
Gilang agak kikuk setelah mendengar pengakuan Gita pada mantannya, bahwa Gilang adalah suaminya. Memandang penuh tanya melalui sorot matanya ke arah Gita yang terlihat tak kalah canggung.
"Papap...papap." Celoteh Aydan saat melihat Kevin dan Muna berjalan ke arah mereka.
"Oowwhhh sayang kangen yaa. Maaf kami agak lama. Biasalah, bapak kalo belanja malah lebih cerewet dari kaum hawa lhoo Git." Muna beralasan mengurangi rasa tidak enak pada Gita dan Gilang yang tiba-tiba mengambil alih menjaga Aydan.
"Oh ya.. iya tidak apa-apa bu." Jawab Gita sopan.
"Gilang... sepertinya kita minggu baru pulang. Sebab Sabtu malam ada kolega bisnis yang mengundang saya ke acara ulang tahunnya. Mumpung di sini jadi saya bisa hadir."
"Siap pa, nanti saya urus tiket kita."
"Tapi kalau mereka mau pulang duluan mungkin boleh pap?" ujar Muna.
"Oh... tidak bisa. Kita tidak mungkin mengajak Ay ke acara kolega bisnis itu sayang. Jadi, biar Gilang dan Gita yang jaga Ay. Boleh Gita?"
"I...iya siap Ppaak Kevin." Gugu Gita yang sesungguhnya canggung memanggil Kevin dengan sebutan pak.
Mereka pun beranjak pulang dengan pikiran masing-masing. Jika pasangan Kevin tentu saja memikirkan hal yang tidak jauh dari bagaimana posisi aman, agar tidak membangunkan Aydan juga tidak hamil. Sedangkan Gita dan Gilang masih terpasung dalam suasana bingung mode on, akibat gelar bohongan yang Gita ciptakan.
Aydan tampak kelelahan, terlihat dari fisiknya yang tidak lincah bermain, bahkan setelah makan malam ia memilih segera tertidur berbantal lengan Muna.
Awalnya Muna ingin segera bergabung dengan Aydan, yaitu segera menyusul ke alam mimpi. Tapi Kevin kasak kusuk kadang menyeruduk di bawah lengan sebelahnya, kadang menyundul bo kong Muna, gelisah.
"Sayang... diem deh. Gerekan abang tuh bisa bikin Ay bangun."
"Yaaang... ganti baju gih."
"Ganti baju apa? Sudah malam ini mau kemana siih."
"Pake baju yang abang pilih tadi yang." Rengeknya manja sudah ikut miring menempel di belakang tubuh istrinya.
"Yang mana? Bukannya tadi itu abang pilihnya baju buat ke pesta?"
"Bukaaan."
"Yang mana sih?"
"Iiisssh." Berangnya lalu berdiri mengambil paper bag yang masih berjejer rapi di sudut ruangan kamar mereka.
"Yang ini Mae."
"Muna ga liat abang pilih dan beli yang itu. Mana sini liat." ujar Muna dengan hati-hati memindahkan tangannya, memgganti dengan bantal, juga meletakan guling merapat dengan tubuh Aydan, agar tetap merasa jika Muna masih di sisinya.
Muna mengambil paper bag itu, lalu meraih dan membuka isinya.
__ADS_1
"Wooow... hitam yang sangat seksi." Puji Muna saat membentang kain brokat tipis penuh renda di sana sini itu.
"Di pakai Mae. Abang ga pernah liat Mae pakai gituan."
"Ya iyalaaah, orang selalu polosan ini. Mana sempat make kayak ginian, keburu orangnya yang di pake."Kekeh Muna yang patuh dengan suaminya.
Beranjak masuk toilet dan memasang lingerie pilihan suaminya. "Ya ellah udah banyak bolongnya, tipis lagi. Pahala-pahala." Monlog Muna dalam hatinya, yang sesungguhnya juga senang dengan selera suaminya. Sekaligus bersyukur suaminya bisa mengatur pakaiannya, walau tidak sesuai hati nurani. Ketimbang suami cari wanita lain di luaran, kan mending manut gini.
Lampu kamar sudah di buat redup oleh Kevin, musik klasik juga mengalun memenuhi ruangan yang wanginya agak di dominasi wangi kayu puyih, bukan kayu cendana lagi seperti awal-awal mereka bercinta.
Muna keluar dengan tampilan sempurna. Buah jakun Kevin di buat naik turun karena terpesona melihat tampilan wanita yang berjalan ke arahnya dengan langkah yang di buat sedramatisir mungkin.
