OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 218 : WANITA PILIHAN


__ADS_3

Adzan magrib menyeruak berkumandang, kali ini rumah babe seolah kembali ke masa-masa pendekatan Kevin dan Muna Hidayattulah. Di mana mereka pun pernah melakukan sholat berjamaah di rumah itu.


Perasaan damai tak terluputkan dalam hati mereka semua yang telah melaksanakan rukun Islam tersebut.


Hidangan makan malam sudah mulai tersiapkan. Aydan pun masih sangat betah bermain bersama engkong kesayangannya.


Sehingga saat Kevin, Muna dan Siska memilih untuk naik ke rooftop nyak babe tetap memilih makan lauk buatan nyak saja di dapur bersama Aydan.


Peralatan dan bahan makanan ala Korea sudah semua lengkap. Jangan tanya betapa senang hati Siska, seolah ke haluannya yang haqiqi selama ini terwujud. "It's my dream. Not her." Batin Siska tersenyum kecil sambil menirukan potongan dialog salah satu film yang sedang viral sekarang.


"Tariiik Sis... semongkooh. Kamu masih utang penjelasan tentang story mu ya." Tagih Muna makin penasaran.


"Hadeeeh... penasaran banget sih? Gimana kalo aku tetiba amnesia nih?" seloroh Siska menunda waktu agar Muna semakin penasaran.


"Eh... becanda mu ga lucu Sis. Suwer takewer-kewer ya... aku tuh udah lama penasaran lho." Cecar Muna terus memepet Siska.


Sementara Kevin sepertinya tidak pernah mau tau urusan orang lain, bahkan kisah Gita sekalipun. Entah karena hanya saudara tiri, atau memang bukan tipe pemerhati orang lain. Konsisten dengan gaya coolnya dengan orang lain.


"Zahra..." ucap Siska saat ada sosok wanita berhijab muncul di tangga rooftop dari arah samping rumah babe.


"Asallamualaikum." Sapa wanita itu dan Daren yang juga tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Walaikumsallam." Jawab ketiganya menjawab salam mereka.


Dan kemudian wanita yang di sebut Siska bernama Zahra tadi bercipika-cipiki dengan Siska terlihat sudah sangat akrab.


"Sini Zah. Ini kakakku Kevin dan ini istrinya Muna." Daren memperkenalkannya pada Kevin dan Muna.


Merekapun saling bersalaman, tentu dengan perasaan Muna yang di landa penuh tanya.


"Selamat bergabung. Jangan sungkan, santai saja." Sapa Kevin ramah pada Zahra.


Zahra mengangguk kemudian mengambil posisi tidak jauh dari Muna dan Siska yang sedang duduk menghadapi panci sukiyaki sebab Kevin sudah terlebih dahulu mengambil posisi di depan tungku api batu bara, sepertinya ia yang akan menjadi spesiali tukang panggang malam itu.


"Sepertinya aku pernah melihatmu... apa kita pernah kenal?" tanya Muna mengingat-ingat.


"Kakak Muna... dia pernah satu pesawat dengan kita saat pulang umroh." Daren menjawab ke kepoan Muna.


"Oh... gitu." Muna Mengingat-ingat.


"Kak... Zahra adalah wanita pilihanku untuk menjadi makmumku. Mohon doa restu." Lantang verbal Daren pada Kevin yang juga di dengar oleh mereka yang ada di hamparan atas atap tersebut.


Kevin menghentikan aktivitas menjepit daging panggangnya. Memandang serius pada wajah adik tirinya tersebut.


"Sudah yakin?"


"Insya Allah."


"Kapan rencana lamaran? atau sudah?"

__ADS_1


"Belum... baru mau."


"Papi sudah tau?"


"Belum bilang."


"Kenapa?"


"Takut ga di terima."


"Sudah pernah di bicara tentang Zahra dengan papi?"


"Belum pernah. Papi kalo ketemu selalu mau perkenalkan anak kolega bisnisnya ke Daren kak."


"Usiamu berapa sih Ren?"


"Dua delapan akhir kak."


"Hah... kalo sudah berani pilih wanita, harus berani dong maju ke medan selanjutnya. Kamu nanti jadi kepala keluarga, masa ngadepin papi aja mikir. Ngadepin calon mertua lebih keringetan lho Ren." Ucap Kevin santai, melanjutkan aktivitas memanggangnya.


"Masalahnya... Zahra tidak bekerja kak?"


"Terus...?"


"Huum... semua juga tau. Istri kakak kan direktur, anak orang kaya juga. Sepadan dengan kakak. Tapi, Zahra anak orang biasa. Dia dan aku agak ragu melangkahnya."


