OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : CEMBURU BUTA


__ADS_3

Posisi Gita duduk searah di atas paha Gilang. Akibat ulah jahil tangan suaminya itu membuat Gita memilih menggeser punggungnya ke kiri agak bersandar manja dengan lengan kekar Gilang.


Mengangkat tangan kirinya ke arah wajahnya, lalu berkata.


"A'... jangan digrepek grepek pake tangan. Enakan di isep." Haaiiiissh Gita diam diam nakal juga ternyata.


Gilang tersenyum smirk, segera meloloskan kacing kecil dari lobangnya agar akses menuju bulatan kenyal menggiurkan itu dapat ia bebaskan dari dalam kain gendongannya.


Hap lalu di lahap.


Dalam lingkaran kecil kecoklatan itu ada tombol kemerah mudaan, yah. Namanya juga tombol ya, tentu saja jika di sentuh tentu menimbulkan reaksi dari hasil pencetan tersebut.


Wajah keduanya memerah lagi, ada gelenyar aneh yang membuat jantung keduanya berdesir desir tak karuan. Jantung seketika berpacu lebih cepat, aliran darah pun terasa menjalar menghangat.


Jika hanya lidah Gilang yang membasahi tombol tadi mungkin mengapa. Celakanya tangan kanan Gilang yang memperparah keadaan. Ngapain coba itu tangan sudah gerayangan lagi di area terlarang rumah si itimg iting. Walau hanya dari luar, tapi itukan bikin Gita bedenyut.


"A'a... masa kita gituan lagi?" Gita tak habis pikir, bukankah sebelum ke rumah ibu sore tadi mereka sudah main perang perangan, masa iya setelah makan malam di rumah ibu, mereka melakukan permainan itu lagi.


"Ga papa, besok kan minggu Neng. Kita masih libur." Rayu Gilang yang entah lah selalu ingin menyalurkan hasratnya selalu datang saat mereka berdua duaan, hampir setiap saat.


"Yakin... ini bahkan belum pukul 9 malam lho a'ayank. Cek pintu dulu kali, eneng trauma kasus bi Inah tadi A..." Aku nya jujur sembari memperbaiki posisi senderannya tadi, agar mereka tidak semakin terjerembab dalam lembah kenikmatan selanjutnya.


Gilang mengecup kening Gita sebentar, lalu meletakkan Gita di tepi ranjangnya pada posisi duduk sendiri. Kemudian ia pun beranjak meninggalkan kamarnya, setelah merasa aliran darahnya sudah normal.


Mungkin Gita memang sangat peka, walau ia pun sempat tersengat isapan suaminya tadi. Tapi pikirannya masih waras untuk tidak melakukan hal itu di jam yang lumayan masih sore untuk ukuran pengantin baru.


Saat Gita dan Gilang masuk kamar tadi ibu Gilang sudah lebih dahulu masuk kamarnya, di kira sudah lelap saja tertidur. Ternyata saat Gilang ingin memastikan pintu rumah depan, ibunya terlihat duduk sendiri di teras rumahnya.


"Ibu... kenapa di luar?"


"Panas."


"Kan ada kipas angin."

__ADS_1


"Ga alami, masih gerah."


"Gilang pasang AC di kamar ibu ya."


"Ga usah. Duitmu pasti sudah habis banyak untuk nikah kemarin."


"Ibu... semua ada rejekinya. Kemarin cuma akad, uang Gilang baru terpakai untuk menyiapkan mahar dan seserahan. Dan yang lainnya semua mertua Gilang yang siapkan." Jujur Gilang yang akhirnya memilih duduk di teras menemani ibunya.


"Oh... jadi kamu sudah di beli oleh mertuamua, jadi harus kamu yang melayani istrimu yang anak orang kaya itu." Nada suara ibu Gilang sudah naik satu oktav.


"Astagafirullahalazim... ibu bicara apa sih?" Dzikir Gilang istigfar.


"Ibu tidak suka istrimu semena mena menyuruhmu melakukan ini itu, sampai mengambilkan nasinya saja kamu!" oh... ibu masih tersulut kasus di meja makan tadi.


"Ibu Gilang tersayang. Eneng tidak pernah meminta Gilang begitu, yang tadi inisiatif Gilang sendiri. Ini hari pertama dia di rumah kita, sebagai istri. Mungkin dia sungkan. Nanti kalau dia nyelonong nanti di kira ga sopan lagi. Menurut ibu bagaimana?"


"Ga tau. Pokoknya ibu ga suka, mentang mentang kaya dia mau jadikan kamu hanya kacungnya." papar ibu masih rada emosi.


