
Seharian bersama tanpa ada kegiatan membuat Kevin dan Muna banyak memiliki waktu untuk saling bertukar pikiran. Sehingga banyak ide bermunculan di kepala mereka.
"Yang libur semesternya lama?"
"Lumayan 3 minggu. Ngape bang?" Ngajak pulang, kelamaan ninggalin kerjaan?"
"Ga... Perusahaan aman kok. Abang sudah pasang aplikasi yang bisa memantau langsung kerjaan dari jarak jauh. Hanya, kesulitannya karena beda waktu saja. Di sana siang, di sini malam. Dan itu artinya, Mae yang harus ngalah."
"Ngalah? Demi apa?"
"Demi bikin anak. Hahaa... Jadi ntar bikin anaknya siang aja, malamnya abang mantau kerjaan di sana."
"Abang ga jelas." Malu Muna dengan lobang hidung yang kembang kempis ikutan ga jelas.
"Ya udah... Besok kita pulang saja ke Indonesia." Rajuk Muna.
"Becanda sayang. Gini, abang tanya durasi liburnya Mae. Karena mau ajak Muna ibadah."
"Alaaaaah modus, sejak nikah bakalan ibadah dobel-dobel terus deh kayaknya."
"Tuh kan ngerees. Dengerin abang dulu ngapeeeh?" Kekeh Kevin so'so an dengan logat Betawi.
"Okeh. Muna dengerin dah." Jawab Muna terkekeh.
"Mumpung liburnya lama, gimana kalo kita umroh saja. Ajak babe, nyak, mama, abah, ambu, Siska juga kalo perlu. Hitung-hitung kita sedekah juga ibadah kan yang. Juga kasih apresiasi buat babe dan nyak. Tarohan deh, mereka pasti punya kerinduan ke rumah Allah."
"Masya Allah, suamiku so sweet banget sih. Oke... Muna setuju pake banget kalo gitu. Jadi, dari sekarang saja kita bilanginya, terutama buat ambu. Sebab beliau pasti harus ngelaksanakan sholat hajat minimal 1 kali lah sebelum berangkat."
"Oke... Abang cari info sekalian mastikan waktu berangkatnya ya Mae. Supaya enak nyampeinnya ke mereka semua."
"Kakek kagak sekalian?" tanya Muna.
"Terserah, ajak saja. Tapi kakek harus satu paket sama pengasuh juga dokter pribadinya." Jawab Kevin.
"Akur dah. Duit abang masih banyak?" tanya Muna polos.
"Ish... Apaan siih. Pertanyaannya unfaedah banget." Kilah Kevin dengan muka masam.
"Kalo masih banyak sekalian ajak papi sama tante Indira dan ade adenya abang." Tukas Muna pelan.
"Kok jadi kayak ajang reunian ya?" Tutur Kevin.
"Supaya kagak jomplang aja yang. Ntar di kira abang beratnya ke keluarga Muna aja."
__ADS_1
"Siap sayang. Nanti abang bilangin. Urusan siapa saja yang nanti bisa sampai di sana bersama kita, artinya itulah yang di ijinkan Allah menjadi tamunya."
"Subhanallah. Makin cinta nih sama pak suami. Muuaaach." Kecup Muna riang.
"Benernya abang masih punya utang sama Mae."
"Masa... Utang apaan?"
"Sejak Mae bisa nyetir, kan abang pernah janji beliin Mae mobil. Tapi sampe sekarang belum terealisasi."
"Santuuuy. Abang lupa kalo Muna sekarang horang kaya. Lupa kalo istrimu ini seorang direktur rumah sakit?" Ucap Muna penuh canda.
"Shombong amat." Ala-ala Mandra, Kevin berujar.
"Canda sayang. Pan abang udah jadi donatur dua panti asuhan. Itu lebih bermanfaat dari sebuah mobil yang jatuhnya bakalan mubazir sayang. Kalo nanti Muna punya mobil sendiri, Muna kagak punya alasan dong di anter abang ke mana-mana." Ucapnya manja.
"Bisa ae bini abang. Jadi walau nanti pulang jadi direktur, ga malu di anter-anter suami?" Pancing Kevin.
"Yaa... Optional deh. Sesuai kondisi aja yang pasti. Masalahnya mungkin akan di dera rasa rindu bertubi-tubi sama suami ketceeh ku ini." Gombal Muna pada suami tampannya itu.
"Baguuuus Mae, resep dah. Gombal banget."
"Siapa gurunye...?'
"Sayang... Dinner yuk. Perasaan kita ga pernah kencan yang sesungguhnya sejak pacaran sampai nikah ini?" Ajak Kevin tiba-tiba.
"Ya iyalah. Alur hubungan kita tuh udah kaya bayi prematur yang hidup dan bertahan karena di inkubator saja. Perawatan ekstra. Jarang-jarang bisa bertahan, tapi kalo udah lewati masa kritis. Insya Allah, sejajar dengan bayi normal lainnya."
"Haha... Kuliah ambil jurusan managemen rumah sakit atau kedokteran sih istri abang?" Canda Kevin suka.
"Nyambi bang... Biar makin pintar."
Jawab Muna. Yang kemudian sudah mengakhiri obrolan panjang mereka yang melahirkan sebuah ide cemerlang.
