OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 203: AQIQAH


__ADS_3

Baby Aydan posisinya sudah mulai ngalahin pajangan barang limitied edition di etalase toko. Padahal bayi itu cuma tidur, tapi seolah mengandung magnet. Selalu di dekati oleh orang-orang yang menyayanginya. Hampir tak sempat ia terlihat tidur tenang di siang hari, sebab sekitarnya selalu berisik.


Pipinya selalu di towal-towel supaya ia terbangun, sengaja sebab orang-orang ingin melihat keindahan mata Hildimar yang ia miliki. Muna tidak keberatan gangguan itu datang di siang hari, asal tangan yang menyentuhnya steril. Sebab, semakin sedikit waktu istrirahat siangnya. Maka semakin nyenyak tak bersuaralah baby Ay di malam hari.


Asep tampak kikuk saat tau Siska datang bersama Daren, tanpa ia sadari jika telah kehilangan senyum dan wajah ceria tadi dari air mukanya.


"Kapan kembali ke Jakarta Sis?" tanya Asep mengalihkan rasa yang ia sendiri tak tau itu apa.


"A'a Sep gimana sih. Siska baru aja dateng, udah di tanya kapan pulang. Mau ngusir?" Siska selalu mampu bersikap netral dan hangat pada Asep.


"He...he. Maaf atuh neng. Ga usah marah juga." Kekeh Asep.


"Empat atau lima hari lagi deh kayaknya."


"Tidak kuliah atau bekerja?"


"Udah ijin kerja. Dapat cuti di luar tanggungan he...he. Ga tau A'a masih bisa kerja lagi atau tidak." Curhat Siska tiba-tiba.


"Kunaon éta?"


"Minggu depan Siska KKN kurang lebih 2 bulan. Terus kedepannya nyusun skirpsi kan. Bakalan repot, jadi kemarin ngajuin ijin. Tapi a'a tau sendiri perusahan itukan bukan punya bapak atau suami Siska. Ya... Ga boleh dong."


"Huuum... Untung A'a teh kuliahnya pake ijin belajar. Dan jarak tempuhnya deket. Jadi walau KKN dan nyusun skripsi a'a tidak akan di berhentikan sebagai ASN." Asep tak mau kalah menceritakan progres perkuliahannya.


"A'a kuliahnya sudah sampai mana?"


"Sudah nunggu jadwal sidang saja."


"Yee... selamat ya. Sudah mau jadi sarjana. Seneng dong."


"Iya seneng sih... Tapi ntar kalo sudah lulus teh. A'a bakalan jauh dari ambu kerjanya. A'a harus pindah ke kantor di kabupaten. Sudah ga bisa di kecamatan." Curhat Asep.


"Heeiii... Kalo mau ngobrol mending di luar deh, tuh ada taman, di belakang juga ada kolam renang. Viewnya juga lebih indah. Cepet tua baby Ay ikut denger topik pembicaraan kalian. Sana...sana." Usir Kevin pada kedua orang yang tiba-tiba curcol di dekat Aydan.


Semua tertawa, membuat Asep dan Siska malu menyadari jika ternyata bukan hanya Aydan yang menjadi fokus orang seluruh rumah, tetapi mereka berdua juga.


"Permisi bu, boleh nengok bayinya." Tiba-tiba Gita datang berucap sambil mengedipkan matanya sebab di belakangnya ada Gilang.


"Eh... Gita. Iya... Boleh. Lang, sini ada mau ibu sampaikan." Ucap Muna. Membuat Gita mengeryitkan kedua alisnya. Untung di ruang itu hanya ada Kevin, Ay dan Muna. Sebab yang lainnya sudah pindah posisi sesuai anjuran Kevin tadi, ke taman belakang.


"Sayang... Duduk sini deh. Dengerin yang akan Muna sampein ke Gilang." Sumpah dada Gita berdegul kencang tak karuan, ia sungguh belum siap jika Muna akan membuka identitasnya pada Gilang. Dan ia menyesal datang bersama Gilang saat itu.


"Ada apa sayang?" tanya Kevin mendekat dan mencuri ciuman di pipi istrinya.

__ADS_1


"Begini, 4 hari lagi kita ngadain aqiqah Aydan kan. Gimana kalau adakan semacam aqiqah masal dengan karyawan di perusahaan yang anaknya seusia Aydan yang belum Aqiqah. Jadi nanti bisa ringan dananya bagi mereka. Gilang bantu mendatanya ya." Ujar Muna.


"Maaf bu, pa. Di dalam ajaran agama kita, bukannya aqiqah itu menjadi tanggung jawab orang yang memberi nafkah ke pada anaknya. Seperti ayah, ibu atau kakeknya." Sela Gilang.


"Oh... Jadi ga boleh di adain oleh orang lain?" tanya Muna pada Gilang.


"Bukan tidak boleh bu. Jika biayanya berasal dari harta orang lain boleh, hanya tidak disebut sebagai aqiqah. Sebab aqiqah mutlak oleh ayah atau kakek si anak." Muna menyimpan senyum di balik wajah pura-pura bingungnya. Dalam hati sangat bangga mendapati seorang tergolong muda, tapi sudah mengerti ilmu agama.


