OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 183 : KEMBALI MENJADI MAHASISWI


__ADS_3

Kevin dan Muna berhasil tidur dengan nyenyak walau dalam keadaan kamar yang sempit di lengkapi kipas angin. Tidak berubah, tetap seperti saat Muna masih sebagai anak nyak dan babe Rojak. Sebelum ia berubah menjadi Monalisa Hildimar yang tiba-tiba hidup dalam limpahan kemewahan.


Tidak terdengar sungutan ataupun keluhan dari Kevin yang malam itu untuk pertama kalinya tidur bersama di kamar Muna, yang biasa hanya ia lihat dari layar kaca saat bervideo call dengan Muna Hidayattulah. Yang tentu sangat berbeda atmosfir dengan kamar pribadinya di manapun.


Namun keadaan fisik kamar itu tidak menghalangi niat mereka untuk terus saja memadu kasih. Keduanya pun berhasil bercocok tanam tanpa suara. Saat pergulatan terjadi, Kevin benar-benar membungkam mulut Muna dengan bibirnya posesif. Sehingga le nguhan lack nut itu hanya terdengar kecil, seperti suara bengek saat penyakit asma kambuh saja.


"Segernye anak babe pagi ini." Sapa babe yang sudah Muna suguhi kopi hitam dan rebusan singkong colek madu di ruang tengah.


"Alhamdullilah, bisa menikmati tidur di kamar Muna lagi be. Seneng banget rasanya." Jawab Muna dengan wajah cerah ceria.


"Kagak kesempitan lu bedua tidur di situ Mun?" tanya babe kepo.


"Sempit itu yang di cari be, jadi Kevin bisa pelukan sampai pagi." Tetiba saja Kevin nyelonong dan menyeruput kopi yang di buat Muna.


"Eh... Tong, entuh kopi babe. Ngape lu main sruput aje, ah." Lotot babe ke arah Kevin yang dengan percaya dirinya menyesap kopi yang ia lihat sudah terhidang di meja tamu tersebut.


"Tau nih abang, kagak tanya-tanya dulu. Noh punya abang masih di atas meja makan. Muna kira masih lama bangunnya."


"Di tuker deh be. Bentar Kevin ganti."


"Udeh.. abang duduk aja. Nanti Muna yang ambilkan buat babe." Muna langsung berjalan menuju arah meja makan untuk mengambil secangkir kopi yang memang sudah ia buat untuk dua lelaki kesayangannya.


"Tong... Pegimane enak pank punya bini?"


"Sesuai ekspektasi lah be. Luar biasa. Mestinya Kevin ambil gaya babe dulu ya. Begitu kenal 2 minggu langsung di ajak nikah ya be."


"Iye... Kalo bini lu cuma Muna waktu itu mungkin kagak seribet sekarang. Kuliah ya paling di sini aje. Elu nikahnya ame ratu Belande siih." Kekeh babe.


"Ya... Udah begini pembagian takdir kami kali ya be."


"Tentu. Tentu aje. Kita ambil hikmahnya aje. Mau kalian pisah jarak antar kota, bahkan benua sekalipun. Kalo emang niat mau saling setia, aman dunia."


"Iya be."


"Enih pegimane? Kapan Muna balik?"


"Sore ini be."

__ADS_1


"Elu ikut?"


"Ikut deh. Seenggaknya seminggu lah, sampai Muna bener udah aktif kuliahnya."


"Ya... Bagus deh. Tapi, menurut babe. Jangan terlalu di ikuti juga tuh, keinginan yang selalu mau berdua-duaannye. Hidup kagak hanya soal cinte ye Tong. Kerjaan tetep harus di pikirkan. Bagemanepun elu kepala keluarga. Jangan terpengaruh dengan kekayaan mertua lu. Jangan semena-mena pake fasilitas yang mereka sediakan. Kite laki-laki Tong, tetep harus bertanggung jawab ame istri. Nafkah lahir dan batin tetap harus berasal dari elu. Dosa lu kalo kaga nafkahin dan istri lu, ampe lebih di perhatikan oleh orang lain."


"Iya be... Kevin paham." Jawab Kevin mengerti dengan maksud yang di utarakan oleh babe. Kevin paham dengan yang babe sampaikan. Tentu saja tentang kenyamanan fasilitas penggunaan jet pribadi milik keuarga Hildimar yang selalu di tawarkan untuk mereka pulang pergi Belanda - Indonesia.


Ah... Bahkan Kevin belum punya kesempatan untuk menolak semua yang sediakan dan di berikan oleh orang tua istrinya yang memamg masih selalu beralasan meminta kesempatan menebus waktu yang lama terhilang bersama anak kandung mereka tersebut.


Selepas isya Kevin dan Muna telah tampak berpamitan kepada mama abah dan juga nyak dan babe. Tetap saja ada tangis haru lagi saat melepas Muna harus kembali ke Belanda untuk melanjutkan kuliahnya.


Kebersamaan saat umrah kemarin tentu adalah masa-masa terindah kebersamaan mereka. Tidak ada yang dapat mereka salahkan, sebab sejak awalpun ini adalah resiko yang harus mereka jalani.


Tak usah di tanya tu pasangan pengantin baru ngapain aja di dalam ruangan khusus pada badan burung besi yang akan mengantarkan mereka ke negri kincir. Tentu saja Kevin selalu pintar mempromosikan jualan es tong-tongnya. Agar Muna selalu ingin menikmatinya, lagi dan lagi. Ah, halal ini.


