
Gita akhirnya hanya menyeduh teh hangat untuk mereka berdua. Kemudian Gilamgpun dapat menikmati sarapan pagi buatan istrinya untuk pertama kali.
Ibu Gilang curi curi pandang melihat ke uwu an, anak dan menantu itu sambil terus meyakinkan hatinya bahwa ia telah salah menilai karakter menantunya tersebut. Terlalu cepat menelan bulat bulat cerita yang belum ia liat sendiri kebenarannya.
Tadinya ibu Gilang main percaya saja, sebab yang menyampaikan adalah wanita yang melahirkan Gita. Tetapi, bukankah ibu Gilang tidak banyak tau masa lalu mama Indira. Mulai dari ia menjadi pelakor, hingga berhasil menjadi istri satu satunya bagi Diendra. Daren dan Gita adalah korban, namun bisa memfilter sikap mereka, sehingga sama sama tak ingin memiliki hati dan gaya hidup seperti mama mereka.
Matahari bergerak ke tengah, itu artinya hari mulai galak bertengger di atas kepala manusia yang sedang berada di luar rumah.
Gilang hanya kebagian mendorong trolly di sebuah mall di kota itu. Saat dua wanita kesayangannya tengah sibuk memilih milah berbagai macam jenis belanjaan. Awalnya mereka hanya berada di deretan sayur mayur dan bahan makanan basah. Lalu bergerak pada susunan sembilan bahan pokok makanan, mulai dari minyak, beras, telur, gula, tepung, susu, kopi, rempah dapur dan lain lain.
Gilang baru tau ternyata Gita cukup kalap jika sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan terutama di kawasan aneka bahan makanan. Padahal sepertinya dia tidak suka masak juga makan.
Pergerakan pasangan bumer dan menantu itu sudah berpindah lagi ke area persabunan. Mulai dari detergen pembersih pakaian, pewangi, sabun cuci piring, sabun mandi, shampo, conditioner, lulur, hingga bedak sampai lipstik. Hah? ibu Gilang lupa kapan terakhir dirinya membeli itu dirinya sendiri.
"Ga usah Git. Ibu sudah tua, ngapain pake lipstik segala." tolaknya agak malu.
"Iiih... ibu, emang ada larangan orang tua bibirnya ga boleh merah. Kan ibu kadang bisa ikut jaga toko air isi ulang teh Arum. Penjaga yang berpenampilan menarik, juga akan dapat menambah daya tarik pembeli lho bu." Ujar Gita yang tak memikirkan raut wajah Gilang mulai merengut melihat belanjaan yang makin menggunung dalam trolly. Masa nanti Gita yang bayar. Ya iyah sebagai suami, ia gengsi tidak mengeluarkan dompetnya untuk melakukan pembayaran semua belanjaan ini nanti. Tapi belanjaan ini sepertinya mendekati 2 juta, jika ia tak salah hitung sih.
"A'a aja yang antri di kasir ya a. Eneng sama ibu menunggu di luar. Oke A'a, selamat membayar." Bisik Gita pada Gilang lalu menarik tangan ibu mertua ke luar arena bahan makanan tersebut.
Gilang tidak bisa melawan, menatap pasrah dengan belanjaan yang akhirnya setelah di total bernilai 2.798.000 Tuh kan, hampir tiga juta. Mau marah sama siapa? toh belanjaan itu pilihan istrinya untuk ibunya. Sorga, sorga. Wajah ibu tak kalah sendu melihat nasib anaknya bagai di todong perampok cantik yang baik hati. Mana pernah ibu Gilang berbelanja sebanyak itu, yang ada mereka selalu hemat, hemat dan hemat.
__ADS_1
Gita masih kalap. Bohong saja dia bilang akan menunggu di luar, ternyata ia sudah menarik mertuanya lagi ke outlet terbesar di mall itu. Apalagi kalau bukan di area jual pakaian terlengkap.
"Bu... sini bu. Naah ini baju tidurnya bagus bu. Cocok nih buat ibu. Bahan katunnya adem di badan. Pilih warna dan motifnya bu." pinta Gita tak peduli dengan keresahan yang melanda hati sang ibu mertua.
"Ga usah Git, baju ibu masih banyak." Tolaknya sungkan, sungguh ibu Gilang tau sudah berapa uang Gilang habis untuk membayar belanjaan tadi. Masa iya nanti anaknya harus merogoh kantongnya lagi untuk membayar belanjaan mereka di outlet ini.
