OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 43 : PASRAH


__ADS_3

Muna benar-benar tak berkutik dan hanya sempat mematikan kompor di depannya, menyadari kaloke ayam tepung itu sudah matang sempurna.


"Kalo ga jawab abang peluk nih." Ancam Kevin masih dengan nada pelan dan berbisik menyentuh daun telinga Muna. Membuat wangi mint dari bibir itu terhirup oleh indra penciuman Muna.


Satu


Dua


Tiga


Empat


Pada hitungan ke lima detik, tangan Muna sudah di pegang Kevin dari belakang. Memberi kesan jika kini mereka seolah berpelukan.


Detik yang sama sosok Wulan masuk untuk mengambil peralatan OBnya.


"Oh... maaf. Saya tidak lihat apa-apa." Ucap Wulan tanpa di minta, memundurkan tubuhnya kearah luar ruangan pantry.


Muna akhirnya berbalik menghadap Kevin.


"Ish... abang. Tuh, bakalan jadi gosip lagi ntar." Cemberutnya dengan suara pelan sambil berusaha melepas pegangan tangan Kevin.


"Kan abang sudah bilang, kalo ga jawab abang peluk. Mae ga jawab artinya minta dipeluk abang dong."


Muna mendorong dada yang masih dekat tak berjarak di depannya.


"Ka Wulan... masuk aja." Panggil Muna setelah Kevin sudah tampak duduk tenang menunggu Muna menyiapkan sarapannya.


"Iya... maaf permisi pak. Mau ambil peralatan." Jawab Wulan dengan suara agak cemas.


"Silahkan." Jawab Kevin datar dan terdengar dingin.


Wulan dengan cepat berurusan di locker tersebut. Lalu melangkah ingin segera meninggalkan ruangan yang suasananya menegang.


"Hei... kamu. Nanti selesai bekerja, keruangan saya." Suara Kevin jelas teruntuk Wulan.


Wulan berbalik ke arah Kevin.


"Siap laksanakan pak." Jawabnya dengan hormat dan setengah berlari meninggalkan pantry dengan segala pikiran yang berkecambuk. Mungkin Wulan hanya bisa pasrah jika saja Kevin akan memecatnya, karena sudah lancang masuk tanpa permisi ke ruangan itu, dan di perhadapkan pada suatu pemandangan Muna dan Kevin seperti sedang di peluk dari belakang.


"Mae... kamu belum jawab pertanyaan abang tadi. Siapa yang bikin Mae klepek-klepek, hah...?"

__ADS_1


"Nyanyi bang. Muna cuma nyanyi doang tadi."


"Masa... kok isinya bisa pas dengan hati abang. Mae nyindir ya..? Atau benernya Mae udah jatuh cinta sama abang?"


"Bodo..., udah ini kopinya taroh di sini atau di meja kerja. Biar Muna anterin."


"Nanti abang aja yang bawa sendiri. Yang penting Mae temanin abang makan."


Sambil merengut Muna duduk agak jauh dari Kevin. Ingin pergi takut di sangka ga hormat. Sehingga Muna memilih duduk diam saja sambil memainkan ponselnya.


"Udah kalo mau kerja... kerja aja Mun. Abang males di temenin makan kalo muka yang nemenin di tekuk kaya gitu. Ga ikhlas banget. Bikin selera makan abang berubah aja. Sana...!!" Usir Kevin pada Muna yang menyadari jika kini Muna sedang dongkol padanya.


"Kagak... Muna ikhlas kok nemenin abang." Bela Muna sambil memamerkan deretan gigi putihnya, tersenyum ke arah Kevin.


"Ga usah di buat-buat gitu. Abang sudah biasa kali Mun, makan sendiri. Buruan kerja sana, ntar kalo males di pecat bos lhoo." Kevin sengaja seolah menyindir Muna.


"Abang maaf. Muna malu lah bang, tadi kepergok Wulan. Nanti nyebar lagi berita yang kagak bener." Jawab Muna sambil berdiri melangkah mendekati Kevin yang tampak tidak ingin melanjutkan sarapannya.


"Jangan suka menguras pikiran tentang hal yang belum tentu terjadi Mun. Makanya, berenti jadi OB."


"Kalo Muna berenti, cita-cita Muna kagak bakal tercapai bang. Uang Muna belom cukup buat bayar uang pangkal doang."


