OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 188 : URING-URINGAN


__ADS_3

Kedatangan Kevin kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kevin sudah jauh-jauh hari mengatakan pada Muna jika ia akan datang. agar Muna tidak lagi kaget seperti bulan lalu. Dengan harapan agar segala bentuk penyambutan dan persiapan Muna matang dalam menghadapinya. Terlebih-lebih karena ia berulang tahun. Besar kepala ga sih, Kevin mau Muna adalah orang pertama yang mengucapkan itu pertama kali dan secara langsung juga.


Namun ternyata walau Kevin telah menyampaikan jadwal kedatangannya pada Muna, Kevin agak sedikit kecewa. Sebab Muna terlihat benar sibuk dengan tumpukan buku tugasnya. Kevin hampir di cuekin.


"Sayang... nyak ada titip jengkol tuh. Katanya kesukaanmu. Mau bawa yang udah masak, takut basi. Nanti sayang aja yang masak ya. Kemarin sebelum kesini. Nyak ada masak semur. Tapi beda rasa yang, ga seperti buatan mu. Hampir muntah rasanya kemarin pas makannya." Kisahnya sambil mengusik rambut Muna yang masih terlihat duduk di depan meja belajarnya.


"Ya beda tangan yang buat tentu beda rasa lah yang." Jawab Muna sekedarnya masih fokus dengan tugasnya.


"Besok buatkan ya Mae, yang enak kayak waktu di pantry."


"Katanya mau muntah...?"


"Kan itu buatan nyak. Kali aja yang buatan Muna ga gitu responnya. Yaa Mae."


"Manjanya suamiku."


"Kalo ga manja sama istri sendiri, abang manjanya sama siapa donk?"


"Iya... besok Muna masak. Tapi ada syaratnya."


"Apaan?"


"Malam ini jangan minta jatah ke munun dulu ya bang, tugas Muna banyak banget. Besok siang harus di kumpul"


"Ga usah masak deh besok. Jadi boleh ya malam ini dapat jatahnya."


"Ya tugas Muna tetap di kerjakan sampe selesai yang."


"Sini abang bantu kerjain tugasnya saja."


"Heeemmm, nanti Muna ga bisa pinter kalo tugasnya abang yang buatkan."


"Bantu doang, ga ngerjakan juga."


"Demi apa?"


"Main ke Mumun lah."


"Peluk aja, sumpah tugas Muna banyak yang."


"Pliiis deh, kok kita kaya zaman pacaran cuma boleh meluk doang yang. Halal ini."


"Abang cape, baru datang. Selesai tugas ini. Ntar Muna di atas deh. Abang bobo aja."


"Hahaaaay penawaran yang menggiurkan. Sini mana tugasnya, abang liatin bentar." ujar Kevin.

__ADS_1


Ternyata tugas itu, bukan hanya sulit bagi Muna. Bahkan Kevin lebih penasaran untuk segera menyelesaikannya. Hingga tak sadar Kevin tertidur bahkan tidak di dalam kamar mereka. Tetapi masih dalam ruang tengah dia antara hamparam buku-buku penunjang kuliah Muna.


Muna hanya mengambil selimut, merapikan beberapa buku yang berserakan. Lalu membentangkan selimut itu dan masuk ke berbaur di dalamnya, di dalam pelukan Kevin hingga pagi datang.


"Sayang... bangun pindah ke kamar gih. Muna buru-buru ini. Sarapan di meja ya. Love You."


"Hah...? ini masih pagi sekali sayang. Mae sudah subuhan?"


"Sudah tadi, makanya sempet masak. Tuh semur jengkolnya masih panas."


"Kenapa ga bangunin abang dari tadi."


"Abang kayaknya cape banget. Udah, Muna ngampus dulu ya. Asalamualaikum."


"Walaikumsalam." Suara Kevin datar.


Sedikit kesal. Pertama, sejak datang si otong belum ketemu mumun. Kedua bahkan Muna sholat subuh tidak mengajaknya. Ketiga Kevin tidak dapat ucapan selamat ulang tahun seperti harapannya.


"Sabar... sabar punya istri mahasiswi kudu berlapis-lapis kali ya sabarnya. Si Mae ga paham kode nih. Mungkin harus di bilangin langsung." Monolog Kevin sendiri.


Kevin gusar, keluar kamar bahkan selimut bekas pakainya tadi malam masih teronggok bersama buku yang berserakkan.


"Yang... ada ART ga sih yang bersih-bersih ke apartemenmu?" chat Kevin yang tidak suka melihat kekacauan dalam ruangan itu.


