
Sepekan telah berlalu, namun Kevin belum menunjukan tanda-tanda kepulangannya. Acara Pertunangan Prety pun berlalu begitu saja, tanpa Muna hadiri.
Muna mungkin memang telah jatuh cinta walau tampak malu-malu pada Kevin. Namun bukan berarti dengan serta merta ia ingin terlihat seperti wanita murahan yang akan menggunakan segala cara demi untuk mengakrabkan diri pada keluarga kekasihnya.
Bahkan lebih dari 10 hari tanpa Kevin tentu sangat mempengaruhi tingkat kestabilan jiwa Muna. Walaupun komunikasi mereka sangat lancar, tetap tidak akan setara dengan kehadiran pria itu saat berada di sisinya, walau hanya sekedar memintanya untuk membuat kopi dan beberapa menu makanan.
Muna sudah ijin pada Kevin, bahwa sabtu malam ini, ia dan Siska ingin sesekali melihat dunia, saat malam minggu di luar sana. Seperti ritual kebanyakan ABG lazimnya seusia mereka.
Kevin sadar, ia tengah berpacaran dengan bocah yang baru lulus SMA. Tentu saja butuh refersing juga pengalaman sesuai usianya. Maka, dengan memberikan kepercayaan penuh pada Muna, Kevin pun mengijinkan kekasihnya itu untuk pergi.
"Bener boleh pan bang...?"
"Iya... udah ijin babe dan nyak juga belum?"
"Udee, boleh katanye."
"Ya sudah, Hati-hati ya. Kasih kabar selalu ke abang. Dan pulangnya jangan kemalaman."
"Siap bosku. Makasih ye bang, sarangeo. Assalamualaikum."
"Walaikumsallam." Jawab Kevin yang sesungguhnya juga bosan berlama-lama berjauhan dengan Muna tercintah.
Muna bersama Siska sudah seperti paket komplit, yang kini selalu terlihat pergi bersama, berdua-duaan. Malam ini mereka memilih nonton bioskop, untuk sesekali melepas lelah mereka dari rutinitas pekerjan walau cuma sebagai OB.
Khursus menyetir Muna pun sudah selesai bahkan ia telah memiliki SIM A. Namun bagi Muna, itu hanya sebagai tambahan pajangan dalam dompetnya, sebab ia sendiri tidak tau kapan mampu membeli mobil sendiri, namun setidaknya bisa mengemudi adalah suatu ketrampilan yang juga wajib di kuasai, untuk jaga-jaga jika suatu saat terjadi hal yang tidak di duga.
Saat Muna dan Siska keluar dari ruang kedap, bertangga susun merah memanjang berlayar lebar itu, waktu masih menunjukan pukul 8. Sehingga Muna dan Siska memutuskan untuk santai sejenak, menikmati cemilan di salah satu tempat makan di mall tersebut.
"Sis... bolehlah sesekali kita nikmati uang hasil kerja keras kita sendiri untuk makan di tempat beginian, daripade kita ntar mati penasaran pan, kagak seru."
"Iya, kerja cari uang untuk di nikmati, jangan juga selalu di simpen, ga di bawa mati juga." Kekeh keduanya, yang sepakat malam ini khusus memanjakan diri mereka.
"Muna...iya kan. Ini Muna. Haaiii apa kabar kamu...?" sapa seseorang yang berjalan mendekat menuju meja Muna dan Siska.
"Prety... ame sape?"
"Sama mama dan Mas Damar. Tapi dia lagi... tau, pamit kemana tadi. Gabung boleh Mun.?" Sapa Prety bersemangat.
"Iye...iye. Boleh, duduk aje."
Prety dan wanita cantik paruh baya itu pun duduk bergabung di meja yang Siska dan Muna pilih untuk bersantai tadi.
"Mama... kenalin ini Muna temen dekatnya kak Kevin." Prety memperkenalkan Muna pada wanita cantik tersebut.
__ADS_1
Muna menyalami dan mencium punggung tangan mamanya Prety dengan sopan.
"Muna tante. Muna Hidyatullah." sapa Muna pada wanita itu
"Leina." Jawabnya singkat sambil tersenyum seolah sedang mengingat sesuatu.
"Kamu sama siapa Muna...?"
"Oh...ini Siska, teman kerja di kantor." Jawab Muna. Siska pun bersalaman pada kedua wanita cantik yang dari cara berpakaiannya pun dapat di tebak mereka adalah orang kaya yang berkelas.
"Muna... kemarin kok ga datang ke acaraku. Kak Ferdy ga nyampein undangan ya...?"
"Kagak... kagak. Undangannye sampe kok. Tapi aye malu datang sendiri, kagak Pe-De ayenye."
"Hmm... Kak Kevin ga ada sih ya. Ya ga papa deh, tapi ntar pas pernikahanku, wajib hadir dengan atau tanpa kak Kevin. Oke...?"
"Insyaallah." jawab Muna selalu membalut wajahnya dengan senyum manis yang tercetak di wajahnya.
