OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 226 : AYDAN MENJADI KORBAN


__ADS_3

Kabut duka telah berlalu, libur semesterpun usai. Enam bulan kedepan adalah waktu yang tersisa bagi Muna menyelesaikan tugas akhirnya.


Seluruh keluarga dan Kevin pun sudah kembali pulang ke tanah air. Tersisa Muna, Aydan dan Laras lagi yang bertahan disana.


Perkuliahan Muna memang tidak seaktif dulu. Sebab hanya sedang menyusun skripsi, mengikuti saran dosen, menunggu jadwal seminar dan selanjutnya-selanjutnya. Tentu saja Muna sangat semakin bersemangat menjalankannya. Tak sabar ingin segera selesai dan pulang.


Sebulan lebih berlalu setelah kepergian kakek Hildimar Muna tenggelam dalam tugas akhir yang membuatnya tidam intens merawat Aydan.


"Bu... Ay demam." Lapor Laras pada Muna.


"Kok bisa bunda...?"


"Kemarin sampai sore sekali main di luarnya, dan angin sangat kencang."


"Huummm... sini Ay. Mamam pijit-pijit dulu ya sayangnya mamam." Ujar Muna meraih tubuh anaknya.


"Iih... ga bisa dipijit kalo gini bun. Panas banget. Kita ke rumah sakit saja." ajak Muna pada Laras. Walau penunjuk waktu sudah diangka 10 malam waktu setempat.


"Kalo panasnya begini, berarti sejak pagi dong panasnya bunda."


"Iya, dan tadi sudah bunda kasih obat penurun panas. Hanya... turun sebentar tapi naik lagi."


"Maafin mamam ya nak. Terlalu fokus dengan tugas akhir. Sampai Ay yang jadi korban." Ucap Muna lirih mengusap kepala Aydan penuh sesal.


Panggilan VC dari Kevin pun meronta ingin segera di angkat, Muna masih menyetir.


"Bunda bisa tolong?" pinta Muna pada Laras agar membantunya menerima panggilan VC itu.


"Assalamualaikum Mae..."


"Walaikumsalam pap."


"Kok masih nyetir... kemana? di sana jam berapa?"


"Jam 10 pap. Aydan deman, ini lagi otw rumah sakit."


"Waah... ya sudah. Mam fokus nyetir saja. Besok abang ke sana ya sayang. Hati-hati." khawatir Kevin pada anak dan istrinya.


Aydan jarang sakit, juga tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian. Kevin juga tau, sekarang Muna sedang dalam puncak kerepotan tingkat tinggi. Maka tak perlu pikir panjang, ia segera memutuskan untuk segera menjadi penolong bagi orang-orang yang sangat ia sayangi tersebut.


Aydan sudah di periksa dan menurut pemeriksaan demamnya di sebabkan karena virus dan bakteri. Mungkin karena pengaruh suhu yang terlalu dingin mungkin terlalu lama di luar rumah. Namun tidak berbahaya. Cukup di berikan banyak air putih agar tidak dehidrasi, istitahat yang cukup. Menjaga suhu kamar dan menggunakan pakaian yang tipis saja. Akan dapat membantu proses penyembuhan selain dengan bantuan obat yang ia konsumsi.

__ADS_1


Muna lega mendengar penjelasan dokter, dan berjanji untuk akan lebih pandai membagi waktunya lagi untuk Aydan Bukan tak percaya pada bunda Laras. Hanya bagaimanapun, Aydan masih perlu pelukan, perhatian dan waktunya.


Sepanjang malam Muna tak tidur dengan nyenyak, untuk menjaga kondisi Aydan. Ia tampak merasa bersalah telah mengabaikan Aydan.


Setelah sholat subuh Muna baru bisa terlelap. Untung saja, sudah tidak ada mata kuliah yang di ampunya. Sehingga ia dapat sedikit bersantai, bermanja-manja di tempat tidur bersama Ay yang sepertinya sudah semakin membaik.


Tok


Tok


"Ay... ibu Sarapan dulu yuks." Panggil Laras di luar pintu kamar Muna.


Tidak ada jawaban dari dalam. Sehingga Laras memilih masuk saja. Sebab tak ingin Ay terlambat sarapan yang berakibat akan terlambat pula bagi Aydan untuk makan obatnya.


"Astafirullahalazim... ibu badannya juga panas. Bu... bangun." Ujar Laras yang agak panik melihat majikannya masih tertidur.


"Heeemm." Dehem Muna pelan.


"Bu... ibu ga papa, badan ibu panas."


