OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 123 : RUMAH SAKIT


__ADS_3

Kevin segera menetralkan hati dari keterkejutanya setelah mendapat jawaban dari seseorang saat ia menelpon babe tadi. Tanpa berpikir panjang ia segera menuju mobilnya untuk menyambangi rumah sakit sesuai info yang ia terima tadi.


Sepanjang jalan Kevin hanya berusaha untuk tenang dan tidak panik. Namun ia sudah lupa untuk menghubungi Muna seperti tadi. Ia hanya fokus dengan babe, dan merasa sedikit bersalah mengapa tidak ia saja yang menjemput calon mertuanya walau memang terdengar menolak semalam.


Kevin sudah berada di UGD, tampaknya bukan hanya babe yang menjadi korban. Ada kecelakaan beruntun dan babe terjepit di antara mobil yang sedang bertabrakan atau saling seruduk di jalan menuju kantor Kevin tadi.


Pihak kepolisian sudah wara wiri demi memberikan penjagaan dan memastikan keadaan seluruh korban. Bagi korban yang menggunakan mobil tentu saja tidak terluka parah, hanya tampilan mobilnya saja yang ringsek. Berbeda dengan korban yang mengendarai motor roda dua, dapat di pastikan kondisinya mengalami patah tulang.


Kevin sudah langsung menghambur saja ke dalam yang ternyata sudah ada Muna dan nyak Time yang justru lebih dahulu datang dai dirinya. Muna bahkan tidak peduli ritual pingitannya sudah bermulai hari itu, sebab hatinya cenat-cenut gelisah saat di beri kabar jik babe mengalami lakalntas.


"Mae..." tegur Kevin yang melihat ada kaca-kaca bening mengembun di bola mata calon pengantinnya tersebut.


"Maaf bang... tadi kagak bisa langsung hubungi abang." Jawab Muna.


"Ga papa sayang... kita semua panik." Kevin sudah menyampirkan tangan kekarnya di bahu Muna. Memberikan sedikit rasa nyaman agar gdisnya merasa sedikit tenang.


"Keluarga pasien Rojak Baidilah." Panggil salah seorang perawat yang keluar dari ruang observasi UGD.


"Iya... kami." Jawab Muna tanggap.


"Silahkan masuk, ada yang ingin dokter sampaikan."


Tanpa ba... bi ... bu, nyak Time sudah nyelonong saja di ikuti Muna dan Kevin yang masih menyimpan rasa was-wasnya masing-masing.


"Keadaan pasien cukup parah, ada faktur ditulang kaki kiri, retak bagian bahu juga luka di kepala. Ini termasuk luka terbuka, sehingga pasien banyak mengeluarkan darah. Mohon maaf untuk stok darah, rumah sakit kami mengalami kekuragan jenis darah pasien, sehingga jika memungkinkan, sala satu dari keluarga dapat mendonorkan darahnya untuk pasien." Terang dokter pada mereka yang masih terlihat gugup dan panik di sana.


"Pake darah aye aje dokter." Jawab Muna dengan lugas sembari mengulurka tangan bajunya dan mendekati perawat.


"Mari silahkan ikut kami." Perawat pun mengantarkan Muna menuu ruangan untuk memeriksa darah dan segera melakukan pendonoran darahnya.Tak lupa membawa sampel darah milik babe.

__ADS_1


Nyak Time tidak dapat berkata apa-apa, ia sudah di perbolehkan mendeati babe yang masih belum sadarkan diri. Kevin memilih berdiri di dekat nyaak Time. Meminta ijin untuk menggenggam tangan nyak Time, lagi. Untuk memberikan rasa nyaman dan memberi dukungan pada calon mertuanya yang tampak begitu rapuh.


Perawat kembali menyambangi mereka tanpa Muna. Mungkin transfusi darah tengah berlangsung.


"Maaf... keluarga pasien apakah ada lagi yang bisa kami cek darahnya? sebab goloongan darah mbak yang tadi tidak cocok dengan darah pasien. O+ sedangkan yang tadi A. Dan stok darah di rumah sakit kami benar-benar kosong untuk jenis darah tersebut." Terang perawat bermimik serius.


Jeleduuuk jedeeeer.


Penjelasan perawat tadi bagai menelanjangi nyak Time yang hanya bisa menangis sesungukkan, sudah dalam pelukan Kevin.


"Apa solusi lain suster, apa sama sekali tidak bisa di usahakan?"


"Kami sudah menghubungi PMI, tetapi juga belum mendapat jenis darah tersebut."


