OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 260 : PENYAYANG GARIS KERAS


__ADS_3

Muna memandang intens suaminya sepulang bekerja, ada raut wajah berbeda tersampir membingkai di sana. Muna masih punya waktu untuk memperhatikan Kevin. Air hangat di bath up sudah Muna siapkan, beserta pakaian gantinya pun sudah menunggu di tepi tempat tidur mereka.


"Sayang kenapa?" Kevin bingung dengan pertanyaan istrinya.


"Kenapa?"


"Cerita aja... papap Ay tidak pintar menyembunyikan sesuatu dari Muna." Perkataan Muna justru melahirkan kecupan pada kening Muna.


"Abang mandi sebentar baru cerita."


"Muna tunggu di bawah ya, sama kopi."


"Iya... makasih bini abang." Jawab Kevin sembari masuk kamar mandi.


"Mamam, papap mana?" tanya Aydan saat melihat Muna membawa secangkir kopi dan biskuit ke samping rumah mereka.


"Di atas lagi mandi, ada apa ka?"


"Kaka mau mandi benang cama papap."


"Humm ... nanti kita tanya kapan papap bisa temani ya."


"Cama mamam uga?"


"Belum boleh sayang. Nanti kalo de Naya nangis mau enen gimana?"


"Ini enen dede mam?" tunjuknya pada sumber air kehidupan kembar itu.


"Iya ka. Dulu ini punya ka Ay, enen ini juga. Tapi sekarang punya de Naya, karena ka Ay sudah besar."


"Kaka Ay... ga boyeh nen agi mam?"


"Ga boleh lah."


"Tapi masih bisa buat papap juga, kalo mamam kasih." Kevin sudah nimbrung saja dengan dialog absurdnya.


"Abang... jangan ngomong yang aneh-aneh deh." Muna sudah melotot saja ke arah suaminya yang berpakaian casual menggendong Naya menuju samping rumah mereka.


"Ta boyeh, papap cudah becal. Kaka Ay ta boyeh, papap uga ga boyeh. Ya mam....?" Aydan sudah berdiri membelakangi gundukan itu, seolah menjaga dari pandangan sang papap.


"Ia kaka... papap cuma bercanda."


"Omes pap? angan enen unya de Naya."


"Heeem." Jawab Kevin tak berani janji.


"Heeeemmm." lanjut Aydan lebih panjang dari deheman Kevin.


"Iya... omes." Jawab Kevin melotot ke arah Muna.


"Iih... abang kenapa liatnya gitu. Siniin Naya. Kaka Ay juga mau di peluk papap." Pinta Muna pada Kevin.


"Pap... benang yuk." tunjuk Aydan pada kolam renang di depan mata mereka.


"Yaaah... papap sudah mandi ka. Besok pulang kerja ya ka. Kita langsung berenang."


"Oke...." Jawab Aydan ceria.


"Ka Ay... kaka Ay." Panggil babe dari dalam.


"Ya.... kong. Ay di mali." Aydan lari ke pintu supaya babe melihat keberadaannya.


"Ya ellah...di cariin dari tadi. Mau ikut kasih makan ayam engkong kaga?" tanya babe pada anak kecil itu.


"Mau kong..." Larinya kegirangan sampai lupa pamit pada Muna dan Kevin yang tadi di ajaknya ngobrol.


"Tadi di kantor, abang mecat Sita yang." Kevin membagi informasi pada Muna sesuai janjinya tadi, akan cerita setelah mandi.


"Waw... berita bagus dong."


"Segitu senangnya ga tanya alasan?"


"Ga perlu di jelaskan. Muna percaya kalo sampe abang ambil keputusan sekeras itu pasti emang dah parah kasusnya." Jawab Muna.

__ADS_1


"Haha....haa. Kirain Mae marah abang sudah hilangkan mata pencaharian seseorang."


"Tergantung orangnya lah, bang. Sita itu beda tujuan mau kerja di perusahaan kita. Bukan untuk cari nafkah."


"Maksudnya?"


"Dia itu anak orang kaya, kerja hanya sebagai hiburan dan mungkin sensasi semata. Jadi, di pecat juga ga apa-apa. Beda dengan yang lain, yang dengan doa dan airmata mau pekerjaan itu." Jelas Muna.


"Muna sih ga tersinggung. Hanya rasanya tuh aneh saja, saat kami makan bareng malah dia yang bayarin Muna. Rejeki sih, wajib din syukuri. Tapi bagi Muna itu salah satu cara dia mau bilang dia orang mampu. Jadi, ada sedikit sikap congkak dalam dirinya. Bener banget keputusan abang pecat dia."


"Huum... udah punya story sama dia."


"Responnya apa, waktu di pecat?"


"Minta opsi pindah ke bagia sekeretaris, Mae."


"Buuuaaahahaaa... kan ngelunjak orangnya. Waktu itu juga dia udah minta posisi itu sama Muna bang."


"Masa... emang racun banget itu orang. Pantesan Gilang bilang dia tidak waras." Kekeh Kevin.


"Gimana Gilang sama Gita. Udah sepakat hubungannya gimana?" tanya Muna ingin tau.


"Belum tau sih. Masih nego kali tu anak bedua." Jawab Kevin.


