
Tiga hari berlalu, di Apeldoorn. Untuk sementara keadaan rumah tangga Muna dan Kevin tampak aman lancar. Muna sudah terlihat siap aktif kembali masuk ke dunia perkampusan. Walau belum sepenuhnya masuk dan didera tugas, namun jadwal telah keluar sehingga Muna sudah mulai tampak teratur untuk turun menyesuaikannya.
Sementara Kevin masih terlihat enjoy menjalani hidupnya yang kadang seperti kalong. Menyempatkan tidur saat Muna berada, menyadari pekerjaan Gilang dan Tio sekretarisnya tak sesempurna pekerjaan Belia. Hah... Bukan tandingannya, toh Belia bahkan sudah menghabiskan waktu 2 tahun menjadi seapik sekarang dalam urusan pekerjaan.
Bukankah wajar saja? apalah kemampuan dua sekretaris itu. Yang bahkan Kevin pun tak sempat memberi bimbingan, arahan yang lengkap dan jelas secara langsung pada mereka. Akibat si CEO bucin itu harus mengikuti istri pergi menuntut ilmu.
Untuk urusan makanan keduanya tentu tidak menghadapi masalah. Sebab sejak awalpun, Muna adalah sosok gadis yang mahir dalam urusan memanjakan urusan perut Kevin. Muna pandai membagi waktu dalam urusan melakukan pekerjaan rumah dan kampus.
Hanya jam makan Kevin saja yang tidak senormal biasa, karena tuntutan pekerjaan yang bagai membalik harinya dalam urusan menyelesaikan tygas dan pekerjaannya.
"Sayang... Muna rasa, Minggu depan abang pulang gih." Ungkap Muna sambil membelai lembut rambut Kevin saat kepala itu beralaskan pahanya.
"Kenapa? Bosan liat abang kaya pengangguran di sini?" tanya Kevin tersenyum garing.
"Kagak lah bang. Muna kasian aja sama abang. Pagi baru tidur. Malam harus kerja. Lama-lama abang bisa sakit kalo kayak gitu terus yang." Jelas Muna terdengar serius.
"Jadi ceritanya abang di usir nih?"
"Kagak gitu yang..."
"Di kampus sudah ada cowok ganteng yang mampu mengalihkan fokus mu ya?" Tebak Kevin asal.
"Bisa ga... Obrolan kita tuh bermutu dikit yang. Jangan kayak anak kecil yang suka nuduh ntar ngambek dan bercanda donk yang." Kesal Muna, merasa Kevin seolah ingin mengada-ngada saja dengan permasalahan rumah tangga mereka.
Cup
Kevin mengecup sekilas bibir istrinya.
"Maaf. Bercanda sayang, iya. Abang di sini sampe sabtu saja. Senin abang harus ke Singapur lagi. Perjalanan bisnis. Kita mulai kuat-kuat jaga hati ya sayang. Doain usaha abang lancar, hati abang cuma buat Mae seorang." Sahut Kevin bahkan lebih tegas pada Muna.
"Iya... Pasti lah bang. Kita saling doa ya, yang harus jaga hati itu bukan hanya abang, tapi Muna juga. Jaga komunikasi kita selalu yang pasti yang." Seloroh Muna pelan.
"Hmm... Iya pasti. Semoga Allah menolong ya Mae."
'Amiiin."
"Sayang... Kita nikah udah sebulan belum sih?" tanya Kevin tiba-tiba.
"Belom sedikit. Beberapa hari lagi."
__ADS_1
Cup
Lagi, Kevin mendaratkan ciumannya di permukaan perut Muna. Sebab aksesnya memang dekat, sudah di depan batang hidungnya jika ia memiringkan tubuhnya.
"Semoga di sini sudah ada calon anak kita ya Mae." Doa tulus Kevin yang terlihat sangat berharap agar Muna segera isi
"Amiin. Abang udah mau banget ya?"
"Ya iyalah, supaya kalo abang ga lagi deket. Mae ada temennya." Elus Kevin pada perut rata itu.
"Kalo ternyata Muna belom hamil gimana yang?"
"Gampang, tinggal buat lagi kan. Yuk, kita buat. Mumpung stamina masih jreng. 2 jam lagi abang baru ngantor. Sempet kan beberapa part gitu, yang." Ajak Kevin modus dong.
"Ada pilihan lain ga bang? Kok Muna malah takut ni calon anak susah jadi ya kalo di timpa terus ame si otong. Abang gempurnya kagak bisa pelan, kayak gempa gitu di dalam sana.'
