OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : BALAS DENDAM


__ADS_3

Area khusus hareudang.


Bocil....? skipp.


Yang PMS tunda


Yang LDRan, sabar


Edisi ngisi liburan buat yang mau bikin unyil saja😁


Suasana kamar Muna mendadak horor... cap cip cup bunyi kecupan, cecapan bibir Kevin juga eraangan yang berhasil keluar dari lenguh an tenggorokan Muna.


Tenang, pintu sudah di kunci 2 kali. Ruangan pun kedap suara. Paham.


Usia Kevin belum kepala empat, stamina sekelas bocah lulus SMA yang suka berlatih untuk persiapan masuk, tes pendidikan POLRI, TNI atau semacamnya yang memerlukan fisik dan otot yang kuat.


Berat badan Muna ideal, bentuk tubuhnya proporsional. Sehingga eks cassanova, ayah dari anak dua itu sangat masih kuat menggangkat tubuh molek istrinya tersebut.


Woow bahkan kaki Muna sudah melengkung sempurna saling berkait satu sama lain di pinggang Kevin. Dua bongkahan kembar berpucuk itu seketika menegang, hah? kaya otong dong bisa tegang tapi bukan listrik ya.


Lagi..., bagi Kevin pemandangan itu justru sangat menantangnya untuk segera mengitari, mengecup, juga melumurinya hingga lembab dengan salivanya. Sedapnya... Mimpi apa reader semalam di kasih part beginian.


"Mae... kangen." Rengek Kevin dengan suara serak menahan hasratnya.


"Sama bang, banget malah." Jawab Muna bersembunyi di ceruk leher suaminya.


"Buat sampe merah, ya sayang." Pinta Kevin Jelas ia iri kan sama Gilang yang punya jejak dua kemarin di leher.


"Heemmm, ga mau buat di situ bang. Malu." Jawab Muna di sela isapannya halus. Beralih ke dada bidang semampu kepalanya menekuk.


"Tapi abang mau Mae... ya. Buat banyak ya di situ." Rengek Kevin sungguh ga mau kalah ternyata sama pengantin baru, buseet dah.


Heii... tangan Kevin.


Rupanya Kevin sengaja menempel tubuh Muna di dinding agar bisa dengan satu tangan menahan bo kong Muna, karena satunya lagi, heemm. Itu jari manis udah nyusup nyupup ke celah G-String yang hanya seutas tali tadi.

__ADS_1


Hhaaaiiiiss... jarinya liar. Putar putar, ling keliling, kadang menekan, kadang keluar masuk, naik turun juga di pelataran rumah mumun. Ya basaah lah. Mana tahaaaan.


"Mae udah mau niih." Goda Kevin lembut, mencium bahu dan sekitarnya, menjangkau apa saja yang bisa ia endus demi mendapatkan gelora yang semakin bergejolak di antara mereka.


Muna membuka mulutnya, memberikan kesan se ksi dan seolah bilang lahap aku sepuasnya. Jangan di tanya lincahnya organ kenyal tak bertulang itu, menyesaap, meellumat, dan aauu.... mengigit gregetan juga di bibir ranum ibu dua anak tersebut.


Kevin akhirnya meletakkan Muna di sudut tempat tidur, dengan senyum devilnya memandang senang dengan G-string yang masih melekat menutupi mumun yang bersih terawat, ke set, wangi juga.


Kedua paha Muna sengaja Kevin rentangkan, ia sedikit berjongkok. Sungguh Kevin rindu semua dengan yang ada di tubuh istrinya. Tak terkecuali beranda mumun pun tak luput dari kecupannya. Muna ber geli njang dong, kaya cacing kepanasan.


"Aaah... abang." Rengeknya sendu ingin di perlakukan lebih.


Kamar sudah bersuhu 16 derajat. Tapi tetap saja keduanya merasa bagai di padang Savana. Panas menggelora, padahal lewat celah manapun, sinar terik matahari tak punya akses untuk masuk. Atmosfir kamar itu sangat di pengaruhi kobaran api asamara yang terpercik percik sengaja di asah oleh kedua musafir yang kehausan itu. Haus ber cinta ya gaes.


Kevin masih sibuk melinting pucuk mata bisul di dada itu dengan tangannya, sedang pucuk sebelahnya ia gunakan lidahnya untuk memilin milin, dengan tujuan sama, yaitu membakar habis gelora, hasrat terpendam keduanya.


"Abaaang..." rengek Muna manja.


"Heemmm... apa Mae sayang." Serak Kevin tak kalah mesra sengaja memancing, menunda hasrat Muna yang Kevin tau udah semakin tersulut olehnya.


"Udah mau, sayang...?" Kevin suka melihat wajah tak berdaya Muna menahan keinginannya itu.


