OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : AURA PENGANTIN BARU


__ADS_3

Haniyah sudah berada di ruang rawat inap, dan penunjuk waktu sudah merujuk pada angka sepuluh. Lumayan malam bagi orang-orang yang sudah lelah beraktivitas banyak di siang hari, tentu jam segitu sudah di dera rasa kantuk. Tapi tidak bagi pasangan yang baru saja sah, justru itu bagi mereka masih sore, dan masih ada waktu jika ingin melanjutkan niat mulia untuk memastikan segel masih aman atau sudah pernah di rusak sebelumnya.


Pelan-pelan Gilang meletakkan Haniyah di atas ranjang pasien, berharap anak itu tidak terusik dari tidurnya. Tapi sayang, saat pelukan itu terlerai, bersama itu pula mata Haniyah terbuka dan kembali merengek.


"Om di sini saja, sama Hani." isaknya pelan.


"Iya... om ga ke mana-mana Hani sayang." Jawab Gilang lembut penuh kasih sayang.


"Mana tangan om?" pintanya manja. Dan Gilang mengulurkan tangannya pada Haniyah. Tangan kanan Gilang segera di tariknya lalu kedua dengan kedua tangannya merangkum dan di letakkannya di atas dada, kemudian mencoba untuk larut kembali dalam tidurnya.


Arum merasa bersalah atas pemandangan itu. Sangat terlihat Haniyah begitu posesif terhadap Gilang.


"Lang... sini ganti dengan tangan teteh saja. Sebaiknya kalian pulang. Seharian kalian sudah capek. Maaf mestinya tadi ibu tidak meminta tolong padamu." Arum melepas tangan Haniyah dari tangan Gilang.


"Mama... Hani mau tidur dengan om Gilang." Merasakan gerakan tangan itu, Haniyah justru terbangun dan merengek lagi.


"Sayang mama, om harus pulang nak. Besok mau cepat kerja, Hani tidurnya sama mama saja ya sayang." Bujuk Arum yang sungguh mengerti jika pengantin baru ini sudah ketar ketir ingin bermesraan saja.


"Huaaaa... nanti om Gilang kerjanya lamakan. Hani mau tidur sama om sebantar ma." Tangis Haniyah justru pecah.


"Sudah sayangnya om. Diem ya, om ga ke mana-mana Hani, sudah cepat tidur lagi ya sayang. Ini tangan om di pegang lagi biar om ga lari." Rayu Gilang pada Haniyah. Dan Gilang kembali menenangkan Haniyah agar tidur kembali.


Arum sungguh merasa tak enak, sebab Gilang kini sudah ada yang punya. Tapi, kedekatan Haniyah dan Gilang memang bukan rekayasa, Gilang memang selalu memanjakan Haniyah tanpa di paksa, sebab Gilang memang tipe pria hangat dan penyayang bagi kedua anaknya.


Arum masuk ke kamar mandi, membuang airmatanya di sana, merasa bersalah sudah mengganggu adiknya, tapi pun tak punya pilihan lain selain minta tolong pada adik yang selalu dapat ia andalkan. Saat akan mebersihkan diri ia kaget ternyata mendapat jatah bulanannya tanpa persiapan. Maka ia pun pamit, menitipkan Haniyah pada Gilang dan Gita sementara ia akan ke market 24 jam untuk mencari pembalut.


Tangan kanan Gilang sudah dalam pelukan Haniyah yang berhasil terlelap kembali. Sehingga tangan kirinya masih bisa melambai ke arah Gita, istrinya. Meminta wanitanya itu duduk di pangkuannya.


"Neng sayang... sini, duduk sama A'a." Panggilnya pelan dengan senyuman yang selalu mampu merontokkan pertahanan iman Gita. Ga kuat.


Gita melangkah gontai menuju Gilang, tapi Gilang selalu memiliki kekuatan magnet untuk menarik wanita yang sudah halal baginya itu untuk di raupnya dan duduk berpangku du atas pahanya.

__ADS_1


Dagu Gilang sengaja di letakkan di ceruk leher Gita, mengendus pelan pada area yang aroma parfumnya sudah tercampur keringat sedikit asam.


"Neng... di sini wanginya A'a suka." Bekali-kali Gilang mengendusnya gemas. Sesekali menggosok ujung hidungnya di kulit leher itu pelan.


