
Kevin segera masuk ke kamar mereka setelah melepas tas dan membersihkan dirinya di toilet luar kamar.
Mendapati Aydan yang berada di gendongan Laras. Kevin ingin mengambil Aydan dari gendongan Laras, tapi tak di berikan oleh Laras.
"Maaf pa... tolongin ibu saja tuh." Ujar Laras menunjuk Muna yang masih memeluk closed untuk melanjutkan muntahannya.
"Mae... !!! ibu kenapa Laras?" kejut Kevin melihat keadaan Muna.
"Setelah Ay sakit kemarin, lalu ibu yang demam pa. Lalu pagi ini kondisinya malah semakin lemah begitu." Kevin mencium pipi Aydan sebentar. Lalu mendekati Muna yang sudah beraroma khas muntahan itu, kalat dan sedikit pahit, sepet pokoknya.
"Sayang... kita kerumah sakit ya." ujar Kevin meraba kening yang terasa bersuhu normal itu.
Muna tidak menjawab, hanya menatap Kevin meminta belas kasihan, sedikit mengiba. Tak sanggup mengungkapkan apa yang ia rasakan. Mulas abis, kaya di peres kura-kura. Pernah?
Laras segera membawa Aydan keluar dan mengurusnya seperti biasa.
Kevin merapikan rambut yang acak adut itu, mengikat seadanya. Membantu berdiri dan melucuti semua pakaian di tubuh Muna yang semuanya terkontaminasi bau muntahannya.
Membersihkan tubuh itu dengan seksama, demi mendapatkan rasa segar dan mengurangi aroma tak sedap. Mengeringkan tubuh Muna lalu membalurnya dengan minyak kayu putih di seluruh tubuh Muna. Mencarikan pakaian yang layak untuk mereka akan segera pergi ke rumah sakit.
Hari masih sangat pagi, matahari hanya baru mengintip saja di balik awan. Tapi Kevin dan Muna sudah berada di perjalanan menuju IGD.
"Kami ke rumah sakit dulu ya Laras. Titip Ay." Pamit Kevin pada Laras.
Muna sudah di baringkan di atas bed untuk di periksa oleh dokter jaga.
"Mungkin saya salah... ibu bukan yang malam kemarin mengantar anak kecil yang demam bukan?" tanya dokter jaga yang sepertinya lagi-lagi terkena jadwal jaga dan bertemu Muna kembali.
Muna hanya mengangguk pelan sedikit tersenyum
"Bagaimana keadaan anaknya?"
"Sudah membaik."
"Tapi ibunya yang malah drop. Mungkin terlalu terporsir menjaga anaknya bu, jadi kurang istirahat. Asam lambung ibu meradang. Pola makan jelek, kelelahan dan stres juga penyebabnya." Beber dokter jaga itu tanpa di tanya.
"Aman saja dokter?" tanya Kevin.
"Aman... tidak perlu rawat inap. Ibu hanya perlu banyak istirahat." Jelas dokter yang sudah memberi kode pada perawat untuk membantu mendudukan Muna.
__ADS_1
"Tekanan darah ibu rendah sekali." Ucap dokter itu lagi setelah mengamati catatan medisnya. Lalu menulis sesuatu di kertas kosong.
Kevin sudah memeluk Muna, menuntunnya untuk duduk di kursi sebelahnya menghadap dokter.
"Saya belum berani memberi resep dulu ya pa, bu. Sebaiknya lanjutkan pemeriksaan di poly kandungan dulu. Denyutnya berbeda, tapi saya belum bisa pastikan. Ini rekoman saya, 30 menit lagi sudah buka kok." Ramah dokter itu pada pasangan suami istri yang masih belum mengerti dengan ucapan dokter tadi.
"Gimana?" tanya Kevin.
"Suster... arahkan mereka." Perintah dokter pada perawat tanpa menanggapi pertanyaan Kevin.
Keduanyapun mengikuti arahan perawat yang sudah di perintahkan dokter jaga tadi.
"Masih mau muntah yang?" tanya Kevin pada Muna.
"Tidak... tapi masih pusing bang."
"Besok jangan memporsir tenaga lagi Mae. Ada Ay yang butuh perhatianmu, juga tubuhmu yang perlu istirahat." Nasehat Kevin.
Muna hanya menghela nafasnya dalam. Ia pun tak mau sakit, tapi itulah buruknya Muna. Selalu merasa tanggung dalam mengerjakan sesuatu, sampai lupa waktu dan makan juga. Demi segera menyelesaikan pekerjaan yang di hadapannya.
