
Siang itu Muna sangat lapar, tapi seketika seleranya hilang, menguap begitu saja saat mendengar todongan Koco untuk menjadi pacarnya. Tidak pernah selintas sedikitpun dalam pikiran Muna tentang perasaannya pada Koco, yang memang telah ia anggap seperti saudaranya sendiri, setelah semua masa yang mereka lewati bersama sebagai sesama OB.
Mungkin, kebaikan hati Muna yang sering membantu Koco telah di salah artikan. Padahal, Muna tidak hanya baik pada Koco tapi selalu tulus. Baik kepada siapa saja yang ia kenal.
Pernyataan Koco, justru membuat jarak antara mereka. Seminggu berlalu, mereka bagai orang asing yang tidak saling bertegur sapa. Koco malu akan penolakan Muna. Demikian juga Muna, tidak bermaksud menyakiti hati Koco.
Dalam sepekan, seolah di setting. Pantry pun sepi, mereka jarang terlihat berkumpul. Sebab kadang mendapat panggilan dadakan dari para karyawan. Mereka hanya bertemu di pagi hari, saat doa bersama memulai aktivitas, kemudian sore saat sudah waktunya pulang.
Di sisi lain, Kevin bagai hilang di telan bumi. Tidak pernah terlihat di kantor, di ruangannya, juga di kamar pribadinya. Ingin bertanya pada Ferdy, tentu ia malu. Ingin langsung bertanya pada Kevin, namun sadar, siapa aku?
Hari ini, Muna memilih untuk nongkrong di warung ketoprak babe Rojak dan nyak Time. Sebab, ia yakin tidak akan mendapat panggilan pekerjaan dadakan, karena Kevin tidak ada di kantor.
"Anak nyak tumben nyamperin ke mari. Udah makan Mun?" sapa nyak Time pada anak gadisnya yang baru saja meletakan scoppynya pada tempat yang teduh.
"Belon nyak... Muna buat sendiri aja ya nyak." Jawab Muna dengan senyum cantiknya.
"Kaga usah, nih udah ada yang free. Tadi, ada pelanggan pesan. Tapi mendadak pergi, ada panggilan darurat katanya. Mungkin dia petugas kebakaran kali." Cerocos nyak tanpa di tanya.
"Busyeet nyak... pedes banget ini, ya Allah, level berapa inih, nyak ngerjain Muna kali, niih. Shh... hah...shh..hah..." Muna mengipas-ngipas mulutnya yang kepedasan.
"Masa segitu aja pedas Mun, bukannya omongan nyak loe biasanya lebih pedas dari cabe Mun...?" canda Babe yang dari tadi cengar-cengir melihat dua wanita beda rupa itu ngobrol.
"Babe...bener-bener cari masalah sama enyak ye...?" Nyak Time sudah mulai melipat tangan bajunya ke arah sikunya, seolah ingin menantang babe untuk beradu.
"Kagak...nyak. Babe cuma bercanda. Ah, gitu aja sewot. Tegangan nyak tuh bikin masak telor ceplok tau ga... puanas poolll...ha...ha...ha." Masih saja babe Rojak mempermainkan wanita kesayangannya itu.
"BABBEE...!!!" Wajah nyak Time memerah, makin keki di candain suaminya yang memang suka sekali menggodanya.
Muna selalu merasa senang melihat pemandangan adegan romantis ala nyak dan babenya. Cinta yang mereka ekspresikan persis bagaikan kisah cinta tom&jery. Saling usil namun sesungguhnya saling sayang antara satu sama lain.
Dengan susah payah, Muna menghbiskan seporsi ketoprak pedas nampol itu. Sambil menyeka keringat di dahinya dengan tangan kanannya. Muna merogoh sakunya, merasakan jika ponselnya bergetar di sana.
"Dimana?"
Isi chat Kevin tertera di layar ponsel milik Muna.
"Ya Tuhan tolong, ini cuma satu kata. Dimana doang udah bikin hati Muna meleleh ya Tuhan. Ada ape dengan hati Muna, ampuuun dah." Monolog Muna yang kegirangan akhirnya dapat chat dari lelaki yang diam-diam ia cari keberadaannya seminggu ini.
"Makan di luar, bang." Jawab Muna setelah berhasil menjinakkan jantung nya yang seketika bergemuruh akibat chat Kevin.
"Masih lama?"
"Kagak, ini baru selesai."
"Balik ke kantor?"
"Iya lah."
"Alamat apartemenku tau?"
__ADS_1
"Kagak"
"Abang sharelook ya."
"Ngapa?"
"Anterin abang bubur, Mun."
"Abang sakit?"
"Iya."
"Abang maunya bubur apa?"
"Bubur bibir Muna"
"Abaaaang...!!!"
"π bubur ayam aja, Mun."
"Siap."