"A'a geli." manja Gita pelan. Tapi selalu mampu membuat daun telinga Gilang memerah, mungkin satu spesies dengan Caladium Bicolor. Sehingga asalkan rungunya mendengar kata-kata pelan ke arah desa han, selalu sukses menghadirkan gelenyar aneh di hati Gilang. Berdesir, bersilir-silir hatinya memancing keruh dalam hatinya, dan mengundang bisikan untuknya melakukan hal lebih dari mengendus saja. Mungkin dengat sedikit menyengat atau sekedar gigitan kecil tanpa meninggalkan bekas seperti sore tadi di permukaan pegunungan.


"Geli ... tapi suka kan Neng?" Goda Gilang memampangkan deretan gigi putihnya pada Gita.


"A'aa..." manja Gita.


Gilang mengakhiri endusannya di leher. Lalu mencium pipi Gita.


"Neng maaf ya. A'a harus ngorbanin malam pertama kita demi Hani. Sayang a'a sama eneng sebenarnya lebih besar di banding ke Hani. Tapi, lebih kepada tanggung jawab sebagai pengganti ayahnya yang membuat a'a tidak punya pilihan untuk tega ninggalin dia neng." Jelas Gilang lirih, tak ingin istrinya salah paham, dan merasa Gilang menomorsarukan keluarga ketimbang istri.


"A'a... eneng emang ga mau cinta a'a terbagi. Tapi dalam konsep dengan wanita lain yang tidak ada hubungan darah sama a'a. Jika yang a'a sayangi adalah ibu, teteh dan Haniyah, rasanya terlalu konyol bagi eneng untuk cemburu. Apa lagi karena sakit begini. Mana mungkin ini rekayasa. Hani juga pasti ga mau sakit kan A'." Gita meyakinkan Gilang jika ia baik-baik saja dalan hal perlakuan Gilang yang masih sayang keluarga itu.


"Makasih pengertiannya istriku tercinta." Kecup Gilang pada kening Gita lama.


"Neng jangan ngomong anak dulu, hati A'a sakit neng."


"Kenapa?"


"Ngenes a'a gagal unboxing di malam ini neng." Kekeh Gilang membuat keduan tangan Gita melingkar sempurna di pinggang Gilang.


"Kita unbox di Swiss aja a'a sayang." Bisik Gita di daun caladium itu lagi, eh daun telinga merah Gilang.


"Pulang ini aja neng, sempet kok." Rengek Gilang.


"Hah... yakin?" ejek Gita.


Tidak ada lanjutan obrolan itu, sebab Gilang sudah memilih jalur warming up. Gilang selalu gagal fokus saat di peluk Gita, bibir selalu menjadi sasaran Gilang meluapkan rasa gregetnya pada Gita, dan ia sudah dapat pastikan sesapan itu sudah membuatnya sakau. Ingin lagi dan lagi.

__ADS_1


Tangan kanan Gilang masih di dada Haniyah, masih erat di pegang. Tapi Gilang masih punya tangan kiri yang bisa ia gunakan untuk memeras, mere mas bamper belakang Gita dan berpendar kemana suka untuk menambah gelora hasrat yang tiba-tiba membara di ruang rawat inap Haniyah itu.


Tangan Gita sudah tidak di pinggang Gilang, lebih memilih merangkum rahang Gilang agar selalu tertempel sempurna dengan bibir yang bagai lintah penghisap darah itu. Lengket dan alot gaes.


Suasana rumah sakit tetiba syahdu untuk pasangan pengantin baru. Walau hanya saling beradu lidah dan bertukar saliva, cukup membuat mata keduanya merem melek.


Katakan padaku apakah kamu bisa memperhatikan sekelilingmu saat sedang sibuk beradu cumbu?


Tidak.


Jawabannya tidak.


Bahkan nyamuk menggigit kakimu pun, kamu tidak akan perduli. Sebab sedetik pun adalah waktu yang berharga untuk menikmati organ kenyal tapi bukan jelly tersebut.


Dan... ya Tuhan.


Lagi, ada sesuatu dalam tubuh Gilang yang terasa penuh, sesak dan mengeras tapi bukan batu.


Arum di luar kenyamukan, ingin masuk tapi malu sendiri melihat dua sejoli itu masih dalam pengaruh aurah pengantin baru. Memilih memukul nyamuk sendiri di luar pintu bagi Arum adalah pilihan yang tepat, asalkan keduanya tidak merasa terganggu jika ia tiba-tiba masuk saat mereka dalam keadaan on fire.


Bersambung...


Hallow readers gimana?


Udah dag dig dug ser blom?


Timpuk nyak yaaa


Lope kalian deh


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2