"Maaf menyela, kamu anaknya Rona... Rona Margaretha?" tiba-tiba mama Prety pada Muna.
"Maaf tante, kagak. Nyak aye namanye Fatime. Fatime Rukhayah." Jawab Muna bingung.
"Oh... maaf. Kamu mengingatkan tante pada teman masa kecil tante dulu. Mirip... ya mungkin hanya mirip, terutama mata kalian. Sama seperti Beatrix, maminya Kevin. Kamu ingat kan Pre...?" tukas mamanya pada Prety.
"Iya...ya. Pre kok baru nyadar sekarang ya. Eh..., tapi waktu kita ketemu di aparteman matamu hitam Mun."
"Huum... iya. Tentu kamu bukan anak Rona. Kamu gadis yang lucu." Lagi-lagi mama Ferdy menyeletuk, sebab pandangan matanya tidak lepas memandang dan memperhatikan gerak gerik Muna secara intens. Yang menurutnya adalah seorang gadis biasa dan sederhana.
"Makan Pre..., tante." Tawar Muna pada mereka.
"Bentar-bentar kita foto dulu Mun, mau aku kirim buat Kak Kevin." Ajak Prety yang langsung mengambil foto dengan kamera bagian depan pada ponselnya.
Selesai, lalu memasang pic pada SWnya juga mengirimkannya pada Kevin.
Belum habis hidangan yang mereka nikmati bersama di atas meja itu, ponsel Prety sudah berbunyi, meronta-ronta untuk minta segera di angat.
Sebuah panggilan video call, dan tentu saja itu adalah dari Kevin yang penasaran mengapa malam minggu Muna bisa bersama Prety, padahal tadi pamit berangkat bersama Siska.
"Pre... Kok bisa bareng Muna...?"
"Ga sengaja kak. Ketemu di mall XX. Dia sama cowok niih." Goda Prety pada Kevin.
"Hallah bohong. Dia pamitnya pergi sama Siska tadi."
__ADS_1
"Iya pas berangkatnya, tapi di sini ketemuan sama cowok. Muda, cakep lagi, cakep dari kakak."
"Mana... putar kameranya arahin ke dia." Geram Kevin tak tahan di goda Prety.
"Tuh... cowok kan." Prety mengarahkan pada cowok yng berada beda meja dari mereka.
"Beda tempat itu ah, kamu Pre, mengada-ngada saja."
Prety cekikikan melihat wajah kesal sepupunya tersebut. Lalu mengarahkan kamera pada wajah mamanya.
"Pre jalan sama mama kak."
"Mamaaa... maaf lama tidak main kerumah. Mama sehat?"
"Sehat raga Vin, tapi jiwa mama agak kurang baik." Jawab mama Leina dengan lembut sambil tersenyum ke arah kamera yang hanya ada wajah Kevin di hadapannya.
"Ada apa dengan jiwa mama, jangan buat Kevin khawatir mam." Nada bicara Kevin terdengar lembut dan sangat perhatian pada wanita itu.
"Mama terlalu rindu kamu. Bahkan acara Prety kemarin kamu tidak bisa meluangkan waktumu sedikit untuk kami."
"Maafkan Kevin mam. Kevin janji pulang kerja ini nanti. Kevin nginap ya di rumah mama. Sekalian mau kenalkan seseorang sama mama."
Mama Leina mengarahkan kamera kewajah cantik Muna yang terlihat sedang asyik menikmati makanannya.
"Mau kenalkan gadis itu?" tebak mama menggoda Kevin.
"Huumm... iya. Dia calon istriku, mam. Cantikkan...?"
Mama Leina megangguk dan kembali membalikan kamera ke arah wajahnya untuk di pandangi Kevin.
"Mirip mami Beatrix ya Vin." Ucapnya lirih kembali mengenang saudara satu-satunya yang telah lebih dahulu meninggalkan mereka.
"Iya... mereka memiliki mata yang hampir sama." Jawab Kevin yang dapat membaca kesedihan di raut wajah mama Leina tersebut.
"Mam... jangan sedih. Secepatnya Kevin ajak ke mama dan mohon doa restu kalian semua ya mam. Doakan Muna jodohnya Kevin."
Mama Leina hanya mengangguk dan menyerahkan ponsel itu kembali ke Prety, kemudian mengusap air mata yang tanpa seijinnya jatuh begitu saja, menyadari jika kini Kevin telah jauh berubah. Tidak sebagai Kevin yang angkuh dan dingin lagi. Seperti 5 tahun terakhir sepeninggalan Beatrix saudara kandungnya.
Bersambung...
Huuum, jangankan mama Leina.
Semua readerku juga udah banyak kasih doa buat Kevin dan Muna biar segera halal.Ye khan mpok-mpok yang bae hati.
__ADS_1
Lopeh-lopeh buat kalian semua
❤️❤️❤️🙏🙏🙏😘😘😘