OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 129 : SANG JAWARA


__ADS_3

Dadang dan Kevin langsung terlihat akrab saat mereka berdua bersama menyaksikan kembali kronolagis hilangnya Muna.


WaDir tersebut justru lebih emosi di banding Kevin. Bagaimanapun ia merasa nama baik rumah sakit mereka akan tercoreng akibat aksi penculikan yang bahkan di dalam salah satu ruangan rumah sakit yang di percayakan untuk ia pimpin, walau hanya sebagai wakil.


Ancaman pemecatan sudah dalam benak seorang Dadang. Namun, belum ia utarakan. Tampak gemas dan masih sedikit murka ia hampir saja menampar semua petugas jaga malam yang terjadwal berdinas semalam.


Dadang sudah buru-buru memanggil pihak kepolisian. Agar dapat membantu dengan cepat dan lebih akurat dalam mempercepat proses pengusutan kasus ini.


Kevin sampai melongo di buatnya, menyadari bahwa Wadir itu sangat cepat beraksi dalam menanggapi laporannya dengan serius.


Bukan... tidak hanya polisi bahkan detektif dan preman semua di kerahkan Dadang dalam usaha pencarian Muna.


Maka dalam segala kesusahan perjalanan hidup pun, selayaknya kita sebagai manusia harus selalu bersyukur. Melakukan sebisa kita berusaha, kemudian menyerahkan sisanya untuk Tuhan yang menyelesaikannya dengan sempurna.


Pencarian Muna bukan lagi semata-mata menjadi tugas Kevin. Namun, segera beralih kepihak yang berwajib.


Bukan Kevin tak resah, bukan pula tak gelisah. Tapi sumpah, sekarang ia merasa sangat lelah. Sehingga jangan kan untuk pergi bekerja, sekedar mengisi perutnya pun ia hampir tak kuasa. Kevin hanya memilih tidur. Berharap setelah bangun nanti, telah menemukan si jantung hati.


Sementara di bagian tenggara kota Jakarta tampak sebuah pemandangan yang beraroma laga. Dimana di suatu ruas jalan yang lumayan sepi terdapat mobil hitam besar terhenti.


Tampak jelas terlihat di sana, seorang supir dan penumpang yang berpakaian serba hitam telah tergeletak kaku dengan gaya rebah tak berupa. Bukan rebah, tapi lebih tepatnya seolah terbantai di sana. Hanya tersisa satu orang wanita yang tampak masih berdiri dengan kondisi tubuh yang sulit di ungkapkan.


Wanita itu adalah Muna Hidayatullah. Yang baru saja selesai mengalahkan seorang supir dan 4 orang tak di kenal lainnya.


Jangan di tanya betapa hancur remuk redamnya tubuh yang kini di rasakannya, sebab baru saja mengalahkan orang-orang tak jelas di sana.


Hatinya justru lebih pedih lagi saat menyadari bahwa ia sedang berada di sebuah tempat yang ia sendiri tak tau di mana,


Muna tidak tau harus melakukan apa lagi, tubuhnya lemah, luka lebab di sana-sisni, sebab sebelumnya para pria tak di kenal itu, tak segan segan melayangkan bogem mentah padanya. Untungnya Muna seorang sang jawara. Sehingga ia dapat melumpuhkan bahkan membantai semua orang yang bertindak jahat padanya.


Muna merogoh saku salah satu pria tak di kenal di sana. Sekedar memberanikan diri untuk mencari ponsel mereka, untuk menguhubungi Kevin atau babe.


Hanya nomor telepon kedua pria itu yang ada di kepala Muna, maka dengan cepat ia menekan angka pada ponsel milik pria tak di kenal di sana.

__ADS_1


"Pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan, silahkan melakukan isi ulang terlebih dahulu dan coba kembali" Panggilan telepon yang akan Muna lakukan terhenti dengan begitu saja karena pulsa milik para penculik amatir itu tidak ada.


"Abang ini Muna, tolongin Muna bang." Dengan cueknya Muna memberanikan mengirim pesan masih dengan ponsel yang sama. Berharap nantinya Kevin akan melacaknya melalui pesan tersebut. Walaupun tentu nantinya akan tertera permintaan biaya SMS akan di tanggung oleh sang penerima pesan teks tersebut.


Saat Muna sedang asyik mengutak-atik ponsel tersebut. Tiba-tiba salah satu dari mereka berdiri kembali dan akan hendak melakukan pembalasan kembali pada Muna.


