OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 48 : MASIH MASA TRAINING


__ADS_3

Muna tidak memiliki alasan kuat untuk selalu menolak dan minta perpanjangan waktu. Sebab, ia juga sering merinding disko kalau dekat dengan Kevin. Tekanan darahnya tidak stabil jika memikirkan pria itu, pikirannya traveling saat tidak melihat sosok seorang Kevin. Sehingga fix, Muna mengakui ia pun telah jatuh cinta.


"Dan Ku Tlah jatuh cinta


Ku wanita dan engkau lelaki


Perasaanku berkata I'm falling in love


Sang cinta mendekatlah


Malam menyanggupi jadi saksi


Hati kecilku berkata I'm falling in love."


Seakan mengerti atau bagian dari settingan pada cafe yang tengah mereka tongkrongi tersebut melantunkan lagu Melly Goeslaw berjudul I'm falling in love menambah afdol suasana malam yang tiba-tiba syahdu mendayu saat kedua insan tersebut bersepakat untuk menaikan level kedekatan mereka dari teman dekat menjadi berpacaran walau masih bersyarat masih dalam masa training.


"Abang... Muna boleh minta sesuatu kagak sama Abang?"


"Minta apa...? Mobil? Rumah? Perusahaan?" canda Kevin.


"Busyeeeet dah. Sombong amat si Abang ah...?"


"Becanda Mae..." Kekeh Kevin. "Bilang aja mau minta apa, asal jangan minta buat kan candi saja, Abang tidak sanggup."


"Iissh... Becanda Mulu. Entuh... Muna minta Abang jangan bo'ongin nyak ame babe lagi tentang status Abang. Jujur aje, bilang kalo Abang benernya bosnya. Ngapa sih Abang harus bo'ong...?"


"Iya. Besok deh, pas ada waktu pasti abang bilangin ke mereka. Sebebarnya ga niat bohong si Mae. Cuma aku ga mau nanti di perlakukan berlebihan oleh nyak dan babe. Aku mau di kenal sebagai orang biasa tanpa embel-embel orang kaya atau semacamnya. Menjadi pemilik perusahaan itu bukan hal yang patut di banggakan, apalagi itu pemberian orang yang aku benci. Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri Mae. Bilang benci tapi masih menggunakan fasilitas yang dia berikan. Sesungguhnya aku malu menjadi CEO di perusahaan itu. Bekerja, makan dan segalanya masih dalam naungan nama Mahesa." Baru kali ini Kevin bisa jujur sejujurnya pada orang yang baru iya kenal, kadang hanya Ferdy tempatnya berbagi.


"Ya... Gimana juga entuh masih papinya Abang. Sesalah dan seburuk apa pan dia tetep orang tuanya Abang. Kagak bisa di cuci, di gosok kaya pantat panci yang item jadi putih mengkilat bang, juga kagak bisa di buang, karena udah melekat, dalam tubuh Abang dah ngalir darahnya."


"Hatiku masih terluka dan murka. Aku belum bisa berdamai dengannya. Cukuplah dia mengkhianati pernikahan mereka dengan menghadirkan istri dan anak lain. Tapi dengan tidak merawat dan mengobati mami yang sedang sakit, itu yang menurutku dia sangat kejam."


"Sabar bang. Pelan-pelan maafinnye. Mami Abang meninggal bukan karena papinya Abang. Tapi emang sakit dan sudah waktunya pulang ke sang penciptanya." Muna sangat pandai menenangkan Kevin.


"Mae... Jangan ngomong sebijak itu. Ntar abang ga sanggup lewati masa trainingnya kalo gini. "


"Ngapa ...?"


"Mau cepat naikkin status jadi suami Mae Mun aja. Mau ya Mae...?"


"Abang ngelunjak niih. Masih masa training Abang."


"3 bulan kayaknya kelamaan deh Mae." Desis Kevin pelan.


"Ya potong kelakuan sih. Kalo kagak mesum bolehlah di kurangin."


"Naah... Bicara soal mesum. Mae tau ga itu bisa di obati lho."


"Masa...?"


"Ga percaya."


"Mang obat nya apa?"


"Ya di salurin lah Mae." Kekeh Kevin yang merasa berhasil ngerjain Muna.

__ADS_1


Plookh


Punggung tangan Kevin menjadi sasaran Muna.


"Mae... Pulang yuk. Ntar babe marah kelamaan bawa anak perawan nya lama-lama."


"Abang yakin aye masih perawan...?"


"Astaga....!!!" Kevin tepok jidatnya sendiri. "Iya ya... Kan belum pernah Abang cek. Ke apartemen bentar ya Mae."


"Ngapain...?"


"Cek keperawanan."


"ABAAAANG."