"Banyak... tapi kan tidak baru. Ibu pilih sendiri ya, eneng pilih buat teh Arum, Hani juga Riswan." Lanjut Gita santai tanpa beban.
Ibu Gilang masih mematung, hanya melirik beberapa potong baju yang menarik perhatiannya, tapi sumpah malu untuk mengambil dan minta di bayarkan oleh menantu yang sempat ia cemberuti itu.
"Bu... jangan sungkan. Ambillah beberapa potong. Jangan liat label harganya. Eneng punya kartu diskon di sini. Lagi pula, pulang perjalanan dinas kemaren eneng dan a'a masih punya sisa uang jalan. Karena di sana ga sempat belanja, makanya ga bawa oleh oleh buat ibu. Jadi, anggap ini ganti oleh olehnya ya bu." Terang Gita agar mertuanya tidak merasa bersalah.
Lagi.
Gilang bersidekap menonton ibu dan istrinya berbagi saran dan pendapat tentang pakaian mana saja yang akan mereka sunting dan tebus di meja kasir.
"Totalnya 2.056.000." ucap kasir dengan ramahnya pada Gita dan ibu.
"A'a..." panggil Gita tak peduli dengan wajah devil Gilang yang benar benar kena todong hari ini. Belanjaan hari ini sudah sama dengan gajihnya saat menjadi pegawai magang beberapa tahun lalu.
Atau Gilang baru sadar ini efek samping menikah dengan anak sultan. Yang jika di lepas bebas di pusat perbelanjaan akan berubah menjadi ganas, lupa jika masih ada hari esok yang juga butuh dana tak terduga untuk tetap melanjutkan hidup mereka.
__ADS_1
Sedapat mungkin Gilang memasang wajah kalam saat ibunya melihat raut wajahnya, dengan percaya diri Gilang menyerahkan kartunya pada kasir untuk menebus belanjaan dua wanita beda asal itu. Padahal aslinya hatinya geram pada Gita.
Tangan Gilang sebelah kanan sudah penuh dengan paper bag belanjaan Gita dan ibu. Sementara tangan kirinya sudah di peluk manja oleh tangan kanan Gita. Dan tangan kiri Gita tertaut dengan tangan ibu Gilang, karena ia di posisi tengah antara keduanya. Senang dan indah sekali pemandangan itu terlihat.
Merekapun pulang dengan berbagai rasa hati yang berbeda-beda. Gita senang sudah bisa sebebas mungkin berbelanja sesuai keinginan untuk mertuanya, dan mertuanya di buat gamang, antara senang mendapat banyak belanjaan, tapi sedih juga karena ternyata belanjaan itu semua di bayar oleh anaknya. Sedangkan Gilang sedang memikirkan cara untuk menghukum istrinya yang main todong atas semua belanjaan hari ini.
Semua belanjaan sudah tersusun rapi di lemari dapur ibu. Penuh dan lengkap. Sempurna. Sedangkan beberapa potong pakaian juga sudah semuanya Gita berikan pada Arum dan anak anaknya. Tentu saja mereka tergelak kesenangan tanpa tau entah terjadi drama apa setelah episode belanja ini terjadi.
Gurat senja telah memenuhi langit, matahari makin condong ke arah barat pertanda penguasa malam akan menyapa penduduk bumi.
Kini Gita dan Gilang sudah berada di rumah mereka, sudah dengan beberapa dus dusan pakaian dan barang barang Gilang yang benar akan menetap di rumahnya bersama istri tercinta.
"Bi Inah besok datang kan a'... Gita ga sanggup nyusun barang A'a sendirian. Banyak banget." Celoteh Gita ketika dus terakhir sudah semuanya masuk di ruang tamu rumah itu.
"Hah... ?masa!! Belanja lima juta sehari aja mampu. Masa cuma merapikan 5 dus itu ga sanggup." Tukas Gilang dengan nada datar. Gita tidak pernah mendengar nada seperti itu dari mulut Gilang. Ini yang pertama kalinya ia dengar setelah lebih dari dua tahun saling mengenal dan dekat.
Bersambung...
Gaees serius nanya?
Gilang boleh marah ga sih sama Gita?
__ADS_1