
Gilang polos, lugu atau cuma akting ya. Masa hanya di sodorin paha mulus yang kemarin-marin bahkan berani bilang kaki Gita kaya kaki meja, dianya udah kaya robot kaku kehabisan batrei. Ga banget kan.
"Neng kesel kenapa sama A'a?" tanya Gilang setelah sudah menenangkan jantungnya yang tetiba meletup-letup kaya pas lagi goreng ikan.
"Ya... A' a kok sukses rahasiain momen terbahagia ini?"
"Maaf... a'a ga punya pilihan neng. Tiga hari lalu papinya neng nelpon. Katanya beliau ga ijinin neng perjalanan dinas ke Swiss kalo kita belum nikah. A'a kan ga punya pilihan lain selain bersedia segera halalin eneng." Gilang bicara sudah tidak fokus pada wajah istrinya, tapi mulai lirik-lirik pada paha yang udah mepet dengan pahanya juga.
"Tapi... kan a'a selalu sama eneng di Bandung. Terus ibu sama teteh kapan ke sininya?" tanya Gita yang masih penasaran dengan kejutan sempurna itu.
"Ya... kan a'a bisa urus lewat telepon. Kalo soal ibu, mereka sudah sejak rabu di antar pak Min ke rumah pak bos."
"Hah... lalu pas neng tidur di situ. Ibu kemana?"
"Dengar eneng ga mau tidur di hotel, ya ibu segera di ungsikan ke rumah babe lah."
"Astaga... jadi ini semua tuh emang di atur sedemikian rupa, kerjasama yang baik antara kak Kevin dan a'a...?"
"Papi neng juga." jawab Gilang yang tiba-tiba berani mengangkut bamper Gita ke atas pahanya, membuat tubuh mereka bersusun kayak kue lapis Surabaya.
"E..eeh. Ini kenapa niih?" sipu Gita malu-malu mau.
"Udah halal neng. Bebas hambatan." Wajah Gilang bersemu merah kuning hijau, sejak tadi resah dan geregetan sendiri dengan dirinya yang sangat sulit ingin memulai kemesraan dengan sang istri.
"Iya sih halal. Tapi boleh ga kita selonjoran dulu gitu A'. Sumpah neng tuh masih belum nyangka sudah jadi istrinya A'a." Gita berkata demikian sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Gilang.
Gilang bukan tipe lelaki yang suka menjelaskan panjang dan lebar. Sama seperti replika kejadian di Lembang. Saat Sita minta penjelasan, ia hanya memilih beraksi.
Maka, saat huruf terakhir yang di ucap Gita adalah A. Anak kecil juga tau bentuk mulut saat mengucapkannya dalam bentuk terbuka. Harus di kasih aba-aba ga sih, lidah Gilang udah nyusup aja, nyerbu dengan membabi buta.
Seketika organ lembut, kenyal tak bertulang itu sudah mengepung rongga mulut Gita. Ada yang terbelit tapi bukan tali. Ada yang berdecak tapi bukan cicak. Ada nafas ngos-ngosan tapi ga sedang lari. Ngapain coba?
__ADS_1
Gita dan Gilang saling cinta, bahkan keduanya selama ini hanya pandai menjaga jarak dan menahan diri masing-masing saja untuk tidak khilaf melakukan hal yang tentu mereka saling damba.
Sehingga saat kata SAH sudah menguar di tengah rumah saat tangan sang ayah masih berjabat dengan tangan mempelai pria, kini setan saja ga berminat menjadi penonton akan apa saja yang akan mereka pertunjukan di dalam kamar pengantin itu.
Sesekali, pertautan bibir itu terlepas,. demi mendapatkan pertukaran oksigen dan menarik nafas panjang dan banyak untuk amunisi keduanya saling melancarkan manuver-manuver lanjutan. Lupa waktu, lupa dunia. Sebab hari ini seolah tercipta hanya untuk mereka berdua.
Gilang pria normal, terlihat sopan selama ini hanya karena takut akan dosa. Nalurinya sebagai lelaki sudah sepenuhnya aktif secara alamiah. Jadi, tangannya sudah mulai berpendar pelan, awalnya hanya di daerah punggung belakang, tapi saraf otaknya mendikte bahwa tangannya harus segera menjelajahi pegunungan kembar di depan.
"Neng..." suaranya pelan, di sela kesibukan mengabsen deretan putih berjumlah 32 biji dalam rongga mulut itu.