Plokh...plokh


Bahu Kevin berkali-kali dapat tabokan dari Muna. Yang sudah duduk di belakang tubuh gagah Kevin.


Brreeem...breem...breeem.


Gas motor itu sengaja di naikkan oleh Kevin tanpa melepas cengkraman rem pada tangan kirinya, sehingga motor itu nyating doanh, kagak jalan-jalan.


"Ngapaa seeh kagak jalan-jalan ni motor. Udah jam berapa ini?"


"Pegangan dong, cuaca makin malam makin dingin Mae. Apa lagi nanti abang bawa motornya kencang, supaya bisa nyampe dengan cepat dan selamat."


"Halllaaaah abang modus aaah." Gerutu Muna yang kedua tangannya sudah berhasil Kevin tarik agar melingkar di atas perut sixpacknya.


"Ih... gini doang. Kita udah pacaran kan. Ya udah lepasin deh terus mundur mepet ujung belakang. Jangan lupa pegangan di besi samping. Besok abang beli jaket ijo sekalian." Kevin makin pinter ngedumel.


"Buat ape...?"


"Biar kaya ojol." Jawab Kevin singkat dan terus melajukan kuda besi itu dengan kecepatan yang sengaja di buat makin kencang.


Muna justru merapatkan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya ke arah tubuh Kevin. Semriwing wangi tubuh Kevin sungguh menari-nari masuk melalui indra penciumannya, sampai pada saraf-saraf otaknya. Maskulin.


"Jangan kenceng-kenceng bang, makin dingin ini." Teriak Muna semakin dekat dengan telinga Kevin.


"Makanya meluknya yang erat." Jawab Kevin menurunkan kecepatan dan menyusup tangan kirinya ke dua tangan Muna ingin sekedar mengenggam dan mengalirkan kehangatan lewat jari jemarinya.


Jarak tempuh cafe itu memang tidak jauh hanya 20 menit dari rumah Muna, dan bagi Kevin itu hanya berdurasi 2 menit. Saking senangnya bawa cewek di belakangnya yang sudah mirip tas ransel, nemplok nempel tidak berjarak, membuat jiwa cassanovanya meronta ingin menyalurkan hobynya. Tetapi Kevin sadar, Muna wanita yang sangat ia hormati. Sehingga ia harus tahan dan bisa mengendalikan dirinya untuk melakukan hal di luar batas.


Saat hampir memasuki jalan menuju rumah Muna. Kevin menyempatkan mengecup punggung tangan Muna.


"Abaaang..."


"Apa... mau di pipi? Kita turun di sini dulu ya."


"Issh.." Muna menyempatkan mencubit kecil perut Kevin.


"Tangan doang Mun. Ga bakalan bablas. Tangan nyak babe juga abang gituin." Kevin membela diri.


Muna diam, membenarkan yang di katakan Kevin. Sebab setiap bertemu babe dan nyak, Kevin selalu menyapa, salim penuh hormat pada kedua orang tuannya.

__ADS_1


"Mae... ingat. PR mu buatkan abang makanan belum di kerjakan ya. Lupa...?"


"Pan... kemaren kita kesorean pas mau buatnye."


"Ya sudah besok harus buat."


"Di pantry?"


"Ga ..., di apartemen abang aja." jawab Kevin saat tepat berhenti di depan teras rumah Muna. Membuat Muna tidak sempat menjawab. Sebab babe sudah duduk rapi menunggu kedatangan mereka.


"Assalamulaikum be."


"Walaikunsallam.


Buah markisa buah duku,


Lidi di iket pake tali karet.


Babe mau periksa dulu,


Kali anak babe ada yang lecet." Sapa babe setelah membalas sapa Muna dan Kevin.


"Burung jalak dari Bali,


Burung Irian burung cendrawasih.


Aman terkendali,


Muna masih bersih." Jawab Muna santai memasuki teras rumahnya.


Babe hanya terkekeh mendengar jawaban Muna.


"Be... Kevin tidak mampir ya. Permisi."


"Yaa... entong. Main pulang aja. Kagak mau ngopi dulu...?"


"Sudah malam be... besok-besok Kevin samperin ke tempat mangkal saja ya be. Assalamulaikum." Pamitnya lagi.


"Walaikumsallam. Bae-bae ye Tong. Makasih."


Bersambung...


Wadidaaauu.... sumpah nyak othor pikirannya kok jadi traveling yak... mikirin besok mereka ngapain di apartemen.


Demi dewa nyaak kagak bisa bayangin klo ada setan lewat wkwkwkk


BTW kali aja niih reader ada yang mau ngintip manisnya senyum Muna n Kevin


Intip di IG emmasariii


Ada beberapa nyak buat videonya buat modal ngehaluπŸ˜€πŸ˜€


Lopeh-lopeh buat semua


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2