Muna sengaja memindahkan semua helaian rambutnya ke bahu kiri. Sebab tubuhnya sudah ia dudukan di atas pangkuan Kevin yang menunggunya di atas sofa. Secara otomatis sisi kanan tubuhnya tersodor langsung pada wajah Kevin, yang tentu dapat dengan mudah menghirup aroma manis di leher wanita kesayangannya itu.
"Mae sangat mempesona malam ini."
"Istri siapa dulu dong?"
Kevin tidak puas hanya sebelah pahanya yang di duduki oleh Muna.
Ia lebih suka paha itu membentang dan melingkar di pinggangnya.
Membenam kepalanya di belahan alami yang tercipta dengan sendirinya, masih telihat penuh sebab asupan air di dalamnya masih produktif.
"Jangan buat merah pap." Bisik Muna pelan.
Pakaian itu masih melekat sempurna. Nampaknya Kevin memang ingin menikmati tubuh itu dalam busana yang membuatnya berfantasi liar.
Kevin lebih suka menyelipkan jari jemarinya di sela-sela kain. Agar permainan itu tidak segera berakhir.
Tidak ingin segera sampai puncak, walau ia tau istrinya sudah berkali-kali basah.
Sepertinya, sofa adalah pilihan tepat untuk meraka melakukan pemanasan mungkin hingga gerakan inti nanti. Untuk menghindar goncangan, yang mungkin saja bisa membangunkan Aydan.
Memang tidak ada aba-aba ingin menggunakan gaya yang bagaimana, sebab hal itu lebih ke naluri saja. Akan di bawa kemana arah kepala, atau bo kong pasangan itu bermain.
"Masih masa ga subur ga siih Mae?"
"Masih... 5 hari. Dan ini hari ke 3. Waktu abang sisa 2 hari lagi." Jawab Muna gamblang yang paham maksud pertanyaan suaminya. Yang katanya akan lebih puas jika otong cair di dalam.
Tubuh Muna dia buat nungging membelakangi Kevin. Masih dengan busana pilihan Kevin. Ia hanya perlu melorotkan kain hitam segitiga itu hingga paha, lalu mulai menggenjot dari belakang. Aaaiiiissh bubraah... dan author baper, terbawa suasana (maaf khilaf pemirsah, ga sopan ya.)
Keduanya terengah-engah, bagai baru selesai joging keliling GBK 7 putaran. Lalu saling bertatapan mesra, meraup tubuh Muna kembali meletakannya di atas kedua pahanya. Menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil.
"Terima kasih istriku sayang."
__ADS_1
"Sama-sama suamiku tercinta."
"Mau lagi?"
"Kagak sanggup bang, sisain tenaga buat besok lagi. Ingat masih ada waktu 2 hari lagi." Manja Muna pada suaminya.
"Yang, tadi ada beli daging kambing ga?" Kevin tiba-tiba bertanya.
"Ga ada... kenapa?"
"Abang mau makan sop kambing."
"Besok ya..."
"Belanjanya?"
"Sebentar aja belinya."
"Ga ... ga usah. Ntar abang minta Gilang aja yang belikan bahannya. Tapi, tetap Mae yang masak."
"Ya iyalah. Masa Gita, emang bisa?"
"Di ajarin lah yang. Biar besok bisa di sayang suami."
"Emang ngefek ya bang, kalo istri pintar masak itu pasti di sayang suami?"
"Optional sih. Tergantung orangnya saja. Tapi kayaknya dulu abang sebenernya jatuh cinta sih, dari kopi buatan Mae saja. Kalo cantiknya itu bagi abang hanya bonus. Apalagi ternyata anak orang kaya, itu lebih bonus lagi."
"Masa...? Jadi kalo Muna ga bisa bikin kopi, bakalan ga bisa dapetin pak CEO yaa?"
"Sepertinya begitu. Kan ga lucu, seorang CEO harus ke cafe di pagi buta hanya karena mau ngopi. Karena istrinya tidak siapkan kopi di rumah."
"Alhamdulillah... Muna lulus seleksi dong. Terima kasih sudah menjadi imam yang baik selama ini pap."
"Sama-sama. Terima kasih hadir untuk mengasah jiwa dan raga abang, sejak dekat denganmu sayang. You my everything."
"Ooeeek...hhhuuuwwaa.." Aydan merusak sesi rayuan pulau kelapa.
Bersambung...
Makin uwuuu deh mereka
Lupa mau tamat.
Maaf ye... tunggu Muna beranak empat saja ya baru end😂
__ADS_1
Thx vote nya❤️❤️❤️