"Tapi enakkan...?"
"Banget lah. Tapi kalo terlalu keras goncangannya apa kaga rontok ya isinya."
"Au ah Mae. Gerakan itu tuh naluri Mae. Apa lagi liat wajah istriku terlihat sangat menikmati, matanya sampe merem melek gitu, belum lagi dengar desahannya. Ampuuun Mae, abang merasa berdosa kalo ga bisa antar sampe puncak dengan selamat." Kevin dengan percaya dirinya menggoda Muna
"Makin hari, abang tuh makin pintar ngegombal yaah. Belajar di mana sih?"
"Gitu...?"
"Iya... Kalo Mae sih tingkat kemahirannya sudah naik drastis 3 kali lipat."
"Masa bang... Bagian apanya?"
"Dari cara Mae cium abang aja sekarang nilainya udah 100. Dulu, mangap aja di kasih aba-aba. Lah sekarang, abang mingkem aja udah di sosor aja." Kevin mulai menggoda Muna kembali.
"Pan waktu entuh belum halal yang." Muna dengan sendirinya tanpa di minta sudah melingkarkan tangannya di perut ala roti sobek suaminya
"Nyesel ga nunda nikah?" Wuuussh wajah Muna merona merah jambu. Mau bilang nyesel, tapi malu. Mau bilang tidak, tapi ternyata emang bikin candu. Buset dah, pertanyaan macam apa itu?
"Ga boleh nyesel kali. Kita nikmati yang bisa kita jalani sekarang aja."
"Makanya, abang ajak ibadah tuh jangan suka banyak alasan." Kekeh Kevin yang sudah membenamkan kepalanya lagi, mencium-cium perut Muna kadang ke arah atasnya, kadang justru lebih kebawahnya lagi, nyasar ke paha Muna.
__ADS_1
"Yang... Geli." Desah Muna menahan rasa yang lagi-lagi baru Kevin peresembahkan padanya.
"Bentar... Mau bikin tato bulan sabit dulu di sini, belum pernah kan rekam jejaknya sampe di area ini." Modus Kevin yang selalu memiliki seribu satu cara mengelabui istrinya. Bagaimana Muna menolak, ketika tindakan itu justru membuatnya meremang dan merasa ingin pipis. Walau hanya di area pangkal pahanya saja. Ck...ck...ck.
Muna bukannya menolak, tapi justru menuntut untuk di selesaikan sampai tuntas, kadung merembes aja tuh kain segitiga motif floral di area teras rumah mumun.
Kevin terkekeh, bukan penolakan yang ia terima. Justru kedua tangan istrinya tanpa di minta melorotkan sendiri kain motif bunga miliknya tadi, agar Kevin bisa segera menyelesaikannya hingga tuntas.
"Nih maksudmya apa niih. Kok ngelepas sendiri pertahanan akhirnya?" Kevin selalu suka melihat wajag tersipu malu istrinya.
"Sayang ih." Cemberut Muna malu.
"Gimana?" Kevin pura-pura tidak melanjutkan aksinya, terhenti sendiri karena Muna melepas atributnya yang membuat dia polosan tanpa di minta.
"Abang sayang... Mau."
"Hahaaaaii, ga takut tergoncang dan rontok yang di dalam sana Mae?"
"Pelan-pelan yang."
"Iish abang iih. Tanggung jawaab dong"
"Abang salah apa?"
"Sayang iih, udah bikin basah gini. Puasnya kagak, Gatel iya " Racau Muna absurd.
"Bilang apa?"
"Minta pap, mau ini." Agresif Muna yang sudah lagi, lagi tanpa perintah melepas color yang masih menempel di pinggang suaminya.
Kevin senang melihat keberanian istrinya yang sudah berhasil melucuti balutan pada tubuhnya. Dan jangan tanya bagaimana reaksi otong. Organ itu seolah tak pernah tidur nyenyak saat tak berjarak dengan Muna. Keduanya sudah polosan. Lalu Kevin pun meraup dan menggendong tubuh Muna menuju kamar mereka, agar aktivitas mereka bisa di nikmati lebih leluasa.
"Jangan salahkan abang ya. Abang di pelorotin lho tadi. Bukan minta."
"Abang bawel ya. Iye... Ini mumun yang melting." Ujar Muna yang langsung menggigit leher Kevin membuat tato bulan sabit sesuai ajaran sang tutor.
Bersambung...
Jiiaaah beranda nyak ikut basah ini.
__ADS_1
Readers apa kabar?
Lope selalu❤️