OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : TIDAK SESUAI EKSPEKTASI


__ADS_3

Di kantor Gilang dan Gita sudah menjelaskan sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Namun pihak terkait seolah tak bisa melepas begitu saja, kecuali meminta keterangan dari pihak keluarga.


Couple duo G itu saling lempar pandang lagi, memutar otak akan minta bantuan siapa? Diendra? Daren? Kevin? Ibu Gilang? Tapi ini adalah pukul 3 dini hari kawan. Siapa yang bisa mereka bisa hubungi dan selalu siap siaga akan membantu mereka keluar dari kantor yang tiba-tiba melakukan razia dadakan ini.


"Pak... kenapa cuma kami yang di tangkap. Tadi waktu kami pesan makanan juga banyak yang berpasangan." Sungut Gilang tidak terima saat hanya mereka yang kepergok.


"Karena hanya kalian yang tidak lari saat mobil kami berhenti. Kenapa? sudah merasa dunia hanya milik berdua? makan itu cinta...!!" ledek Petugas pada keduanya.


"Pak... sumpah pak. Ini foto akad nikah kami pukul 10 tadi pagi pa. Kami bukan pasangan mesum." Gilang menunjukkan foto mereka saat akad tadi.


"Hah... pasangan unik. Kamu kira saya tidak pernah menikah? di mana-mana setelah akad, pasangan itu ga bisa keluar kamar. Akan banyak pekerjaan yang dapat di lakukan di dalam kamar. Sehingga sebaiknya orang baru nikah jangan keluyuran ga jelas, orang tua bilang itu pamali." Kekeh petugas itu.


"Ya... kan keponakan saya sakit. Jadi kami terpaksa keluar pak."


"Ah sudahlah... cepat hubungi keluarga kalian untuk membawa dokumen yang menyatakan kalian sudah menikah. Sebelum kalian akan kami alihkan ke departemen sosial untuk di beri pembinaan lanjutan." Ancam perugas lagi.


"Iiya... sebentar pa." Jawab Gita yang terpaksa menelpon mama Indira.


"Mama...."


"Keponakan Gilang kenapa Git, darurat ya?" mama Indira taunya mereka ke rumah sakit saja tadi pamitnya. Maka jika di hubungi jam segini berarti emergency.


"Bukan soal Hani mah. Ini Gita dan a'a Gilang di tangkap satpol PP pas makan mie godok di pinggir jalan."


"Astagafirullahalaziiim. Gita... apa-apaan sih kalian." Geram mama Indira sampai terduduk di tempat tidurnya.


"Ma.. marahnya nanti ya. Tolongin Gita ma. Bawakan surat nikah Gita yang di kamar ya ma, di atas meja rias. Pliiis ma, minta mang Ujang atau satpam komplek kek yang antar, Gita ga bisa pulang kalo ga nunjukin itu ma." rengek Gita pada mamanya.


"Iissh.... ganggu aja. Iya bentar, nanti mama sama papi ke sana." Hah... yang namanya orang tua, mau itu hujan badai menghadang, demi anak apa sih yang ga di lakuin.


Senyum sumringah juga malu akhirnya tercetak di wajah pengantin baru itu, saat papi Diendra dan mama Indira berhasil meyakinkan dan menunjuukan surat nikah anak yang baru mereka nikahkan tadi pagi itu.


"Dasar kurang kerjaan. Petugas itu tidak mungkin menangkap orang sembarangan kalo kalian ga mesum di pinggir jalan. Memalukan, kayak ga ada kamar kosong aja." Dumel mama Indira sepanjang jalan, mengantar keduanya menuju tempat mereka di tangkap tadi untuk mengambil mobul Gilang.

__ADS_1


Gilang dan Gita diam saja saat mama Indira marah-marah, ya... ga salah sih yang mama ungkapin tadi. Jelas-jelas ada dua kursi di sana tadi, eh... malah tumpuk-tumpukan. Jelas-jelas orang pada berseliweran, lari dari kepungan Satpol PP, eh.... ternyata istilah cinta itu buta ga berlaku bagi mereka, tapi cinta juga bikin tuli. Cacat banget deh pasangan ini.


Gilang dan Gita mau kesal? sama siapa? Mau marah? juga sama siapa? Malu iya. Rebah di kamar pengantin saat waktu hampir pagi itu sudah membuat mood keduanya merosot sampai titik terendah, keduanya sama-sama lelah.


