OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 263 : PAUD


__ADS_3

Keputusan Kevin untuk menerima jabatan baru sebagai Wakil Direktur secara akalamasi tak terhindarkan. Keesokkan harinya notaris keluarga sudah datang ke rumah sakit untuk membawa surat menyurat serta menyaksikan penandatangan perjanjian dan apapun yang berkaitan dengan jabatan yang di delegasikan pada Kevin Sebastian Mahesa. Agar Kevin bisa segera bekerja manjalankan rumah sakit tersebut.


Kevin selalu berbakat tidak peduli dengan pendapat orang lain. Walau jelas dan pasti akan muncul isu bahwa ia hanya aji mumpung, numpang tenar, mau merendahkan diri menjadi wakil istri sendiri atau apapun itu. Kevin bertekad bulat saja hakulyakin ini adalah keputusan ini yang terbaik.


"Mae... ga papa. Abang jadi wakilmu di rumah sakit?"


"Kenapa... abang malu. Kalau jabatan Muna lebih tinggi dari abang?"


"Mae... di perusahaan abang saja. Tinggian jabatan Mae lho dari abang. Lupa Monalisa Hildimar adalah dewan Komisaris di sana?"


"Huummm iya juga."


"Abang hanya minta dukungan sama Mae."


"Selalu abang sayang. Jabatan itu hanya aturan di perkantoran yang di buat manusia. Bagaimanapun juga, abang tetap kepala di keluarga kita. Ga masalah abang wakilkah, managerkah, staf saja kah. Abang tetap imamnya Muna. Kita skip saja sebutan siapa wadirnya siapa direkturnya. Abang tetap teratas di hati Muna."


"Babe udah geser yang?"


"Kayaknya iye deh. Eh, sejak kapan ya... kok Muna ga sadar kapan?" kekeh Muna.


"Ha...ha...ha. Makasih sayangku." Kecup Kevin pada kening Muna.


"Selamat bekerja bapak Wakil Direktur Hildimar Hospital." Peluk Muna pada suaminya tercinta. Setelah merapikan pakaian kerja Kevin di hari pertamanya bekerja sebagai wakil direktur.


"Terima kasih ibu Direktur Hildimar Hospital." Kevin sudah main sambar saja di bibir istri yang selalu membuatnya rindu itu.


"Kerja bang... nanti kebablasan." Muna mendorong tubuh kekar Kevin.


"Udah bisa unboxing kan Mae?"


"Sudah seharusnya. Tapi, ini baru dapet lagi, kaya ngeplek gitu. Mungkin stres dapat kabar abah sakit." Jujur Muna.

__ADS_1


"Ngantri lagi kita Tong." Kekeh Kevin absurd.


Kevin dengan yakin, percaya diri juga doa sudah memasuki ruang aula rumkit itu, untuk di nobatkan secara sah menjadi wakil direktur rumah sakit tersebut. Berada pada deretan kolega bisnis yang juga memiliki saham di rumah sakit tersebut juga deretan para dewan komisaris. Sedikit membuat Kevin agak canggung. Namun tetap memasang wajah percaya diri tentunya.


Dulu dia sebagai CEO di perusahaan milik ayahnya, memilih keluar karena ingin mandiri. Dan kini justru menerima jadi wadir di perusahaan milik istrinya. Bucin banget ga sih? Jujur Kevin malu sebenarnya, tapi perasaannya terkalahkan sebab baginya menjadi wadir adalah bagian dari caranya melindungi istrinya. Agar tidak terjun langsung bekerja. Juga meringankan beban mertuanya.


Hari yang sama, Dadang dan Rona bertolak ke Cina. Untuk mendapatkan pendonor hati yang cocok untuk Dadang. Operasi yang mungkin akan di lakukan sebanyak 33 kali. Besar harapan mereka semuanya berhasil dan lancar demi terselamatkannya nyawa Dadang.


Semua doa dan harapan terbaik mereka sertakan untuk kesembuhan Dadang. Mama Leina dan suami ikut mendampingi Rona ke sana. Bukan sebagai besan saja, melainkan sebagai sahabat yang dapat di andalkan untuk bertukar pikiran jika terjadi sesuatu di luar prediksi.


Di saat ini selain ijin Tuhan, uang benar-benar berkuasa untuk kelanjutan hidup dan kesembuhan Dadang. Yang sebenarnya memiliki kesembuhan hidup hanya 40%. Prediksi secara manusia.


Kevin belum benar menyerahkan posisi CEOnya pada Gilang. Ia masih meraba dan memastikan ia benar dapat bekerja dengan benar sebagai wadir di tempat kerjanya yang baru.