"Ga papa bunda. Kepalaku hanya sedikit pusing. Maaf... tolong urus makan dan kasih Ay obat ya. Semalam saya kurang tidur." Jawab Muna dengan mata terpejam.


"Iya siap bu." Jawab Laras. Dan segera mengurus Aydan. Membersihkan tubuhnya dengan washlap basah air hangat. Memasang pakaian lalu memberi makanan dan obatnya juga. Mungkin salah satu obat yang di berikan ada obat tidurnya. Sehingga di pukul 9 pagi saja, Aydan sudah kembali tertidur.


"Bu... makan dulu sedikit. Bunda sudah buatkan bubur, juga ada obat menurun demam. Boleh saya hubungi dokter keluarga kakek bu?" ijin Laras perhatian.


"Oh.... tidak usah bunda. Setelah makan dan minum obat pasti baikan kok." Jawab Muna yang masih agak limbung tapi tetap berusaha berjalan untuk mambersihkan dirinya dengan air hangat di kamar mandi.


Setelah makan dan mengkonsumsi obat, Muna kembali ke kamar yang sudah rapi oleh Laras. Membuat Muna lagi-lagi hanya ingin merebahkan dirinya di sana.


"Bunda... bisa tolong pijit belakangku?" pinta Muna pada Laras.


"Iya.... sini bu." Jawab Laras sopan.


"Huum... apa ibu mau saya kerok. Sepertinya ibu masuk angin."


"Iya silahkan lakukan saja bunda." Jawab Muna pasrah.


Jika tadi kepalanya yang pusing, sekarang setelah makan justru perutnya yang mual, tapi Muna memilih untuk tidak panik.


"Akhir-akhir ini, ibu sangat memporsir waktu untuk mengerjakan tugas. Kadang ibu lupa makan. Akhirnya ngedrop juga. Nih... belakang ibu pada merah semua. Banyak angin niih bu." Tukas Laras yang masih asyik menggerus punggung putih Muna.

__ADS_1


"Iya ya bun. Keinginan besar, tenaga kurang. Suka lupa kalau badan juga butuh istirahat ya bun." Jawab Muna seadanya.


"Iya... setelah ini minum teh hangat ya. Lalu tidur saja. Bapak sudah di kabari bu?" tanya Laras memastikan.


"Dia taunya cuma Ay yang sakit. Tapi semalam sudah bilang akan ke sini. Mungkin nanti malam atau besok subuh, sudah tiba."


"Ya sudah, istirahat ya bu. Aydan urusan bunda. Cepat sehat ya."


"Iya... terima kasih ya bun." jawab Muna yang benar hanya mampu terlelap setelah mendapatkan pelayanan dari Laras.


Seharian itu, Laras bagai mengasuh dua bayi. Yaitu Aydan dan Muna. Tapi tidak repot sekali, sebab keduanya hanya banyak tidur, bangun hanya untuk makan dan mengkonsumsi obat, lalu tidur lagi. Sesekali Laras meraba kening keduanya dengan punggung tangannya. Hanya sekedar memastikan jika demam mereka benar sudah tidak datang kembali, dan malam itu Laras memutuskan untuk ikut tidur di kamar Muna saja. Agar lebih mudah memantau keadaannya.


Kumandang adzan menyeruak... dan hal itu tentu dapat membangunkan Muna yang sudah terbiasa bangun untuk sholat.


Kepalanya masih terasa berputar-putar tak jelas, perutnya mulas semakin menjadi-jadi.


Howwek...howek


Cairan putih kekuningan keluar dari mulut Muna membuat tubuhnya terasa lemah. Dan hanya terduduk di depan closed. Ingin kembali ke tempat tidur tapi rasa ingin muntahnya masih terasa kuat.


Bersandar dinding toilet dengan kondisi acak-acakan saja yang dapat Muna lakukan sekarang.


Aydan terbangun agak cerewet, saat melihat Muna tidak di sisinya. Laras hanya bisa menggendong Aydan dan membawanya ke kamar mandi. Agar Aydan bisa melihat wajah mamanya.


"Mamam... mamam." Celoteh Aydan saat melihat wajah yang terduduk lesu di depan closed kamar mandi itu.


"Mae... Ay. Papap datang." Seru suara dari luar kamar. Rupanya Kevin baru saja tiba dari tanah air.


"Papap... papap." Seru Aydan terdengar girang.


Bersambung...


Untung kaya...


Anak istri sakit di Belanda


Tinggal dateng kaya ke pasar doang yaah.


Makasih dukungan readers semua ya


Sehat-sehat semua ya

__ADS_1


Love❤️


__ADS_2