OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 33 : TAHAN BANTING


__ADS_3

Ferdy sudah meninggalkan ruangan Kevin kemudian berniat untuk melihat-lihat saja ke Pantry. Tetapi ternyata di sana ia justru mendengarkan pembicaraan yang ia sendiri belum tau dengan jelas siapa saja di sana. Sebab Ferdy hanya hafal dengan Muna.


"Muna... yang di video ini bener?" Vera mengorek informasi tentang kebenaran dari Muna.


"Mak Vera. Video itu asli, bukan rekayasa. Iye kemaren pak bos emang narik tangan Muna sampai depan, lalu memaksa Muna untuk naik ke mobilnya." Muna kagak bisa mengelak yang terlihat entuh."


"Bener kamu di ajak mesum di hotel. Bikin malu aja kamu Mun. Inget kamu tuh cuma OB, ga usah bertingkah segala naksir atau ngegoda pak bos."


"Loh., tadi mak Vera pan nanya. Aye jawab eeh malah nuduh aye yang kagak-kagak. Mak Vera kalo cuma mau nuduh aye tanpa bukti kagak usah ngomong deh sama Muna."


"Terus kalian kemana?"


"Nah... entuh die. Mestinya yang kamerain aye ama pak bos. Ngikutin terus tuh. Bukannya ngarang bebas. Segala bilang aye di ajak pak bos ngamar di hotel. Ngapa...? kaga boleh? rugi kalian apa?"


"Emang pe*** kamu Mun. Ga nyangka deh. Segala pake alasan kerja karena mau ngumpulin duit buat kuliah..., sana ke club malam sana aja kamu kalo mau jual diri. Ga usah pura-pura jadi orang baik di sini. Ga cocok tanpang mu kerja halal tau ga?"


Muna segera berdiri dan mengambil air mineral dalam lemari pendingin. Membuka tutupnya kemudian menumoahkan semua isinya keatas kepala Vera.


Syuuuurrr....


"Nih...Muna bantu dinginkan otak mak Vera. Biar kaga asal nuduh. Nyesel aye pernah bae sama elu-elu pada di mari. Kalian bertiga itu sama aje. Cuma bang Jali yang tulus bae sama Muna. Mak Vera hidup kita tuh boleh susah, tapi tetep jaga hati dan pikiran agar selalu berprasangka bae. Jangan-jangan ame Tuhan juga kalian selalu prasangkanya buruk, mangakanye hidup kalian selalu begitu." Muna emosi dan dengan tegasnya mengeluarkan segala jurus tausiahnya pada Vera yang sudah kelewatan. padanya.


"Kamu berani sama aku Mun. Ngapain kamu menghakimi jalan hidupku hah...?" Vera berdiri tidak rela harga dirinya di injak-injak oleh Muna. Posisi tangan Vera sudah di atas melebihi kepalanya dan siap melayangkan pukulan pada wajah Muna.


Muna tau akan gelagat yang akan Vera layangkan padanya. Dengan sigap tangan Vera ia tangkis. Di putarnya posisi tubuh Vera, di seretnya menuju dinding terdekat, ia kunci dengan tangannya di sana.


"Tadi pagi Monik dan Koco sudah cukup menguras emosi Muna. Tinggal elu mak Vera, yang masih Muna harapkan tidak ikut langsung percaya bulat-bulat sama ntuh video. Hampir 4 bulan kita susah seneng di mari mak. Tapi jika kalian lebih percaya Video 3 menit itu, yang bahkan tanpa suara. Lebih bisa kalian percaya. Muna kagak tau harus berbagi duka ame sapa lagi di mari." Muna terus saja menyampaikan perasaannya dengan posisi masih mengunci Vera.


"Ya maaf Mun maaf. Tapi lepasin ini sakit Mun sumpah." Rintih Vera memohon.


"Kagak perlu minta maaf ama aye. Pan mak Vera yang udah Muna siram. Jadi anggep aje impas." Lepas Muna yang kemudian melangkah ke arah luar pantry.


Ferdy gelagapan takut ketahuan jika sedari tadi ia sudah mencuri dengar semua obrolan di dalam.


Ia hanya sempat memundurkan langkahnya. Memberi kesan agak jauh dari ruangan itu.


"Pak Ferdy... mau ke pantry?"


"Iya Mun. Boleh minta kopi?"

__ADS_1


"Boleh lah pak. Kenapa tidak pake alat entuh aja pak. Kaya biasanye."


"Ga papa, sekalian mau liat stok makanan di lemari. Apa masih banyak?"


"Ada pak. Bapak mau Muna buatkan cemilan apa?"


"Ga tau nih Mun. Kok tiba-tiba saya mau makan sosis goreng." Ferdy sengaja beralasan agar seolah natural.