"Ga pake lama ya Mun."
"Iye, siap abang."
Muna mengakhiri chatnya dengan Kevin.
"Iye, Muna hati-hati ye. Jaga diri Mun." Nyak Time selalu mengingatkan Muna.
"Iye pasti nyak, be. Assalamulaikum."
Muna segera melajukan kuda besinya ke rumah makan yang masih menjual bubur ayam di jam sesiang itu.
Belum sampai 30 menit, Muna sudah tampak berdiri di depan pintu apartemen Kevin.
Benar saja, Kevin terlihat pucat dan sedikit lemah di sana. Yang seolah tak berdaya sekedar untuk membukakan pintu untuk Muna.
"Abang, sakit sejak kapan?" Muna terkejut dan langsung nyerocos tanpa di minta.
Kevin menghempaskan tubuhnya, rebah di atas sofa di tengah ruangan. Seolah tidak berniat menjawab pertanyaan Muna.
"Misi ya bang. Muna ambil mangkuk buat taro ini." Muna menunjukkan bubur ayam yang dia bawa tadi.
Segelas teh hangat manis, juga Muna buatkan untuk Kevin, yang masih tampak rebahan saja, sambil menggulirkan ponselnya.
"Makan dulu bang." Perintah Muna yang sudah duduk di lantai sehingga kepalanya hampir sejajar dengan kepala Kevin di atas sofa.
"Suapin Mun." pinta Kevin manja.
__ADS_1
"Duduk bisa?" tanya Muna tanpa menghiraukan ucapan Kevin tadi.
Kevin hanya menaikkan sedikit punggungnya. Agar seolah masih duduk bersandar.
Tidak ada alasan bagi Muna tidak memenuhi permintaan Kevin, ia tidak tega untuk tidak melayani bos di depannya tersebut, sebab di mata Muna saat itu, Kevin benar-benar lemah tak berdaya.
"Sakit apa sih...? Sekarat bener rupanya?" Gumam Muna dengan nada yang sangat pelan.
"Sakit kangen kamu, Mun."
"Eh...dudul. Sakit gini masih kuat ngegombal. Abang sejak kapan sakitnya?" tanya Muna lagi sambil terus memyuapi Kevin dengan telaten.
"Baru tadi malam demamnya, Mun."
"Udah makan obat?"
Kevin menggeleng.
"Kemaren-maren abang kemana aja?" Muna memberanikan diri untuk bertanya.
"Cie... kangen abang jua kan?"
"Ga usah jawab deh, ga mutu. Ditanya apa ? jawabnya apa?" Muna so' jengkel padahal malu. Karena tebakan Kevin bener.
"Abang ke Singapore Mun, 5 hari. Kerjaan abang banyak, makan ga teratur kayak di sini. Kecapean kayaknya." Ujar Kevin yang sudah lebih segar setelah menghabiskan bubur ayam dan teh manis buatan Muna.
"Obat... ada makan obat?"
"Belum di antar. Jadi abang menggigil aja semaleman."
"Kemana aja wanita-wanitanya abang yang bejibun ntuh. Kok kaga ada yang bisa di mintai tolong buat rawat abang." Sindir Muna sambil mengangkat pring bekas makan Kevin tadi ke dapur.
"Mereka ada saat abang sehat aja Mun." Jawab Kevin dengan suara agak nyaring, karena Muna sudah tidak di dekatnya.
"Abang sudah makan, trus obat sebentar lagi akan datang. Muna sudah boleh pulang ya...? Pinta Muna yang melihat jam sudah lewat dari pukul dua siang.
"Ga boleh Mun. Masak dulu buat abang makan ntar malam. Kecuali, Muna mau dapat berita besok abang mati kelaparan." Canda Kevin.
"Bujuuuk. Lemah banget, tiba ga makan sekali aja udah mati. Kalah sama ayam, si abang ah." Muna terbahak menanggapi candaan Kevin.
"Pokonya Muna jangan pulang dulu, sebelum masak. Tuh, ganti baju. Sakit mata abang liat Muna masih pake baju ke kantor kayak gitu. Mau sholat...sholat gih di kamar. Jangan lupa doain abang, biar ga cepat mati." Ujar Kevin yang kembali selonjoran ingin kembali tidur setelah merasa tubuhnya semakin membaik dan mendapat kekuatan.
Muna tidak punya pilihan lain, ia juga sudah sangat merasa gerah dan tidak nyaman menggunakan pakaian kantornya. Segera ia patuhi perintaan Kevin. Untuk sholat dan mengganti pakaiannya yang memang sudah siap di salah satu kamar apartemen Kevin itu.
Bersambung...
Kira-kira Kevin sakit beneran atau pura-pura ya gaees??
Tapi kalo otor... beneran minta jejak like para readers setia
__ADS_1
Lop ... lop buat kalian semuaπππ