OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 198 : TIBA-TIBA ROMANTIS


__ADS_3

Berada di rumah babe setelah di rehab ternyata lumayan merubah atmosfir penghuninya. Kamar Muna yang dulunya hanya kotakan kecil, kini semakin membentuk persegi panjang, luas. Dengan segala isi yang sebagian besar baru, tentu berubah 180 derajat, ya maklumlah. Suami Muna sultan buka Sobri.


Kasur Muna sudah pindah ke atas loteng untuk Siska. Akses masuk Siska pun bisa lewat dalam rumah, juga bisa lewat luar rumah, yang di desain khusus oleh Kevin, sebab menurutnya. Mungkin saja Siska besok ingin atau punya teman kencan. Sehingga di atas juga Kevin buat rooftop ala ala Korea begitu, untuknya bersantai.


"Abang tau saja, Siska suka yang ala-ala Korea. Ini tuh jadi persis banget lho kayak di drakor. Waah... Ada jemuran juga di mari, ada tanaman, iish juntaian lampu dan meja makan. Abang perhatian banget sih sama Siska?" Cerocos Muna saat mereka sudah berada di rooftop rumah babe Rojak.


"Jangan bilang istriku cemburu." Tebak Kevin bercanda.


"Hah... sape yang cemburu. Kalo abang ame Siska saling suka tuh, kenapa kagak dari waktu kita pisahan dulu aja kalian jadian, ya pan?'


"Nah tu pinter. Cinta abangnkan sudah hanya untuk Mae seorang. Sayang." Cup, pipi Muna dapat kecupan mendadak dong dari Kevin.


"Huum, abang tercipta kagak dari tanah niih?


"Gimana?"


"Tapi dari gula. Manis bener." Racau Muna belajar menggombali suaminya.


"Ha...ha... biasa ae bini abang." Kekeh Kevin senang.


"Ini statusnya masih rumah babe lho. Besok kalo Siska nikah juga belum tentu terus tinggal di sini. Tapi, anak-anak kita yang nantinya akan bermain di sini. Ya kan?" Kevin menjelaskan.


Muna beranjak memeluk Kevin penuh sayang, dan sedikit memberi kecupan di pipi suami yang makin hari makin terasa sayang dan cintanya padanya.


"Huum... Iya juga sih. Abang nanti ijinin anak kita deket sama babe dan nyak?" tanya Muna tiba-tiba.


"Ya iyalah. Mae liat sendiri mama dan abah masih banyak beban pekerjaan kan. Sedangkan babe dan nyak bahkan sudah berhasil mengasuh dan mendidik istriku menjadi orang baik hati ini." Muna hanya mengangkat kedua bahunya. Sedikit membenarkan yang Kevin katakan.


Tin


Tiin


Suara klakson motor yang berhenti di teras rumah babe.


"Abang turun bentar ya. Itu pasti kurir yang antar makanan pesanan abang tadi." Dengan cepat Kevin menuruni tangga di samping luar, sehingga langsung dapat mengambil paketannya.


Kevin kembali ke atas dengan membawa 2 kotak lumayan besar. Membuka dan menatanya di atas meja yang telah siap di sana.


Kimbab, Kevin sudah memesan paketan Kimbab lengkap yaitu hidangan yang terbuat dari nasi dan bahan-bahan seperti timun, wortel, dan daging filet saos bulgogi yang telah diiris-iris tipis yang digulung di dalam gim atau rumput laut kering.


"Mas-issge deuseyo (selamat makan)"


"Sejak kapan abang suka ala Korea?"

__ADS_1


"Ga tau? Bawaan bayi kali Mae."


"Apa salahku papap? Aku tak tau apa-apa, kenapa di bawa-bawa. Ini fitnah papap." Kekeh Muna berdialek anak kecil, seolah itu jawaban dari calon anak yang masih di dalam perutnya.


Kevin mengelus perut Muna.


"Maaf nak, iseng aja. Supaya mamamu tersenyum bahagia. Nanti malam papap tengok ya nak. Yang kuat di dalam, papap lima hari lho absen. Nanti papap rapel saja dalam semalam." Canda Kevin absurd.


"Abbbaaaaang, norak deh." Toa berkumandang kembali.


"Aaaah. Norak-norak juga suka kan." Kecupnya pada pipi Muna yang memerah.


"A..." Belum sempat verbal Muna keluar. Kevin sudah menyumpal mulut Muna dengan daging panggang saos Bulgogi itu, agar Muna segera diam dan menikmati makan sore mereka yang tiba-tiba romantis.


Keduanya masuk rumah untuk melaksanakan sholat kemudian memilih naik kembali menikmati malam di atas atap rumah babe. Dalam malam kelam penuh bintang, yang sinarnya tampak kalah oleh besarnya ria sinar bulan purnama di sana. Keren.


