
Kedatangan Kevin kali ini seolah seperti balas dendam. Sebab kemarin ia hampir 3 minggu pulang ke Indonesia. Untuk itu kali ini ia juga ingin memberikan waktu selama itu mungkin bahkan lebih untuk bisa stay di Apeldoorn.
Drama makan malam yang tidak senyaman biasa sudah selesai. Kini Keduanya sudah berada di kamar mereka, Kevin lebih dahulu melepas lelah yang tak jelas itu ke atas pembaringannya.
Muna pun menyusul Kevin, setelah membersihkan tubuhnya mengenakan gaun malam tipis bertali satu tanpa kain renda bercup di dalam tentunya.
Otong on fire dong. Tapi, Kevin berusaha untuk cuek pada penampilan Muna malan itu. Ia mulai membuka laptopnya, pura-pura akan memantau kantor yang sebenarnya masih aman walau 3 hari tanpa di pindai.
"Mestinya abang ga usah buru-buru ke sini kalo masih sibuk. Nih... Muna harus ngantri lagi kan di peluk abang, gantian sama laptop." Suara Muna pelan agak manyun memiringkan tubuhnya menenpel ke posisi Kevin yang masih duduk bersandar kepala pada sisi ranjang.
"Ga buru-buru. Hanya ingin mengalihkan fokus aja, takut makan istri yang seharian udah lelah ngampus." Jawab Kevin menutup laptopnya dan meletalan di nakas.
"Maaf yang, kemarin tugasnya beneran hampir deadline." rengek Muna agar Kevin merasa di butuhkan.
"Iya ga papa. Abang ngerti kok." suara Kevin datar, jelas sekali bagi Muna, Kevin sedang tidak baik-baik saja
"Tapi ngape wajah abang kagak seceria biasanya. Abang marah ame aye? Kagak ikhlas tadi bebersih rumah?" tebak Muna asal.
"Tidak. Mau bebersih rumah tingkat 7 juga abang masih kuat."
"Lalu... kenapa wajah abang di tekuk gini. Wajah laki aye tuh kagak gini bang."
"Abang kecewa aja ama Mae." ucapnya lirih.
"Salah Muna apa?"
"Mae lupa atau ga tau kalo hari ini abang ulang tahun?"
"Eeh buseeet. Paginye inget, malam ini baru lupa." Kekeh Muna lalu beranjank keluar kamar menuju dapur.
"Kemana?"
"Tunggiin di situ dah." cerocos Muna yang buru-buru memgambil kotak cake di lemari pendinginnya.
"Selamat ulang tahun suamiku tercinta. Maaf kuenya kecil saja, tapi percayalah cinta Muna bahkan lebih besar dari dunia ini buat abang Kevin Sebabstian Mahesa. Semoga sehat selalu agar panjang umur, makin sabar menghadapi Muna ya dan selalu mengandalkan Allah dalam semua pengambilan keputusan kita. Make a wish dulu ya pap." Muna sudah masuk dengan sepiring cake yang sudah di tancapi sebuah lilin menyala.
"Aaaiiih istriku penuh kejutan." Raut wajah Kevin berubah bahagia. Tidak menyangka di sela kesibukan dan di balik wajah cueknya, ternyata Muna sudah menyiapkan kejutan untuknya.
Kevin patuh, memanjatkan doanya terlebih dahulu. Kemudian meniup lilin itu, dan menyodorkan cake kecil itu pada bibir istrinya.
"Kita gigit bareng ya sayang." pinta Kevin. Sehingga mulut keduanya pun kini sudah penuh dengan cake yang memang hanya seukuran roti boy. Super kecil dan hemat untuk ukuran ultah sultan.
"Terima kasih istriku sayang. Abang tadi udah hampir pesan tiket pulang lo. Kesal tau ga kalo sampe Mae lupa ini ultah abang."
__ADS_1
"Hm... segitu ngambeknya. Abang ga minta kado kan dari Muna?"
"Mae sayang. Memiliki kamu itu udah kado terindah buat abang."
"Alhamdulilah. Ga keluar duit kalo gitu. Muna benernya bingung mau kasih abang kado apa. Abang udah punya segalanya sih. Maaf ye... kita ngerayainnya cuma di atas tempat tidur gini. Tadi di ajak makan di luar abang kagak mau sih."
"Abang emang maunya ngerayain ultah abang sampe pagi sama Mae aja di sini. Udah ga sibuk kan. Dari kemarin otong menahan diri lho Mae. Kagak kasian lu ame otong?" Kevin sudah meremat dada Muna, lelah menunggu dan tidak ingin melepaskan kesempatan untuk menjarah tubuh istrinya.