Brukh


Seketika tubuh Muna jatuh terjerembab, akibat tendangan di kakinya oleh seorang pria yang tentu sengaja ingin melumpuhkan Muna demi untuk balas dendam setelah jelas kalah bertanding dengan 5 pria sekaligus.


Muna terkesiap, dan bersiap bangkit untuk melakukan duwel kembali, walau tenaganya hanya tersisa 30% saja. Lapar, lelah juga sedikit melemah itulah yang terjadi pada Muna sekarang.


Sialnya, jalan itu benar-benar sepi, sepertinya mereka berada di sebuah perbatasan sebuah desa. Walau jalan masih terlihat berasapal.


"Ya Allah, dengan siapa lagi aye harus meminta, selain kepada Mu ya Allah." Pinta Muna di dalam hati sembari akan memulai kembali adu otot dengan pria yang sesungguhnya tak layak untuk menjadi tandingannya tadi.


Mestinya Muna berlari saja saat mereka tumbang tadi, agar hal ini tidak terulang kembali. Namun nasi sudah menjadi bubur, Muna merasa benar saat ingin berkabar dengan Kevin pria yang sudah berhasil memporak porandakan hatinya. Bahkan pikirannya tertuju ingin segera kembali berkumpul dengan nyak dan babe.


Namun bagaimanapun Muna adalah wanita yang bahkan tenaganya telah hampir habis terkuras.


Posisi Muna sudah di atas aspal, dengan konsidi tangan yang di pitting oleh musuh. Jurus yang dapat di lakukan Muna hanyalah berteriak, saat bola matanya melihat ada sepeda motor yang akan melintas ke area tempatnya di bantai.


"Tolong.... Tolooong. Aye di culik!!!" Teriak Muna tak berhenti sambil terus berusaha meronta berharap bisa keluar dari kungkungan pria jahat di belakang tubuhnya.


Pria itu panik dengan teriakan Muna, sehingga reflek memindahkan tangannya dan justru membekap mulut gadis itu.


Dah hal tersebut tidak di sadari pria jahat tersebut, dengan berpindahnya tangan ke mulut Muna. Maka terlepaslah pittingan pada tangan Muna yang tadi sudah dengan sempurna ia lakukan.


Ha.... dist.


Braakh


"Aaauuw... aauuw aduuh...duh." Teriak pria itu gusar, dengan wajah memerah menahan sakit akibat balasan dari Muna.

__ADS_1


Kali ini Muna memilih menubruk dengan lututnya pada benda kesayangan para pria, yang juga menjadi pusat kelemahan kaum adam.


Pria itu berguling-guling menahan sakit akibat sundulan lutut Muna yang sepertinya dengan kekuatan penuh pada pusat tubuhnya.


Melihat musuh telah jatuh terguling, Muna pun berlari terbirit-birit ke arah sepeda motor yang semakin dekat padanya.


Hampir berloncatan Muna bagai menari-nari melambaikan kedua tangannya. Memanggil, meminta dan mengiba agar mendapat pertolongan dengan seorang pria yang terbalut dalam pakaian dinas ASN rapi di atas sebuah motor Binter sedikit buluk di sana.


"Tolooong. Tolongin aye hampir di culik. Tolong cepat bawa aye jauh-jauh dari sini... Tolooong." Teriakan Muna bertalu-talu untuk meyakinkan pria yang tadinya fokus mengemudi motornya dan berhenti tepat di hadapan Muna.


"Ada apa atuh eneng...?"


"Aye Muna bukan eneng. Tolong bawa aye cepetan pergi dari sini, mereka entuh orang jahat. Buruan sebelom mereka semua bangun lagi."


"Asep... nama saya teh Asep. Manggil na A'a Asep nya. Punten naik di boncengan a'a." Jawab pria tampan berkulit putih bermata sipit itu dengan ramah dan sangat bersahabat.


"Iye deh... sapepun nama elu. Pokokye tolong. Tolongin aye. Bawa aye pergi jauh dari para begundal-begundal kagak jelas itu. A' Asep." Jawab Muna sekenanya dan langsung memberanikan diri menaiki kursi di belakang tubuh pria yang juga tidak ia kenal. Tetapi Muna percayai, bahwa lelaki inilah yang dikirim Tuhan untuk menolongnya.


Bersambung...


Tarik nafas bentar ya.


Untuk yang pro dan kontra dengan beberapa part belakangan ini,


nyak tetap minta sabarnya.


Satu-satu akan kita ungkap semuanya hingga terang benderang.


Nyak udah sesuai janji untuk up 2x ya🙏


Lope se-Indonesia Raya


❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2