"Iya A'..." Balas Gita sedikit manja.
"Ini udah punya A'a kan?" tanyanya pada kedua benda bulat yang menggantung terbungkus kain melintang itu.
"Heemmm eemh." Dada Gita nyir nyar ga jelas, berdesir-desir. Malu malu mau lah, walau agak geli tapi kok lembut sekali remasan itu.
Tangan Gilang tidak hanya meraba, tapi sesekali berputar-putar, mengitari kain melintang itu dari luar, kadang menekan, sekedar memastikan ukuran itu benar-benar pas dengan cengkraman, genggaman tangannya.
"Neng..."
"Boleh liat langsung ga siih bentuknya??" Aseeem ya si Gilang di bilang udah halal masih tanya aja.
"Yakin cuma mau di liatin A?" pancing Gita yang sesungguhnya geregetan dengan gerakan lambat Gilang yang baginya terlalu di dramatisir.
Gilang terpancing, lalu memberanikan diri meloloskan kaos gombrong itu dari tubuh Gita. Ya, ampun bulu halus di tubuh Gita seketika berdiri tegak, baris kaya tentara siap tempur.
Gilang dapat melihat dengan jelas, pori-pori kulit istrinya mendadak membesar. Maka, Gilang yang sudah melihat dengan jelas kain melintang itu warna hitam. Lagi, jakunnya naik turun, dadanya meronta-ronta, otaknya geram dan segera memerintah. "Selesaikan di tempat tidur."
Gilang sudah di penuhi gelora don juan, tubuh Gita sudah di gendongnya lalu di letakan di atas tempat tidur yang bahkan masih bertaburan kelopak mawar yang berbentuk sebuah aksara I LOVE U itu.
Dengan ritme yang lebih cepat, Gilang lagi berani melu mat sesukanya bibir ranum istrinya. Di sertai gerakan tangan yang makin lincah memainkan puncak benda bergantung tadi, di pencetnya, di cubitnya, di tekannya, juga di pilinnya lembut, kadang pelan kadang cepat.
__ADS_1
"A'aaaa..." rengak Gita manja.
Kenapa dengan panggilan itu membuat daun telinga Gilang memerah? dan justru memberanikan mulutnya untuk berpindah ke puncak mata bisul tadi, bahkan berani mengisapnya, padahal itu bukan sedotan.
"Aacch... a'aaa." Lagi Gita mengerang pelan tapi terdengar sangat sek si bahkan seolah tak ingin itu di hentikan.
Heiii... ada apa dengan tangan Gilang yang makin merambah peruntungannya semakin kebawah pusar?
Hot pant itu longgar ya gaes, tidak ketat. Tadinya Gilang hanya bermaksud melukis aksara abstrak saja di atas paha mulus itu. Tapi, kenapa jadi ke sasar ke atas-atasnya. Bahkan otaknya sempat memindai, yang kini di telunjuk Gilang adalah tali karet renda, semacam pembatas pintu darurat daerah rawa yang belum sepenuhnya polos. Tentu saja masih terhambat, bukan kah hot pants itu pun masih melekat lengkap di sana. Maka, menelusur sisi karet berbentuk siku itu saja, tetiba membuatnya semakin penasaran dengan isi di balik kain bertepian karet renda itu.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan dari luar pintu cukup membuat aksi pengantin baru terganggu. Padahal bibir Gilang sudah mirip lintah di area dada itu, bahkan sempat meninggalkan bercak kemerahan di sana, walau tak banyak namun ada.
"Iya..." jawab Gita dari dalam dengan suara agak nyaring.
"Kata tuan papi, siap-siap sholat berjamaah." Suara ART di luar membuat Gita dan Gilang sadar jika durasi waktu mereka melakukan pemanasan sangat singkat.
"Iya bi, kami wudhu dulu." Jawab Gita terpaksa mendudukan dirinya untuk berjalan menuju toilet untuk menyucikan diri.
"Neng... to be continued ya." Heeeer wajah Gita lagi-lagi memerah malu semerah jejak cinta, satu, dua, tiga, sebaran di atas pegunungan kembar miliknya.
Bersambung...
Maafkeun nyak yang telat up.
Terima kasih doa, dukungannya juga.
__ADS_1
Nyak selalu berusaha mencari mood yang baik demi hidangan yang baik juga untuk kalian.
Sarange❤️❤️❤️