"Bu... jangan berburuk sangka. Eneng tidak begitu orangnya. Insyaallah, Gilang kepala keluarga dalam rumah tangga Gilang, pasti bisa membimbing istri Gilang. Dan tetap akan memperhatikan ibu tentunya." Gilang meyakinkan ibunya.


"Maaf bu, sebenarnya apa gunanya kemarin ibu bahkan menyerahkan satu set perhiasan untuk Gita yang waktu itu hanya berstatus calon istri. Kenapa setelah seminggu kami menikah ibu tiba tiba curiga. Lebih baik ibu tentang saja rencana pernikahan kami, jika setelah jadi istri Gilang, isinya ibu hanya cemburu begini." Lama lama Gilang juga hilang sabar, dengan sikap kekanak kanakan ibunya yang tiba tiba.


"Tuh, bahkan baru seminggu menikah, kamu sudah berani sama ibu. Pasti dia yang pengaruhi kamu."


Gilang menarik nafas dalam, demi membuang rasa sedikit marah yang terselip dalam hatinya.


"Bu... eneng Gita ga gitu. Tolong ibu jujur saja, ibu maunya Gilang bagaimana?" tanyanya yang malas berpikir.


"Ga ada. Ibu ga mau gimana gimana. Hanya ibu tidak mau anak lelaki ibu bertindak bagai pelayan untuk istrinya. Ibu memperlakukanmu bagai raja selama ini, ibu tidak mau hal itu terjadi terbalik dalam rumah tanggamu." Jelas ibu Gilang.


Gilang menarik lalu membuang nafas kasar, mengeryit dahinya memutar otak. Tak ingin bicara apapun akan hal itu. Sebab mungkin tidak akan ada habisnya.


"Ibu sudah makan obat malam ini?" Gilang mengalihkan topik.

__ADS_1


"Belum." jawab ibu singkat.


"Sebelum makan obat, biasanya ibu makan singkong rebus. Sudah?"


"Belum." Jawabnya lagi.


"Kedalam yuk, di luar makin dingin. Gilang temani makan singkong rebusnya dulu. Lalu makan obatnya, dan Gilang temani tidur." Ujar Gilang yang sudah menarik tangan ibunya, untuk masuk ke dalam rumah mereka.


Rupanya rebusan singkong sudaj Arum siapkan di atas meja makan tadi.


Ibu sudah mulai akan mengambil singkong tadi dan akan menyuap singkonh rebusnya.


"No... no... no. Ibu mengunyah saja, nanti Gilang yang suapin." Ujar Gilang memilih berbagi sayang saja pada wanita yang melahirkannya ini.


Ibu Gilang tersipu, bagai remaja yang baru saja terserangan sengatan jatuh cinta.


"Ga usah, ibu bisa sendiri." tolaknya pura pura.


"Hmmm... ga boleh nolak. Gilang besok sudah pindah lho. Nanti ga ada kesempatan sayang sayangan dengan ibu." Rayu Gilang yang sadar, mungkin ibunya kurang kasih sayang dan perhatiannya. Cemburu memang buta, tapi mestinya tidak dengan menantu jugakan.


Malu malu mau ibu Gilang pun mengunyah singkong itu hingga ***** dan menelannya sampai habis.


"Obatnya lagi." Perintah Gilang menyodorkan segelas air dan obat untuk ibunya.


Ibu Gilang patuh, mengikuti semua perlakuan manis Gilang untuknya. Tidak tanggung tanggung. Gilang benar hingga rebah di sampinh ibunya. Menenangkan wanita yang melahirkannya.


Dengan lembut mengusap punggung ibunya. Sembari berkata : "Ibu terima kasih sudah melahirkan Gilang, mendidik dan mengajar Gilang dengan baik. Ibu tau apa yang neng Gita katakan pada Gilang setelah bertemu ibu untuk pertama kalinya." Pancing Gilang.


"Apa?" penasaran ibu Gilang.


"Dia sangat bersyukur bertemu dengan Gilang, dan merasa yakin jika selama ini Gilang pasti di rawat, dan di arahkan oleh wanita bijaksana dan kuat seperti ibu. Dia sangat salut akan ketegaran ibu menjadi singel parent, tanpa menikah. Sikap Gilang menurutnya tak lepas dari dorongan seorang wanita hebat seperti ibu, di belakang. Jadi ia sangat merasa beruntung, memiliki suami seperti Gilang, yang pasti memiliki ibu yang luar biasa." Entah kapan Gita bicara sedetail itu pada Gilang. Tapi yang pasti, Gilang merasa perlu memberi warna lembut di antara ibu dan istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


Readers... masih ajang balada menantu dan mertua nih🤭


__ADS_2