Sempat bangun untuk sholat subuh kemudian hanya saling berpelukan melanjutkan tidur untuk memberi energy pada raga yang sungguh lelah atas semua yang terjadi.


"Neng..." rengek Gilang saat mereka saling dalam pelukan.


"Hmm..."


"Ada yang mau kenalan sama eneng." Racau Gilang dengan mata setengah tertutup, berharap dapat peruntungan mungkin saja istrinya mau memberikan haknya yang tertunda akibat insiden luar biasa beberapa jam yang lalu.


"Siapa...?"


"Si Jaka neng?"


"A'a... neng ngantuk. Lain kali aja kenalannya, penting banget ya A."


"Oh.... iya penting lah neng. Sekarang aja neng" rengek Gilang tiba-tiba maksa.


Tangan Gita di tarik Gilang menuju sarang burung kesayangannya. Tanpa malu dan rasa canggung, Gilang menyelipkan tangan lembut itu ke dalam colornya.


"Ini namanya jaka neng, sejak sore kemarin udah mau kenalan sama eneng." Ucap Gilang senang sebab si jaka sudah di dalam genggaman Gita.


"A'a...." rengek Gita manja.


"Iya neng."


"A... eneng dosa nga sih nolak ini? Beneran neng ngantuk dan cape a."


"Heeem... a'a maksa kali yang dosa neng. Udah eneng pegang gini aja. A'a juga ngantuk." Ujar Gilang yang akhirmya ciut dapat penolakan dari Gita. Meraup kepala Gita, agar tidur beralas lengannya. Sementara tangan Gita di biarkan terjepit di antara paha Gilang. Keduanya kemudian terlelap hingga ada suara ketukan pintu kembali.


"Heiii... pengantin baru. Bangun, masih ada hari esok buat cicil bikin matanya." Teriakan itu sepertinya suara Kevin.

__ADS_1


Gita meloncat mendengar suara di balik pintu, sempat melirik ke jam dinding ternyata hampir pukul setengah sepuluh.


Ceklek, pintu di buka Gita dengan lebar, membuat Kevin mudah melihat Gilang yang masih tidur dengan pulas di atas tempat tidur yang alasnya tampak rapi dan tidak porak poranda seperti yang ia kira.


"Jadi berangkat?" tanya Kevin.


"Iya bentar kak, kami mandi dulu." Jawab Gita grogi. Padahal Kevin sengaja kepo dengan apa kira-kira yang Gita dan Gilang lakukan di malam pengantin mereka.


"Buruan... 30 menit lagi kita harus sudah berangkat." Tukasnya lalu meninggalkan depan kamar adik tirinya itu.


"A'a... bangun udah hampir pukul 10 ini a." Gita membangunkan suaminya.


Dengan berat hati dan berat mata Gilang beringsut bangun, menunggu Gita yang memilih duluan untuk mandi, sementara Gilang mengumpulkan nyawanya dan meyakinkan diri bahwa malam pertamanya sungguh tidak terjadi sesuai ekspektasinya.


Mengambil ponsel untuk memastikan keadaan Haniyah adalah hal penting baginya, agar saat ia pergi nanti. Ia tidak kepikiran akan hal-hal kesehatan keponakannya tersebut.


Gita dan Gilang sudah di tunggu di meja makan. Kevin padahal sudah menyiapkan cuitan-cuitan nakal, jika nanti ia melihat adik dan suaminya nanti turun dengan wajah segar dan rambut basah.


Tapi, Kevin agak kecewa saat melihat pasangan itu turun dengan mata yang masih tampak lelah namun rambut keduanya kering saja walau setelah mandi. Sungguh di luar ekspektasinya.


"Ga ada ritual mandi wajib nih?" akhirnya Kevin tidak dapat menaham keingintahuannya.


"Hah... mandi wajib apaan. Syukuur bisa pulang dari kantor Satpol PP tadi pagi." Celetuk gemas mama Indira masih agak geregetan.


"Gimana?" tanya Kevin makin bingung.


Mama Indira tentu bersemangat menceritakan kronologisnya. Membuat Kevin memegang perutnya, kesakitan karena tertawa di atas kejadian memalukan Gita dan Gilang.


Bersambung.....


Sabar yaa gaes


Jangan buru-buru

__ADS_1


Nyak suka sesuatu yang ngalir dan alami ajah


❤️❤️❤️


__ADS_2