"Ga pernah punya yang. Biasa Muna bebersih sendiri aja. Maaf ya yang, tadi buru-buru masak buat mu. Jadi rumah ga sempat di bersihkan. Nanti pulang kampus deh, Muna bereskan. Maaf abang bikin sakit mata." Balas Muna yang tau akan kesalahannya, tidak sempat merapikan ruang tengah apartemennya.


"Huum.... enak. Kasian istriku harus bangun sepagi apa hanya untuk masak ini untukku. Baiklah ibu negara, sepertinya aku juga harus banyak membantumu." Kekeh Kevin mendapatkan ide yang mungkin dapat memgusir rasa bosannya menanti Muna pulang kuliah.


Kevin merazia tempat alat kebersihan, dan Mulai bebersih. Mulai dari melipat selimut, juga merapikan buku yang semalam mereka gunakan untuk berdiskusi. Selanjutnya, mengarahkan penghisap debu di seluruh bagian mana saja yang ia anggap perlu. Demi mendapatkan jatah yang tertunda semalam. Bukankan jika rumah berantakan nanti, istrinya akan lebih dahulu bersih-bersih rumah dari pada melayaninya? Maka Kevin memutuskan untuk mengurangi pekerjaan rumah Muna.


Kevin puas dengam hasil kerjanya, tial sudut ruangan bahkan telah bersih, rapi tersusun sempurna. Semakin merasa kasihan pafa Muna, jika hidup tanpa ART, yang sebenarnya ia butuhkan terutama jika tugas kampusnya benarbakan datang seperti kemarin.


Kevin terbangun dari tidurnya tepat saat alarm Dzuhur berbunyi. Sedikit terperanjat menyadari ia telah melewatkan jam makan siang, dan masih tanpa kehadiran istri di apartemen itu.


"Yang... masih di kampus?"


"Iya yang."


"Masih lama?"


"Bentar lagi yang."


"Udah makan siang?"


"Ya iyalah. Abang belum? Semur udah di makan?"

__ADS_1


"Udah tadi pagi, enak. Terima kasih."


"Siang?"


"Belum."


"Ngape?"


"Ga ada teman makan, apa bedanya dengan abang di Indo?"


"Maaf, abang datang pas tugas lagi banyak-banyaknya. Ntar malam makan di luar deh. Pake uang jatah bulanan Muna aja. Oke sayang." Centang 2 biru. Kevin hanya membacanya. Malas harus membahas itu via chating.


"Dia pikir aku ga sanggup bayar makan di sini. Sampai bilang makan di luar dia yang bayar?" Gusar Kevin sendiri.


Hampir magrib batang hidung Muna baru tiba di apartemennya. Kevin ingin marah, tetapi ia urungkan melihat wajah istri yang terlihat kusut masai, bahkan terlihat lebih cape dari yang ia kira.


"Buruan mandi kita magriban." Perintah Kevin setelah memeluk tubuh istrinya.


Muna hanya mengangguk dan segera mengikutk perintah suami yang sudah menggunakan kostum siap beribadah.


"Abang yang bebersih?" tanya Muna selesai sholat.


"Hmmm."


"Maaf yang, Muna ga sempat ngerjainnya."


"Cari ART part time deh mom. Biar ga cape, jangan kaya orang susah, ga bisa bayar pembantu."


"Bukan ga sanggup bayar. Bebersih tempat sekecil ini tuh, anggap saja olah raga yang."


"Ya beda dong Mae."


"Udah ga usah di balas. Kita makan di luar yuks. Sesuai janji Muna tadi."


"Males ah. Abang masih mau makan semur jengkol tadi pagi saja. Tapi di temani istri." Pinta Kevin manja.


"Ya sudah, asal abang senang saja." Muna pun beranjak menyiapkan segala sesuatunya di meja makan.


Masih dengan perasaan uring-uringan Kevin melahap makanan itu tanpa semangat walau telah di temani sang istri. Entah semuanya terasa hambar, semacam dongkol, karena Muna masih seolah tak tau hari ini adalah ulang tahun suaminya. Benar-benar tak sesuai ekspektasinya.


Bersambung...


Nyak ngebayangin babang bebersih di rumah nyak nih.🤭


Mawar kupi mana yak?

__ADS_1


(Oh iya, makasih yang udah mampir di Lilis-Lamiah NERAKA DUA CINTA. Alur dan isi cerita sungguh sangat berbeda dengan ini ya gaes. Soalnya itu sedang ikut lomba bertema : Berbagi Cinta. Jadi ya maaf, emang sangat menguras emosi dari awal. Tapi... nyak hanya butiran debu tanpa dukungan kalian. So pliiss, mohon doa restu dan suportnya selalu.)


__ADS_2