Sedangkan jabatan untuk Gilang, tentu saja nantinya Kevin akan dengan ikhlas dan yakin menyerahkan pada calon adik iparnya tersebut. Yang akhir-akhir ini sudah mulai sibuk berurusan dengan berkas kelengkapan akad nikah mereka. Juga dengan ketiadaannya Kevin di kantor lagi. Membuat jadwal kencannya berkurang dan pertemuan mereka tidak lebih dari urusan pekerjaan saja. (Readers seneng kan, supaya mereka terhindar dari dosa🤭)


Dua pekan berlalu, mereka telah mendapat kabar baik, bahwa sudah dapat pendonor hati yang cocok. Dan Dadang akan mulai melakukan operasi yang pertama. Tentu saja kepasrahan pada Maha Besar Tuhan selalu mereka pintakan.


Acara ngunduh mantu Daren dan Zahra telah ditetapkan. Sesuai janji Muna yang akan datang di acara ngunduh mantu Daren. Tentu saja mereka datang beserta pasukannya.


Mereka tampak hadir lengkap ikut memberi restu pada Zahra dan Daren.


Muna belum secara intens mengenal Zahra, hanya saat mereka ngobrol di rooftop babe saja waktu itu, selanjutnya hanya saling memantau kabar lewat media sosial saja.


Zahra adalah seorang Sarjana Pendidikan Guru - Pendidikan Anak Usia Dini ( S1 PG -PAUD) namun walau bergelar S.Pd. Dia tidak pernah berminat untuk melamar menjadi abdi negara. Hari-harinya di isi dengan kegiatan sosial. Mengumpulkan ibu-ibu yang memiliki anak usia pra-sekolah untuk di berikan pendidikan sesuai kebutuhan kemampuan otak mereka.


Zahra anggun dan keibuan. Hal itu yang membuat Daren sangat ingin menjadikannya istri. Ada rasa damai dan tentram yang Daren rasakan jika telah berbagi cerita, beban juga tawa pada wanita yang di kenalnya di tanah suci Mekkah waktu itu.


Di beberapa kesempatan Zahra sudah sering bertemu dan berkominikasi dengan Aydan si bocah pintar itu. Sungguh jiwanya yang seorang sarjana PAUD tentu cukup terusik melihat balita itu, hanya mendapatkan pendidikan di rumah saja.


Maka dalam kesempatan yang memang tidak tepat itu, Zahra sempat berbicara akan hal tersebut.

__ADS_1


"Maaf, kak Muna. Aydan apa tidak ada rencana untuk masuk ke playgoup? Sebab, ku lihat Aydan anak yang cerdas. Sayang jika ilmu sosialnya tidak di kembangkan juga. Bagaimanapun pergaulannya dengan anak seusianya lebih baik sejak dini. Dia bisa belajar bersimpati dan berempati pada teman seusianya."


"Iya Zah... tadinya di Bandung aku baru mau cari rekoman playgroup yang bagus untuknya. Bukan salah Ay selalu bersama engkongnya, tapi seperti yang kamu katakan tadi, lebih sesuai jika ia pun memiliki teman yang banyak. Agar dia tumbuh tidak selalu di dengar tapi mendengar juga. Berantampun baik baginya."


"Nah itu dia kak. Banyak orang tua berpikir terlalu cepat memasukan anaknya untuk sekolah jika sejak dua tahun harus sudah masuk PAUD. Padahal tidak seperti itu."


"Kamu punya rekom tempat yang bagus Zah...?"


"Di tempatku bekerja sekarang menurutku tenaga pendidiknya lumayan mengerti teknis pengajarannya. Tapi dari segi tempat dan banguanannya tidak begitu memadai."


"Tempat dan bangunan bagaimana menurutmu yang baik Zah?"


"Standart kak, dimana terdapat ruang bermain dan belajar yang bersih, terdapat halaman untuk mereka mengekplor diri mereka, permainan anak yang merujuk pada permainan edukasi agar mereka benar bisa menggali diri mereka sendiri. Juga sebaiknya ada ruang bayi sebab bayi 3 bulan pun sudah boleh masuk di sebuah playgroup. Asalkan ada tenaga ahli lulusan perawat/kebidanan. Ada dokter anaknya kalo perlu yang akan bekerja dalam satuan PAUD tersebut." Papar Zahra bersemangat.


"Mungkinkah tempatmu bekerja sekarang bisa di buat sesuai strandart itu?"


"Jika di lihat dari luas tanah, sepertinya tidak kak. Tapi dari segi strategisnya lokasi yang tidak jauh dari pusat keramaian dan perkantoran, sangat baik. Sehingga target orang tua yang akan menitipkan anak untuk di didik di situ akan lebih banyak."


"Oke... Zah. Aku bertukar pikiran sama papap Ay dulu ya. Aku lumayan tertarik. Mungkin bisa menjadi donatur untuk membuat tempat kerjamu itu sesuai standart."


"Masyaallah. Kak Muna, aku tidak bermaksud demikian."


"Tapi aku cukup berminat akan hal ini. Kamu liat sendiri, Ay seusia itu sudah punya adik seusia ini. Mereka butuh tempat untuk di didik dengan baik sejak dini Zah."


Bersambung...


Orkay bebas ya gaes


Thx vote dan semua dukungan kian semua ya readers kesayanganku semua


Lope all

__ADS_1


__ADS_2