"Iya ... mereka sudah dewasa. Pasti tau arah selanjutnya gimana?" Muna beranjak masuk rumah sebab senja mulai menunjukkan semburat jingganya. Sebenarnya Muna suka melihat warna senja itu, tapi anginnya yang mulai berhembus dingin, tentu tak baik untuk Naya.


Hari berlalu dengan cepat, terisi dengan hal yang menyenangkan bagi pasangan Muna dan Kevin yang selalu pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Celotehan Aydan selalu mampu menghidupkan suasana di rumah tangga mereka.


Demikian juga dengan coulpe duo G. Tentu saja keduanya semakin terlihat makin mesra dan lengket.


"Neng... boleh tanya?"


"Apaaan?"


"Mobil neng yang di Jakarta apa?"


"Kenapa?"


"Tanya aja."


"Hah...?" Kejut Gilang.


"Yaah anak sultan sih ya. Itu mobil muat berdua aja bukan?" lanjut Gilang menerka-nerka.


"Iya A."


"Jadi waktu pacaran sama Baskoro kemana-mana pake itu?"


"Iya."


"Pantesan di porotin." Umpat Gilang tertawa.


"Terlalu mencolok ya. Papi tuh yang beliin hadiah ultah."


"Waduuh makin kerdil Aa mah. Hadiah ultah eneng setara dengan rumah hasil Agi nabung bertahun-tahun."


"Seloow A. Yang penting halal dan hasil keringet sendiri."


"Ke Jakarta week end besok jadi kan Neng...?"


"Terserah A'a. Udah siap ketemu mama ga?"


"Siap sih, tapi pegangin ya Neng?"


"Manja."


"Takut neng."


"Salah apa sih, takut banget."


"Takut di suruh nikah besoknya." Kekeh Gilang.


"Ngarep."

__ADS_1


"Neng... pake motor aja ke Jakartanya mau?"


"Asal sama A'a mah, jalan kaki juga mau."


"Ya Allah... jantung A'a lepas neng. Gelindingan ke lantai, habis di gombalin eneng." Kekeh Gilang mencubit hidung kekasihnya.


"Ya... kan eneng nih ceritanya udah cinta mati nih sama A'a. Eneng udah imani kalo Agi tuh imamnya eneng. Jadi, dari sekarang dah belajar berbakti aja. Di ajak pake motor oke, jalan kaki juga hayuk. Asal ga di ajak jalan masing-masing aja A'. Neng ga bisa jauh darimu."


"Fix nih... calon makmum A'a lagi mabuk tingkat lanjut. Besok kita ke dialer deh."


"Ngapain?"


"Ngadai cinta buat beli mobil. Ga tega Agi, bawa calon istri ke Jakarta pake motor."


"Aa... pliis jangan kemanisan. Sumpah takut kena diabet A. Keseringan di kasih janji yang manis-manis oleh A'a."


"Siapa yang cuma janji. Target abang setelah rumah selesai, emang beli mobil. Dapat calon istri anak sultan mah bonus percaya dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa saja. Tapi, Agi ga mampu beli yang mahal ya neng."


"Agi... beli itu yang sesuai kemampuan jangan sesuai kemauan. Juga sesuai dengan kebutuhan."


"Iya Neng. Agi, ga cocok di kantong beli mobil sport, harganya mahal muatannya dikit. Ponakan Agi pasti minta di ajak jalan."


"Ya udah beli Alpard aja."


"Neng... alamat ngepet di mana ya? Atau tempat penggandaan uang lainnya."


"Ngapaain?"


"Eneng lupa Agi cuma asisten pribadi? Mana mampu beli mobil begituan."


"Agi lupa akan nikah sama Gita Putri Mahesa?"


"Katanya sesuai kemampuan? Uang Agi cuma mampu beli Toyota Voxy gimana?"


"Ya udah itu aja."


"Neng ga malu, punya suami kere?"


"Kere dari mana? Satu jam aja Agi promo udah selusin gadis ngantri mau jadi istrinya Agi. Ngenes akunya A."


"Tapi neng... kalo Agi beli mobil. Tabungannya habis. Ga ada buat nikahan."


"Ayoo... mau yang mana dulu? Mobil apa nikah?"


"Mau dua-duanya neng."


"Pilih salah satu kali?"


"Bisa sih dua-duanya. Asal nikahnya jangan jor-joran. Nikah sederhana di mesjid terus selamatan sederhana saja. Gimana?"


"Kan eneng makmumnya terserah imam saja mau gimana?"


"Masalahnya... keluarga eneng mau, acaranya akad doang?"


"Yang nikah kan kita bukan mereka."


"Pe-De. Lutut A'a lemes neng di tatap para penyayangmu garis keras itu."


"Kan kita yang hadapi sama-sama. Mereka bisa apa, kalo kita sudah sepakat mampunya cuma akad. Yang penting setelah nikah kita sudah punya rumah sendiri, alhamdulilah ada mobil sendiri juga. Gaji neng selama dua tahun juga lumayan kok, cukuplah buat bantu persiapan."


"Kok malah pake duit eneng sih, buat nikahnya."


"Kan nikahnya berdua A, masa semuanya Agi yang tanggung?"


"Tapi... apa ga di kira Agi ga tanggung jawab sebagai laki-laki?"


"Siapa yang ngira gitu. Agi rese ya...?"


Bersambung...


Halalnya pelan ya


Biar kerasa uwunya

__ADS_1


Lopeh buat semua


😍😍😍


__ADS_2