Kini keduanya sudah menjadi pasien pertama di poly kandungan.
Dan tentu saja pertanyaan pertama yang di tanyakan adalah kapan haid terakhir.
Dokter segera menyerahkan tespack. Juga menyiapkan alat pindai untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Muna menyerahkan alat yang sudah terbaur dalam air seninya tersebut.
"Gefeliciteerd, mevrouw is weer zwanger ( Selamat, nyonya hamil)." seru dokter wanita itu dengan antusias.
"Echt waar...? hoe oud ben ik zwanger dokter? (oh benarkah...? berapa usia kandunganku dokter?)" Jawab Muna tak kalah antusias.
Selain mengibaskan garis dua pada tespack tadi, ke arah Muna dan Kevin. Dokter itu pun melanjutkan pemeriksaan melalui alat USG.
Deru detak jantung janin itu sudah memenuhi ruang dengar mereka yang ada di sana. Kevin meremas gemas tangan Muna, tak mengira Tuhan kembali percayakan buah hati pada rahim istrinya.
Usia kehamilan itu hampir memasuki 7 minggu. Dan gejala muntah, mules dan lemah itu sangat wajar terjadi untuk kondisi kehamilan di usia awal kehamilan.
Hanya sepertinya kehamilan ini memang agak berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Sehingga sangat mempengaruhi aktivitas Muna.
__ADS_1
"Tenang saja, setiap anak memang beda respon. Nikmati saja semua momennya. Saya akan resepkan obat pengurang mualnya. Yang penting, tetap usahakan sering makan ya, walau akan sering muntah. Pastikan suasana hati ibu, bahagia ya pa. Dukungan suami sangat berperan di masa ini. Bapak banyak sabar dan mengalah saja. Hormon kehamilan membuat mood ibu cepat berubah.." pesan dokter itu dengan ramah.
Setelah mendapat resep keduanya pun kembali pulang dengan perasaan campur aduk.
Jangan tanya perasaan Kevin tentu saja ia sangat bahagia akan kehamilan Muna yang sangat ia inginkan, ya walaupun tidak secepat itu.
Berbeda dengan Muna, ia agak bingung menerima kehamilan ini. Bukan tidak bersyukur, hanya pikirannya masih terfokus pada tugas akhirnya. Kemarin saja Aydan sudah menjadi korbannya dalam hal membagi waktu. Apalagi sekarang ia berbadan dua kembali di masa akhir kuliahnya ini.
"Makasih ya Mae." Kecup Kevin pada kening Muna saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Ini gegara ga sarungan, setelah 7 hari kakek deh bang." Cemberut Muna agak dongkol.
"Abang tanggung jawab kok." Kecupnya kembali pada perut Muna.
"Tanggung jawab gimana? Muna hamil skripsi belum selesai bang." Tangis Muna pecah.
"Abang ga pulang sampai Mae bisa sendiri." Ucap Kevin menenangkan Muna.
"Kerjaan gimana?"
"Kalian lebih penting dari apapun sayang. Kita hadapi sama-sama ya. Jangan bikin dede Ay sedih di dalam sana. Nak... papap sangat mau ada kamu, sayang. Yang kuat di dalam ya nak." Usap Kevin pada perut rata Muna.
"Maaf mamam nak. Iya, kita skripsian bareng deh nak." Elus Muna juga pada perutnya. Membenarkan ucapan suaminya, bahwa mereka harus menerima anugrah itu dengan sukacita.
"Gimana bu... sakit apa?" tanya Laras antusias saat Kevin dan Muna sampai di apartemen mereka.
"Ay mau punya ade bunda." Jawab Muna datar.
"Alhamdulilah. Selamat ya bu. Ay biar tidur sama bunda saja bu. Biar ibu fokus tugasan dan jaga kehamilan ibu."
"Hmmm... usaha bisa balance aja dulu bunda." ucap Muna yang kemudian memilih berselonjor di sofa tengah ruangan itu. Melepas lelah jiwa dan raganya.
Memang tidak mudah menjadi Muda, di luar sana banyak yang mengira dengan memiliki uang semuanya akan lancar, semua beres. Tapi lihatlah, bukan uang dan harta berlimpah yang menjamin semuanya menjadi baik-baik saja. Semua memiliki tantangan hidupnya masing-masing.
Bersambung....
Jooosss barang bagus
Siram semalam jadi deh buat 9 bulan
__ADS_1
Uhuuuuy
Dukung nyak terus yaaak❤️