Mungkin pasangan ini bisa di sebut pasangan spesialis dadakan. Sebab, jika memiliki sebuah rencana di jauh hari, akan sulit terlaksana. Berbeda dengan suatu ide dadakan, justru akan berakhir indah dan spektakuler.
Muna dan Kevin sudah berada di sebuah Cafe Restaurant de Boschvijver. Sebuah restautant berkelas yang menyajikan makanan dengan menu Eropa internasional. Bukan menu yang aneh bagi keduanya, sebab dari awal dekat pun.
Menu makanan mereka berdua sudah ke barat-baratan.
Wajarlah jika sesekali mereka saling memanjakan diri, dengan hal seperti itu untuk sekedar merayakan pernikahan mereka yang tergesa, juga pacaran mereka yang lebih banyak di habiskan lewat udara.
Tampang dan rupa keduanya tentu sangat selaras dengan tampilan pengunjung lainnya. Di tambah lagi fasihnya Muna dalam berbahasa setempat, tentu tersamar jika sesungguhnya pasangan itu lahir dan besar di Indonesia.
__ADS_1
Makan malam ala-ala konglomerat pada umumnya. Di tempat mewah dengan penampilan elegan dari keduanya. Tentu tak salah, toh mereka kini adalah sepasang suami istri kaya, suaminya seorang CEO dan si istri seorang Direktur. Mungkin judul kisah ini memang harus di revisi total. Parah.
Suasana romantis tercipta dengan sendirinya. Sesekali berganti suap menu makan yang di pesan berbeda. Sorot tatapan mata keduanya sarat akan cinta. Masih seolah bagai mimpi jika kini justru di bawah langit benua yang lain mereka dapat mereguk buah kesabaran yang selama ini belum sempat di petik. Merajut kemesraan, memadu kasih bahkan menuntaskan semua hasrat terpendam di tempat yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya, oh indahnya dunia halu.
Apakah ada pekerjaan lain yang dapat di lakukan kedua pasang pengantin baru, selain beradu rayu, bergombal ria dan berakhir di atas bidang datar, mulai dari yang tipis sampai yang empuk, semua di gunakan secara maksimal untuk lagi dan lagi melakukan persatuan Indonesia.
Lupa waktu, tak kenal menyerah, hanya sempat makan seadanya, beristrirahat saat waktunya sholat 5 waktu. Selebihnya kegiatan itu full di isi dengan adu ilmu kanuragan. Busseeeet dah.
"Yang... Kita ke rumah kakek ya. Muna bosan 3 hari di ubek-ubek abang terus." Pinta Muna di satu pagi. Saat benar sudah merasa hidupnya seperti robot yang di mainkan sesukanya oleh suaminya itu.
"Mumpung abang masih di sini. Ntar nangis nangis kangen sama abang." Kekeh Kevin menyadari keusilannya pada sang istri.
"Kangen itu sudah pasti. Tapi, di tumbuk hampir ga berjeda ini. Bisa bikin Muna lumpuh dini yang." Rengeknya manja.
"Eh... Sumpah ya. Abang tu ga minta minta banget lho, kalo bukan karena godaan istri abang yang bikin nagih Tubuhmu mengandung apa sih Mae? Heroin, Morfin, Nikotin, asli bikin candu abang."
"Metadon yang... Bosnya heroin lagi."
"Ha....ha... Bu direktur udah paham bener segala jenis zat adiktif memabukkan ya. Istri luar biasa. Makin cinta, yuk satu lintasan lagi Mae."
"Buseeeeet dah. Ogah, ini bakalan lecet deh kayaknya kalo di tumbuk lagi. Remuk lesungnya yang." Canda Muna yang tau suaminya hanya bercanda.
"Haa...haaa. Becanda Mae. Yuk, sekalian kita kasih tau tentang rencana Umroh minggu depan." Kevin mengakhiri ajakan mesum berkedok ibadah itu.
Ide melaksanakan perjalanan umroh berjamaah sudah tersampaikan bahkan sudah Fix. Bahkan lebih banyak dari yang mereka perkirakan. Sebab, kedua orang tua Siska pun memiliki kerinduan yang sama, yaitu menjadi tamu Allah.
Kakek Hildimar tidak tinggal diam, bahkan bersedia menjadi donatur utama wisata rohani tersebut. Sehingga Kevin tak perlu merogoh koceknya untuk perjalanan mulia tersebut.
Kevin dan Muna yang menikah. Tetapi semua kerabat dekat yang terimbas mendapatkan hadiah atas pernikahan tersebut.
Pasangan yang unik. Saat semua pengantin baru berlomba-lomba meluangkan waktu untuk menikmati bulan madu berdua saja, pasangan ini justru memilih Mekkah untuk mereka datangi bahkan bersama seluruh keluarga besarnya. Semoga ibadahnya di ridhoi, dan lagi mendapatkan keberkahan berlipat kali ganda.
Bersambung...
Ga usah iri sama rumah tangga mereka.
Kita semua juga tau, bagaimana perjuangan mereka dalam urusan menuju halal .
Ya khaaan🤭
Yang penting sekarang nyak selalu double up.
Demi di timpuk sayang oleh para reader setia❤️
__ADS_1