"Kagak nyangka bisa nikmati malam ini, bahkan di atas atap rumah yang penuh kenangan masa kecil Muna. Terima kasih ya suamiku tercinta." Desis Muna dalam penuh ketulusan.


"Makasihnya ga usah di ucapkan, lewat pelayanan prima saja sebentar lagi."


"Ih... Pamrih. Ga ikhlas nih?"


"Ikhlas kok."


"Siapa yang ngarep? Ibadah itu, nambah pahala ini."


"Alasan. Udah basi kali. Sini... Sini buruan sesap di sini, atau mau di sini." Muna menantang menyodorkan lehernya dan membuka sedikit kemeja berkancing depannya.


"Waah parah. Jangan-jangan kamar Siska bakalan ternoda nih malam ini. Akibat kebelet mesum dengan ibu hamil." Bahak Kevin yang lebih memilih merebahkan dirinya beralaskan paha Muna, agar bisa mencium perut Muna.


"Turun yuk sebelum kebelet." Goda Muna.


"Bentar masih mau di sini sayang."


"Nolak ibadah?"


"Eeeh... Kenapa jadi kebalik sih." Kekeh Kevin.


"Eeh... Yang... Sayang. Apa maksudnya status WA Siska ya?" Muna iseng menscrol sekedar melihat status orang-orang yang ada di kontaknya.


"Ih Mae Kepo."


"Biarin."

__ADS_1


"Apa tuh?"


"Jiaaah ketular kepo."


"Buruan aah."


"Mungkin kamu sedih, karena kalian telah lama bersama. Tapi... Aku dosa ga sih? Seneng gitu tau kalian 'putus'." Muna membacakan isi SW Siska.


"Siapa yang di maksud?" tanya Kevin.


"Huuummm tanyain ga ya?" Muna berbicara sendiri.


Kevin bangkit dari posisinya. Lalu meraih tubuh itu dalam pelukannya.


"Ga usah repot ngurusin orang lain. Urusan kita juga ga kelar-kelar. Yuks, papap mau nengok baby." Ujar Kevin yang merangkul Muna dari belakang dan mengarahkannya menuruni tangga menuju rumah dan masuk ke kamar mereka.


Semakin perut Muna membesar, entah mengapa Kevin makin suka melihatnya dalam keadaan polosan. Hanya ada kain kecil setali yang masih melekat menutupi area teras rumah mumun.


Dan Kevin pun tidak langsung menerkam istrinya, ia lebih suka memandang, mengelus, juga meraba tiap inchi tubuh padat berisi tersebut.


Sampai nafas Muna tersengal-sengal meminta di perlakukan lebih dari hanya di sentuh lembut. Gerayangan tangan Kevin saja mampu membuatnya meremang bahkan meminta untuk di sentuh dengan lidah lembut nan lincah itu.


Muna tidak sepolos dulu, yang kadang malu untuk meminta lebih dahulu. Kini ia bahkan buas, bosan menunggu terpasung dalam gairah yang membara akibat gerakan pemanasan oleh suaminya.


Muna memilih duduk, menindih tubuh polos suaminya. Kevin terkekeh melihat perlakuan wanita berperut buncit di atasnya. Yang di matanya semakin seksy dan menggelora, saat gundukan padat berukuran large itu ikut naik turun sesuai goyangan yang tercipta dengan sendirinya akibat amukan mumun yang sedang sibuk menjepit kepala otong. Ah... sedap.


Peluh Muna membanjir hampir di seluruh permukaan kulit tubuhnya. Kevin tak ingin istrinya lelah, ia tak tega melihat wajah Muna menghadapi permainannya, yang sengaja ia tunda sedari tadi. Maka dengan lembut ia sudah membalik posisi dan segera akan mengakhiri pernyatuan mereka. Dengan mulut yang masih berada di gundukan padat berisi di atas dada.


"Iish, berair. Kenapa nih yang?" Panik Kevin merasakan mulutnya basah bagai banjir tak percaya jika itu adalah salivanya.


"ASInya keluar Pap. Ngisepnya kekencengan tuh." Kekeh Muna senang melihat kebingungan Kevin.


"Kok bisa?"


"Ya iyalah... Ini tuh sudah masuk trimester akhir pap. Artiya sudah ada persiapan untuk masa menyusui nanti. Baby juga udah mulai sesak bergerak di dalam." Jawab Muna mengelus kepala Kevin penuh sayang.


Bersambung....


Pliis jujur dong reader belum bosan kan baca tulisan nyak?


Komen yaak🙏


Titip pic Kimbab yak😍

__ADS_1



__ADS_2