Sebelum ke apartemen, tentu saja Muna terlebih dahulu mampir ke kediaman istana kakek Hildimar. Untuk memastikam keadaan sang kakek juga menyampaikan pada kakek bahwa ia akan mulai aktif kembali menjadi mahasiswi.


"Kevin... Apa kamu tidak tertarik untuk melanjutkan studimu? Sementara Muna menyelesaikan kuliahnya juga. Jadi, kalian bisa terus saling berdekatan di sini." Ide kakek tiba-tiba muncul, memandang sendu cucunya yang bahkan belum sebulan menikah, harus kembali tinggal terpisah.


"Kamu masih muda, mungkin dengan gelar doktor nantinya akan bisa menambah pengalaman dan wawasan mu juga. Memudahkan karier mu, mungkin saja di kemudian hari kamu ingin terjun ke dunia politik. Nasib manusia siapa yang tau?" Jelas kakek panjang lebar.


"Maaf kek. Kevin sudah terlanjur nyaman masuk dalam dunia bisnis. Sayang rasanya meninggalkan rintisan usaha yang Kevin bangun dari nol. Ya... Walau hasilnya tidak seberapa dari perusahaan milik kakek."


"No... No... No. Merendah boleh, pesimis jangan. Kata adalah doa. Jangan pernah menghinakan hasil sendiri, apalagi membandingkannya dengan usaha milik orang lain. Kesalahan manusia kebanyakan adalah, selalu sirik dengan hasil seseorang. Tanpa tau, usaha dan pengorbanan di balik perolehan kesuksesan orang lain." Kakek selalu memiliki pemikiran yang bijak dalam hal ini.


"Sewaktu kakek di usiamu pun, perusahan dan semua cabang usaha kakek tidak sebesar sekarang. Tekuni saja, dan pandai membaca peluang juga situasi yang tak kasat mata. Maka semua akan dapat kamu raih dengan sendirinya." Wejangan kakek pada keduanya.


Kevin hanya mengangguk paham, sedikit haru. Menyadari bagai memiliki kakek yang sesungguhnya. Sebab, baik dari mami Beatrix maupun papi Diendra. Kevin hanya sebentar menikmati menjadi seorang cucu. Selain berjarak jauh, juga mereka tak berumur panjang. Sehingga, Kevin seolah belum puas memiliki tetua sebagai panutan dan teladan baginya.


Muna dan Kevin sudah pamit dengan kakek Hildimar. Keduanya sudah berada di apartemen Muna kembali.


Kevin selalu melempar guling ke lantai, saat ia dan istrinya berada di atas kasur yang sama. Kevin merasa guling hanya pengganggu saja, saat tubuh Muna adalah merupakan guling ternikamat yang selalu dan selalu ia ingin peluk erat.


"Sayang..."


"Hmm.."

__ADS_1


"Sekali ya." Ajak Kevin dengan tangan yang sudah nemplok di area kesukaannya, ke kiri dan ke kanan. Seolah selalu ingin berbuat adil pada gundukan kembar milik Muna.


"Yaaang... Cape. Boleh ijin kagak?" Muna sedikit memelas menyadari suaminya yang tak kenal kata libur.


"Pahala yaaaang." Rengek Kevin.


"Iya... Tapi maksa juga dosa yang." Tolak Muna.


"Abang ga maksa... Nawarin ibadah ini." Kevin ngeles.


"Ibadah kudu ikhlas yang, baru dapat pahala." Balas Muna.


"Sama suami ini, masa tega ga kasih secara ikhlas yang?" Rayu Kevin yang sudah makin mendesak tubuhnya ke arah Muna.


"Abang siih, ga papa di tolak. Di suruh nunggu lama juga udah abang jabanin. Tapi... Setidaknya Mae kasihani si otong lah Mae. Dia ga ngerti sabar, ga ngerti nunggu, ga paham cape. Maunya nyembur aja, celakanya dia maunya selalu muntah di dalam si mumun." Tuntun Kevin memegang tangam Muna mengarah ke bungkusan otong.


"Masyaallah abang makin pinter ya bela otong."


"Mae... Abang kalo lapar bisa masak sendiri atau makan di luar. Tapi kalo otong lapar, menurut Mae boleh ga belanja di luar, pake delivery only, sistem bayar di tempat gitu?"


"Ya ga boleh lah. Otong cuma boleh nongkrongnya di tempat mumun lah bang."


"Nah... Tuh pinter."


"Iissh abang paling bisa deh bela otong. Janji sekali aja ye bang. Besok Muna pagi-pagi banget ke kampusnya." Muna yang sudah tidak mendapat jawaban dari Kevin. Sebab, bibirnya sudah penuh dengan permen yupi delicous kesukaannya.


Bersambung...


Hayooo siapa yang berani ijinin otong jajan di luar?


Semangat terus timpuk nyak ya readers kesayangan semuaπŸ™


NB:


Novel Lilis - Lamiah (NERAKA DUA CINTA)


Di adopsi dari kisah nyata yah. Hanya tidak semua adegannya seperti itu. pas nulis Nyak kebanyakan kasih lada jadi agak pedes. Juga nulisnya di deket kompor, makanya HOT πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2