"Maunya sayang apa?" tanya Kevin lembut ke arah Muna.


"Muna tuh... Mau bantu mereka yang belum ngadain aqiqah buah hatinya saja pap." Ujar Muna.


"Begini saja, Lang tolong kamu cari data karyawan perusahaan dan pabrik yang baru lahiran atau istrinya baru lahiran, untuk di berikan santunan. Ya hadiah lah begitu. Sebab kami ingin berbagi kebahagiaan, atas kelahiran Ay. Begitukan maksud Mae?" Ujar Kevin.


"Iya maksudnya gitu. Sama itu pap. Hadiah dari orang-orang kemarin banyak sekali. Boleh di bagikan juga untuk mereka yang lebih membutuhkan. Hampir 1 pick up lho itu. Mubazirkan, bolehkan kita kasih untuk yang lebih memerlukan?" Muna meminta persetujuan Kevin.


"Ya dari pada mubazir, kira-kira lebih baik begitu." Jawab Kevin mengangguk-angguk.


Tolong bagikan ya Lang." Ujar Muna.


"I...iya siap bu."


"Kamu bisa nyetir?" tanya Muna lagi.


"Tidak bu."


"Gimana?" Ujar Gita yang akhirnya lega jika Muna tidak membicarakan hal yang ia takutkan.


"Bantu Gilang ngantar kado yang di kasih buat Aydan. Tapi kami sudah punya, jadi kasih buat yang memerlukannya saja. Bisa Git?" tanya Muna.


"Oh... Iya siap bu." Jawab Gita masih betah bersandiwara di depan Gilang.


"Baik terima kasih. Nanti pa Min yang antar kalian"


"Oh... Gita bisa nyetir bu." Ujar Gita berdiri mendekati Gilang.


"Ya baguslah. Kalo gitu kamu saja nanti yang bawa mobilnya dengan Gilang ya."


"Iya... Siap bu." Semangat Gita yang lagi-lagi mendapat kesempatan bekerja sama dengan Gilang.


"Yang... Mau pipis." Manja Muna yang sengaja ingin meninggalkan duo G itu.


"NengGi... Beneran bisa nyetir. Pliiis deh AGi belom kawin ini. AGi ga mau lho mati muda." Ucap Gilang pelan di dekat Gita.

__ADS_1


"Eh... yang ngajak AGi mati muda siapa?"


"NengGi... Pliiis deh. Ke kantor saja NengGi boncengan melulu. AGi ragu NengGi beneran bisa nyetir."


Gita merogoh dompetnya memegang sisi nama Mahesa pada SIM A dengan telunjuknya.


"Nih... NengGi udah punya hampir mati ini." Sodornya tanpa memberi ijin untuk memegangnya.


"Alhamdulilah. Syukur deh. Kali aja NengGi supir abal-abal." Tukas Gilang riang.


"Huuu...enak saja. Kalo cuma nyetir itu gampang. Beli mobilnya yang susah."


"Hihihii... Kalo itu AGi juga tau. Kan belinya harus pake duit. Seandainya bisa pake bulu kaki, udah AGi cabutin dah buat beli mobil satu showroom." Canda Gilang pada Gita dengan senyum menawannya. Rontok-rontok dah hati Gita.


"Yaa... Mesti banyak sabar lah aku yang ga punya bulu kaki ini." Celetuk Gita, spontan seolah mengajak mata Gilang mengarah pada kaki putih mulus, indah di bawah sana. Sebab, Gita hari ini keluar hanya dengan rok levis selutut.


"Ya Allah bening bangat ini orang apa boneka barbie ya. Lalu... Ada apa dengan jantung ku. Berdegub tidak karuan seperti ini. Oh ... Tolong." Batin Gilang yang jika di film komedi layar kaya sudah keluar emot love love bertebaran tuh.


"Wooii... Sadar wooi. Kenapa bengong? Kesambet?" Tegur Gita pada Gilang yang masih terpana melihat kaki Gita.


"He...he. baru sadar ternyata kaki NengGi... Mirip kaki meja, putih, mulus, ga ada lecetnya."


"AGi iiih... Segala kakiku si samain kaki meja." Kekeh keduanya.


Dan obrolan itu terekam oleh mata dan telinga Kevin yang tidak benar-benar pergi jauh dari ruangan tempat mereka ngobrol tadi.


Muna mencubit perut Kevin.


"Apa sih Mae?"


"Mereka so sweet banget ye bang?"


"So suit apanya... Segala kaki adekku di bilang kaya kaki meja, Mae bilang so suit. Lebay." Cebik Kevin


Cup


Muna mencium pipi Kevin.


"Iri... Bilang bos. Ha...ha."


Bersambung...


KisCin duo G rasa Gulali yaak

__ADS_1


Hati-hati bacanya, ntar gulanya gosong di aduk nyak otor jadibpahid lhooh🤭


Santuuuy kuuy👍


__ADS_2