau, dan kamu saja yang berkreasi sehingga kebaya itu terlihat elegan untuk ia kenakan." jawab Kevin menutup katalog yang ia rasa percuma untuk di buka tutup dan lihat.


"Okee... saya paham. Lalu bagaimana untuk gaun yang di gunakan saat resepsi."


"Ape... boleh bang, Muna pake kebaya yang same, saat akad dan resepsi?"


"Oh.. tidak bisa sayang. Itu kita laksanakan di malam hari, riasanmu juga akan berbeda lagi saat malam dengan pagi saat akad."


"Vin... nemu di mana siih. Calon istrimu polos sekali." Bisik Stefany pada Kevin yang mulai sibuk mencari-cari gaun yang sudah jadi untuk di coba oleh Muna.


"Di museum... makanya langka kan." Jawab Kevin.


"Muna cobalah beberapa gaun ini, sepertinya cocok dengan tubuhmu dan garis wajah mu." Pinta Stefany pada Muna.


Muna memandang Kevin seolah minta persetujuan dari sang calon suami. Kevin mengangguk memberi isyarat membolehkan Muna mencoba beberapa gaun itu.


Bak seorang pengantin wanita sungguhan, Muna sudah tampak tampil sempurna walau masih dengan wajah polos tanpa di rias. Keluar dari kamar pas.

__ADS_1


"Cantiik, coba berputar..." perintah Kevin.


"Oh... no. Itu terlalu terbuka punggungnya bahkan tulang belakang calon istriku hampir semua terlihat." Jawab Kevin prosesif.


Muna kembali mengganti pakaian itu dengan pilihan lainnya. Belum jauh Muna melangkah dari kamar pas itu, suara Kevin sudah terdengar lagi.


"Tidak ... tidak. Bahkan yang ini belahan dadamu sangat terkespos sayang." Ujarnya dengan nada kesal.


"Fan... apa koleksi pakaian pengantinmu semua terbuka seperti itu hah?" Kevin mulai gusar.


"Ya sudah... nanti kubuatkan gaun pengantin hijab saja untuk calon istrimu ini." Stefany meraa dongkol dengan Kevin yang sangat cerewet.


"Ya tidak harus berhijab juga lah Fan."


"Viiiin... kamu be go tau katro siiih. Dimana-mana pengantin wanita itu akan terlihat cantik dengan pakaian seksi."


"Tapi tidak dengan calon istriku, yang boleh liat tubuhnya cuma aku Fan."


"Dasar pencemburu tingkat dewa. Sini ku kasih tau." Ujar Stefany yang muai meradang dan Muna kali ini masih menggunakan gaun kelima dari yang ia pilihan.


"Sini dekati aku sebentar." panggil Stefany ramah oada Muna.


Muna melongo saja dan berjalan menuju Stefany dan Kevin.


"Ini perhatikan dengan seksama. Ini tidak mengekspos pungung bahkan tulang belakang calon istrimu Vin, ada kain penutupnya yang berwarna persis dengan kulit Muna, seolah bertelanjang dari kejauahan. Hal yang sama di buat di bagian dadanya, walau melorot bagaimanapun, gunung itu hanya kamu yang melihatnya secara nyata. Paham...!!!"


Kevin tersenyum lega.


"Huuummm... bolehlah kalau begitu. Oke. Kamu ukur saja badan calon istriku. Aku minta di buat yang baru, jangan yang ini, sebab pasti sudah banyak yang mencoba-cobanya."


"Tentu saja. Ini hanya contoh Vin. Dan hanya Muna dan calon menantu presiden yang pernah mencoba gaun ini."


"Ciih. Kamu hanya punya waktu 3 hari untuk membuat semua pesananku." Umpat Kevin mendengar penuturan Stefany yang berlebihan.


"Kamu gila Vin. Dua pasang pakaian pengantin, harus jadi dalam waktu 3 hari. Gua ga ambil proyek ini."


"Ha...ha... katanya profesional. Ya sudah awal bulan depan harus jadi."


"OMG. Artinya waktuku hanya 2 minggu?"


"Jangan panik, selalu ada uang lembur menantimu Fan."


"Huum... menarik. Oke deal."


Bersambung...


Uu...ullaalaa


Babang Kevin makin posesif yee


Lopeh buat semua

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2