"Banget... buruan. Selesaikan yang ini. Nanti ada part dua lagi." Rayu Muna bahkan tak tau malu minta Kevin meyelesaikan ini dengan cepat.


"Yakin otong terjun bebas tanpa sarung." Kekeh Kevin yang sejak tadi menunggu persetujuan Muna, otong boleh muntah di dalam tanpa bungkusan.


"Ya ampun lupa. Buruan pasang." Reflek Muna duduk dan menarik tubuhnya yang tadi sudah di kungkung oleh Kevin.


"Hadeeeh... nyesel abang ngingetin." Keluh Kevin yang akhirnya berjalan ke laci meja rias Muna, ngapain lagi kalo bukan pasang aksesoris agar istrinya tidak hamil.


Dengan wajah senyum sumringah Muna menyambut lagi kedatangan suaminya yang lagi mendekati posisi rebahannya di kasur. Masih, dengan kain bertali yang masih rapi menutup mumun di sana.


Muna mengelus otong, menggengamnya lalu menggerakan naik dan turun. Kevin kacau lagi dibuatnya.


"Plastiknya tipis banget sih, kaya ga pake." Sempat-sempat saja komen soal bungkus es tong-tong. Apa Muna kira itu plastik beneran kaya plastik es kero jaman 90 an, yang ada gambar unyil sarungan pake peci kadang warna hijau, merah juga. Yang pernah tau plastik ini, kita satu frekuensi donk🤭

__ADS_1


Muna sangat berterima kasih pada Kevin yang sudah mengingatkannya untuk menggunakan alat penunda kehamilan itu, sehingga ia memberanikan diri untuk memulai lagi cumbuan yang sempat terhenti tadi.


Kevin mengangguk senang, melihat istrinya yang tak kalah menggebu. Yang justru memilih menjadi penunggang kuda tersebut. Women On TOP.


Ini tontonan yang paling Kevin sukai, bahkan lagi. Mampu membakar gelora ber cinta nya semakin menggebu-gebu. Ya, saat kemasan air kehidupan Annaya itu berlonjak-lonjak naik turun karena kecepatan pacuan mumun dan otong yang sudah benar menyatu itu.


Muna lepas kendali, tak mampu menunggu, tak peduli sudah mencapai puncak, tetap saja berusaha bermain seimbang dengan lawannya yang selalu handal.


Kevin bohong saja, jika tak hampir hampir lepas kontrol. Ia hanya berusaha menahan, agar permainan tak cepat berakhir. Tapi tetesan peluh Muna dan erang an itu, membuatnya memilih untuk membalik posisi mereka.


Muna sudah berada di bawah, tertindih tubuh kekar suaminya. Dalam posisi terlentang, mumun justru lebih mudah kembali memainkan perannya. Menjepit sekuat tenaga kepala otong yang di rasa makin keras, besar dan panjang itu. Mumun tidak punya gigi, tapi kenapa otong merasa bagai di gigit-gigit hamparan gusi ompong melompong.


"Ada apa dengan mumun, Mae...?" racau Kevin hampir binasa menikmati kedutan yang lebih mirip isapan, di bawah sana.


"Kenapa bang...?" Muna bertanya seadanya, sambil terus menahan nafasnya demi mempertahankan jepitannya.


"Mumun sesak banget..." Puji Kevin.


"Otong kali yang gedean?" Goda Muna tak mau kalah, dengan tetap dengan teknik tahan napas, jepit, lepas itu.


"Beneran Mae... ini ketat banget Mae." Kevin tak bisa menunda waktu lagi. Dengan melakukan gerakan mundur maju yang awalnya pelan, namun kini semakin cepat, cepat, keras terhentak-hentak, mendorong, menarik, makin tertumpu pada inti mumun.


Muna mengerang makin hebat karena ulah jepitannya sendiri. Membuatnya celaka di hujam hentakan tak berjeda oleh Kevin, yang mampu mengantar keduanya mendaki puncak kenikmatan tiada tara.


"Sayang makin nikmat saja." Puji Kevin pada Muna yang sudah terkulai lemas, sebab sudah beberapa kali mencapai puncak, berbeda dengan Kevin yang baru sekali mencapai pelepasan panjangnya.


Kevin merebahkan tubuhnya pelan di sisi Muna, lalu meraih kepala istrinya untuk di hujaninya ciuman berkali-kali. Sungguh dendam rindunya terbalaskan di pagi sabtu jelang siang itu.


Bersambung...


Haloooow


Semoga reades Nyak ikutan puas yaak.


Anggap permohonan maaf otor yang sempat malas up.

__ADS_1


✌️😁💪❤️


__ADS_2