"Ada... bapak mau yang ayam atau sapi? Mau yang original atai kanzler garlic...?" tawar Muna pada Ferdy yang sama sekali tak curiga jika tadi Ferdy sudah mendengar semua percakapannya.


"Ha...ha...ha... Muna. Sudah seperti pramusaji saja kamu." Gelak Ferdy ramah. "Kopi satu, Sosis ayam kanzler garlic 3, lengkap dengan saos pedas dan mayonesnya. Oke...?"


"Siap pak bos. Nanti kalo sudah siap Muna antar ke ruangan pak Ferdy. Oke...?" balas Muna tak kalah ramah, juga tampak sudah kembali ceria. Seakan tidak ada beban di wajah itu.


"Tidak usah Mun. Nanti saya makannya di pantry saja. Oke. 30 menit lagi saya ke sini." Jawab Ferdy membalikkan tubuhnya meninggalkan Muna.


"Oke...siap pak bos. Laksanakan." Suara Muna setengah berteriak agar Ferdy masih dapat mendengarnya.


"Gadis yang sangat pintar menutupi masalah dengan senyum dan keceriaannya. Benar-benar tahan banting nih. Aku semakin yakin dengan pilihan Kevin kali ini. Sebab, tipe wanita seperti Muna. Pasti akan siap berhadapan dengan om Diendra yang sangat diktator itu."


Monolog Ferdy dalam hati sembari melangkah ke ruangannya dan memencet alat panggil di atas mejanya.


Belum lewat 15 menit sejak Ferdy memencet alat panggil tadi. Pintu ruangan Ferdy sudah di ketuk oleh seseorang.


Tok


Tok


Cica Marlinca sudah masuk dan memposisikan tubuhnya di depan meja kerja Ferdy.


"Siap pak Ferdy. Ada yang bisa saya bantu...?"


"Oh iya... saya mau minta denah pembagian kerja dalam 3 bulan terakhir." Ucap Ferdy yang ingin memastikan nama-nama yang ia dengar dengan cermat tadi di singgung oleh Muna.


Cica yang selalu membawa tabletnya tentu selalu siap dengan data dan jadwal yang memang menjadi tanggung jawabnya.


Ferdy melihat dengan seksama nama-nama itu.


"Mengapa di gudang sangat sedikit OBnya...?" tanya Ferdy.

__ADS_1


"Itu...anu pak. Banyak OB yang tidak bersedia di sana. Karena... di gudang jarang dapat uang lembur. Kalau di bagian lain kata mereka, bisa dapat perintah lain dan dapat uang lembur." Jelas Cica yang memilih jujur.


"Lalu... jika demikian. Mengapa 3 orang ini memilih bertahan walau tidak dapat uang lembur?"


"Itu karena sempat saya janjikan hanya untuk sementara bekerja di sana. Sebab memang sejak masa training mereka di sana. Belum tau jika di bidang lain akan mendapat uang lembur."


"Bagaimana dengan kinerja mereka?"


"Sejauh ini dalam pantauan saya, semuanya beres pak. Sebab di sana memang sedikit yang bisa di kerjakan." Jawab Cica lagi.


"Kepribadian mereka? maksud saya latar belakangnya?"


"Menurut penilaian saya, mereka baik. Topan baru menikah jadi sedang rajin-rajinnya mencari nafkah halal, Siska gadis muda dari kampung yang baru memulai mencari pekerjaan, dan Wulan adalah wanita yang sudah menikah juga."


"Baiklah. Kamu buatkan SK yang baru untuk merolling mereka.


Topan, Siska dan Wulan, tugaskan mereka di lantai 37 masukan dalam tim Jali. Lalu, Koco, Vera dan Monik ini taroh mereka di gudang." Tegas Ferdy pada Cica yang berhasil membuatnya terkejut tapi juga tidak berani membantah.


"Perpindahan itu terhitung mulai kapan pak...?" tanya Cica memastikan.


"Hari ini. Pastikan pada jam kedua setelah istirahat nanti 3 OB gudang itu sudah pindah posisi dan menghadap saya." Perintah Ferdy sambil melirik waktu pada jam tangannya.


"Siap laksanakan pa. Saya permisi." Cica pun berlalu meninggalkan ruangan itu dengan segala pikiran yang berkecambuk. Tidak mengerti akan alasan apa yang ia sampaikan pada tim Jali. Yang mendadak di pindah ke bagian gudang pula.


Bersambung...


Halloow reader yang terkesima dengan ketampanan Ferdy. Pasti juga setuju dengan keputusan Ferdy ini ya khaaan.


Jalan jalan ke kota tua,


Bunga bederet di dalam pot.


Besok pan hari senin ya,


Nyak Otor boleh minta di vote.


EAaaa...EAaaa...EAaa


Makasiiih yak kesayangan

__ADS_1


Sarange


🌹🌹🌹❤️❤️❤️🤭


__ADS_2