"Pindah rumah sakit saja... bisa di hubungi rumah sakit mana saja yang memungkinkan babe saya bisa segera di ambil tindakan." Kevin berujar dengan sedikit geram, menyadari betapa kecewa dengan stok ketersediaan darah yang tidah selalu ada.


"Pin... bantu nyak Pin. Bagaimanapun babe harus sembuh Pin." Nyak Time akhirnya bersuara.


"Iya... nyak sabar. Pokoknya apapun akan kita lakukan supaya babe bisa sadar dan segera sembuh.


"Be... yang kuat be. Jangan macem-macem. Sabtu anak kite kawin be, babe ngape sih jalan kaga ajak nyak...?" tangis nya menjadi-jadi.


"Nyak... darah Muna ngikut nyak ya... jadi beda sama Muna?" Spontan Kevin bertanya tanpa sadar karena sedikit kecewa golongan darah mereka sama sekali tidak sama.


"Kagak... golongan darah nyak B, Pin." Jawab nyak Time yang masih bersimbah air mata.


"Kok bisa lengkap gitu golongan darah di rumah, nyak?"


"Pin... maaf nyak babe malah belum sempet cerite kalo Muna entuh anak yang kami temuin di deket pembuangan sampah waktu kami tinggal di alamat sebelomnya." Kevin kejut jantung, menyesal tidak menggubris kata-kata papinya beberapa hari yang lalu tentang asal usul calon istrinya. Masih dengan memeluk nyak Time dengan posesif dan menepuk bahu calon mertuanya, menutupi rasa galau yang tetiba bagai sebuah petir menyambarnya.

__ADS_1


"Permisi, kami sudah menghubungi pihak rumah sakit yang kebetulan tempat salah satu dokter praktek. Di Hildimar Hospital ada stok darah untuk pasien, jika bersedia kami akan menyiapkan rujukan ke sana." Perawat tadi datang dengan tergopoh untuk menyampaikan informasi penting.


"Siap... baik. Tolong segera lakukan evakuasi. SEGERA!!" Jiwa kepemimpinan sang spesialis pengambil keputusan pun keluar dari seorang Kevin Sebastian, yang terdengar sangat tegas. Perawat itupun kembali menyampaiakan pada rekanan lainnya untuk segera menangani babe, uantuk segera di pindahkan ke rumah sakit swasta tergolong elit di daerah Jakarta Selatan.


Sementara di luar ruangan UGD, ada sepotong hati yang tiba-tiba menciut menyadari darahnya berbeda dengan babe Rojak. Rungunya sangat dapat mendengar dengan jelas dengan sebuah kata 'Muna etuh anak yang kami temuin di dekat pembuangan sampah'. Muna terduduk lemas mengetahui akan sebuah kebenaran yang tidak pernah sama sekali di curigainya selama ini. Muna kecewa, mengapa justru pada Kevin. Orang tuanya berkata jujur dari pada dengannya.


Jangan tanya betapa hancurnya hati Muna mendapati sebuah kenyataan. Ia hanyalah anak yang di temukan di dekat tempat sampah. Fix Muna adalah anak buangan. Ia tak lebih dari seonggok sampah yang tak di inginkan. Belum selesai hatinya mencerna kenyataan jika ia bagai serpihan tak di inginkan, ia lebih kecewa dengan sebuah kenyataan jika selama ini kedua orang tua yang di sayanginya justru menyimpan semua itu dengan apik.


Bukankan babe Rojak selalu menanamkan kebaikan, mengutamakan kejujuran. Tetapi mengapa rahasia statusnya bahkan sepakat mereka tutupi, bahkan tidak pernah ada tanda-tanda untuk mengatakannya sendiri.


Muna nelangsa, hatinya gundah gulana. Kecewa, marah, benci merasa tak di anggap oleh orang tua kandung yang tega membuangnya di tempat sampah, pun lebih merana atas ketidak jujuran babe dan nyak yangsolah menganggap ini bukan hal yang utama.


Masih sanggupkah Muna menganggap mereka orang tuanya?


Siapa sebenarnya orang tua kandung yang tega membuangnya?


Apa takdir sesungguhnya yang ingin Tuhan tunjukkan untuknya.


Bahkan kini untuk berjalan saja, kakinya terasa lumpuh, rapuh tak berdaya.


Bersambung....


Tarik nafas dulu ya gaes


Harap tenang


No baper, no debat n no unfav


Semua harus kita kuliti hingga tuntas πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2