"Bentar, tadinya mau ga kasih abang kado. Tapi, mungkin ini rejekinya abang." Ucap Muna yang hanya perlu memalingkan tubuhnya ke arah nakas dan menyodorkan sebuah kotak persegi untuk suamimya.
"Apa niih? cincin?"
"Buka aja dulu. Itu hadiah spesial, limiteid edition. Jarang eh, ga pernah di jual di pasaran." Jawab Muna sambil memeluk sayang perut Kevin.
Kevin membuka kotak persegi itu. Menatap takjub dengan benda biru putih bergaris merah dua di dalamnya. Serta sebuah tulisan di secarik kertas di dalamnya.
^^^"Surprise. You're Going^^^
^^^To Be A Pap."^^^
^^^By. Istri yang selalu mencintaimu❤️^^^
"Yang... sayang tolong jelaskan. Apa maksud tulisan ini yang." Kevin tergugu, meminta penjelasan pada istrinya.
Muna hanya tersenyum dan mencium pipi suaminya.
Muna mengangguk berkali-kali ke arah suaminya.
"Yang... pliis yang jangan becanda gini aah. Ga lucu yang." Cecar Kevin seolah seperti mimpi akan isi kado dari Muna.
"Iya pap. Istrimu positif hamil. Tapi Muna belom ke dokter. Hanya curiga aja, udah telat 10 hari. Pas abang bilang mau datang, iseng Muna beli tespack. Alhamdulilah, kita udah di percaya Allah jadi orang tua yang."
"Alhamdulilah. Makasih sayangku."
"Makasihnya sama Allah suamiku. Ini terjadi atas ijin-Nya." Kevin merosot mencium perut Muna.
"Asalamualaikum anak papa, baik baik di dalam sana ya nak. Ya Allah, jagalah anakku selama ia berada dalam perut istriku, sehatkan ia, sesungguhnya Engkau Yang Maha Menyehatkan, tak ada kesehatan kecuali kesehatan dari-Mu, kesehatan yang tak terganggu penyakit. Amin." Doa Kevin dengan penuh kesungguhan bahkan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sini abang peluk aja sampai pagi." Tarik Kevin pada tubuh Muna dan membenamkannya di dada bidangnya.
"Otong kagak main ke mumun yang?"
"Emang boleh?"
__ADS_1
"Menurut ilmu kedokteran sih, sebaiknya di hindari kalo usianya baru ini." Jawab Muna
"Ya udah, nanti otong abang tugasin jaga closet aja kalo dia nekat kebelet."
"Masyaallah abang segitunya sama otong, ga kasian?"
"Heeem.. jangan mancing. Muna kali yang ga tahan mau di santronin otong." Kekeh Kevin masih mengelus perut rata istrinya.
"Sorry ya. Makanya semalam Muna akting banyak tugas, supaya otong ga punya kesempatan main."
"Oh, jadi sejak abang datang udah di prank sama Mae...?" tanya Kevin dengan mata melotot.
"Iye.. Muna takut si calon bayi di goncang otong. Jadi pura-pura sibuk aje. Tadi juga ngampusnye bentar doang, Muna ngadem aje di perpus."
"Eh Buseeet. Kenapa ga ngadem di rumah aja?"
"Takut di makan abang, dari siang."
"Aiiih...Sudah sebangasa predator saja kamu pikir suamimu ini Mae?"
"Bukan yang. Pesonamu melelehkan imanku. Mana tahan deket abang bisa di liat doang."
"Maunya di apain?"
"Di sambarlah. Tampan gini, gagah perkasa lagi." Ujar Muna mengigit rakus leher suaminya.
"Pliis deh jangan mancing Mae. Otong masih jetlag lho. Belum sepenuhnya sadar kalo dia belum punya ijin terbang dari dokter."
"Muna kangeeeen abang." Goda Muna yang tentu saja membuat Kevin beserta otongnya blingsatan.
"Tidur Mae. Besok kita ke dokter, mastiin keadaan si anak papap."
"Ciih... kayak anaknya sendiri aje."
"Iya... anak kita. Terima kasih untuk semuanya ya sayang." Kecup Kevin lama di kening Muna.
"Sama-sama suamiku tersayang. I love You."
Bersambung...
Semoga selalu semangat nungguin up nyak ya readers semua.
Lope se Indonesia❤️
__ADS_1
Anggap aja ini kadonya ya gaes😍