"Jangan lupa, kakak kenal Mae bahkan saat dia bekerja sebagi OB saja di perusahaan kita. Lalu... kenapa dengan dia tak punya pekerjaan harus di permasalahkan?" tanya Kevin pada Daren.


"Bukan gitu kak. Maksudnya... mungkin papi ga setuju. Secara selama ini yang papi kenalkan selalu anak-anak konglomerat. Zahranya juga tau, dan merasa ga percaya diri."


"Kalian pacaran ga sih?" Daren mengangguk.


"Berapa lama?"


"Setahun lebih."


"Hah!!! Kerupuk. Udah saling kenal? Cinta juga?" Hakim Kevin pada Daren.


"Kenal lah, otw sayang dan cinta ini kak." Jawan Daren agak kikuk mengakuinya.


"Cinta sendiri atau sama-sama?" tanya Kevin lagi persis polisi yang menginterogasi tersangka.


"Mungkin sama... iya Zah?" lempar Daren pada Zahra yang juga ikut menyimak obrolannya dengan Kevin.


"Perjuangkan!" perintah Kevin.


"Kalian tidak akan tau endingnya, jika hanya jalan di tempat. Keluar dari zona nyaman itu untuk masuk ke zona menakjubkan. Papi itu manusia, bicarakan baik-baik." Ungkap Kevin melanjutkan.


"Boleh bertanya mengapa kamu pilih Zahra?"

__ADS_1


"Dia wanita sederhana yang memiliki hati yang tulus bersahaja."


"Apa kamu mempermasalhkan soal ia tak punya pekerjaan?"


"Tidak."


"Mengapa?"


"Sebab besok Daren mau punya istri sebagai ibu rumah tangga saja. Yang hanya di rumah melayani suami dan mendidik anak-anak kami dengan maksimal."


"Keren tuh. Dan kamu tau apa konsekunsinya jika hanya suami yang mencari nafkah?"


"Apa kak?"


"Pemasukan keuangan keluarga tentu hanya bersumber dari satu arah. Kemungkinam di ekorin istri kemana kamu pergi lebih besar. Juga tingkat ke bosanan tinggal di rumah menunggu suami pulang bekerja juga pasti muncul. Maka siapkan dirimu, agar senantiasa mempunyai stok sabar yang banyak, sebab punya istri tidak melulu soal nafkah lahirnya yang cukup, tapi kecukupan nafkah batinnya yang selalu bahagia, juga akan menjadi moodboster bagi suami." Panjang sekali Kevin berdakwah.


Muna beranjak berdiri, melangkah lalu dengan cueknya mendudukan dirinya ke atas pangkuan Kevin.


"Lalu, apa kabar denga istrimu yang masih mahasiswi dan nanti akan menjadi wanita karir pap? apa kebutuhan lahirnya akan di kurangi karena bisa mencari nafkah sendiri?" tanya Muna manja, tanpa malu bertingkah seperti hanya mereka berdua di area itu.


"Apa selama ini kebutuhan lahir dan batin Mae kurang?"


"Alhamdulilah cukup sangat cukup. Terima kasih suamiku." jawab Muna sembari menempelkan bibirnya sebentar di pipi Kevin.


"Kita akan mulai makan malam bersama di sini, atau makan kamu saja di kamar?" tawar Kevin pada Muna yang masih betah di atas pahanya.


Sontak Muna berdiri dan kembali ke Siska dan Zahra. Takut saja makan malam ala-ala Korea itu hanya di nikmati Zahra, Daren dan Siska. Sebab, mungkin saja ia hanya kebagian jatah ngisep es tong tong di kamar. Bubraaaah.


"Mari kita makan semua sudah siap niih." Kevin sudah berhasil mengolah slice-slice daging tadi menjadi panggangan yang sempurna.


"Huum... jadi Daren pasangannya Zahra. Kepo dong, jadiannya gimana?" tanya Muna yang sempat mengira Daren melakukan pendekatan dengan Siska.


"Waah... kalo urusan pendekatan. Itu urusannya adekku Siska. Ceritain deh Sis." Pinta Daren pada Siska.


"Ijin ya kak Daren." Sahut Siska setengah bercanda.


"Silahkan..." Ujar Daren sambil menambahkan beberapa slice daging ke piring Zahra yang masih tampak tegang dan kaku di depan semuanya.


Bersambung..


Ke jawab ya jodoh Siska bukan Daren


Happy new year all.


Semoga selalu betah di sini


Dan kita senantiasa di limpahkan rejeki, nikmat sehat, juga selalu bahagia.


Lopp buat semua❤️💗🤍

__ADS_1


Titip wajah Cut Zahra, okeh?



__ADS_2