"Hadoooh kumat deh gombalnya. Ogah." Jawab Muna berusaha berdiri dari dudukan pangkuan Kevin. Tapi di tahan Kevin dengan tangan yang melingkar di pinggang Muna.


"Abang...lepasin. Ntar ada yang masuk dan liat lagi pegimane...?"


"Biarin biar seluruh perusahaan ini tau kalo OB cantik ini milik abang. Yang ga suka, bukan urusan kita. Kalo perlu abang pecat semua yang akan mencibir mu."


"Abang lebay. Dah buruan selesein makannya." Muna masih berusaha untuk berdiri.


"Mae suapin abang."


"Ogah...!!!" Muna berhasil berlari dari pangkuan Kevin menuju depan pantry.


Sampai di depan pintu Muna lagi-lagi hampir semaput.Tatkala melihat pemandangan tumpukan manusia yang berbaris seperti anak tangga menempelkan diri mereka di dinding pantry. Demi untuk mendengarkan obrolan dua orang di mabuk cinta di dalam pantry.


Muna menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, terduduk berselonjor kaki, malu akan tingkahnya di dalam tadi yang entah sejak kapan di dengar oleh mereka.


Wulan segera mengangkat tubuh Muna, membantu agar Muna segera dapat berdiri. Bersejajar dengan mereka, sebab mereka memang belum boleh berpencar sebelum melakukan doa bersama.


Tidak ada pembicaraan yang membahas apa yang di dengar dan apa yang terjadi di dalam tadi. Sebab, Jali buru-buru memimpin doa.

__ADS_1


Kevin berjalan dengan cueknya saat semua kepala itu tertunduk menghadap tangan yang bertengadah di depan dada masing-masing.


Wulan, Siska dan Topan sudah berpencar menuju tempat mereka bekerja. Tersisa Jali dan Muna di sana.


"Bang Jaliii... Muna pasrah deh, kalian anggap aye pegimane bang." Ucap Muna lirih.


"Maaf Mun, tadi kami nguping obrolan mu dengan pak bos. Tapi, dari yang aku dengar. Sedikitpun kamu tidak menggodanya. Justru dia yang sepertinya memang suka sama kamu Mun."


Muna menunduk, berdiri sambil mengayun-ayunkan satu kakinya. Membuat gerakan seolah menendang sembarang ke udara dengan pelan.


"Ye...kata pak bos juga gitu. Kemaren malam udah nembak Muna. Tapi aye pan sadar diri bang. Kita pan cuma OB, mana bisa bersatu kita beda kasta pan bang."


"Itu hanya ukuran yang di buat manusia Mun. Di mata Tuhan kita semua sama. Lagian kalo emang dia yang suka kamu, kenapa kamu sedih. Bahkan menolaknya." Cecar Jali.


"Sulit aye uraikan bang perasaan aye yang sebenernye. Pasti banyak selentingan kalo aye yang udah rayu pak bos. Karena kita pasti di anggap memanfaatkan lah, kesempatan lah, menggoda lah, menjebak lah. Pokoknya pasti macem-macem deh."


"Muna, Muna... kamu kebanyakan baca novel nih. Jadi pikiran mu jauh. Kami, aku terutama yang tadi mendengar langsung obrolan kalian. Sama sekali bukan kamu yang kok, yang mengoda." Jali seolah membela Muna.


"Ga juga bang... tapi."


"Sudah lah Mun. Bang Jali memang baru mengenalmu. Tapi bang Jali percaya kalo kamu bukan cewek matre. Kamu baik hati Mun. Orang baik jodohnya ya tentu orang baik juga. Lebih dewasa lagi dalam bertindak dan berpikir ya Mun." Jali menepuk pundak Muna pertanda sangat mendukung dan berpihak pada Muna.


"Makasih atas pengertian bang Jali. Muna terharu, cuma bang Jali yang tidak pernah berprasangka buruk sama Muna."


"Bukankah Muna sudah menganggap bang Jali seperti sodara?"


"Iye...makasiih. Met bekerja ya bang Jali... bang Jali orangnya


bikin happy." Kekeh Muna pada Jali yang sudah beranjak menuju tempat kerjanya.


Bersambung...


Nyak otor selow dulu yaak


Kagak baek selalu ngegantung perasaan para readers tersayang.


Happy reading & happy weekend semua.


Lopeh...lopeh buat semua


πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2